ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Once Again



Zaky baru saja memarkirkan mobil hitamnya yang berada tak jauh dari asrama. Ia begitu kaget, tak mempercayai penglihatannya ketika sudah berada dekat dengan pintu asrama.


“Astaga, tak bisa dipercaya.... Dia benar-benar ada di sini,” ujar Dava tak percaya. Kini, di depan pintu asrama ia melihat Chike yang terduduk lemas sambil menyender. Pandangannya terlihat sedikit kosong.


Dava berjalan menghampiri Chike yang terduduk lemas. Chike yang menyadari jika ada seseorang yang berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya mencoba mendongakkan kepala. Ia langsung bangkit dengan cepat ketika melihat orang itu yang ternyata Dava.


“Ba-bagaimana kamu bisa sampai di sini? Bisakah kamu memberitahu aku apa yang sudah terjadi? Apakah kamu melihat Paman Zaky? Apakah kamu bersamanya?” tanya Chike beruntun. Ia merasa seperti mendapat sebuah harapan ketika melihat Dava yang berdiri di hadapannya.


“Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Chike ketika melihat raut wajah Dava yang berubah sendu.


Dava menarik napasnya dalam sebelum menjawab. “Lama tidak bertemu, penghuni kamar 308. Sudah 10 tahun.”


Ucapan Dava membuat Chike kembali lemas. Ia memegang pundak Dava untuk menahan bobot tubuhnya karena lututnya sudah terasa tidak bertenaga.


“10 tahun...” ucap Chike pelan.


Dava melihat Chike dengan prihatin. Ia menghela napasnya panjang dan mencoba membuat Chike menatap dirinya.


“Aku memiliki sesuatu untukmu. Ini adalah permintaan terakhir Zaky sebelum kematiannya.” Dava mengambil sebuah kertas kuning yang terlipat dari dalam saku dan memberikannya kepada Chike.


*Flashback


Zaky mengelap air matanya ketika sudah selesai membuat catatan di kertas kuning miliknya. Ia membuat 2 catatan. Yang satu ia lipat untuk Chike dan yang satu lagi ia lipat kemudian mengantonginya di dalam saku jaket.


Sedangkan di balkon, Dava menggeliat pelan untuk merenggangkan otot-ototnya. Ia sedikit menguap, mengantuk.


“Sial! Kamu mengagetkan aku!” Dava berseru kaget ketika ia berbalik badan tiba-tiba sudah ada seseorang yang tak lain adalah Zaky berdiri di belakangnya.


“Bagaimana kamu muncul seperti hantu?” seru Dava heran. Seingatnya ia tidak sedikit pun mendengarkan langkah kaki seseorang yang mendekat, namun Zaky malah sudah berada di hadapannya sekarang.


“Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Dava khawatir ketika melihat mata Zaky yang sembab, selesai menangis. Bahkan sisa-sisa air matanya masih ada.


“Dava...” panggil Zaky pelan.


“Ada apa?”


“Bisakah kamu membantuku?” tanya Zaky dengan suara sedikit serak karena menangis.


“Bantuan apa?” tanya Dava bingung. Tak biasanya Zaky seperti ini.


Zaky memberikan kertas kuning yang ada di saku jaketnya kepada Dava. Sedangkan Dava merasa kebingungan, namun tetap mengambil kertas itu.


“Bisakah kamu berjanji padaku untuk melakukannya?” mohon Zaky.


“Melakukan apa?”


“Kumohon, berjanji saja.”


“Baiklah, aku berjanji! Sekarang katakan apa yang sedang terjadi? Ada apa sebenarnya?” tuntut Dava meminta jawaban. Mau tak mau, Zaky pun akhirnya menceritakan semuanya pada Dava.


*Flashback end


Chike mengambil kertas kuning itu dengan ragu. Dengan perasaan campur aduk, Chike membuka lipatannya dan mulai membaca catatan yang tertulis.


Untuk Chike tersayang :


Chike terisak pelan di sela-sela bacaannya. Ia menarik napasnya dalam sebelum lanjut membaca.


Kita akan bertemu lagi. 10 tahun dari sekarang. Kemudian 10 tahun lagi. Begitu saja, terus terulang. Aku rela mendedikasikan 22 tahun hidupku hanya untuk 2 minggu bersamamu. Jadi kumohon, kembalilah padaku lagi dan lagi, Chike.


Chike semakin terisak setelah membaca keseluruhan isi catatan itu. Ia terduduk dengan kertas yang dipeluk erat di dadanya. Sedangkan Dava hanya bisa melihat itu dengan prihatin, ikut merasa sedih.


*****


“Astaga! Dasar anak durhaka!” seru sang ibu ketika melihat Chike yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan langkah sedikit lunglai.


“Kamu pergi ke mana saja? Sudah 2 minggu kamu menghilang tanpa kabar! Ibu bahkan sudah melaporkan pada polisi untuk mencarimu!” seru ibunya khawatir. Ia segera menghampiri Chike sambil menangis.


Chike tersenyum tipis. “Aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir, Bu,” ucap Chike yang langsung memeluk sang ibu.


“Apa yang sedang terjadi? Mengapa kamu tiba-tiba memeluk Ibu seperti ini?” tanya sang ibu heran. Tak biasanya Chike yang duluan memeluk dirinya. Biasanya dirinyalah yang memeluk duluan anak semata wayangnya itu yang kemudian baru membalas pelukan itu.


Chike melepaskan pelukannya. Senyuman masih tidak memudar dari bibirnya. Tanpa mengatakan apa pun, Chike langsung pergi ke kamarnya dan meninggalkan sang ibu yang menatapnya dengan pandangan heran.


Chike duduk di kasur miliknya. Ia berusaha menahan tangis yang sudah berada di pelupuk mata. Sebenarnya ia tersenyum pada sang ibu karena berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir. Ia memegang kalung pemberian Zaky yang masih tersangkut dengan nyaman di lehernya.


“Tolong jangan khawatir, Paman... Aku sudah berjanji pada diriku sendiri seperti yang kamu inginkan. Mulai sekarang, aku akan menjalani hidup dengan bahagia. Aku tidak akan bersedih lagi. Aku akan berusaha menerima semuanya dengan lapang dada.” Chike merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.


“Kamu telah menyelamatkan aku sekali lagi. Aku akan melakukan yang terbaik untuk hidup dengan baik di masa depan.” Air mata akhirnya kembali mengalir dengan bebas di pipinya.


*****


2 Bulan Kemudian


“Aku pamit, Bu.” Chike berpamitan pada ibunya yang mengantar hingga ke terminal. Hari ini, ia akan kembali ke kota untuk melanjutkan kuliahnya. Semester baru akan segera di mulai 2 minggu lagi.


“Ya, berhati-hatilah. Jagalah porsi makan mu dan jangan sering bergadang. Aku tidak ingin mendengar jika kamu sampai sakit selama di sana,” pesan sang ibu khawatir.


“Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku pamit, Ayah, Ibu.” Chike menyalami kedua orang tuanya dan kemudian naik ke bus yang akan mengantarnya ke tujuan.


“Sampai berjumpa lagi, Paman,” ucap Chike pelan ketika bus sudah mulai di jalankan. Ia memeluk ransel biru dongker miliknya dan menyenderkan kepala ke jendela bus, melihat pemandangan di sepanjang perjalanan.


Chike tersenyum tipis. Ia sudah berjanji bahwa ia tidak akan pernah menyesali hal apa pun lagi. Ia akan menjalani hidupnya dengan baik.


*Sementara itu, Chike yang lain dari tahun 2012


10 tahun kemudian


Chike menyusuri sebuah jalan sambil melihat-lihat sekitar, mencari suatu bangunan. Ia pergi setelah kembali dari pemakaman dan mengganti pakaiannya.


Ada beberapa mobil yang terparkir di pinggir jalan yang ia lalui. Chike merasa kedinginan karena ia tinggal di daerah dataran tinggi. Suhu rendah bukanlah hal yang asing lagi baginya.


Chike melihat maps di telepon genggam miliknya. “Hah, bukankah seharusnya ada di sekitar sini?”


Chike pun kembali memutuskan untuk terus berjalan karena belum menemukan tempat yang ingin ia tuju. Setelah beberapa saat Chike berhenti sambil menopang pinggang, kelelahan. Namun, rasa lelahnya terasa menguap begitu saja ketika ia melihat bangunan yang dicari.


“Akhirnya, ketemu juga!” serunya senang.


..............Tamat..............