
Preview bab sebelumnya
“Hei, Chike!” panggil Zaky yang tak tahan untuk tidak mengatakan hal yang ingin ia tanyakan pada Chike.
“Ada apa, Kak?” sahut Chike yang sedang mengunyah.
“Tentang apa yang kamu katakan terakhir kali, apa itu masih berlaku?” tanya Zaky ragu.
*****
“Pertanyaan mana yang Kakak maksud?” tanya Chike bingung.
“Itu... kamu bertanya apakah aku ingin pergi melakukan perjalanan denganmu tanggal 29 nanti.”
“Ah! memangnya kenapa, Kak?” tanya Chike ketika sudah mengingat.
“Mari kita pergi! Tiba-tiba aku ingin pergi denganmu, hanya kita berdua.” Ucapan Zaky sukses membuat Chike terdiam sambil menatapnya.
“Ayo kita melakukan perjalanan. Oleh karena itu, kamu harus berhenti melakukan hal-hal yang berbahaya. Mulai sekarang, mari kita bersenang-senang dan berhenti memikirkan banyak hal yang tidak terlalu penting,” ucap Zaky serius.
“Kak...”
“Ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu. Jadi, ayo kita pergi,” lanjut Zaky cepat, takut Chike menolak.
“Hei! Mengapa kamu menangis?!” Zaky berseru panik ketika melihat Chike yang meneteskan air mata.
“Terima kasih...” ucap Chike terharu sambil menunduk. Ia tak menyangka bahwa Zaky ingin pergi bersamanya.
“Syukurlah,” desah Zaky lega.
“Jadi, apakah kita akan pergi melakukan perjalan bersama?” tanya Zaky kembali memastikan.
“Tentu saja,” sahut Chike tersenyum lebar. Ia sudah menghapus sisa-sisa air matanya.
“Aku lega mendengarnya. Baiklah, mari kita lanjutkan sarapannya.”
Mereka pun kembali melanjutkan sarapan yang tertunda dengan canda ria yang melingkupinya. Mereka juga membahas tentang rencana tentang kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan saat pergi nanti.
*****
Tok! Tok!
Chike yang sedang rebahan di kasurnya bangkit ketika mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
Tok! Tok!
“Tunggu sebentar!” seru Chike sambil mengikat rambutnya yang tergerai.
“Oh, Kak Zaky! Ada apa, Kak?” tanya Chike ketika melihat Zaky yang berdiri di depan kamarnya.
“Ayo ikut denganku!” ajak Zaky.
“Sekarang? Ke mana?” tanya Chike bingung. Zaky tiba-tiba mengetuk pintunya dan mengajaknya pergi. Apalagi dirinya hanya memakai baju tidur saat ini.
“Iya, sekarang.”
“Harus sekarang? Tapi aku lagi begini,” tanya Chike sambil melihat penampilannya sendiri.
“Aku akan menunggumu berkemas. Jadi, cepatlah ganti pakaianmu.” Senyuman tipis terlukis di bibir Zaky.
“Hah, baiklah. Aku akan berganti pakaian dengan segera. Kakak tunggu sebentar.”
“Bagus! Aku akan menunggumu di depan asrama. Cepatlah turun agar kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama.”
Chike mengangguk paham. Zaky pun segera pergi, meninggalkan Chike yang langsung berkemas dengan segera.
“Ayo, Kak!” ajak Chike yang sudah berkemas pada Zaky yang berdiri di luar asrama sejak tadi.
“Udah siap?”
“Udah.”
“Nggak ada yang ketinggalan?”
“Nggak ada.”
“Yakin?”
“Iya, yakin!”
“Oke, ayo kita pergi!” ajak Zaky yang sudah berjalan duluan.
“Eh, Kak! Tungguin!” seru Chike yang tak terima ditinggal.
“Makanya cepetan! Siapa suruh lamban kayak siput,” ledek Zaky yang terus saja berjalan dengan langkah kakinya yang panjang.
“Bukan aku yang lamban, tapi kaki Kakak yang terlalu panjang,” sungut Chike berlari kecil untuk mensejajarkan langkah mereka.
*****
“Kak, sebenarnya kita mau pergi ke mana?” tanya Chike yang mulai lelah. Dari tadi mereka berjalan dan naik bus kota, kemudian lanjut berjalan lagi. Namun, sampai sekarang mereka tak kunjung sampai di tempat tujuan.
“Setidaknya, bisakah kita mencari minuman terlebih dahulu?”
“Bersabarlah, hanya beberapa langkah lagi kita akan sampai.”
“Kakak daritadi selalu mengatakan hal yang sama, namun sampai sekarang kita belum sampai juga. Kita sudah melewati banyak tempat, tapi itu semua bukan tujuan Kakak. Sebenarnya kita mau ke mana?” keluh Chike.
“Akh! Kakak kenapa berhenti tiba-tiba sih?!” seru Chike sambil memegang dahinya yang menabrak punggung Zaky.
“Sudah sampai,” ucap Zaky.
“Sudah?” tanya Chike yang mengintip ke depan melalui belakang badan Zaky. Seketika matanya berbinar ketika melihat rumah makan yang ada di hadapannya. Warung itu tidak terlalu besar, namun penuh dengan pelanggan.
“Wah, aku baru tau ada tempat yang seperti ini di kota ini,” decak Chike kagum.
Zaky tersenyum tipis. “Ini adalah tempat yang dulu sangat sering aku kunjungi bersama Kakekku. Walau tempatnya agak terpencil, namun tempat ia selalu ramai pelanggan. Makanan di sini juga sangat enak,” sahut Zaky.
“Tunggu apa lagi, Kak? Ayo kita masuk!” ajak Chike yang sudah masuk duluan. Zaky mengikutinya di belakang.
“Astaga! Lihatlah siapa yang datang!” seru seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Chike menatap Zaky dengan bingung, bertanya siapa wanita itu?
“Siang, Bibi. Bagaimana kabarmu?” sapa Zaky yang langsung memeluk wanita paruh baya itu.
“Oh, aku sangat baik. Sudah 3 tahun lamanya kami tidak pernah datang ke sini lagi. Aku sangat merindukanmu.”
Zaky melepaskan pelukannya. “Bibi, perkenalkan ini temanku, Chike. Dan Chike, perkenalkan ini Bibi Ella, pemilik rumah makan ini.” Zaky memperkenalkan mereka berdua.
“Halo, Bibi.” Chike membungkuk sopan.
“Halo. Oh, kamu gadis yang cantik dan sopan,” ucap Bibi Ella yang membuat Chike memerah malu.
“Bibi terlalu memuji.”
“Tidak! Aku mengatakan yang sebenarnya. Ah, aku tidak menyangka ternyata Zaky sudah dewasa, apalagi Dia sampai membawa gadis sepertimu ke sini. Dia sangat pintar memilih.” Bibi Ella berdecak kagum.
“Bibi, kami sudah sangat lapar sekarang. Bisakah Bibi membuatkan kami makanan?” Zaky segera mengganti topik karena melihat muka Chike yang semakin memerah.
“Hmm... baiklah, aku mengerti. Pesanan seperti biasa kan?” sahut Bibi Ella paham. Zaky mengangguk.
“Baiklah, kalian tunggu saja dulu. Bibi akan segera mengantarnya.”
Chike dan Zaky memilih meja kosong dekat pojokan. Chike melihat-lihat sekeliling rumah makan itu.
“Apa dulu kamu sering pergi ke sini bersama Kakekmu, Kak?” tanya Chike.
“Iya. Bahkan kamu selalu mampir seminggu sekali.”
“Lalu, mengapa kamu berhenti datang sejak 3 tahun lalu?” tanya Chike penasaran.
“Itu karena Kakekku sudah tiada, jadi tidak ada orang yang mengajakku ke sini.”
“Maaf...” ucap Chike pelan, merasa tak enak.
“Tenang saja karena pada akhirnya aku kembali ke sini walau dengan orang yang berbeda.” Zaky mengatakan itu sambil menatap Chike.
“Oh, benarkah?” tanya Chike malu karena ditatap Zaky, apalagi dengan senyuman menawannya.
“Saat kamu ke sini, kamu harus mencoba sup iganya. Itu benar-benar enak dan menjadi menu khas rumah makan ini.”
“Wah, berhentilah mengatakannya seperti itu. Aku menjadi semakin lapar sekarang,” sahut Chike sedikit cemberut.
“Hahaha... aku hanya merekomendasikannya. Bersabarlah sebentar, aku sudah memesannya untuk kita.”
“Aku semakin tidak sabar untuk mencicipinya,” desah Chike yang membuat Zaky tersenyum geli.
*****
“Selamat tinggal, Bibi,” pamit Chike dan Zaky.
“Sering-seringlah berkunjung ke sini. Aku akan selalu menantikan kedatangan kalian.”
“Baiklah, kami pergi dulu, Bibi.” Mereka membungkuk sopan kemudian pergi dari situ.
“Wah, aku sangat kenyang. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku makan selahap itu. Sup iga yang kamu rekomendasikan memang sangat enak, Kak.”
“Syukurlah jika kamu menyukainya.”
“Terus kita akan pergi ke mana lagi?” tanya Chike yang berjalan mendahului Zaky. Ia membalikkan badannya dan berjalan mundur.
“Lihatlah ke depan atau kamu akan terjatuh.”
Chike menurut. “Lalu kita akan pergi ke mana? Ini masih jam 1 siang dan kita masih memiliki banyak waktu yang tersisa.”
“Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?” Zaky bertanya balik.
“Bagaimana jika kita pergi ke wahana bermain dan ke pasar?” saran Chike.
“Ide yang bagus. Baiklah, mari kita pergi,” setuju Zaky.
Akhirnya sisa hari itu mereka habiskan dengan bermain berbagai macam wahana dan permainan yang ada. Mereka juga mencoba berbagai cemilan yang ada di pasar. Senyuman terus merekah dari bibir mereka berdua.