
“Apa maksud dari ucapanmu itu, Gayatri?” Setelah berusaha untuk menenangkan jantungnya yang ingin melompat keluar karena kegirangan tanpa sebab, Dewangkara berusaha memperjelas maksud dari ucapan Gayatri padanya baru saja. “Kenapa hanya karena bersamaku, malam ini terlihat lebih indah?”
Di bawah sinar bulan yang terang, Dewangkara dapat dengan jelas melihat wajah Gayatri yang merona. Kedua pipinya memerah, matanya berbinar dan senyuman di bibirnya terlihat sedikit malu-malu. “Kau benar-benar pria yang tidak peka, Dewangkara. Aku benar-benar terkejut melihat betapa hebatnya kemampuanmu tiga hari ini, tapi kepekaanmu benar-benar berbanding terbalik dengan kemampuanmu itu.
Huft. Dewangkara menghela nafas panjangnya mendengar jawaban Gayatri untuk pertanyaannya. Bukan ini yang aku maksud. Itulah yang Dewangkara ucapkan di dalam benaknya. Dewangkara bertanya hanya untuk memastikan apakah yang dia pikirkan dan apa yang Gayatri pikirkan adalah sama atau tidak. “Biar aku tanyakan sekali lagi, Gayatri. Aku bertanya karena tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita. Apa maksud dari ucapanmu itu, Gayatri?”
Senyum di bibir Gayatri menghilang. Wajahnya yang tadi terlihat seperti tomat yang matang kini berubah. Warna merah di pipinya menghilang, kedua tangannya mengepal dan tidak lama kemudian Gayatri berlari ke arah Dewangkara. Hup. Gayatri melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dewangkara, memeluk tubuh pria itu dan membuat tubuhnya tidak lagi memiliki jarak dengan tubuh Dewangkara. Dengan keadaan ini Gayatri dapat dengan jelas mendengar detak jantung Dewangkara dan sebaliknya.
“Gayatri, kau!” Dewangkara yang terkejut karena tindakan Gayatri, hanya bisa mengatakan hal itu sebagai respon dari rasa terkejut yang menyerang.
“Apa ini menjelaskan segalanya, Dewangkara??” Gayatri memeluk tubuh Dewangkara lebih erat lagi. “Aku menyukaimu, Dewangkara. Sejak pertama kita bertemu, aku sudah menyukaimu.”
Dewangkara mengangkat kedua tangannya untuk melepaskan pelukan Gayatri di tubuhnya, tapi Gayatri menolak untuk melepaskan pelukan itu dan membuat pelukannya semakin erat saja. Berkat itu, nafas dan denyut jantung Dewangkara semakin cepat saja. Pelukan yang diberikan oleh Gayatri itu terasa nyaman dan hangat, tapi di sisi lain Dewangkara merasa jika pelukan itu tidak seharusnya dilakukan oleh pria dan wanita yang belum menikah.
“Kamu tidak ingin melepaskan pelukanmu di tubuhku, Gayatri?” Dewangkara mencoba bertanya setelah usaha pertamanya mencoba melepaskan diri gagal.
“Tidak, sebelum kamu mengatakan bagaimana perasaanmu padaku.” Gayatri bersikeras layaknya anak kecil yang sedang meminta sesuatu.
“Bukankah ini namanya pemaksaan, Gayatri??” Selama beberapa hari tinggal di kediaman Yasodana, Dewangkara selalu dikejutkan oleh sikap dan sifat Gayatri yang terkadang bisa sangat berbeda. Gayatri terkadang bisa sangat lembut, tapi terkadang juga bisa sangat kasar. Di sisi lain, Gayatri terkadang bisa memahami orang lain dengan mudah, tapi terkadang Gayatri bisa sangat keras kepala seperti saat ini.
Gayatri kemudian melepaskan pelukannya di tubuh Dewangkara dan menatap Dewangkara dengan wajah sedih. “Jadi kau tidak menyukaiku, Dewangkara?”
Dewangkara tersenyum kecil melihat raut sedih Gayatri saat ini. Mengingat bagaimana Gayatri selalu khawatir padanya, mengingat bagaimana Gayatri selalu ada di sisinya ketika penyakitnya kumat, mengingat bagaimana Gayatri nyaris terjatuh karena tahu kedatangannya dan bagaimana Gayatri tersenyum bahagia hanya karena melihat dirinya, sebuah kebohongan besar namanya jika Dewangkara tidak menyadari perasaan Gayatri untuknya. Selama ini Dewangkara diam dan bersikap tidak peduli adalah karena penyakitnya. Penyakit Dewangkara sudah membuatnya gagal menjadi bayangkara, siapa wanita yang mau menikahi pria yang memiliki gangguan seperti Dewangkara? Itulah yang ada di dalam benak Dewangkara dulunya.
Tapi sekarang ... ada seorang wanita yang mengungkapkan perasaannya pada Dewangkara dengan lugasnya dan menghapus semua kekhawatiran Dewangkara selama ini.
“Siapa yang bilang aku tidak menyukaimu, Gayatri??? Siapa pun yang melihatmu, pria mana pun itu, pasti mereka akan jatuh cinta padamu. Kau cantik jelita dan punya sikap yang baik. Siapa yang akan tidak menyukaimu??”
Gayatri tersenyum mendengar ucapan Dewangkara itu. Tapi senyuman itu dalam sekejap menghilang. “Jika kau menyukaiku, kenapa kau menolak pelukanku?”
Dewangkara mengangkat tangannya dan kemudian meletakkannya di atas kepala Gayatri. “Kau ini kenapa begitu berani sekali menjadi seorang wanita?? Memeluk pria seperti tadi akan membuat orang lain melihatmu dengan cara buruk dan mungkin akan membuatmu terlihat seperti wanita nakal, Gayatri. Kau belum menikah juga belum mengikat janji pernikahan dengan seorang pria, melakukan hal seperti tadi hanya akan membuat orang-orang yang melihatnya berpikiran buruk tentangmu. Jadi jangan lakukan hal itu lagi, Gayatri.”
Senyuman di bibir Gayatri kembali dan kali ini sesuatu yang berkilau jatuh dari mata Gayatri. Masih dengan tersenyum, air mata jatuh membasahi wajah Gayatri. “Kau benar-benar menyukaiku juga, Dewangkara?”
Dewangkara mengangkat tangannya dari atas kepala Gayatri dan kemudian bergerak ke wajah Gayatri untuk menghapus air mata di wajah Gayatri. “Ya, aku juga menyukaimu. Apa kau puas mendengarnya, Gayatri?”
Dewangkara tersenyum melihat air mata Gayatri yang terus jatuh karena perasaan bahagianya. “Akulah yang harusnya berterima kasih karena wanita cantik ini menyukaiku yang serba kekurangan ini.”
Malam itu ... bulan dan bintang menjadi saksi bisu kisah cinta Dewangkara dan Gayatri yang baru saja dimulai. Bintang-bintang berkelip seolah mereka ikut bahagia merasakan kebahagiaan dari Dewangkara dan Gayatri. Sinar bulan yang menyinari Dewangkara dan Gayatri, semakin terang seolah mengatakan jika sang bulan ikut merestui kisah cinta Dewangkara dan Gayatri. Angin yang berembus dan daun-daun yang bergoyang seolah sedang memberi tepuk tangan mereka untuk kisah cinta Dewangkara dan Gayatri.
*
Keesokan harinya.
Setelah latihan dengan Lingga dan Biantara berakhir, Hattali memanggil Dewangkara untuk menghadapnya.
“Bagaimana perkembangan Lingga, Dewangkara?” Begitu masuk ke dalam ruang kerja milik Hattali, Dewangkara langsung menerima pertanyaan itu dari Hattali.
“Jauh lebih baik, Rama. Tangan kirinya membuat latihan Kangjeng Lingga semakin baik. Jika Kangjeng Lingga masih ingin mengikuti ujian bayangkara, Kangjeng Lingga hanya perlu berlatih lagi dan saya rasa kemampuannya sudah cukup untuk menjadi anggota bayangkara.”
Setelah memberikan jawaban untuk pertanyaannya, Hattali kemudian berkata lagi pada Dewangkara. “Kain yang diminta antapura telah siap, besok kau sudah bisa kembali ke ibu kota dengan membawanya.”
“Terima kasih, Rama. Seperti ucapan Rama, kain itu benar-benar jadi dalam waktu lima hari.”
Hattali menatap ke arah Dewangkara dengan wajah serius. “Sebenarnya aku memintamu untuk menghadapku, untuk bertanya sesuatu yang lebih serius. Bisakah aku bertanya padamu, Dewangkara?”
Dewangkara mengerutkan keningnya karena merasa heran pada Hattali yang harus meminta izin kepada dirinya untuk bertanya. “Silakan, Rama.”
“Setelah ini ... setelah semua ingatanmu kembali dan juga mimpi burukmu yang telah hilang, apa yang akan kau lakukan, Dewangkara? Apa kau juga akan mendaftar untuk ujian bayangkara?”
Dewangkara tidak terkejut ketika mengetahui Hattali tahu bahwa dirinya sudah tidak lagi mengalami mimpi buruk sejak ingatan lamanya kembali. Di dalam benaknya muncul wajah seseorang yang tahu bahwa Dewangkara sudah tidak lagi bermimpi buruk. Gayatri pasti sudah menceritakan hal ini pada Rama.
“Sebelum saya menjawab pertanyaan itu, bisakah saya bertanya pada Rama?”
Hattali menganggukkan kepalanya. “Tentu.”
“Kenapa Rama mengajukan pertanyaan itu pada saya?”
Hattali menatap serius ke arah Dewangkara. Tatapan itu begitu serius seolah mengatakan pada Dewangkara bahwa jawaban yang kelak keluar dari mulut Dewangkara bisa menjadi masalah jika Dewangkara tidak benar-benar menjawab dengan bijak.