
“Ini Biantara-raksaka(1) yang selalu menemaniku.”
(1)Raksaka dalam bahasa Sanskerta berarti penjaga.
Sebelum pergi berkeliling ke ibu kota, Gayatri mengenalkan penjaga yang akan selalu menemaninya ke manapun Gayatri pergi.
“Salam Biantara, saya Dewangkara.” Dewangkara mengenalkan dirinya kepada Biantara sebagai bentuk responnya kepada Gayatri.
“Salam Kangjeng Dewangkara, saya Biantara.”
Dewangkara melihat ke arah Biantara dan memperhatikannya dengan cukup saksama. Dewangtara memperhatikan jika tubuh Biantara cukup tinggi, dengan kulit yang tidak cukup gelap meski bekerja sebagai penjaga. Otot-otot di tubuh Biantara cukup terbentuk hingga terlihat cukup meyakinkan untuk menjadi penjaga. Tapi mata Dewangkara melihat wajah Biantara yang terlihat masih muda jika dibandingkan dengan otot-otot tubuhnya yang mirip dengan bayangkara(2) di antapura.
(2)Bayangkara dalam bahasa Sanskerta berarti penjaga/pengawal raja.
“Mungkin ini tidak sopan. Tapi bisakah aku tahu berapa umurmu, Biantara?” tanya Dewangkara.
“Dua puluh tiga, Kangjeng.”
Dewangkara tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Biantara untuk pertanyaannya. “Karena usia kita sama, akan lebih baik jika kita memanggil nama masing-masing. Bagaimana?”
“Itu ...” Biantara melihat ke arah Gayatri untuk melihat respon bagaimana yang harus diberikannya kepada tawaran dari Dewangkara padanya.
“Tentu saja boleh, Biantara. Jika Kangjeng Dewangkara tidak keberatan, maka aku juga tidak keberatan. Tapi ... ” Gayatri langsung memberikan jawaban pada Biantara tanpa berpikir lama. Akan tetapi Gayatri tiba-tiba menghentikan ucapannya yang belum selesai sembari melihat ke arah Dewangkara dan membuat Dewangkara merasa bingung dan heran.
“Tapi?” Dewangkara mengulangi kata itu sembari membalas tatapan Gayatri.
“Aku juga berusia sama dengan Biantara. Apakah aku juga bisa melakukan hal yang sama dengan Biantara, memanggilmu langsung dengan namamu?” tanya Gayatri dengan sedikit malu-malu.
Dewangkara mengira Gayatri hanya basa-basi ketika mengatakan dia tidak keberatan dan akan memberinya syarat yang mungkin tidak akan bisa dikabulkan oleh Dewangkara dan Biantara. Tapi nyatanya tidak. Dewangkara sama sekali tidak menduga jika Gayatri, seorang putri sudagar yang cantik jelita juga ingin membuang panggilan sopannya ketika bicara dengan Dewangkara.
“Tentu saja, Kangjeng. Jika Kangjeng ingin, Kangjeng bisa memanggilku langsung dengan nama saya. Silakan panggil saya dengan Dewangkara.”
Gayatri tersenyum kecil mendengar jawaban dari Dewangkara sebagai pertanda rasa senangnya. “Kalau begitu, Dewangkara. Akan lebih baik jika kau juga langsung memanggilku dengan namaku: Gayatri, bagaimana?”
“Tentu.”
Kesepakatan selesai. Perkenalan kecil antara Dewangkara dengan Gayatri dan penjaganya yang bernama Biantara pun berakhir. Setelah saling mengenalkan diri satu sama lain dan membuat panggilan yang nyaman untuk satu sama lain, Dewangkara kemudian mengajak Gayatri dan Biantara berkeliling di ibu kota. Dewangkara yang sudah hafal betul dengan ibu kota dan setiap sudutnya, mengajak Gayatri dan Biantara untuk melihat banyak hal: dari makanan yang enak hingga berbagai jualan yang ada di ibu kota.
“Ada apa dengan keramaian itu, Dewangkara?” Gayatri mengajukan pertanyaan kepada Dewangkara ketika melihat orang-orang berkumpul dan sedang melihat ke arah yang sama dengan wajah penasaran.
Tidak sabar dengan jawaban Dewangkara yang belum keluar, Gayatri berlari ke arah kerumunan itu karena rasa penasarannya. Dewangkara dan Biantara yang takut sesuatu yang buruk terjadi pada Gayatri, langsung berlari mengikuti Gayatri.
“Apakah ada acara, Dewangkara? Kenapa semua orang begitu antusias untuk melihat ini?” Gayatri bertanya untuk kedua kalinya kepada Dewangkara dengan wajah penasaran.
“I-itu ... “ Dewangkara tiba-tiba merasakan keringat dingin di tubuhnya. Lidahnya tiba-tiba menjadi sedikit kaku untuk menjawab pertanyaan dari Gayatri. Tangan Dewangkara bergetar dengan hebat secara tiba-tiba karena Dewangkara lupa hari ini ada acara penting di ibu kota.
“Itu apa?” Gayatri menuntut jawaban kepada Dewangkara dan tidak menyadari perubahan pada Dewangkara.
Dewangkara berusaha menjawab pertanyaan dan rasa penasaran dari Gayatri, Dewangkara merasa tidak enak jika melihat wajah senang dari Gayatri itu menghilang karena keadaan aneh pada dirinya yang selalu seperti ini ketika melihat iring-iringan terutama iring-iringan Rakryan Tumenggung yang baru saja pulang dari perang.
“Dewangkara?”
Dewangkara melihat ke arah Biantara dan melihat bahwa Biantara mungkin menyadari keadaannya saat ini.
“Kau baik-baik saja?” tanya Biantara untuk kedua kalinya.
Dewangkara menganggukkan kepalanya sembari membuat isyarat dengan jarinya untuk diam kepada Biantara. Setelah memberikan isyarat itu, Dewangkara melirik ke arah Gayatri yang sedang bahagia melihat iring-iringan ini untuk pertama kalinya.
“Ssst.”
“Kamu yakin?” Biantara mengecilkan nada suaranya karena menyadari isyarat yang dibuat oleh Dewangkara padanya.
“Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya perlu menjauh dari kerumunan ini dan smeua akan baik-baik saja.” Dewangkara berbohong kepada Biantara karena tidak ingin merusak kesenangan dari Gayatri saat. Wajah cantik Gayatri ditambah dengan senyum bahagianya adalah kombinasi yang sangat indah di mata Dewangkara. Dan Dewangkara tidak akan sanggup menghancurkan kombinasi itu karena keadaannya.
Perlahan, Dewangkara berjalan keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang melihat iring-iringan, menemukan tempat untuk duduk dan kemudian mengatur nafasnya yang nyaris putus.
Sial! Dewangkara mengumpati dirinya sendiri dan penyakit anehnya yang tidak bisa melihat iring-iringan sejak enam belas tahun yang lalu. Di saat seperti ini ... Dewangkara merasa dirinya harus menemukan ingatannya yang hilang untuk menyelesaikan masalah dan gangguan aneh di dirinya. Tapi di saat mengingat ucapan ayahnya, Dewangkara merasa hanya perlu menahan gangguan aneh itu sedikit lebih lama dengan harapan perlahan gangguan itu akan menghilang nantinya.
“Lihat siapa yang muncul di sini??”
Suara itu membuat Dewangkara yang sedang berusaha menenangkan dirinya langsung mengambil sikap waspada meski tubuhnya merasa sedikit lemah. Dewangkara mengenali pemilik suara itu.
“Bukankah kau selalu menghindari iring-iringan seperti ini, Dewangkara?? Kenapa kau sekarang di sini dengan kondisi seperti ini??? Bukankah kau sedang menyiksa dirimu sendiri?”
Dewangkara menatap tajam pemilik suara itu, sembari mengatur nafasnya yang terputus. Tapi ... kali ini nafas Dewangkara semakin terputus dan bukannya semakin membaik. Dewangkara semakin sesak nafas dan kini seluruh tubuhnya penuh dengan keringat dingin. Keadaan Dewangkara semakin memburuk sejak kedatangannya.
Sial kau, Danapati!!!, umpat Dewangkara di dalam benaknya.
“Dari pada menyiksa dirimu sendiri dengan berada di sini, bukankan lebih jika kau menyusul orang tuamu di alam baka sana, Dewangkara?? Dari pada hidup menyusahkan Rakryan Mahapatih Nambi, bukankah akan sangat membantu jika kau memilih mati dan pergi menyusul kedua orang tuamu, Dewangkara??”
Dewangkara ingin membalas ucapan mengejek Danapati itu, tapi tubuhnya yang kini sedang tersiksa tidak punya tenaga lebih untuk menghadapi Danapati. Nafas Dewangkara semakin terputus karena Danapati, getaran di tubuh Dewangkara semakin hebat dan Dewangkara tidak lagi bisa mempertahankan posisi duduknya.
Dewangkara jatuh tersungkur dan membuat perhatian Gayatri dan Biantara yang sejak tadi menatap iring-iringan langsung teralihkan kepadanya.
“Dewangkara!!” Gayatri langsung berteriak ketika melihat Dewangkara jatuh tersungkur dengan tubuh yang bergetar hebat.
Dengan tubuh yang masih bergetar hebat dan nafas yang sesak, Dewangkara ingin mengatakan pada Gayatri bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi mulutnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata itu karena otaknya tidak sedang bisa menerima perintah darinya.
“Apa yang kau lakukan pada Dewangkara?” Gayatri dan Biantara langsung menghampiri Dewangkara sembari berteriak kepada Danapati.
Sebelum kegelapan menelan dirinya, Dewangkara melihat ke arah Gayatri yang melihatnya dengan wajah ketakutan dan wajah penuh amarah ke arah Danapati.