
Dari pelajaran kehidupan yang aku pelajari, terkadang hidup seolah berpihak padamu dengan memberikan segala yang kau inginkan padamu dengan mudah. Seperti yang diinginkan oleh Emola saat ini. Hatinya menginginkan Bailan dan dia sudah mendapatkan kebahagiaan besar dengan tumbuh bersama dengan orang yang diinginkannya. Dan kini hanya tinggal satu langkah lagi Emola dan Gayatri mendapatkan keinginannya: menikah dengan Bailan.
Akan tetapi ... hidup tidak selamanya berpihak padamu. Terkadang hidup seolah mengabaikanmu dengan membuatmu kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Dan hal itulah yang terjadi pada Emola di tengah-tengah kebahagiaannya dan harapannya bersama dengan Bailan.
Seorang pria dan wanita keturunan asing tiba-tiba muncul di hadapan Bailan dan Emola. Pria asing itu meminta Emola untuk jadi istrinya sementara wanita asing itu jatuh hati pada Bailan dan meminta Bailan untuk jadi suaminya. Tentu saja Bailan dan Emola menolak permintaan itu karena keduanya telah membuat janji akan menikah di depan banyak orang. Akan tetapi kakak adik keturunan asing itu tidak menyerah begitu saja. Mereka membuat keluarga Bailan dan Emola terlilit hutang dan meminta bayarannya dengan bayaran Bailan dan Emola.
Menyadari jebakan itu, Bailan dan Emola kemudian melarikan diri bersama demi cinta mereka. Akan tetapi pelarian mereka itu terhenti ketika sebuah serangan dilancarkan oleh pihak asing dan membuat Bailan tewas ketika berusaha melindungi Emola.
“Tidak, Bailan!!! Jangan mati!! Kau tidak bisa pergi seperti ini!!” Emola memeluk tubuh Bailan yang bersimbah darah dengan air matanya yang terus berjatuhan.
“Maafkan aku, Emola. Maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk menikah denganmu, Emola.” Itulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Bailan sebelum kehilangan nyawanya.
“Tidak!!!! Kenapa begini lagi???” Emola memeluk tubuh Bailan yang telah kehilangan nyawanya sembari menengadah ke langit. Emola melihat tajam ke arah langit dan berteriak. “Kenapa Kau lakukan ini?? Kenapa Kau merebutnya lagi dariku?? Kenapa Kau terus merebutnya dariku?? Yang aku minta dari-Mu hanyalah bersatu dengannya, apakah itu terlalu sulit untuk Kau kabulkan??”
Emola terus menerus menangis sembari meluapkan amarah dengan menengadah ke langit dan ketika air matanya telah mengering karena terus menerus menangis, Emola melepas pelukannya dari Bailan dan kemudian mengambil pistol yang tergeletak di tanah. Pistol itu adalah pistol yang membunuh Bailan.
Emola mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri sembari melihat tubuh Bailan yang telah kehilangan nyawanya. “Sekali lagi. Sekali lagi, aku akan menyusulmu. Sekali lagi, aku akan menemuimu di kehidupan berikutnya. Sekali lagi, aku akan bertemu denganmu dan saat itu kita pasti akan bisa bersama, menikah dan memiliki kehidupan seperti pasangan-pasangan lainnya. Sekali lagi. Jika aku terus mengulanginya, maka aku yakin Tuhan akan mendengarkan permintaanku dan akan mengabulkannya. Sekali lagi, aku yakin jika aku terus melakukannya, hati-Nya akan luluh dan memberi kita akhir yang berbeda. Aku yakin itu, aku hanya perlu melakukannya sekali lagi.”
Darrr .... Emola melepaskan peluru yang kemudian menembus kepalanya dan menyemburkan darah dari dalam kepalanya. Bruk. Tubuh Emola langsung terjatuh ke tanah dengan kedua matanya yang terus menatap Bailan. Sebelum nyawanya benar-benar meninggalkan tubuhnya, aku mendengar suara hati Emola.
Tunggu aku, Dewangkara!! Tunggu aku! Aku hanya perlu melakukannya sekali lagi dan kita pasti akan bersama.
Klik.
Mendengar jentikan jari, adegan di depanku kembali berubah. Belum selesai aku mengatur perasaanku dan air mataku yang jatuh karena melihat reinkarnasi Gayatri-Emola memilih untuk mati sekali lagi, adegan itu berubah lagi dan memaksaku untuk melihat bagaimana tragedi yang menyakitkan untuk Gayatri dan putaran kehidupannya, menunggu sekali lagi.
Itu benar, sekali lagi.
Gayatri dan setiap putaran kehidupannya berharap dengan kematiannya sekali lagi, maka kehidupan berikutnya dia akan bisa bersama dengan reinkarnasi Dewangkara dan akhirnya menikah seperti keinginan dan janjnya.
Dan sekali lagi.
Aku harus melihat bagaimana akhir hidup Gayatri dan putaran kehidupannya yang akan kehilangan nyawanya dengan cara yang tragis setelah kehilangan reinkarnasi Dewangkara.
Sekali lagi.
Sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Semua sekali lagi ini terus menumpuk dan berulang membuatku melihat tragedi ini.
Putaran kehidupan keempat Gayatri. Tahun 1740 (1)
(1)Tahun 1740 adalah tahun di mana terjadi pembantaian warga Tionghoa di Batavia.
Adegan berganti lagi.
Kali ini membawaku ke tempat di mana sedang terjadi demonstrasi besar-besaran. Lalu di antara para demonstran itu, aku melihat sosok yang memiliki wajah yang sama denganku dan aku tahu bahwa dialah pusat adegan dan putaran kali ini.
“Hongli!”
Sosok pria yang memiliki wajah yang sama denganku itu tiba-tiba tersenyum mendengar panggilan itu. Aku yakin kali ini, dalam putaran ini reinkarnasi Dewangkara bernama Hongli.
“Shuwan!!”
Hongli berlari melewatiku. Aku berbalik mengikutinya untuk melihat siapa yang dipanggil dengan nama Shuwan itu dan aku tahu ... siapa Shuwan itu. Dialah pusat adegan ini selain Hongli. Shuwan adalah nama dari reinkarnasi Gayatri kali ini.
Aku mendekat ke arah Hongli dan Shuwan untuk mendengar percakapan mereka sembari melihat tempat di mana aku sekarang berada. Berbeda dengan sebelumnya, lokasi di mana reinkarnasi Gayatri dan Dewangkara bertemu sudah sedikit berubah. Bangunan-bangunan kini sudah terlihat sedikit mengalami kemajuan dan bahkan sudah ada bangunan dengan nama pabrik gula.
“Apa kau harus mengikuti demonstrasi ini, Hongli??” Shuwan bertanya pada Hongli dengan wajah khawatirnya. “Kau bukan buruh di pabrik ini. Jadi tidak seharusnya kau ikut campur dengan urusan para buruh di sini.”
“Tapi orang-orang yang menjadi buruh-buruh itu adalah tetangga kita. Setidaknya kita harus membantu mereka agar keluhan mereka didengar dan mereka bisa segera bekerja lagi.”
Aku tersenyum mendengar jawaban Hongli. Dari banyak putaran kehidupan yang aku lalui untuk melihat satu demi satu adegan, aku tahu bahwa Dewangkara dan Gayatri tidak banyak berubah. Sikap mereka tetap baik dan penuh kasih terutama terhadap orang-orang kecil.
“Aku khawatir padamu, Hongli. Seminggu lagi adalah hari pernikahan kita dan firasat buruk sekali lagi datang padaku. Akan lebih baik jika kau menghindari masalah, Hongli.”
Aku mendengar kata sekali lagi dari mulut Shuwan dan kata itu membuatku tahu bahwa dalam putaran kali ini Shuwan-reinkarnasi dari Gayatri masih tidak tenang dengan hubungannya karena mengingat semua kenangan dari setiap putaran kehidupannya yang selalu kehilangan kekasihnya dengan cara tragis.
Klik.
Bak adegan film, aku berpindah tempat. Kali ini langit di atas kepalaku telah berubah gelap dan jalanan telah berubah sepi. Tapi dari kejauhan aku melihat banyak orang yang berjalan mengendap-endap dengan membawa senjata dan beberapa jeriken yang berisi minyak. Orang-orang itu kemudian mulai menyirami setiap rumah dengan minyak dan bersiap untuk membakar rumah beserta dengan orang-orang di dalamnya.
Mengenali bahaya itu, aku berusaha untuk menggedor pintu rumah di belakangku. Tapi bukannya aku bisa membuat suara untuk membangunkan pemilik rumah, aku justru jatuh masuk ke dalam rumah itu. Aku lupa jika aku hanyalah bayangan dalam pemandangan yang aku lihat ini. Jadi ... aku berjalan masuk untuk menemukan pemilik rumah ini dan begitu memasuki sebuah kamar, aku menemukan Hongli sedang tertidur nyenyak di dalam kamar itu.
“Hongli! Bangun sekarang juga!!!” Aku berteriak dengan kencang dan berulang kali memanggilnya agar segera bangun dari tidurnya. Akan tetapi seberapa keras aku berteriak, suaraku tidak pernah sampai pada Hongli dan membuatnya terbangun dari tidurnya.
Uhuk... uhuk ... Dari arah pintu aku masuk tadi, aku melihat gumpalan asap bersama dengan api yang mulai membakar jalan masuk. Gawat!!! Dia akan mati lagi dan Shuwan-reinkarnasi Gayatri akan kembali membunuh dirinya sendiri!! Itulah yang aku pikirkan.