ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU : INGATAN LAMA DEWANGKARA YANG HILANG PART 1



            Setelah berterima kasih pada rombongan Yasodana, Dewangkara segera kembali ke kediaman milik Rakryan Mahapatih Nambi. Dewangkara takut jika ayahnya pulang dan tidak menemukan dirinya, ayahnya akan pergi mencarinya karena khawatir dengan penyakit lama Dewangkara. Terlebih lagi tadi di jalanan ibu kota ada iring-iringan Rakryan Tumenggung yang baru saja [ulang dari berperang.


            “Rama, baru pulang?” Dewangkara kembali tepat waktu sesaat sebelum ayahnya memasuki kediamannya dan langsung menyapa ayah asuhnya.


            “Ya, Rama baru pulang. Kamu juga baru pulang, Dewangkara??”


            Dewangkara segera  menganggukkan kepalanya. “Ya, Rama.”


            “Tidak biasanya??”


Dewangkara menangkap perasaan aneeh dari Ayah asuhnya ketika mengajukan pertanyaan itu. “Rombongan yang datang hari ini, kebetulan aku bertemu dengan teman seusiaku, Rama.”


“Jadi kamu menghabiskan waktu bersamanya?” Rakryan Mahapatih Nambi berjalan masuk ke dalam kediamannya dan Dewangkara mengikuti tepat di belakangnya.


“Ya, Rama.” Dewangkara membuat satu kebohongan kecil pada Ayahnya hari ini.


“Dari pada bermain-main, akan lebih baik jika kamu menikah, Dewangkara. Apa di ibu kota ini, kau tidak ada satu gadis pun yang menarik perhatianmu? Jika ada, Ramamu ini akan menggantikan Ramamu yang telah pergi untuk melamarnya. Lihatlah semua anak Rama, mereka semua sudah menikah dan sudah punya anak.  Hanya tinggal kamu seorang yang masih belum menikah dan betah tinggal di kediaman ini bersama dengan Rama!” Rakryan Mahapatih Nambi langsung duduk di kursi tamunya ketika memasuki kediamannya.


Seorang abdi langsung membantu melepas sepatu milik Rakryan Mahapatih Nambi dan membasuh kakinya. Sementara itu Dewangkara yang mengikuti langkah Rakryan Mahapatih Nambi duduk di kursi di dekat Rakryan Mahapatih Nambi untuk melanjutkan percakapannya.


“Jika ada wanita yang aku suka, aku akan langsung meminta pada Rama. Tapi setelah aku yakin, Rama. Bagaimana, Rama??” Dewangkara berusaha untuk membujuk ayah asuhnya yang sudah berulang kali membujuknya untuk segera menikah. Tapi berulang kali usaha itu selalu ditolak oleh Dewangkara karena dia masih ingin tinggal bersama dengan Ramanya untuk membalas budinya. Keinginan untuk menikah itu semakin diurungkan oleh Dewangkara ketika melihat semua anak kandung ayah asuhnya memilih keluar dari kediaman dan tinggal di kediaman mereka sendiri setelah menikah. Melihat hal itu membuat Dewangkara semakin tidak tega meninggalkan ayah asuhnya dengan alasan menikah.


“Rama akan menunggu tapi jangan lama-lama. Siapa yang akan tahu usia manusia, Dewangkara.”


Kali ini Dewangkara menangkap dengan khawatir dan gelisah dari ucapan Rakryan Mahapatih Nambi. Dewangkara dapat merasakan sesuatu sedang mengganggu ayah asuhnya lagi.


“Apa sesuatu terjadi di antapura, Rama?” Dewangkara mencoba untuk bertanya dan memastikan. Dan jawaban yang diberikan oleh Rakryan Mahapatih Nambi adalah jawaban yang sudah diduga oleh Dewangkara.


“Hari ini Maharaja tidak mendengarkan nasihatku lagi.”


“Lagi?” Dewangkara semakin yakin dengan apa yang sedang muncul di dalam benaknya saat ini. Ini pasti ulah orang itu lagi. “Mungkinkah ini gara-gara dia lagi, Rama?”


Huft. Rakryan Mahapatiih Nambi menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Dewangkara. “Ya, dia lagi, Dewangkara. Dulu Rama tidak pernah mempercayainya tapi ... semakin lama, aku merasa bahwa dia berusaha untuk mengendalikan Maharaja. Rama tidak bilang Maharaja yang sekarang adalah pemimpin yang buruk, hanya saja Maharaja memutuskan sesuatu tidak memikirkan risiko dan konsekuensi dari pilihan yang pilihan yang dibuatnya. Rama semakin merasa bahwa posisi Rama ini tidak lagi penting hingga Maharaja selalu menolak apa yang Rama sarankan dan lebih mendengarkan pria itu.”


“Mungkinkah pria itu mungkin mengincar posisi Rama dengan membuat Maharaja berada di sisinya, Rama??”


“Rama tidak tahu, Dewangkara. Tapi ...” Rakryan Mahapatih Nambi menghentikan ucapannya sembari mengingat beberapa kenangan di masa lalunya. Teman-teman dan  rekan-rekannya yang berjuang bersama dengannya membangun kerajaan ini, kini telah pergi. Termasuk maharaja yang memberinya posisi ini pun kini telah pergi dan sekarang, Rakryan Mahapatih Nambi merasa tidak berguna lagi.


“Terima kasih, putraku.”


Hari berganti. Siang berubah menjadi malam dan malam yang tenang itu membuat Dewangkara kembali tidak bisa tidur dengan tenang. Lagi. Mimpi buruk itu datang lagi dan kali ini mimpi buruk itu lebih jelas dari mimpi-mimpi yang pernah datang sebelumnya.


Senyuman itu!! Satu-satunya pria yang tersenyum dalam peristiwa itu adalah Dyah Halayuda. Begitu terbangun dari mimpi buruknya di pagi hari, Dewangkara mendapati mimpinya terlihat jelas hanya pada satu orang. Jika selama ini dalam mimpi-mimpinya, Dewangkara sama sekali tidak bisa melihat wajah orang-orang di dalamnya dengan jelas dan tidak bisa mendengar percakapan di dalam mimpinya. Maka kali ini, Dewangkara menangkap satu wajah tidak asing yang terlihat jelas di dalam mimpi buruknya dan orang itu adalah Dyah Halayuda-pria yang membuat Ayah asuhnya berada dalam masalah selama beberapa tahun terakhir terutama ketika Maharaja pertama meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya.


Setelah membersihkan diri, Dewangkara kemudian mengantarkan sarapan untuk rombongan Yasodana. Karena di pagi hari para abdi yang bekerja di kediaman Rakryan Mahapatih Nambi selalu sibuk, jadi ketika ada tamu di kediaman lain,  Dewangkara yang akan mengantarkan sarapan ke kediaman lain.


“Bagaimana tempat tidurnya, Kangjeng Hattali?” Begitu memasuki kediaman di mana rombongan Yasodana tinggal, Dewangkara bertemu dengan Hattali Yasodana dan langsung menyapanya dengan sopan. 


“Nyaman sekali, Kangjeng Dewangkara,” balas Hattali dengan senyum hangatnya. “Bagaimana keadaan Kangjeng Dewangkara sendiri? Sudah membaik??”


Dewangkra meletakkan dua kotak besar makanan yang dibawanya di atas meja makan dan membalas pertanyaan Hattali Yasodana. “Ketika tidak tidur atau tidak melihat iring-iringan, saya akan baik-baik saja, Kangjeng.”


“Apa mimpi buruk itu selalu datang dalam tidurmu, Kangjeng Dewangkara?”


Dewangkara menatap Hattali yang saat ini menatapnya dengan wajah serius dan bercampur dengan rasa khawatir. Dewangkara kemudian menganggukkan kepalanya menanggapi tatapan serius dari Hattali pada dirinya. “Ya, Kangjeng. Hampir setiap malam saya selalu bermimpi buruk.”


“Pernahkah Kangjeng mencoba mencari tahu ingatan yang hilang itu? Mungkin saja dengan menemukan ingatan yang hilang itu, semua mimpi buruk dan penyakit yang Kangjeng alami bisa sembuh. Aku merasa mimpi buruk itu datang dalam setiap tidur Kangjeng karena ingin membuat Kangjeng mengingat apa yang Kangjeng lupakan.” Hattali mencoba memberi penjelasan dan solusi pada Dewangkara mengenai mimpi-mimpi buruk yang selama ini selalu mengganggu tidurnya.


Dewangkara menundukkan kepalanya dan menjawabnya dengan ragu. “Sudah sejak lama saya ingin melakukannya, Kangjeng. Hanya saja ... Rama selalu mengatakan akan lebih baik jika saya tidak mengingat ingatan yang hilang itu, Kangjeng.”


“Apa ini karena ingatan Kangjeng berhubungan dengan Rakryan Tumenggung Sena??”


Mendengar pertanyaan dari Hattali Yasodana, kedua bola mata Dewangkara membulat karena terkejut. “Ba-bagaimana Kangjeng bisa tahu tentang nama itu? Seingat saya, saya tidak pernah menceritakan mimpi buruk saya kepada orang lain selain Rama.”


Hattali tersenyum kepada Dewangkara. “Apa Kangjeng lupa jika kemarin Kangjeng mengalami mimpi buruk ketika dibawa pulang oleh Gayatri dan Biantara?”


Dewangkara melupakan satu fakta itu karena mimpi buruk pagi ini yang sedikit lebih jelas dari mimpi-mimpi sebelumnya. “Mungkinkah ...”


Hattali menganggukkan kepalanya. “Itu benar, Kangjeng. Kemarin Kangjeng menyebut nama itu ketika sedang tidak sadarkan diri. Aku tahu sedikit tentang Rakryan Tumenggung Sena. Dia adalah panglima kerajaan Majapahit termuda yang pernah ada.”


Rakryan Tumenggung Sena. Dewangkara menyebut nama itu di dalam benaknya dengan perasaan penasaran. Sebenarnya hubungan apa yang aku miliki denganmu?