
“Aku?” Bara menunjuk dirinya sendiri. “Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat Raditya dan Nona Cintya menghindar dari kematian tragis yang menunggu mereka?”
“Sekarang dalam waktu singkat ini, kau harus mencari jawaban yang tepat untuk itu, Bara. Aku hanya bisa membantumu sampai pada titik ini saja. Aku sudah menyelamatkan Raditya sekali dari kematiannya dan kali ini ... aku tidak bisa lagi ikut campur pada kematiannya lagi. Jika dia mati lagi kali ini, maka semua yang terjadi tidak akan bisa diubah lagi.”
Bara berusaha mencerna ucapan sosok yang menyebut dirinya dengan nama Hyang Tarangga. Bara tidak peduli siapa sosok di hadapannya saat ini, Bara juga tidak peduli alasan sosok di hadapannya saat ini membantunya dan membantu Raditya. Yang Bara pedulikan saat ini hanyalah Raditya, Nona Cintya dan kematian tragis yang membayangi dua orang itu.
“Tunggu sebentar!! Apa maksudnya dengan ikut campur dengan kematian Raditya sekali??” Bara menangkap satu kalimat yang membuatnya tidak percaya mengingat saat ini Raditya masih hidup.
Sekali lagi ... sosok di hadapan Bara mengangkat tangannya dan meletakannya tangannya di atas kepala Bara. Klik ... sosok itu menjentikkan jarinya dan membuat sesuatu masuk ke dalam benak Bara. Kali ini ... Bara melihat bagaimana Raditya kehilangan nyawanya dalam serangan beberapa hari yang lalu. Bara melihat bagaimana Raditya sekali lagi secara spontan bergerak untuk melindungi Nona Cintya dengan mengorbankan nyawanya dan membuat Nona Cintya akhirnya memilih untuk mati karena tidak sanggup melihat kematian tragis dari Raditya.
“Apa kau melihatnya, Bara?” Sosok bernama Hyang Tarangga menarik tangannya menjauh dari kepala Bara.
Bara menganggukkan kepalanya. “Itu artinya Raditya sudah mati sekali karena rencana yang aku dan Nona Cintya buat??”
“Ya dan aku sudah ikut campur dalam kematian itu dengan membuat Raditya selamat dari kematian itu. Aku tidak bisa ikut campur lebih banyak lagi dalam hal ini.”
Bara menatap Raditya yang masih tidak sadarkan diri di kursi karena obat bius yang tadi Bara berikan. Membayangkan Raditya kehilangan nyawanya diikuti dengan Nona Cintya yang memilih mati, membuat Bara merasa takut. Semua rencana yang disusun oleh Nona Cintya: menghancurkan sistem bangsawan dan hak istimewa yang ada, membuat semua orang setara dan juga menghentikan Bagaspati, semuanya bergantung pada Nona Cintya. Jika kematian Raditya menjadi penyebab Nona Cintya kehilangan nyawanya, maka Raditya harus hidup apapun yang terjadi dan hal itu sama seperti ucapan Raditya pada Bara waktu itu. Dan sesuatu terbersit dalam benak Bara saat ini juga.
“Sepertinya kau sudah mendapatkan jawabannya, Bara?” Sosok yang menyebut dirinya dengan nama Hyang Tarangga bertanya kepada Bara setelah melihat raut wajah Bara yang berubah.
“Hanya sesuatu terpikirkan olehku dan kurasa ini adalah jalan terbaik bagi semua orang.” Bara membalas. Bara kemudian menundukkan kepalanya sedikit ke arah Hyang Tarangga sebagai ucapan terima kasihnya. “Terima kasih. Gambaran yang kau berikan ini, sangat berharga. Dengan ini tragedi yang sama tidak akan muncul di depan mataku untuk kedua kalinya.”
“Jangan berterima kasih padaku. Apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang harus aku lakukan dan selebihnya ... aku menikmati kisah kalian. Semoga berhasil, Bara.”
Setelah mengatakan hal itu, sosok yang menyebut dirinya dengan nama Hyang Tarangga menghilang dari hadapan Bara bersamaan dengan suara jentikkan jarinya. Huft ... huft ... huft ... Bara menghela nafas beberapa kali untuk menguatkan mentalnya. Bara menyembunyikan Raditya yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam salah satu lemari pakaian ganti yang ada di ruang ganti. Setelah melakukan itu, Bara mengambil pakaian pernikahan milik Raditya dan kemudian mengenakannya di tubuhnya.
“Lakukan sesuatu dengan wajahku! Buat wajahku ini terlihat mirip dengan Raditya!”
Bara memberikan perintah kepada penata rias yang sudah disiapkan olehnya sendiri. Seharusnya penata rias itu menata wajah Raditya, tapi kali ini wajahnya sendiri yang mendapatkan riasan menggantikan Raditya.
Satu jam kemudian ...
Bara menatap wajahnya sendiri saat ini dan menemukan dirinya terlihat mirip dengan Raditya dan sama persis dengan Raditya yang ada di penglihatannya sebelum ini. Bara tersenyum memandang wajahnya sendiri di cermin di hadapannya. Siapa yang akan menyangka dengan riasan yang cukup, wajahku ini akan terlihat sama dengan Raditya?? Aku tidak menyangka dan semua orang di aula nantinya juga pasti tidak akan menyangka. Apalagi tinggi badan kami berdua hanya berbeda satu hingga dua cm. Perbedaan itu bukanlah perbedaan yang akan mudah disadari oleh kebanyakan orang.
Bara bangkit sembari melihat setelan jas putih pernikahan milik Raditya yang sekarang ada di tubuhnya. Setelah itu Bara melihat ke arah lemari di mana Raditya saat ini disembunyikan olehnya. Maaf telah merebut pakaian pernikahanmu, sobat. Tapi ... aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu. Dan ketika semua ini berakhir, aku harap aku masih bisa bertemu denganmu untuk terakhir kalinya, sobat.
“Tuan?” Seorang pengawal Yasodana masuk ke dalam ruang rias di mana Bara berada.
“Ya?”
“Aku mengerti. Setelah ini aku akan keluar dari menuju aula.” Bara membalas dengan cara bicara Raditya seperti biasanya. Tidak sulit bagi Bara untuk meniru Raditya, mengingat selama ini Raditya adalah teman sekamarnya selama menjadi pengawal Nona Cintya.
“Tuan Raditya??”
“Ya?”
“Apakah Tuan melihat Tuan Bara??”
Bara tersenyum kecil karena riasan di wajahnya dan mengubah cara bicaranya berhasil mengelabui pengawal Yasodana di hadapannya. “Bara sedang di toilet. Kita tidak perlu menunggu Bara.”
“Baik, Tuan.”
Bara berjalan keluar dari ruang rias menuju ke aula. Bara mengepalkan kedua tangannya dan beberapa kali mengembuskan nafas panjangnya. Huft ... huft ... huft .... Sembari terus berjalan menuju ke aula, ingatan lama Bara muncul di dalam benaknya dan memutar ingatan kehidupan lama Bara sebagai Biantara. Pertemuannya dengan Dewangkara, hari-harinya bersama dengan Dewangkara, waktu latihannya bersama dengan Dewangkara, rasa sakit yang dirasakan oleh Dewangkara dan kebahagiaan Dewangkara ketika bersama dengan Gayatri yang hendak melaksanakan pernikahan mereka.
Rasanya masih kemarin semua itu terjadi. Ingatan ini muncul di dalam benakku dan memutar kehidupan lamaku sebagai Biantara-teman dari Dewangkara dan pelayan dari Gayatri.
Rasanya masih kemarin semua itu terjadi: hari-hari bahagia kita di kediaman milik Tuan Hattali, latihan bersama, canda tawa bersama. Aku merasa senang bisa mengingat semua itu lagi.
Rasanya masih kemarin semua itu terjadi: surat yang kau kirim pada Nona Gayatri dan usaha kami berdua untuk menyelamatkanmu, Dewangkara.
Rasanya masih kemarin semua itu terjadi: aku melihat tubuhmu dan tubuh Nona Gayatri yang telah membeku dan kehilangan nyawa kalian.
Rasanya masih kemarin semua itu terjadi: aku duduk menangis di depan makam kalian berdua sembari menyesali banyak hal.
Rasanya masih kemarin semua itu terjadi: aku membuat janji di depan makam kalian berdua sembari menangis kehilangan kalian berdua.
Pintu aula terbuka. Bara melihat semua tamu undangan yang kini melihat ke arahnya sebagai Raditya dan bukan Bara. Tap ... tap ... tap .... Bara melangkahkan kakinya memasuki aula dan naik ke altar suci di mana Raditya harusnya berada di sini untuk mengucap janji suci dengan Nona Cintya.
Dari arah pintu aula, Bara melihat Nona Cintya yang muncul dengan gaun putih yang panjang dan sekarang berjalan ke arahnya. Nona Cintya tersenyum ke arah Bara dan membuat Bara merasa senang karena samarannya kali ini benar-benar berhasil mengelabui banyak orang.
Setelah kau bangun, kuharap kau memaafkanku, Raditya. Maaf karena memilih jalan ini. Maaf karena tidak memberimu pilihan dan memaksamu memilih jalan yang menyakitkan ini. Maaf karena aku tidak sempat berpamitan dengan cara yang baik padamu, sobat. Maaf karena harus merusak sedikit hari pernikahanmu.
Tapi ... ini adalah satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan, satu-satunya jalan yang bisa aku temukan. Kau harus hidup apapun keadaannya, Raditya! Demi Nona Cintya, demi semua orang yang menginginkan sistem bangsawan ini hancur. Kuharap kau akan mengerti, Raditya. Sekali lagi, maafkan aku, Raditya.
Begitu janji suci hendak diucapkan, Bagaspati berdiri dari duduknya bersamaan dengan seluruh pengawal Wardana. Bagaspati mengacungkan pistolnya ke arah keluarganya sendiri dan Bara tersenyum melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Bara mengambil pistol miliknya yang disembunyikannya di balik jas putihnya dan mengarahkannya kepada Bagaspati. Sial!! Masa depan ini sama persis dengan yang aku lihat tadi!!