
“Tak ada alasan aku menikah denganmu, Bagaspati!” Nona Cintya bicara dengan lantang tanpa rasa ragu seolah beberapa kematian yang baru saja Bagaspati lakukan tidak membuatnya gemetar ketakutan. “Aku tidak menginginkan kematian mereka! Aku hanya ingin semua orang tahu bagaimana Kakakku-Rama dan Chandra Vamana mati. Aku hanya ingin keadilan untuk kedua orang itu. Dan untuk membuat hal itu terjadi, aku harus menghancurkan sistem yang melindungi tiga bangsawan dan hak istimewa yang mereka miliki!! Jadi kematian Agni tidak akan mengubah segalanya terutama niatku!!”
Grrr ... tangan Bagaspati gemetar untuk sejenak karena kematian keluarganya sama sekali tidak mampu mengubah hati dan niat Nona Cintya. Bagaspati kemudian mengeratkan genggamannya di pistol miliknya dan kali ini mengarahkan pistolnya ke arah Raditya.
“Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh memilikimu, Cintya1”
Dor ... dor ... Bagaspati melepaskan tembakan ke arah Raditya. Tapi dua tembakan itu berhasil ditangkis oleh Bara yang memiliki kemampuan yang sama dengan Raditya.
“Maafkan saya, Tuan Bagaspati. Tapi saya tidak akan membiarkan Tuan untuk melukai bagian dari keluarga Yasodana!”
Dar ... dar ... dar ...
Dar ... dar ... dar ...
Adu tembak kemudian terjadi antara pengawal keluarga Yasodana dan Wardana. Bara membawa Raditya bersama dengan Cintya, Indra dan Dara untuk berlindung di balik meja dekat altar suci. Bara sebelumnya sudah memperhitungkan jika akan ada adu tembak di pesta pernikahan ini. Jadi ... Bara sengaja meminta pihak pemerintah untuk menyiapkan meja tamu dan semua meja yang ada di lokasi pernikahan logam. Bara berpikir setidaknya meja-meja dari bahan logam itu akan mampu menjadi pelindung meski tidak akan lama.
“Bawa Tuan Indra dan Nyonya Dara dari sini lebih dulu!!” Bara yang sibuk melindungi Raditya dan Cintya, mendengar teriakan Raditya yang berusaha untuk menyelamatkan kepala keluarga dan nyonya Yasodana lebih dulu.
Dar ... dar ... dar ...
Dar ... dar ... dar ...
Adu tembak ini terus menerus terjadi dengan korban yang berjatuhan dari dua pihak. Bara terus fokus untuk menjatuhkan Bagaspati dan pengawal Wardana. Tapi ... dar ... dar ... Satu tangan terkena dua tembakan yang membuat darah segar mengalir cukup deras.
“Bara!!!” Raditya berteriak ketika melihat Bara terluka.
“Jangan pergi, Raditya!!!” Cintya menghentikan Raditya yang hendak membantu Bara. “Sasaran Bagaspati adalah kau!! Begitu kau keluar dari tempat persembunyianmu, maka nyawamu akan berada dalam bahaya!!”
“Maafkan aku, Cintya! Meski aku tahu nyawaku sangat-sangat berharga dan aku harus tetap hidup agar kau tetap hidup, tapi cara ini salah!! Aku tidak bisa membiarkan banyak orang mati untuk melindungiku! Aku bisa melindungi diriku sendiri, percayalah padaku!!” Raditya bangkit dari tempat persembunyiannya dan maju ke arah Bara untuk membantu Bara.
“Apa yang kau lakukan, Raditya??? Kenapa kau kemari?? Harusnya ... kau berlari pergi bersama dengan Nona Cintya!!! Bukankah kau bilang kau harus tetap hidup agar Nona Cintya tetap hidup???” Bara berteriak pada Raditya sembari terus melepas tembakan ke arah pengawal Wardana dan Bagaspati.
“Itu benar. Seseorang mengatakan padaku, aku harus hidup agar Cintya dan Gayatri bisa menyelesaikan ujian mereka. Tapi ... mengorbankan banyak orang untuk membuatku tetap hidup adalah salah. Kalian adalah keluargaku. Kalian adalah teman dan rekan kerjaku. Tidak mungkin aku diam saja melihat kalian tumbang satu persatu. Aku tidak bisa diam ketika kau dalam bahaya, Bara!!!!” Raditya mengambil dua pistol miliknya yang disembunyikan di balik jas putih miliknya dan mulai melepaskan tembakan.
Dar ... dar ... dar ...
Dar ... dar ... dar ...
Benar saja ... berkat bantuan dari Raditya, pengawal Wardana banyak yang tumbang dalam waktu singkat. Keberadaan Raditya sebagai satu dari beberapa pengawal terbaik, mengubah keadaan genting yang tadi sempat dirasakan oleh Bara.
“Tentang apa?” Bara yang terluka dan hanya bisa menggunakan satu tangannya, membantu Raditya dengan tangannya yang lain.
“Jika akhir dari situasi ini adalah kematianku, jaga Cintya untukku! Bagaimana pun Cintya harus tetap hidup apapun yang terjadi! Dengan begitu di kehidupan berikutnya, kami bisa bertemu lagi dan ujian Cintya akhirnya terhenti pada kehidupan ini.”
“Bicara apa kau, Raditya??” Bara tidak ingin menerima ucapan Raditya. “Kau akan hidup di akhir situasi ini dan hidup bahagia dengan Nona Cintya. Itulah yang akan terjadi!”
Dar ... dar ... dar ...
Dar ... dar ... dar ...
Dar ... dar ... dar ...
Keberadaan Raditya mengubah banyak hal. Adu tembak yang terjadi selama sekitar lima belas menit setelah Raditya ikut membantu, berakhir dengan kemenangan di pihak Yasodana. Seluruh pengawal Wardana termasuk Ratan-pengawal Bagaspati dan pengawal dari kepala keluarga sebelumnya, telah tumbang dengan darah yang mengalir. Aula pernikahan yang tadi dihias dengan warna serba putih kini berubah menjadi merah karena darah yang mengalir dari korban tumbang dalam aduh tembak ini.
Klek ... klek ...
Pistol milik Bagaspati kehabisan peluru dan kini Bagaspati sudah tidak punya senjata untuk melawan Raditya, Bara dan pengawal Yasodana yang masih tersisa.
“Menyerah sekarang, Bagaspati!!” Raditya berteriak ke arah Bagaspati.
“Tidak! Aku tidak akan menyerah!! Akulah satu-satunya orang yang pantas menikah dengan Cintya.” Bagaspati yang sudah tidak bisa menggunakan pistol miliknya karena pelurunya yang telah habis, membuang pistolnya menjauh dan mengambil pisau lipatnya dari balik jasnya. Bagaspati mengarahkan pisaunya ke arah Raditya dan berlari untuk membunuh Raditya. “Jika orang ini mati, kau pasti akan menikah denganku, Cintya!!!”
Ssst ... Raditya yang merupakan pengawal Cintya sebelumnya sama sekali tidak gentar ketika Bagaspati berlari ke arahnya dengan pisau yang terhunus ke arahnya. Raditya berhasil menghindar dari serangan itu dan berusaha untuk menemukan alat untuk melindungi dirinya dari serangan Bagaspati.
Ini ... Bara yang berusaha untuk melindungi Nona Cintya di belakang Raditya kini melihat Raditya yang bergerak dengan lincah menggunakan tongkat yang ditemukannya secara sembarangan sebagai alat perlindungan diri dari serangan yang dilancarkan membabi buta oleh Bagaspati yang sudah kehilangan kewarasannya.
Entah kenapa sepertinya aku pernah mengalami hal ini? Mungkinkah ucapan Raditya mengenai masa lalunya itu adalah benar adanya? Dan jika memang benar, mungkinkah aku termasuk orang-orang yang memiliki hubungan dengan Raditya dan Nona Cintya di kehidupan lama mereka?? Bara terus terpana melihat bagaimana Raditya terus berusaha mempermainkan Bagaspati sebelum akhirnya memukul jatuh Bagaspati setelah membuang pisau yang dibawa oleh Bagaspati.
Buk ... buk ....
Bagaspati terjatuh dan di saat yang bersamaan, sisa pengawal Yasodana yang selamat langsung meringkus Bagaspati. “Harusnya ... sejak awal aku membunuhmu, Raditya!!”
Nona Cintya yang melihat Bagaspati akhirnya tertangkap, menghampirinya dengan senyuman di wajahnya. “Melihatmu hari ini, aku sadar kau tidak beda jauh dengan adikmu-Agni. Kau membunuh keluargamu dengan mudahnya hanya karena seorang wanita dan adikmu membuatku kehilangan kakakku hanya karena rasa cemburu dan irinya yang tidak beralasan.”
“Cintya! Aku melakukan itu untukmu! Bukankah kau menolak menikah denganku karena Agni dan keluargaku yang terkait dengan kematian Rama?” Bagaspati masih saja berusaha membenarkan tindakan buruknya di depan Nona Cintya dengan mengatasnamakan cinta untuk pembunuhan yang dilakukannya.
“Itu memang benar, tapi aku punya alasan lain kenapa tidak ingin menikah denganmu, Bagaspati. Sejak awal ... aku tidak pernah mencintaimu, Bagaspati Wardana.”