
Disisi lain, tepatnya di Negara LN. Seorang Pemuda tampan yang berusia sekitar 30 tahun sedang melihat laporan dari mata-matanya yang berada di Indonesia. Pria itu sesekali mengumpat kasar, dan mengebrak meja yang membuat asisten pribadinya hanya menatap jengah kepada pria itu.
“Dasar Pria Brengsek, berani-beraninya dia melakukan itu kepada keluargaku. Jeep berikan dia balasan yang setimpal karena telah berani mengganggu keluarga Hans!”
“Hans, lebih baik kita lihat dulu permainannya. Aku tidak mau terburu-buru untuk bertindak yang akan membuat dunia mencurigaiku!”
Hans pun mendelik tajam, dan menodongkan pistolnya tepat didepan kepala Jeep. Asistennya ini sangat tidak becus, Hans merasa kesal karena kinerja Jeep yang sangat lamban dan payah. Dan satu lagi, dia sangat suka memerintah orang sekalipun itu adalah Hans yang tak lain adalah atasannya.
“Jika kau menembakku, maka semua warisanmu akan menjadi milik keluargaku. Apa kau tak ingat perkataan paman Bram, jadi silahkan saja Hans jika kau masih ingin ngotot untuk membunuhku!”
Jeep hanya tersenyum miring melihat wajah Hans yang dipenuhi gejolak amarah yang sangat menggebu. Dia sama sekali tidak takut dengan Hans, Jeep hanya menganggap ini semua hanyalah hiburan semata yang tidak terlalu penting. Hans menurunkan pistolnya lalu kembali duduk didepan laptopnya, jika bukan karena ancaman sang papa. Dia pasti sudah membunuh Hans walau dia saudara sepupunya sekalipun.
“Kau tenang saja Hans, akan ada kejutan yang sudah anak buahku siapkan untuk mereka!”
“Hem, aku harap kali ini kinerja mu lebih bagus dari pada sebelumnya.”
Jeep tidak menjawab, dia pergi keluar meninggalkan Hans yang masih menatap wajah perempuan yang sangat dia sayangi. Wanita yang dia jaga, walau keberadaannya sangatlah jauh. Bisa dikatakan Hans menjaganya dari jarak yang jauh.
- - -
Di apartemen Roy, nampak Santica tengah berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Wanita berusia 25 tahun itu terus memikirkan suaminya Al dengan sang sekretaris yang kini sudah sah menjadi pasangan suami istri. Santica mengingat satu Minggu sebelum pernikahan mereka, kalau Al pernah berkencan dengan seorang wanita model yang sangat terkenal. Bahkan mereka sudah pernah berhubungan badan, dan yang lebih parahnya lagi. Al juga membawa wanita model itu dan tinggal seatap dengannya. Beberapa kali, Santica selalu kepergok melihat adegan pasangan laknat tersebut yang selalu berbuat mesum tanpa mengenal tempat. Entahlah, sejak Al merenggut mahkota berharganya Santica. Pria matang itu selalu mempermainkan wanita, menjadikan semua wanita sebagai pelampiasan birahiinyaa.
“Dasar menjijikan, apa pria itu sangat jijik sekali kepadaku setelah menyentuhku. Dan dia menjadikan wanita luaran sana sebagai pelampiasannya saja.”
Santica tersenyum masam, dia tak pernah menyangka jika pernikahan yang sangat dia impikan dari dulu bersama dengan Al. Harus berakhir seperti ini, entah dosa apa yang Santica lakukan pada masa lalu hingga berimbas kepada pernikahannya. Tapi mungkin, ini jalan satu-satunya bagi Santica untuk terlepas dari jeratan tangan Al.
“Cantik, apa kau sudah tidur. Aku membelikan makanan kesukaan mu!”
“Aku belum tidur Roy, tunggu sebentar. Aku cuci wajah dulu!”
“Sip, aku tunggu dimeja makan ya.”
Roy berjalan menuju kemeja makan, lalu menghidangkan makanan yang dia beli. Tak beberapa lama kemudian, Santica sudah keluar dengan wajah segarnya dan jangan lupakan piyama seksi yang dipakai oleh wanita itu. Walau masih tidak terekspos tapi Roy masih bisa melihatnya dengan jelas. Ets tapi tenang saja Roy bukan pria yang gampang nafsuaann dia sangat mencintai Santica. Tapi bukan berarti dia bisa melakukan apa saja demi kepuasan bathinnya. Roy itu sangat menghargai dan menghormati seorang wanita, ya walaupun kisah asmaranya tidak semulus sikap baiknya.
“Makan gih, kau pasti sangat lapar. Besok kita akan membeli bahan-bahan masakan, agar kau tak menahan rasa lapar lagi!”
“Hem, terimakasih Roy.”
Santica tersenyum manis, lalu dengan lahap mengambil satu persatu makanan yang dibelikan oleh Roy. Makanan itu semua adalah kesukaannya Santica, jadi tidak heran kalau wanita itu sangat menikmatinya. Tapi tidak dengan Roy, dia merasa ada yang janggal dengan Santica. Ya Santica makan dengan rakus sampai-sampai menghabiskan separuh makanan itu.
“Apa kau sangat lapar, cantik?”
“Ya, tapi mungkin ini bawaan bayinya kali!”
Bayi.
“Bayi, bayi siapa cantik. Apa maksudnya?”
Tbc.