
Entah karena asap yang mulai masuk ke dalam rumahnya atau dia mendengar teriakanku, aku tidak tahu. Tapi yang jelas ... Hongli kemudian terbangun dan langsung menyadari situasi berbahaya yang sedang dihadapinya. Dari jendela kamarnya, Hongli menatap ke arah luar rumahnya yang mulai terbakar dan menyadari jika bukan hanya rumahnya saja yang terbakar.
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa ada api yang muncul dan membakar banyak rumah?” gumam Hongli.
Dar ... dar ... Hongli tersentak dan langsung menyembunyikan dirinya ketika mendapati orang-orang yang berlarian keluar dari rumah-rumah yang terbakar, langsung ditembak mati oleh orang-orang yang membawa senjata dan menunggu mereka di depan rumah mereka.
“Kenapa begini?” gumam Hongli masih dengan bersembunyi sembari mengintip. “Bukankah ini artinya mereka meminta kami mati terbakar di dalam rumah atau mati tertembak oleh mereka??”
Uhuk ... uhuk ... asap yang membakar bagian depan rumah Hongli semakin merajalela, memakan rumah depan Hongli. Aku yang berdiri di samping Hongli berulang kali berteriak padanya untuk segera pergi tapi sekali lagi ... teriakanku itu tidak terdengar olehnya karena aku hanyalah penonton dan bukan bagian dari adegan ini.
Beruntungnya Hongli yang melihat kejadian dan situasi yang dihadapinya memilih untuk menyelamatkan dirinya melalui pintu belakang rumahnya. Hongli mencelupkan selimut yang dibawanya ke dalam air dan kemudian keluar dari bagian belakang rumahnya. Aku mengikuti Hongli tepat di belakangnya dengan jantung berdetak kencang serasa aku adalah bagian dari adegan ini dan aku bisa kapan saja mati terkena tembakan pasukan yang entah dari mana datangnya.
Hongli menghentikan langkahnya di bagian belakang rumah Shuwan setelah menyelinap lewat belakang rumahnya dan melalui gang-gang sempit yang menghubungkan banyak rumah. Tadinya Hongli berniat untuk mengetuk pintu belakang rumah Shuwan. Akan tetapi ... sebelum Hongli melakukan itu, pintu terbuka dan munculah Shuwan dari pintu.
“Shuwan??”
“Hongli!!” Shuwan langsung memeluk tubuh Hongli dengan erat dan wajahnya yang ketakutan. “Syukurlah kau baik-baik saja, Hongli!! Melihat kebakaran dari arah rumahmu, aku mengira sesuatu yang buruk sudah menimpamu, Hongli.”
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, Shuwan.” Hongli membalas pelukan Shuwan dan kemudian melepaskannya untuk bergegas masuk ke dalam rumah Shuwan. “Sesuatu yang buruk terjadi, Shuwan.”
“Sesuatu yang buruk?? Apa ada yang lebih buruk dari kebakaran yang terjadi??”
Hongli menganggukkan kepalanya. “Ada banyak pasukan yang membawa senapan. Mereka langsung menembak mati orang-orang yang keluar dari kebakaran untuk menyelamatkan diri. Aku kemari ... untuk memberitahumu, apapun yang terjadi jangan membuka pintu depan dan lari lewat pintu belakang.”
Dar ... dar ...
Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang mendekat ke arah rumah Shuwan dan hal itu membuat Hongli dan Shuwan langsung tersentak karena terkejut.
“Kita harus pergi, Shuwan! Ayah Ibu dan adikmu, cepat bangunkan mereka!!”
Shuwan menganggukkan kepalanya mengerti. Sebelum pergi mencari keluarganya, Shuwan bertanya kepada Hongli karena baru sadar jika Hongli datang seorang diri. “Tapi bagaimana dengan orang tuamu, Hongli? Kenapa kau kemari seorang diri??”
“Tenang saja. Pagi tadi mereka keluar kota. Mereka tidak akan kembali dalam seminggu dan kita bisa ke sana sekalian memberitahu mereka.”
Shuwan bergegas membangunkan kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya. Setelah mempersiapkan beberapa barang penting untuk dibawa pergi, Shuwan bersama dengan keluarganya dan Hongli kemudian bergegas menuju pelabuhan untuk segera pergi. Akan tetapi ... pasukan menemukan pelarian Shuwan dan Hongli dan dalam waktu singkat menembak jatuh Hongli.
Dar ...
Shuwan menghentikan langkahnya ketika melihat Hongli ambruk dengan darah yang mengalir dari dadanya. “Tidak, Hongli!!!”
“Pergi, Shuwan!!! Pergi sekarang juga!!!”
“Tidak mau!!! Aku tidak mau pergi, Hongli!!! Aku tidak akan pergi tanpamu!!!”
Sekali lagi ... reinkarnasi Gayatri-Shuwan bertanya. Kenapa Kau selalu merebutnya dariku?? Kenapa Kau tidak pernah mengabulkan permintaanku untuk bisa bersama dengannya dan menikah dengannya? Kenapa akhir yang menunggu kami selalu perpisahan seperti ini? Kenapa? Kenapa? Kenapa?? Apa kesalahanku hingga aku berulang kali kehilangan kekasihku?
Sebelum mata Shuwan tertutup dan nyawanya melayang, sekali lagi dia berkata di dalam hatinya. Sekali lagi ... Dewangkara. Kita akan bertemu di putaran kehidupan lain.
Putaran kehidupan kelima Gayatri. Tahun 1803(1).
(1)Tahun 1803 adalah tahun di mana Perang Padri dimulai. Perang ini adalah perang saudara antara kaum adat dan kaum padri mengenai penerapan Islam di Minangkabau.
klik. Sekali lagi ... setelah melihat bagaimana reinkarnasi Gayatri terpisah lagi dengan reinkarnasi Dewangkara, aku mendengar suara jentikan jari yang membawaku pada putaran kehidupan Gayatri berikutnya yang penuh dengan tragedi dan air mata. Kali ini aku tidak tahu kematian seperti apa yang akan menanti reinkarnasi Dewangkara, tapi aku yakin kematian itu tidak akan kalah tragis dengan kematian-kematian sebelumnya.
“Saidah!!”
Aku mendengar panggilan itu dan tubuhku spontan berbalik untuk melihat suara siapa yang memanggil nama itu. Seorang wanita tua muncul dan berjalan melewatiku.
“Aku di sini, Bu.”
Aku berbalik lagi untuk melihat siapa yang menjawab panggilan itu dan menemukan wajah seorang gadis yang mirip dengan Gayatri dan Nona Cintia. Aku yakin gadis bernama Saidah itu adalah reinkarnasi dari Gayatri pada putaran kehidupan ini.
“Cepatlah pulang!! Ayahmu menunggu di rumah!!”
Saidah dan ibunya berjalan melewatiku dan seperti biasanya ... aku mengikuti mereka dari belakang untuk melihat nasib apa yang akan menanti Saidah-reinkarnasi Gayatri di kehidupan ini.
“Tidak mau!!!” Begitu tiba di rumah milik Saidah, aku melihat Saidah langsung berteriak pada ayahnya ketika mendengar ayahnya yang berniat untuk menjodohkannya dengan anak kepala desa di mana Saidah tinggal. “Aku tidak mau menikah dengannya, Ayah. Ada orang yang aku tunggu dan sebentar lagi dia akan datang padaku.”
Ayah Saidah bangkit dari duduknya dan langsung memukul wajah Saidah. Kurasa tamparan itu adalah tamparan yang cukup keras hingga membuat wajah Saidah terlihat seperti tomat matang dalam waktu singkat. “Sejak dulu kamu selalu mengatakan hal itu, Saidah. Ini sudah lima lamaran yang kamu tolak hanya karena kamu pria dalam mimpimu yang belum tentu benar-benar ada. Apa kamu ingin menjadi perawan tua yang kemudian dipanggil sebagai wanita tidak laku, Saidah??”
“Itu lebih baik daripada aku harus menikah dengan pria lain, Ayah.”
Plak. Tamparan kedua terjadi dan kali ini mendarat di sisi lain wajah Saidah. “Mau tidak mau, setuju atau tidak setuju, Ayah akan menyetujui lamaran ini, Saidah. Bulan depan, kamu akan menikah dengan putra kepala desa.”
Kesal dengan pemaksaan dan wajahnya yang ditampar hingga dua kali, Saidah berlari keluar dari rumahnya dengan memegang dua wajahnya yang kini terlihat seperti tomat yang sangat-sangat matang. Saidah terus berlari dan aku terus mengikutinya untuk melihat kisah tentang dirinya.
Langkah Saidah terhenti di dekat sungai kecil tidak jauh dari desanya. Saidah duduk di tepi sungai dan membasuh wajahnya yang mulai membengkak dengan air sungai yang dingin. Air mata Saidah menetes ketika melihat pantulan dirinya di air sungai dengan wajahnya yang bengkak.
“Gunakan ini, Nona.”
Saidah dan aku menoleh ke arah saputangan yang tiba-tiba muncul di dekat Saidah dan kami sama-sama terkejut mendapati wajah dari sosok yang muncul secara tiba-tiba itu.
Dia datang. Aku menatap spsok itu seolah sedang bercermin untuk kesskian kalinya dan bertanya-tanya. “Kali ini ... siapa namamu, reinkarnasi Dewangkara??”