
“Uhuk ... Uhuk ...”
Tiba-tiba Santica tersedak, lalu dengan cepat Roy mengambilkan air dan menyodorkan ke wanita itu. Dengan rakus Santica meneguk semua air, lalu menatap wajah Roy dengan tatapan yang berbeda. Ada rasa yang tidak bisa dikatakan ketika wajah Santica yang terus menatap Roy tanpa mengeluarkan suaranya.
“Hmm, itu Roy. Ba ... Bayi temanku, ya temanku Kristian. Kau ingatkan kalau dia memiliki bayi kecil berusia tiga tahun?”
Roy pun membenarkan ucapan Santica dengan menggangguk. Memang benar, kalau Kristian wanita Amerika tersebut sudah memiliki anak yang sangat gemas dan bin jail.
“Jadi, tadi sebelum kau kekamarku. Aku sedang Vidio call dengan anaknya. Dan anak Kristian itu sedang makan seperti makanan yang kau beli ini. Aku sangat tergoda Roy, dan mungkin aku juga lapar. Jadi aku bilang ini bawaan bayinya Kristian!”
“Ohh, aku kira kau hamil anaknya pria kejam itu. Tapi kalau kau hamil tidak apa-apa cantik, aku siap kok untuk jadi papa dari anakmu. Ya meski itu bukan anak kandungku sendiri, hahaha.”
Hampir saja aku ketahuan. Maafkan aku Roy, aku belum siap untuk mengatakan ini semua.
Santica pun tersenyum manis lalu menyambung acara makanannya yang sempat tertunda oleh dirinya sendiri. Sedangkan Roy pun begitu, dia tidak mencurigai sedikitpun kepada Santica. Karena ia sangat mempercayai wanita itu melebihi nafasnya sendiri, sungguh sangat bucin sekali.
Pagi harinya.
Digedung perusahaan Berlusconi. Perusahaan yang sangat terkenal akan kedisplinan serta kepiawaian para karyawan yang sangat profesional. Yang bergantung kepada pemilik perusahaan itu untuk melawan arusnya kehidupan sehari-hari. Terlihat seorang wanita berumur kepala lima tengah duduk dengan menatap tajam pemilik perusahaan itu sendiri. Wanita yang sudah tua namun masih kelihatan aura kecantikan nya itu, tengah meredam amarah besar yang siap akan dia ledakan.
“Mom, aku bisa jelaskan!”
“Hmm.”
“Jadi Santica itu selingkuh dari aku Mom, bahkan dia tengah mengandung anak selingkuhannya. Aku sebagai suaminya sendiri tidak tahan akan kelakuannya itu, dan tanpa aku ketahui dia telah pergi entah kemana dengan selingkuhannya itu!”
Tampak ekspresi dan ucapannya agak bisa sedikit dipercayai oleh wanita tua itu. Tapi cara berbicaranya dia sangat tahu, kalau putranya itu tengah membohongi dirinya sendiri. Jelas saja wanita tua itu tahu, karena dia pakar ekspresi yang dengan melihatnya saja dia sudah mengetahuinya. Wanita itu dulu waktu muda menggeluti dunia itu hanya untuk berjaga-jaga saja agar dia aman.
“Terus dia siapa, kenapa dia sangat lancang sekali duduk dipangkuan mu?”
Mata wanita tua itu bergerak kesamping kanan putranya, meneliti dari atas sampai bawah penampilan wanita yang ia acap sebagai perempuan murahan. Padahal dia tidak tahu saja, kalau wanita itu adalah menantu keduanya yang berarti istri kedua Al.
“Hmm, dia ...”
“Perkenalkan Tante, saya Jennifer Aniston Lawrens. Istrinya mas Al, menantu Tante!”
Jennifer tersenyum manis, sambil mengangkat tangannya untuk menyalimi tangan wanita tua itu. Namun belum sampai untuk menyentuh tangannya, wanita tua yang ia yakini kalau itu adalah mama suaminya Al. Menjauh sedikit, menggeserkan badannya sedikit kekiri seolah-olah jijik bersentuhan dengan Jennifer.
Dasar nenek lampir, awas saja kau. Jika tidak ada Al. Aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!
“Hmm, hebat. Kau menikah lagi, tapi tidak memberitahu wanita tua di depanmu ini. Malam ini kau kerumah dan bawa wanita itu juga, aku akan memberimu hadiah besar atas keberanian mu ini!”
“Baik Tante, kami pasti akan datang. Iyakan sayang!”
“Hm.”
Jennifer mengira ia akan mendapatkan hadiah besar dari mertuanya ini. Ia juga berpikir, pastinya wanita itu akan memberikan separuh kekayaannya kepada Jennifer. Tapi sepertinya kau beranggapan salah Jennifer, Al yang duduk disebelahnya menjadi gusar tak karuan. Dia masih senyum, tapi percayalah saat ini ia dilanda ketakutan yang sangat besar. Ia juga tak habis pikir dengan Jennifer, kenapa wanita itu memberitahukan status mereka. Padahal sudah jauh-jauh hari Al berkata untuk diam meski mereka menikah secara sah Dimata hukum dan agama.
- - -
Pria yang bernama Andrew itu melihat tablet yang tak terlalu besar ditangannya, menggerakkan mulutnya serta mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ketelinga bos besarnya itu. Tatapan matanya, bergerak ke kanan dan ke kiri membaca cepat namun dengan suara yang jelas.
“Apa ada jam kosong untukku berpergian sebentar?”
“Ada tuan, dijam 2. Setelah meeting dengan perusahaan Wijaya.”
“Baiklah, kau bisa keluar!”
Pria bernama Andrew itu membungkuk hormat, lalu membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan bos besarnya itu. Selepas pintu ditutup, pria yang menjadi bos besarnya Andrew menelfon seseorang yang sepertinya sangat ia rindukan.
“Hallo, cantik. Apa kau sudah makan?”
“Hallo Roy, ini aku lagi makan. Hmhm, maaf soal tadi ya Roy.”
“Nggak apa-apa, yang penting kamu jaga kesehatan aja oke.”
“Hmm, iya Roy. Kalau gitu aku tutup dulu ya.”
“Oke.”
Santica merasa tidak enak dengan Roy, pasalnya wanita itu tidak memasak untuk Roy. Dan satu kebiasaan Roy sebelum pergi, yaitu makan pagi sebelum beraktivitas. Tapi setelah pria itu rapi, dia tidak menemukan makanan diatas meja. Membuat Roy agak sedikit curiga dengan Santica, dia berpikir kalau wanita itu telat bangun dan lupa menyiapkan makanan untuk dirinya. Ya, walaupun dia bukan siapa-siapa Roy. Namun Santica tahu batasannya sebagai penumpang di apartemen Roy.
Ceklek ...
“Mama, hiks ... Ma ...”
Begitu kaki Roy melangkah, satu pemandangan yang ia lihat. Membuat Roy sedikit khawatir dan gusar, dia menempelkan tangannya di dahi Santica. Wanita itu sangat panas, pikirnya. Apakah karena ini alasannya dia tidak menyiapkan makanan tadi pagi.
“Cantik, hey bangun Cantik!”
Roy berjongkok didepan Santica lalu menepuk pelan-pelan pipi putihnya. Roy sangat sedih, selama ini Santica tidak pernah melihatkan kalau dirinya sangatlah rapuh. Dan sekarang, Roy sadar seberapa bejatnya Al itu. Pria kejam yang sudah membuat wanitanya menjadi seperti ini.
“Hallo Ed, sekarang cepat datang ke apartemen ku!”
“Baik Tuan.”
Sebenarnya Roy pulang ke apartemennya untuk mengambil flashdisk yang tertinggal didalam kamarnya, tapi ketika Roy akan meninggalkan apartemen itu. Dia baru ingat kalau Santica tidak ada di apartemennya, Roy mencoba menelfon tapi tidak diangkat. Pria itu memutuskan untuk masuk kekamar wanita itu guna melihat apakah dia baik-baik saja.
“Bagaimana keadaanya?”
Selepas dokter memeriksa, Roy membawa Edward keluar kamar Santica. Membiarkan wanita itu istirahat, dan Roy juga ingin menanyakan beberapa hal kepada sahabatnya itu.
“Dia mengalami stress yang cukup membuat kehamilannya terganggu, tensi darah rendah. Dan juga tidak memikirkan kesehatan untuk sang bayi. Mungkin kau harus memilih makanan yang sehat agar dia tidak sakit seperti ini!”
“Ha ... Hamil?”
Tbc