
Mendengar pertanyaan dari Rakryan Mahapatih Nambi, bayangkara itu sedikit terintimidasi. Karena apa yang diajukan sebagai pertanyaan oleh Rakryan Mahapatih Nambi adalah benar, masalah itu harusnya dibawa ke pengadilan bukan memanggil langsung perdana menteri kerajaan ini.
“I-itu sebenarnya begini Rakryan Mahapatih ... “ Bayangkara itu kemudian menceritakan kekacauan yang terjadi karena sudagar yang mengejar Danapati di ibu kota hingga bentrokan terjadi di ibu kota yang mengakibatkan banyak kerugian bagi sudagar kecil di ibu kota dan beberapa orang terluka karena terkena bentrokan senjata dari pasukan bayangkara.
Maharaja dan Rakryan Mahapatih Nambi mendengarkan dengan saksama, sementara Dyah Halayuda mengepalkan tangannya merasa kesal dan menahan amarah untuk kelakuan Danapati-keponakannya.
“Jadi ... akhirnya bentrokan itu berhasil diselesaikan oleh Dewangkara yang merupakan anak asuh dari Rakryan Mahapatihku ini?” Maharaja langsung mengajukan pertanyaan ketika bayangkara itu selesai menceritakan kejadian yang tadi terjadi di ibu kota.
“Ya, Maharaja. Bentrokan itu akhirnya diselesaikan oleh Kangjeng Dewangkara putra asuh dari Rakryan Mahapatih dan karena itu para sudagar itu ingin diadili langsung Rakryan Mahapatih Nambi. Itu alasan saya datang kemari menemui Rakryan Mahapatih, Maharaja.”
Setelah cukup penasaran dengan kejadian yang terjadi dan melibatkan keponakan dari Dyah Halayuda dan putra asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi, Maharaja kini menatap ke arah Rakryan Mahapatih Nambi dengan wajah penasaran. “Kau punya anak asuh yang benar-benar hebat, Rakryah Mahapatihku. Dia bisa mengalahkan lima belas pria yang sanggup memukul satu pasukan kecil bayangkaraku.”
“Putraku tidak terlalu hebat, Maharaja. Itu mungkin saja hanya kebetulan saja, Maharaja.” Rakryan Mahapatih Nambi berusaha merendah ketika mendengar ucapan dari Maharaja itu. Rakryan Mahapatih Nambi tahu maksud di balik ucapan dan pujian Maharaja itu.
“Kenapa pria sehebat itu tidak mendaftarkan diri untuk menjadi bayangkara?? Dengan kemampuan seperti itu, aku yakin dalam waktu singkat dia bisa menjadi anggota pasukan elit dan mungkin duduk di posisi Rakryan Tumenggung.”
Sudah kuduga dia akan mengatakan hal itu. Meski belum lama melayani Maharaja yang sekarang sebagai raja yang baru, Rakryan Mahapatih Nambi tahu sifat dari Maharaja kedua Majapahit ini. Maharaja kedua ini jika dibandingkan dengan Maharaja sebelumnya yang tidak lain adalah ayahnya sekaligus sahabat dari Rakryan Mahapatih Nambi, adalah raja yang serba kurang. Sifatnya yang tidak tegas dan pendirian yang kurang, membuatnya menjadi Maharaja yang mengecewakan bagi banyak pihak termasuk Rakryan Mahapatih Nambi sendiri. Apalagi sejak muda, Maharaja dekat dengan Dyah Halayuda yang tidak memiliki jabatan apapun dan terkadang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan banyak faktor, hanya karena terlalu percaya pada Dyah Halayuda. Dan alasan itulah yang membuat Rakryan Mahapatih Nambi merasa Dewangkara-anak asuhnya tidak seharusnya masuk ke antapura dan terlibat masalah politik antapura.
Rakryan Mahapatih Nambi menundukkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan Maharaja itu. “Beberapa tahun yang lalu, Putraku itu sudah mendaftarkan dirinya dan ikut ujian untuk bayangkara, Maharaja.”
Maharaja mengerutkan keningnya karena merasa bingung dan aneh. “Benarkah?? Lalu kenapa dia sekarang hanya menjadi orang biasa dan bukan bayangkara di antapura?”
Rakryan Mahapatih Nambi menundukkan kepalanya lagi sebelum menjawab. “Putra asuhku itu menderita beberapa gangguan, Maharaja. Dia akan mengalami kesulitan bernafas dan kemudian pingsan ketika melihat iring-iringan. Ditambah lagi, putraku itu memiliki mimpi buruk yang berkepanjangan yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari. Karena itu setelah lulus ujian, dia dianggap tidak layak untuk menjadi bayangkara di antapura.”
Maharaja menatap ke arah Rakryan Mahapatih Nambi dengan wajah kecewa. “Ah sayang sekali kalau begitu. Mendengar cerita dari bayangkara itu, aku merasa kagum dengan kemampuan dari putramu itu, Rakryan Mahapatih. Aku berharap lain kali bisa melihat kemampuan putramu itu, Rakryan Mahapatih.”
“Jika ada kesempatan, Maharaja.”
Maharaja mengangkat tangannya kepada Rakryan Mahapatih Nambi untuk memberi izinnya. “Kau boleh pergi mengurus masalah itu, Rakryan Mahapatih. Dan jangan sungkan untuk memberi hukuman yang adil, Rakryan Mahapatih. Kau tahu dengan baik hukum ada untuk ditaati bukan??”
Maharaja bertanya sembari melihat ke arah Dyah Halayuda dengan tatapan menyindir.
“Ya, Maharaja. Saya tahu itu. Kalau begitu saya permisi, Maharaja. Salam, Maharaja.”
“Salam, Maharaja.”
“Sepertinya kau harus mendisiplinkan keponakanmu itu, Dyah Halayuda.” Maharaja memakan buah anggurnya sembari berkata dengan nada menyindir kepada Dyah Halayuda.
“Mohon maafkan kekurangan saya ini, Maharaja. Setelah ini saya akan mendisiplinkan dengan baik keponakan saya itu, Maharaja.” Dyah Halayuda menundukkan kepalanya menjawab ucapan Maharaja.
“Kau harus melakukannya, Dyah Halayuda. Jika tadi yang berbuat itu bukan keponakanmu, aku sendiri yang akan datang ke pengadilan dan memberikan hukuman yang berat untuk kesalahan itu. Sayangnya ... dia adalah keponakanmu, Dyah Halayuda. Jadi sebagai bentuk persahabatan kita dan kau yang selalu di sisiku selama ini, aku membuat Rakryan Mahapatih yang pergi untuk memberinya hukuman, Dyah Halayuda. Bisa kau pahami itu, Dyah Halayuda??”
“Terima kasih untuk kebaikan Maharaja pada saya yang serba kekurangan ini, Maharaja.”
Maharaja menganggukkan kepalanya sembari memakan anggurnya lagi. “Ehm soal putra asuh Rakryan Mahapatih Nambi itu, kapan dia mengikuti ujian bayangkara? Peringkat berapa dia dalam ujian?”
Dyah Halayuda melirik ke arah Maharaja sebelum memberikan jawaban. “Kenapa Maharaja bertanya?”
“Aku merasa nama itu tidak asing di telingaku. Jadi aku penasaran peringkat berapa putra asuh Rakryan Mahapatih Nambi itu?? Kau tentu tahu biasanya aku memberikan hadiah untuk lima peringkat tertinggi dalam ujian bayangkara.” Maharaja menjawab dengan berusaha mengingat tapi ingatannya tidak memberikan apa yang sedang dicarinya.
“Jika saya tidak salah ingat mungkin sekitar tiga tahun yang lalu. Saya tidak ingat dengan jelas, hanya saja mungkin ini bisa mengingatkan Maharaja.”
“Apa itu??” Maharaja bertanya masih dengan wajah penasaran. Mendengar cerita bayangkara itu, membuat Maharaja merasa ingin melihat dengan kedua matanya sendiri kemampuan dari anak asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi.
“Beberapa tahun yang lalu, Rakryan Mahapatih pernah meminta Maharaja untuk mengeluarkan peringkat pertama dalam ujian bayangkara karena menyembunyikan penyakit yang dimilikinya. Apa Maharaja mengingat itu?” Dyah Halayuda berusaha mengingatkan kejadian saat itu pada Maharaja. Dirinya tidak pernah bisa lupa kejadian saat itu karena kejadian itu hubungan Maharaja dan Rakryan Mahapatih Nambi semakin merenggang saja.
Maharaja memakan buah anggurnya lagi. “Ah, sepertinya aku ingat. Aku ingat saat itu Rakryan Mahapatih berusaha untuk menggagalkan peringkat pertama itu meski aku sudah menolaknya beberapa kali.”
“Ya, Maharaja. Dan peringkat pertama yang kemudian gagal itu adalah putra asuh Rakryan Mahapatih Nambi sendiri.”
Maharaja hendak memakan anggurnya lagi, akan tetapi anggur itu jatuh dari tangan Maharaja karena terkejut mendengar jawaban dari Dyah Halayuda. “Putra Rakryan Mahapatih berada di peringkat satu dan dia sendiri yang membuatnya gagal???”
“Ya, Maharaja.” Dyah Halayuda menundukkan kepalanya menjawab Maharaja.
“Apa separah itu penyakit yang dimilikinya hingga Rakryan Mahapatih sendiri yang membuatnya tidak bisa menjadi anggota bayangkara padahal dia mendapatkan peringkat pertama??”
“Saya dengar begitu, Maharaja. Keponakan saya itu beberapa kali melihat penyakit putra dari Rakryan Mahapatih itu kumat. Dan seperti ucapan Rakryan Mahapatih, penyakit itu benar-benar menyusahkan ketika dia berada dalam pasukan bayangkara.”
Maharaja menganggukkan kepalanya sembari mengambil anggur lagi untuk memakannya. “Sayang sekali. Benar-benar sayang sekali. Tapi ... jika bisa, aku ingin sekali saja melihat bagaimana dia bertarung.”