ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Haruskah Kita Bepergian?



Zaky mengantar orang tuanya ke depan asrama. Dava sudah pamit undur diri duluan karena ingin ke kamar mandi.


Sedangkan dari arah berlawanan Chike baru saja kembali dengan wajah yang lesu karena tidak berhasil mendapatkan apapun. Chike berhenti ketika melihat melihat Zaky yang sedang berbicara dengan orang tuanya.


“Selama berada di sini kamu harus rajin belajar agar bisa cepat lulus. Jangan lupa juga untuk beristirahat yang teratur,” pesan Ayahnya.


Zaky tersenyum. “Ya, tentu saja aku akan melakukan itu, Ayah,” sahutnya.


“Kamu juga harus pulanglah ke rumah sekali-kali. Sudah hampir 4 tahun kamu pergi namun belum pernah sekalipun kamu mengunjungi kami,” ucap ibunya menyindir.


“Bukan aku tidak mau pulang, Bu. Hanya saja saat ini aku sangat sibuk untuk mempersiapkan skripsi milikku agar bisa cepat melakukan sidang kelulusan,” jawab Zaky kalem.


“Kamu ini selalu saja ada alasan jika disuruh pulang. Jika kamu sudah melakukan sidang kelulusan kami akan langsung menjemputmu untuk pulang ke rumah. Selain itu, tidak mungkin kami sebagai orang tua tidak datang ke acara kelulusan anaknya,” jelas ibunya panjang lebar.


“Hahaha, baiklah, Bu. Aku akan pulang jika memiliki waktu senggang,” jawab Zaky.


“Ah, sudahlah. Seperti yang Ayahmu katakan, belajarlah dengan rajin tapi jangan lupa untuk beristirahat. Jangan terlalu memaksa dirimu.”


Zaky mengangguk. “Baik, Bu. Aku mengerti,” sahutnya. Sedangkan Chike terus melihat interaksi anak dan orang tuanya itu.


“Oh, satu lagi! Kamu harus mencari waktu untuk bepergian sekali-kali. Tak baik jika kamu hanya berada di asrama saja. Kamu membutuhkan refreshing untuk badan dan pikiranmu,” lanjut sang ibu.


“Iya, Ibu... aku mengerti.”


“Bagus! Baiklah, kalau begitu Ibu dan Ayahmu pamit pulang dulu. Kamu segeralah beristirahat karena ini sudah sangat larut malam,” pamit ibunya.


“Jaga dirimu baik-baik, Nak,” ucap sang ayah menepuk pelan punggungnya.


“Iya, Ayah. Berhati-hati kalian di jalan,” ucap Zaky melambaikan tangan ketika orang tuanya sudah masuk ke dalam mobil.


“Kami pamit, Nak!” pamit ayahnya sekali lagi dari jendela mobil yang dibuka kemudian baru menghidupkan dan menjalankan mobilnya. Zaky mengangguk dan terus melambaikan tangannya hingga mobil orang tuanya tidak terlihat lagi.


Chike yang melihat orang tua Zaky sudah pergi baru melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke asrama. Zaky yang juga ingin masuk ke dalam asrama tak sengaja melihat Chike yang baru balik.


“Kamu pergi ke mana saja?” tanya Zaky yang menghampiri Chike.


“Oh, aku hanya pergi untuk berjalan-jalan sebentar, mencari angin,” sahut Chike sedikit parau.


“Oh, mencari anginnya...” ucap Zaky yang sedikit canggung. Tak seharusnya dia bertanya tentang privasi seseorang. Seharusnya terserah Chike ingin pergi ke mana pun tanpa harus memberitahunya.


Hanya saja Zaky merasa sedikit khawatir dengan Chike setelah melihatnya pergi dengan terburu-buru, padahal sudah malam. Apalagi dia adalah perempuan dan baru kembali sekarang ketika hampir tengah malam. Jadi, wajar saja jika Zaky merasa khawatir bukan?


“Kak Zaky, ayo ikut pergi bersamaku!” ajak Chike tiba-tiba. Ia menatap Zaky dengan sendu.


“Ha? Pergi denganmu? Ke mana?” tanya Zaky bingung. Mengapa Chike tiba-tiba mengajaknya pergi?


“Apa yang Kakak lakukan di tanggal 29 nanti? Apakah Kakak memiliki jadwal? Jika tidak mari bepergian denganku.” Chike terus menatap Zaky dengan sendu, namun matanya kini juga menyorotkan tatapan berharap.


“Bepergian? Hanya kita berdua?” tanya Zaky ragu.


Chike mengangguk. “Ya, hanya kita berdua.”


“Ta-tapi mengapa aku harus bepergian denganmu?” Zaky tersenyum canggung.


“Hanya saja akan sangat menyenangkan jika Kakak bisa ikut bepergian denganku. Aku berharap Kakak menyetujuinya,” ucap Chike sendu, namun menunjukkan keseriusan atas ajakannya.


“Chike, kita bahkan belum lama saling mengenal. Ya, maksudnya aku belum bisa mengingat perkenalan kita yang dulu, jadi bisa dianggap bahwa kita baru saling mengenal. Tapi sekarang kamu malah mengajakku untuk pergi berduaan saja denganmu? Apakah kamu tidak memakai pikiranmu?” Zaky mencoba menjelaskan keadaan di antara mereka kepada Chike.


“Jika begitu Kak Zaky bisa pergi sendiri saja!” sahut Chike cepat ketika Zaky berusaha menolaknya dengan halus.


“Apa?!” seru Zaky.


Zaky mengubah raut wajahnya menjadi serius. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar karena tak habis pikir dengan jalan pikir Chike. Mengapa dia selalu saja mengatakan hal yang aneh dan sangat sulit untuk dimengerti?


Lalu apa yang sedang dikatakannya sekarang? Iya mengajak dirinya pergi, namun malah dengan cepat menyuruhnya untuk pergi sendirian saja ketika ia ingin menolak ajakan itu.


Sebenernya apa tujuannya? Apa dia memang berniat untuk mengajaknya pergi atau hanya sekedar candaan? Atau dia memiliki suatu alasan tersembunyi yang tak bisa ia katakan? Entahlah, Zaky juga masih tidak mengerti dengan Chike.


“Sebenarnya apa tujuanmu?” tanya Zaky yang merasa kesal.


“Aku hanya ingin Kakak pergi dari sini sejauh mungkin pada tanggal 29 sampai 30 Juni ini. Kakak bisa pergi mendaki, berkemah, ke laut, atau ke air terjun. Aku tidak peduli Kakak ingin pergi ke mana karena yang terpenting bagiku Kakak pergi jauh dari sini saat itu. Aku mohon,” ucap Chike kembali memohon.


“Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan sih, Chike?” tanya Zaky yang mulai habis kesabaran.


Padahal baru saja Zaky ingin mengenal Chike kembali dan menjadi dekat dengannya. Namun, lihatlah yang terjadi di sekarang?! Chike kembali membuatnya kesal dan membuatnya kembali meragukan niatnya itu. Chike memang sangat lihai untuk membuatnya ragu dengan segala sikap dan ucapannya.


“Aku tau jika yang aku katakan saat ini mungkin terdengar sangat aneh dan tidak bisa dimengerti. Bahkan ucapanku mungkin terdengar sangat tidak masuk akal. Tapi....” Chike menarik napasnya dalam, berusaha untuk menahan airnya yang ingin mengalir.


“Tapi kamu harus memang harus pergi...” lanjut Chike pelan. Ia menundukkan kepalanya.


“Hiks!” isakan kecil akhirnya terdengar dari mulut Chike. Air matanya kembali mengalir dan isakan berhasil lolos dari bibirnya itu. Chike menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan isakannya namun tak berhasil.


“Hei! Mengapa kamu malah menangis?” tanya Zaky panik ketika melihat Chike yang sudah menangis. Ia berusaha melihat wajah Chike yang menunduk.


“Chike! Mengapa kamu menangis? Apakah aku sudah berbicara keterlaluan? Jika benar, aku akan meminta maaf sekarang. Jadi, berhentilah menangis, Oke?” Zaky berucap dengan panik. Ia takut jika Chike menangis memang karena salahnya.


“Hiks!” isakan itu kembali lolos. Zaky masih berusaha melihat wajah Chike yang menunduk.


Zaky terdiam ketika Chike tiba-tiba memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Zaky dengan ragu membalas pelukan itu.


“Sudahlah, jangan menangis lagi. Kamu bisa mengatakannya padamu,” ucap Zaky berusaha menenangkan Chike. Ia mengusap pelan punggung Chike.


“Aku hanya tidak tahan, Kak....” jawab Chike dalam tangisnya.


“Ada apa? Apa ada yang sakit? Kamu bisa mengatakannya padaku.” Zaky berucap dengan lembut dan masih mengelus punggung Chike untuk menenangkan.


“Rasanya sakit sekali...hiks.” Chike terus saja menangis dalam pelukan Zaky. Sedangkan Zaky semakin mempererat pelukannya.


“Sudahlah, berhenti menangis sekarang. Jika kamu benar-benar merasa kesakitan kita bisa pergi ke rumah sakit agar kamu bisa segera diobati.” Chike menggelengkan kepalanya, menolak.


“Jika kamu tidak mau, kamu bisa masuk ke dalam kamar saja dan beristirahat,” saran Zaky.


“Sudahlah, berhenti menangis sekarang. Apa kamu tidak malu jika ada seseorang yang lewat dan melihatmu menangis seperti anak kecil?” Zaky mencoba berkelakar.


“hush... udah kamu sekarang tenang ya.” Dengan sabar Zaky terus mencoba menenangkan Chike.


“Apa kamu sekarang sudah tenang?” tanya Zaky kepada Chike yang sudah melepaskan pelukannya. Kini ia sedang menghapus sisa-sisa air matanya.


“Ma-maafkan aku, Kak. A-aku malah membasahi pakaianmu,” ucap Chike sesenggukan.


Zaky tersenyum hangat. “Sudahlah, tidak usah pikirkan itu. Lebih baik sekarang kamu masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Ini sudah tengah malam, kamu akan sakit jika terlalu lama berada di luar,” ucap Zaky sambil mengusap pelan rambut Chike.


“Baiklah, jika begitu aku akan masuk ke dalam kamarku sekarang. Makasih dan maaf untuk yang tadi, Kak.”


“Sudahlah, tak usah kamu pikirkan. Masuk ke kamarmu sana,” ucap Zaky dengan gaya mengusir. Chike mau tak mau menjadi tersenyum melihat tingkah Zaky.


“Kalau begitu aku pamit, Kak. Selamat malam,” pamit Chike setelah itu langsung masuk ke dalam asrama dan menuju kamarnya.


Zaky menatap kepergian Chike. Ia menghela napasnya lega. Entah mengapa ia tidak suka ketika melihat Chike yang menangis.


“Hah, lebih baik aku juga istirahat sekarang,” desah Zaky. Ia pun akhirnya juga ikut masuk ke dalam asrama dan pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.