ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: RENCANA PERNIKAHAN PART 2



            “Bagaimana Rama tahu masalah rencana pernikahanku dengan Gayatri??” Tidak bisa menahan rasa penasarannya, Dewangkara akhirnya mengajukan pertanyaan itu setelah Rakryan Mahapatih Nambi masuk ke dalam kediamannya, duduk dan meminum air untuk menenangkan dirinya.


            “Aku tidak tahu masalah itu, putraku.” Rakryan Mahapatih Nambi menggelengkan kepalanya setelah meneguk air minumnya.


            “Kalau Rama tidak tahu, kenapa Rama tiba-tiba membahas pernikahanku dan berharap aku menikah dengan gadis dari luar ibu kota? Apa Rama akan membuangku??” Pikiran itu muncul di dalam benak Dewangkara semenjak dua hari sikap Rakryan Mahapatih Nambi yang selalu menghindari dirinya.


            Rakryan Mahapatih Nambi menggelengkan kepalanya untuk kedua kali. “Bukan itu maksudku,  Dewangkara. Meski kau berbuat salah sebesar apapun, aku tidak akan membuangmu. Di mata dan di hatiku, kau adalah anakku dan tidak akan ada satu pun orang yang akan mampu mengubah hal itu, Dewangkara.”


            Mendengar ucapan jujur dari Rakryan Mahapatih Nambi, Dewangkara merasa bersalah dengan pikiran buruk yang sempat terlintas dalam benaknya. “Kalau begitu ... kenapa Rama tiba-tiba membahas masalah pernikahan itu denganku? Apa yang terjadi?”


            Rakryan Mahapatih Nambi kemudian menceritakan apa yang terjadi di antapura hari ini kepada Dewangkara. Rakryan Mahapatih Nambi menceritakan segalanya mengenai ajang yang akan diadakan dua hari lagi dan permintaan khusus Maharaja agar Dewangkara bisa ikut dalam ajang itu.  “ ... Begitulah ceritanya, putraku.  Melihat bagaimana Dyah Halayuda dengan sengaja datang ke antapura dan membawa kabar itu pada Maharaja, aku merasa Dyah Halayuda sedang merencanakan sesuatu padamu.”


            “Apa yang diinginkannya dariku, Rama?”


            Rakryan Mahapatih Nambi menggelengkan kepalanya tidak tahu karena tidak bisa menebak keinginan dari Dyah Halayuda. “Rama tidak tahu. Tapi hadiah yang akan diberikan oleh Maharaja itu mengganggu Rama. Jadi Rama tiba-tiba memikirkan sebuah cara yang akan membuatmu tidak berada di ibu kota untuk waktu yang lama dan satu-satunya yang Rama pikirkan adalah pernikahan dengan gadis dari luar ibu kota.”


            “Rama tidak ingin aku mengikuti ajang itu dan melawan permintaan Maharaja?” Dewnagkara berusaha menebak jalan pikiran dari Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Tidak, kau tetap akan mengikuti ajang itu. Bagaimanapun Maharaja sudah meminta khusus kau untuk ikut. Mau tidak mau, kau harus ikut dan menunjukkan kehebatanmu.” Rakryan Mahapatih menjawab dengan cepat dugaan dari Dewangkara itu.


            “Lalu jika begitu? Apa hubungan ajang itu dengan pernikahan, Rama??” Dewangkara bertanya karena masih tidak bisa memahami jalan pikiran dari Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya.


            “Rama takut hadiah itu adalah cara untuk membawamu masuk menjadi bayangkara. Jika benar begitu ... maka usaha Rama beberapa tahun yang lalu membuatmu gagal masuk bayangkara akan gagal dan pada akhirnya kau akan terlibat masalah politik. Dengan kau yang berada di dalam pasukan bayangkara, baik Dyah Halayuda maupun Maharaja mungkin merasa telah memegang kelemahanku dan hal itu adalah senjata terbaik untuk menghancurkanku dan keluarga ini.”


            Dewangkara tersentak mendengar penjelasan dari Rakryan Mahapatih Nambi. Setelah sekian lama ... Dewangkara akhirnya tahu alasan kenapa Rakryan Mahapatih Nambi mengungkap penyakitnya ketika Dewangkara berhasil lulus ujian bayangkara di peringkat pertama. Dewangkara akhirnya tahu alasan Rakryan Mahapatih Nambi membuatnya tidak berada di dalam bayangkara hingga membuat Maharaja murka. Semua dilakukan untuk melindungi dirinya dan juga keluarga ini.


            “Apa yang ingin Rama lakukan sekarang?” Dewangkara yang memahami kekhawatiran ayah asuhnya bertanya langkah yang harus diambilnya.


            “Sebelum Rama memintamu untuk mengambil langkah selanjutnya,  Rama ingin bertanya padamu, putraku. Apa kau benar-benar menyukai gadis itu? Apa kau benar-benar menginginkan pernikahan ini?”


            Tanpa banyak berpikir, Dewangkara langsung memberikan jawabannya. “Ya, Rama. Aku benar-benar menyukai Gayatri. Mungkin pertemuan dan perkenalan kami hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Tapi dalam waktu singkat, aku melihat ketulusan dan cinta Gayatri untukku, Rama. Gayatri menerimaku apa adanya meski aku memiliki penyakit itu. Dia dengan tulus membantuku dan merawatku ketika penyakitku kumat. Dan keluarganya adalah keluarga yang hangat, Rama.” 


            “Bagus. Kalau begitu malam ini, kirim orang untuk mengirim surat dariku untuk keluarga Gayatri.” Setelah memastikan perasaan Dewangkara mengenai pernikahannya, Rakryan Mahapatih Nambi langsung memutuskan langkah selanjutnya.


            “Apa yang Rama tulis dalam surat itu?”


            “Ramamu akan melamar gadis itu dan memintanya untuk datang kemari, ke ibu kota saat ajang itu diadakan. Rama harus membuat gadis itu dan keluarganya datang kemari, untuk berjaga-jaga mengenai hadiah Maharaja yang mencurigakan itu.”


            Seperti permintaan Maharaja, Dewangkara datang untuk mendaftarkan dirinya untuk mengikuti ajang itu. Dewangkara ingat pagi tadi, di pagi buta tepatnya, kereta kuda yang membawa Gayatri bersama dengan Hattali dan Biantara tiba di depan gerbang ibu kota. Dewangkara sendiri yang menjemputnya dan mengantar kereta kuda itu ke kediaman lain milik Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya.


            Lalu begitu Rakryan Mahapatih Nambi bangun dari tidurnya, ayah asuhnya itu cepat-cepat menemui Hattali Yasodana yang telah tiba di kediaman lain miliknya dan membahas beberapa hal secara rahasia tanpa Dewangkara dan Gayatri.


            “Kau terlihat tenang, Dewangkara?” Gayatri yang mengikuti Dewangkara di ajang itu bertanya kepada Dewangkara.


            “Ini bukan sesuatu yang harus membuatku gugup, Gayatri. Ini hanya ajang dan aku sama sekali tidak berniat untuk menang.”


            “Begitukah?” Gayatri bertanya lagi.


            Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Rama berpesan jika bisa ... aku tidak perlu menang.”


            “Rumit sekali.” Kali ini Gayatri dan Biantara mengatakan hal yang sama untuk responnya terhadap ucapan Dewangkara dan pesan dari Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Memang begitulah hidup di ibu kota,” balas Dewangkara.


            “Ah ... Kangjeng Gayatri.” Suara panggilan yang memanggil nama Gayatri itu membuat Dewangkara dan Biantara langsung bersikap waspada. Dewangkara dan Biantara langsung berdiri di depan Gayatri sebagai tameng.


            “Apa yang membawamu kemari, Danapati?” tanya Dewangkara. “Kudengar kau akan masuk bayangkara lagi sebagai hukuman lain atas perbuatanmu terakhir kali.”


            Danapati memandang sengit ke arah Dewangkara. “Jika bukan karena kau waktu itu, aku tidak akan mendapatkan hukuman dan tidak perlu menjadi bayangkara yang menyusahkan itu. Pamanku bahkan melarangku menikah hingga aku bisa membuat prestasi ketika menjadi bayangkara.”


            “Jadi kenapa kau di sini??” Dewangkara bertanya lagi.


            “Karena masih lima hari lagi sebelum aku masuk ke bayangkara, Pamanku mengatakan aku bisa mengikuti ajang ini untuk memperbaiki namaku yang rusak karena kejadian waktu dan kebetulan Maharaja nanti akan datang langsung untuk melihat ajang ini.” Danapati menatap Gayatri dari celah tubuh Dewangkara dan Biantara. “Kudengar Maharaja nanti akan memberikan hadiah khusus untuk pemenang ajang ini. Mungkin aku bisa meminta Kangjeng Gayatri untuk menjadi istriku jika aku memenangkan ajang ini. Setidaknya sebelum aku menjadi bayangkara, aku sudah memiliki istri yang cantik dan bisa membuatku merasakan kenikmatan duniawi.”


            Setelah mengatakan hal itu pada Dewangkara dan menyapa Gayatri, Danapati kemudian pergi bersama untuk mendaftarkan dirinya dalam ajang itu. Dewangkara yang kesal dengan ucapan dan pikiran Danapati yang tidak pantas kepada Gayatri, mengepalkan kedua tangannya untuk menahan rasa kesalnya.


            “Dewangkara itu ... “ Gayatri menggenggam lengan Dewangkara dengan gemetar.


            Dewangkara membalas genggaman tangan Gayatri di lengannya. “Tenang saja, Gayatri. Aku tidak akan membiarkan pria kotor itu memenangkan ajang ini dan menikahimu!”