
Preview bab sebelumnya
“Siapa kamu?” tanya pria bertopi itu tiba-tiba. Ternyata ia sudah menunggu kedatangan Chike di persimpangan yang menghubungkan kedua gang itu. Persimpangan itu gelap, hanya ada cahaya remang dari lampu jalanan yang berada lumayan jauh dari posisi mereka.
Chike yang kaget karena kemunculan pria itu yang tiba-tiba berjalan mundur dengan perlahan. Sedangkan pria itu semakin melangkah maju mendekati Chike. Ia menunjukkan smirknya yang terlihat menyeramkan dan membuat Chike sedikit gentar untuk melanjutkan niatnya.
*****
“Kamu siapa?” Pria itu kembali bertanya pada Chike yang berdiri di depannya.
“Itu kamu kan?” tanya Chike dengan amarah yang tertahan. Ia berusaha agar suara tidak terdengar gentar, namun semua itu sia-sia karena suaranya mencerminkan semuanya. Chike sebenarnya takut, tapi ia harus terus maju untuk melakukannya.
“Kamu itu siapa?” tanyanya lagi.
“Itu kamu...” Chike mengepalkan tangannya di dalam kantong hoodienya. Sedangkan pria itu tertawa dengan keras, namun terdengar menyeramkan di telinga Chike.
“Jelaskan apa maksudmu. Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan.” Raut wajah pria itu seketika berubah. Matanya menatap Chike dengan tajam.
Chike berusaha untuk tetap berani. “Kamu penculiknya,” sahut Chike dengan berani sambil menatap mata pria itu, berusaha menghilangkan rasa takutnya.
“Aku benar-benar tidak tahu mengerti apa yang kamu bicarakan,” sahut pria itu santai.
“Aku tau semua yang telah kamu lakukan
Aku tau berapa banyak orang yang sudah kamu culik dan di mana kamu menyembunyikan mereka,” ucap Chike dengan amarah yang kembali meluap, namun masih berusaha ia tahan. Mendengar pria itu yang menjawab dengan tenang seolah-olah tidak ada apa pun membuat Chike benar-benar emosi.
“Hahahaha... Apa kamu gila? Tapi ini menarik.” Raut wajah pria itu berubah semakin menyeramkan. Ia menyeringai menatap Chike.
“Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Bahkan polisi saja tidak pernah mengetahui hal itu?”
“Serahkan diri sekarang,” ucap Chike dengan suara yang bergetar. Ia benar-benar takut, tapi ia tidak bisa mundur sekarang.
“Kenapa? Untuk apa aku menyerahkan diriku sendiri?” tanya pria itu yang kembali berjalan mendekati Chike.
”Jangan mendekatiku atau aku akan membunuhmu!” seru Chike yang mengeluarkan pisau dapur yang ia simpan di dalam kantong hoodie yang ia kenakan. Ia mengarahkan ujung pisau pada pria itu sebagai ancaman. Sedangkan pria itu tertawa remeh.
“Apa kamu bodoh? Jika begini, kamu sendiri yang membuat dirimu terbunuh,” ucap pria itu yang kemudian langsung menyerang Chike dan membuat Chike terjatuh dan pisau yang ia pegang terlempar.
Chike berusaha melawan dan berhasil membalikkan posisi mereka. Kini Chike yang berada di atas pria itu. Chike berusaha mencekik pria itu sekuat tenaganya.
“To-tolong jangan bu-bunuh aku,” ucap pria itu tersendat akibat cekikan Chike yang membuat napasnya tertahan. Chike terus saja fokus mencekik tanpa menyadari pria itu yang berusaha meraih pisau yang tergeletak tak jauh dari posisi mereka dengan tangannya yang bebas.
“ARRGGGHHHH!!!” Chike berteriak kencang ketika lengannya berhasil tersayat sangat panjang dan dalam akibat pria itu. Chike otomatis melepas cekikannya dan memegang lengannya yang kesakitan. Darah sudah mengalir dengan deras dari lengan itu.
Pria itu dengan segera bangkit dan melihat Chike yang sudah terbaring, menahan rasa sakit yang teramat. Darah bahkan menetes dari pisau yang masih dipegang olehnya. Ia membenarkan posisi topinya yang berantakan akibat ulah Chike.
“Ternyata kamu benar-benar bodoh!” remehnya.
“Aku ini adalah seorang pembunuh, jadi aku bisa mengetahuinya. Bagaimana kamu bisa mencekik seseorang ketika kamu tidak merasa tega? Kamu tidak bisa mencekik seseorang jika seperti itu.” Pria itu tertawa remeh atas tindakan bodoh yang Chike lakukan.
“Ah, Sial!!!” umpatnya ketika melihat pakaiannya yang kotor karena harus berbaring di jalanan yang kotor tadi.
Chike hanya bisa menatap pria itu sambil terus menahan rasa sakitnya. Ia sudah terbaring dengan lemah, bibirnya sudah pucat karena darah yang terus mengalir tanpa henti.
“Itulah alasannya kamu tidak boleh merasa berbelas kasih ketika ingin membunuh. Beraninya kamu melakukan itu padaku? APA KAMU PIKIR AKU LEMAH??!!” serunya kencang.
“Hei, Kamu! Apa kamu ingin aku mengajarimu sesuatu?” tanya pria itu yang sudah mengubah lagi ekspresi wajahnya. Ia memandang Chike yang sudah tak memiliki tenaga untuk melawan. Sorot matanya menunjukkan nafsu yang sangat besar untuk membunuh.
Pria itu kembali menyeringai. “Sekarang kamu lihat bagaimana sikap yang harus kamu lakukan ketika ingin membunuh.”
“CHIKE!!!!!” Seru seseorang berteriak ketika pria itu hampir saja menikam Chike.
“Sial!” umpatnya pria itu. Ia kemudian langsung lari dan meninggalkan Chike yang semakin pucat.
“CHIKE!! CHIKE!!!” panggil orang itu yang ternyata adalah Zaky. Ia segera menghampiri tubuh Chike yang tergeletak lemas.
“CHIKE!! CHIKE!!!” panggil Zaky yang sudah memangku dan memeluk Chike yang sudah semakin lemas dan pucat.
“Tunggu...Apa itu??!!” seru Zaky ketika melihat tangan Chike yang berusaha menahan darah yang terus mengalir dari lengannya.
“Chike, Bangun!! CHIKE!!!” Zaky kembali berseru dengan panik ketika melihat Chike yang sudah mulai memejamkan matanya. Ia berusaha membantu menahan darah Chike yang terus mengalir tanpa henti.
“CHIKE!!!” panggil Zaky yang berusaha membuat Chike tetap terjaga. Ia melihat sekitar yang sangat sepi.
“Kumohon, Chike... kumohon bangun,” ucap Zaky yang sudah menangis. Ia terus menahan darah Chike tanpa memperdulikan lengan bajunya yang sudah berubah warna.
“CHIKE!!! BUKA MATAMU!! KUMOHON!!!” Zaky semakin mengeratkan pelukannya. Ia juga semakin menekan luka Chike agar darah berhenti mengalir, namun itu adalah tindakan yang sia-sia.
“Hiks...kumohon bangun.” Zaky menangis. Ia berusaha menelepon ambulance dan memberikan alamat mereka sekarang.
“Kumohon bertahanlah hingga ambulance datang,” harap Zaky dengan air mata yang terus mengalir.
Zaky tidak menyangka pikiran terburuknya ternyata benar-benar terjadi. Mengapa Chike begitu ceroboh sehingga melakukan tindakan yang begitu bodoh? Bagaimana jika ia datang sedikit lebih terlambat? Apa yang akan terjadi pada Chike jika ia tak berhasil menemukannya tadi? Semua pertanyaan itu terlintas di pikiran Zaky yang kalut.
“Chike, bangun...” Zaky kembali menangis. Chike sudah terlihat sangat pucat sekarang. Takut. Zaky benar-benar merasa sangat takut. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Chike. Ia tak sanggup untuk membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.
“Pa-paman...” panggil Chike pelan.
“Chike! Apa kamu sadar?!!” seru Zaky ketika mendengar Chike yang memanggilnya pelan. Ia dengan segera menghapus air matanya.
“Chike? Chike?!!” Zaky berusaha mengguncang tubuh Chike pelan, namun tak mendapatkan respon.
“Chike!! Kamu masih sadarkan? Ayo sekarang kembali buka matamu...” Zaky berusaha membuat Chike membuka matanya kembali.
“Chike! Chike!!” Zaky terus mengguncang pelan tubuh Chike.
“Chike! Buka matamu! Bukankah barusan kamu membuka matamu?” tanya Zaky pada Chike yang terpejam. Zaky benar-benar yakin jika tadi ia melihat mata Chike terbuka ketika memanggilnya.
“Chike! Kumohon bangun!!” Air mata Zaky kembali mengalir ketika tidak mendapatkan respon apa pun.
“SIALAN!!! CHIKE, BANGUN!!!” seru Zaky yang kembali kalut karena Chike benar-benar tidak memberikan respon.
“Hiks...bangun, Chike...” Zaky semakin memeluk tubuh Chike. Sepertinya kali ini Chike benar-benar sudah kehilangan kesadarannya.
Zaky terus menangis dan memanggil nama Chike, berharap akan mendapatkan respon balasan. Namun, itu semua tindakan yang sia-sia belaka. Chike tidak merespon semua itu. Matanya masih terpejam dengan nyaman.
“Syukurlah ambulance sudah datang,” ucap Zaky lega ketika mendengar suara ambulance yang mendekat ke arah mereka.
“Kamu pasti akan baik-baik saja sekarang. Kumohon bertahanlah sedikit lagi,” harap Zaky cemas yang kini sudah menggendong tubuh Chike yang hilang kesadaran.
Zaky terus berdoa untuk keselamatan Chike sambil menunggu ambulance tiba. Ia berusaha menghapus air matanya menggunakan bahu dan terus menggendong Chike dengan erat, takut Chike terlepas dari gendongannya dan terjatuh.
Zaky terus menunggu ambulance yang hampir tiba dengan perasaan lega dan cemas. Lega karena ambulance akan tiba dan Chike bisa diberi pertolongan dengan segera. Namun, ia juga merasa cemas karena kondisi Chike yang terlihat semakin memburuk.