ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: JANJI YANG TIDAK BISA DITEPATI PART 2



            Syuttt .... syuttt .... syutt ....


            Wushh .... wushh .... wushh ...


            Kling ... kling ... kling ....


            Melihat hujan panah yang berjatuhan para bayangkara milik Maharaja langsung bergerak mundur untuk menyelamatkan diri mereka. Sementara itu Dewangkara yang berlari ke arah belakang untuk melindungi Rakryan Mahapatih Nambi yang sedang sekarat dan tidak bisa melindungi dirinya. Dewangkara berhasil menghalau hujan anak panah itu dan melindungi Rakryan Mahapatih Nambi yang sekarat. Akan tetapi hujan panah yang terus berdatangan itu terus berhasil melewati halauan Dewangkara dan akhirnya menembus ayunan tombaknya dan mendarat di tubuhnya sendiri.


            Jleb ... jleb ... jleb ...


            Syutt ... syutt .... syut ....


            Jleb ... jleb ... jleb...


            Dalam waktu singkat tubuh Dewangkara kini telah menjadi sarang dari banyak panah yang menancap di tubuhnya.


            “Hueek .... “ Muntahan darah keluar dari mulut Dewangkara bersamaan dengan kedua kakinya yang mulai kehilangan kekuatannya untuk menopang tubuhnya. Bruk. Dewangkara jatuh berlutut dengan tombak yang masih berada di tangannya dan membuatnya untuk tetap bertahan untuk melindungi Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Berhenti!!” Melihat Dewangkara yang sudah jatuh berlutut dan kini berada dalam kondisi sekarat, Maharaja mengangkat tangannya dan kemudian meminta pasukannya  untuk berhenti melancarkan serangan panahnya.


            Maharaja kemudian turun dari kereta perang dan berjalan melewati pasukannya, menuju ke tempat di mana Dewangkara jatuh berlutut dengan banyak panah menancap di tubuhnya. Maharaja kemudian berlutut untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Dewangkara sebelum bicara kepada Dewangkara yang sedang sekarat.


            “Panah ini menembus jantungmu. Kurasa sudah tidak lama lagi kamu akan kehilangan nyawamu, Dewangkara.” Maharaja menunjuk satu anak di tubuh Dewangkara yang menembus jantungnya dan membuatnya mengeluarkan muntahan darah.


            “Maharaja mengingkari janji yang Maharaja buat sendiri,” balas Dewangkara sembari menahan rasa sakit di tubuhnya.


            Maharaja mendekat kepada Dewangkara dan berbicara dengan nada lirih. “Sayang sekali aku harus melakukannya, Dewangkara. Sebelum kematian Maharaja pertama, aku telah berjanji padanya. Aku berjanji akan menjaga satu rahasia yang dibuat oleh Maharaja pertama. Janji itu adalah tidak satu pun orang di kerajaan ini yang boleh mengungkit lagi mengenai Rakryan Tumenggung Sena dan istrinya. Akan tetapi janji itu ... karena kau dan teknik yang sama dengan teknik milik Rakryan Tumenggung Sena itu, membuat banyak orang mulai teringat lagi padanya. Jika aku tidak salah ini sudah enam belas tahun sejak dia menghilang secara tiba-tiba dan selama enam belas tahun ini tak ada satu orang pun yang mengingatnya, Dewangkara.”


            Huek ... muntahan darah merah segar keluar dari mulut Dewangkara lagi dan membuat Maharaja bergerak mundur untuk menghindarinya.


            “Sepertinya waktumu di dunia sudah tidak lama lagi, Dewangkara.” Maharaja melirik ke belakang tubuh Dewangkara di mana Rakryan Mahapatih Nambi terbaring kaku karena sudah kehilangan nyawanya. “Sayang sekali ... sepertinya usahamu untuk menyelamatkan Rakryan Mahapatih Nambi juga harus berakhir sia-sia. Dari jarak ini aku dapat melihat Rakryan Mahapatih sudah tidak lagi bernafas dan telah kehilangan nyawanya.”


            Dewangkara mengeratkan pegangannya pada tombak miliknya untuk tetap bertahan di posisinya saat ini. Air matanya mengalir, karena mendengar kenyataan bahwa ayah asuh yang selama ini selalu menjaga dan melindungi Dewangkara telah kehilangan nyawanya.


            “Karena kau sudah membuatku melihat pertarungan terbaikmu, aku akan membiarkanmu mati setelah matahari terbit.” Maharaja bangkit dari posisi berlututnya sembari menengadah ke langit yang mulai berubah warna karena malam mulai berganti pagi. Sebelum pergi kembali ke kereta perangnya, Maharaja mengatakan kalimat terakhirnya pada Dewangkara. “Antara janjiku padamu dan janjiku pada Maharaja pertama, aku tentu harus memilih janjiku pada Maharaja pertama. Aku harap kau mengerti, Dewangkara.”


            Maharaja  kemudian berjalan kembali ke kereta perangnya dan sebelum pergi meninggalkan Dewangkara begitu saja, Maharaja memberi perintah pada pencatat  sejarah yang selalu ikut bersamanya dan semua orang yang ada di benteng Gending.


            “Camkan dalam ingatan kalian! Hari ini kita telah menjatuhkan benteng Gending dan membunuh Rakryan Mahapatih Nambi dalam pengeroyokan. Selain itu tidak boleh ada siapapun dari kalian yang menyebut nama Dewangkara sebagai putra asuh Rakryan Mahapatih Nambi! Rakryan Mahapatih Nambi tidak punya anak asuh dan selamanya akan tetap begitu. Apa kalian mengerti?”


            Dalam keadaan sekarat, Dewangkara mendengar ucapan Maharaja itu dan menyadari alasan di balik perbuatan Maharaja itu. Dewangkara merasa Maharaja tidak ingin Hattali dan Gayatri yang terikat janji pernikahan dengannya terlibat dalam kasus ini dan kemudian terseret dalam pemberontakan Rakryan Mahapatih Nambi.


            Ini yang terbaik untuk Gayatri. Dewangkara menatap ke arah langit sembari menunggu matahari terbit dan waktu kematiannya dengan matanya yang mengalirkan air mata kesedihan mengingat ayahnya telah pergi.


*


            Di sisi lain.


            Karena harus berputar-putar untuk menghindari kawasan yang rawan dengan bandit, Gayatri dan Biantara akhirnya tiba di Lamajang menjelang pagi. Meski telah berkuda semalaman, jarak yang ditempuhnya menjadi lebih jauh dari yang seharusnya karena harus berputar-putar untuk mendapatkan jalur aman terutama bagi Gayatri yang adalah seorang wanita cantik apalagi belum menikah.


            “Tunggu sebentar!” Biantara langsung memberi instruksi pada Gayatri begitu melihat asap dari arah Lamajang. Biantara kemudian meminta Gayatri masuk ke dalam hutan di dekat Lamajang untuk menyembunyikan kedatangan mereka.


            “Biantara, ini??”


            “Ya, apapun yang terjadi tadi, jelas terlihat bahwa Rakryan Mahapatih dan Dewangkara gagal melindungi Lamajang.”


            “Kalau begitu, kita harus bergegas untuk menemukan Dewangkara, Biantara!!” Gayatri yang menyadari keadaan buruk di Lamajang, sudah tidak sabar untuk menemukan Dewangkara dan membawanya kembali ke Tarik. Gayatri bahkan hendak membuat kudanya berlari masuk ke dalam Lamajang tanpa pikir panjang.


            “Kita tidak bisa masuk ke sana begitu saja, Gayatri!!! Jika masih ada pasukan Maharaja di dalam Lamajang, mereka akan mengira kita adalah orang dari Lamajang dan akan langsung membunuh kita di tempat. Jika hal itu yang terjadi, kita tidak akan bisa menyelamatkan Dewangkara!!”


            “Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan, Dewangkara??”


            Biantara turun dari kudanya. “Tunggu di sini sebentar lagi saja! Aku akan melihat keadaan di sana dan memastikan bahwa pasukan Maharaja sudah tidak ada. Tapi jika pasukan Maharaja masih di dalam Lamajang, kita terpaksa ke Lamajang dengan berjalan kaki dan meninggalkan kuda kita di luar Lamajang dan menyembunyikannya.”


            “Apa harus begitu?” Gayatri merasa tidak yakin dan juga tidak sabar. “Jika begitu, kita akan kehilangan banyak waktu untuk menyelamatkan Dewangkara.”


            “Yakinlah pada Dewangkara!! Dia bukan orang yang tidak akan menepati janjinya. Dewangkara pasti bertahan hidup apapun yang terjadi!”


            Gayatri merasa ragu dengan pemikiran Biantara. Akan tetapi seperti ucapan Biantara, jika ingin menolong dan menyelamatkan Dewangkara, dirinya harus lebih dulu hidup. Jika Gayatri mati di tangan pasukan milik Maharaja, maka kedatangannya kemari dengan kabur dari rumahnya akan berakhir sia-sia saja.


            “Baiklah, aku setuju. Tapi jangan terlalu lama, Biantara. Dewangkara mungkin sedang terluka dan membutuhkan bantuan dari kita sesegera mungkin.”


            “Aku mengerti.” Setelah mendapatkan jawaban dari Gayatri, Biantara kemudian membuat Gayatri bersama dengan kudanya bersembunyi di balik hutan di dekat gerbang Lamajang. Biantara kemudian mengendap-endap masuk ke dalam Lamajang sembari mencari Dewangkara dan memastikan situasi di dalam Lamajang.


            Pagi yang gelap kemudian mulai terlihat terang karena sinar matahari pagi yang mulai menyinari. Gayatri yang merasa sudah menunggu cukup lama, tidak lagi bisa menahan kesabarannya dan kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam Lamajang.