ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KESEMPATAN YANG DITUNGGU-TUNGGU PART 1



            Setelah acara berakhir, Maharaja mengundang Hattali Yasodana dan keluarganya untuk makan di istana. Tentunya Dewangkara dan Rakryan Mahapatih Nambi juga ikut dalam jamuan makan. Dalam jamuan makan itu, Dewangkara akhirnya mengetahui hubungan antara Maharaja dan Hattali yang tadi sempat membuatnya penasaran. Hattali dulunya pernah bekerja sebagai bayangkara di antapura ketika masa pemerintahan Maharaja pertama yang tidak lain adalah ayah dari Maharaja yang saat ini berkuasa.


            Hattali dulunya adalah bayangkara yang menjaga kediaman Maharaja sekarang dan hubungan keduanya pernah sangat dekat. Tapi setelah pergi mengikuti perang saat pemberontakan pertama di kerajaan ini, Hattali kemudian mengundurkan diri dari bayangkara karena sakitnya yang cukup parah.


            “Apa Paman sekarang sudah lebih baik?” Maharaja bertanya kepada Hattali Yasodana dalam jamuan makan.


            “Yah berkat istirahat yang lama, Paman sudah merasa jauh lebih baik.”


            “Lalu apa yang Paman sekarang lakukan?”


            Maharaja terus bertanya kepada Hattali tentang berbagai hal baik dari pekerjaan Hattali, di mana Hattali tinggal dan penyakit lama milik Hattali. Maharaja terus bertanya seolah dalam jamuan makan itu hanya ada dia dan Hattali saja.


            “Apa Rama sudah menduga hal ini akan terjadi?” Begitu tiba di kediamannya dan telah mengantar Hattali bersama dengan Gayatri dan Biantara ke kediaman yang lain, Dewangkara langsung mengajukan pertanyaan kepada Rakryan Mahapatih Nambi untuk menuntut penjelasan.


            “Soal apa?? Soal hadiah dari Maharaja atau soal Kangjeng Hattali-mertuamu itu?” Rakryan Mahapatih Nambi berbalik mengajukan pertanyaan kepada Dewangkara sebelum memberikan penjelasan.


            “Semuanya, Rama. Aku butuh penjelasan mengenai semuanya, Rama.”


            Rakryan Mahapatih Nambi duduk di kursi di kediamannya, meminum air untuk membasahi kerongkongannya dan mengambil nafas panjang sebelum memberikan penjelasan kepada Dewangkara. “Kukira ... mertuamu dan gadis yang ingin kamu nikahi hanyalah sudagar biasa, Dewangkara. Tapi ketika melihat orang itu saat ingin memberikan penjelasan mengenai keadaanmu, aku benar-benar terkejut mendapati mertuamu adalah mantan bayangkara yang dulu sempat menjaga Maharaja saat ini. Seperti yang kamu lihat tadi, hubungan Maharaja dengan Kangjeng Hattali sangatlah dekat.”


            “Jadi ... “


            “Aku menceritakan apa yang terjadi padamu dan jebakan yang mungkin menunggumu dalam adu tanding yang terjadi hari ini pada Kangjeng Hattali dan benar saja, Kangjeng Hattali yang sangat mengenal sifat dan karakter Maharaja setuju untuk membantumu lepas dari jebakan itu, Dewangkara.” Rakryan Mahapatih Nambi memberikan penjelasan sembari mengingat percakapannya dengan Hattali pagi tadi.


            “Salam, Rakryan Mahapatih.”


            “Kangjeng?? Bukankah Kangjeng adalah ...”


            Hattali tersenyum melihat ke arah Rakryan Mahapatih Nambi yang terkejut menatap dirinya. “Itu benar, Rakryan Mahapatih. Ini saya, mantan bayangkara Hattali.”


            Wajah terkejut Rakryan Mahapatih Nambi dalam sekejap berubah menjadi cerah karena melihat ada harapan untuk menyelamatkan Dewangkara-putranya. Tanpa basa basi, Rakryan Mahapatih Nambi langsung menceritakan apa yang terjadi pada Dewangkara dan alasannya memanggil keluarga dari calon istri Dewangkara.


            “Mengingat bagaimana sifat Maharaja, saya rasa memang adu tanding itu diadakan untuk membuat Maharaja mendapatkan Dewangkara.”


            Rakryan Mahapatih Nambi menganggukkan kepalanya setuju. “Saya juga memikirkan hal itu, Kangjeng. Maharaja pasti akan membuat Dewangkara menjadi bayangkara apapun caranya.”


            “Ada satu cara lagi, Rakryan Mahapatih.” Hattali memberikan ide yang saat ini muncul di dalam benaknya sembari mengingat cara berpikir dari Maharaja.


            “Apa itu?”


            “Membuat Dewangkara menjadi menantunya. Dengan menjadi menantu Maharaja, Dewangkara akan selamanya terikat dengan Maharaja dan bisa dikendalikan oleh Maharaja.”


            “Jika begitu yang akan terjadi, apa yang harus saya lakukan untuk menyelamatkan Dewangkara? Pernikahan kerajaan apalagi pernikahan yang diberikan oleh Maharaja sendiri adalah sesuatu yang tidak bisa ditentang.”


            “Jadi begitu rupanya.” Dewangkara langsung menghela nafas panjangnya menyadari ayah mertuanya-Hattali berusaha untuk menyelamatkannya.


            “Kamu beruntung, Dewangkara. Jika calon istrimu bukan putri dari Hattali, mungkin pernikahan dengan putri Maharaja tidak akan bisa dihindari dan pada akhirnya kamu masuk ke dalam jebakan itu. Tapi karena Gayatri adalah putri dari Kangjeng Hattali, kau bisa selamat,  Dewangkara.”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya untuk keberuntungan besar yang datang padanya. “Setelah ini aku harus berterima kasih pada Rama Hattali untuk  bantuannya.”


            “Kau memang harus melakukannya. Tapi ... setelah ini, kau tidak akan bisa menjadi bayangkara dan kelak harus tinggal di kediaman Hattali di kota Tarik.”


            Mata Dewangkara membulat besar mendengar ucapan Rakryan Mahapatih Nambi. “Kenapa begitu Rama? Aku harus meninggalkan Rama seorang diri? Kenapa harus begitu?”


            Sembari menjelaskan alasan dari ucapannya, Rakryan Mahapatih Nambi mengingat percakapannya dengan Hattali.


            “Aku akan membantu Dewangkara lepas dari jebakan itu. Tapi aku ingin meminta sesuatu sebagai gantinya, Rakryan Mahapatih. Apa aku bisa meminta sesuatu darimu, Rakryan Mahapatih Nambi?”


            Rakryan Mahapatih Nambi menganggukkan kepalanya. “Tentu saja. Demi putraku yang baik hati itu, aku akan melakukan apapun.”


            “Kalau begitu setelah pernikahan antara Dewangkara dan Gayatri dilaksanakan, aku ingin Dewangkara dan Gayatri tinggal di Tarik dan bukan di ibu kota.”


            Mendengar permintaan dari Hattali, tentu saja Rakryan Mahapatih Nambi terkejut. Karena dalam pernikahan, wanita biasanya mengikuti keluarga pria dan bukan sebaliknya. Tapi kali ini, Hattali Yasodana meminta Dewangkara dan Gayatri untuk tinggal bersamanya di luar ibu kota.


            “Bisakah saya tahu alasannya, Kangjeng? Alasan kenapa Kangjeng ingin Dewangkara dan Gayatri tinggal di Tarik dan di ibu kota.”


            “Alasan pertama adalah karena Gayatri adalah anak satu-satunya yang saya miliki. Sejak kematian istri saya, Gayatri adalah satu-satunya harta milik saya yang paling berharga. Alasan kedua adalah usaha yang saya miliki butuh penerus dan orang yang tepat untuk mengurus usaha saya adalah Gayatri dan Dewangkara. Lalu alasan ketiga berkaitan dengan Dewangkara.”


            Rakryan Mahapatih Nambi memandang bingung ke arah Hattali setelah mendengar alasan ketiga. Rakryan Mahapatih Nambi merasa alasan ketiga adalah satu-satunya alasan yang membuatnya tidak mengerti. “Apa maksud dari alasan ketiga itu, Kangjeng?”


            “Ingatan milik Dewangkara yang hilang itu adalah ingatan dari kematian seseorang yang kisahnya tidak boleh diungkap. Bukankah Rakryan Mahapatih Nambi tahu soal itu?”


            “I-itu ...” Rakryan Mahapatih Nambi langsung membeku mendengar ucapan dari Hattali Yasodana mengenai ingatan Dewangkara yang berkaitan dengan kematian Rakryan Tumenggung Sena.


            “Aku ingin menuruti permintaan putriku satu-satunya untuk menikah dengan pria yang sangat dicintainya. Pria itu juga adalah seseorang yang sangat baik dan jujur sebagai Rama, aku juga sangat menyayangi Dewangkara. Tapi ingatan yang dibawa Dewangkara dan masa lalunya adalah sesuatu yang bisa membahayakan putriku.  Kini aku tahu Maharaja pun juga menginginkan Dewangkara untuk menjadi bayangkara, maka alasanku untuk membawa Dewangkara dan Gayatri ke kota Tarik semakin kuat. Apa Rakryan Mahapatih Nambi bisa memahaminya?”


            Dari tiga alasan yang diberikan oleh Hattali, Rakryan Mahapatih Nambi hanya mengatakan dua alasan pertama saja kepada Dewangkara. Rakryan Mahapatih Nambi membuat Dewangkara untuk memahami posisi Hattali yang hanya memiliki Gayatri sebagai satu-satunya anaknya.


            “Hattali telah membantumu, Dewangkara dan permintaan Hattali itu, seharusnya kamu bisa melakukannya bukan?” ujar Rakryan Mahapatih Nambi dengan berusaha untuk membuat senyuman terbaik di wajahnya saat ini.


            “Jika Rama tidak keberatan, maka aku pun tidak akan keberatan.”


            “Tentu, Rama tidak keberatan, Dewangkara. Apapun yang terjadi, di mana pun kamu berada, kamu tetap anak Rama dan Rama tetap akan menyayangimu. Hanya itulah yang harus kamu yakini, Dewangkara.”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya dan kemudian memeluk tubuh Rakryan Mahapatih Nambi yang telah merawatnya belasan tahun dan dianggapnya sebagai ayah kandung bagi Dewangkara.