ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Kunjungan



Malam hari


“Halo, Bu?” sapa Zaky yang baru mengangkat teleponnya.


“Apa? Ibu dan Ayah sudah sampai? Baiklah aku akan segera turun.” Zaky mematikan sambungan telepon dan segera keluar dari dalam kamar, menuju tempat orang tuanya menunggu.


Saat sedang berjalan melewati koridor Zaky mendengar suara pintu yang dibanting keras. Ia menoleh dan melihat Chike yang berjalan dengan tergesa-gesa melewati dirinya begitu saja seolah-olah tidak terlihat.


“Mau pergi ke mana dia?” tanya Zaky heran. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


“Hah, entahlah,” desah Zaky. Ia kembali melanjutkan perjalanannya.


Sedangkan di sisi lain, Chike terus berjalan menyusuri setiap jalan dan gang untuk mencari tempat kejadian 10 tahun lalu. Ia terus melihat kertas yang berisi denah yang digambarnya sembari memperhatikan sekitar, mencoba mencocokkan setiap rute dan lingkungan yang diingatnya.


Chike terus memeriksa setiap rumah yang berpagar hitam. Sudah hampir sejam ia mencari namun tak kunjung menemukan rumah yang dicari. Ia terus berusaha mencari tanpa henti.


*****


“Asrama ini terlihat bagus,” ucap wanita paruh baya pada suaminya. Mereka berdiri di depan halaman asrama.


“Ya, kamu benar. Cuaca dan suasana di sini juga bagus,” sahut sang suami.


“Tapi, aku ragu apakah Zaky belajar dengan bersungguh-sungguh selama berada di sini,” lanjutnya.


“Yah...mungkin saja,” desah wanita paruh baya itu yang merupakan ibu dari Zaky.


Sedangkan di dalam asrama Zaky baru saja sampai di lantai satu. Langkahnya harus terhenti ketika Dava memanggilnya.


“Oi, Zaky! Mau ke mana?” tanya Dava yang menghampiri Zaky.


“Aku akan bertemu dengan orang tuaku. Mereka sudah berada di depan sekarang,” sahut Zaky.


“Benarkah? Mereka benar-benar datang berkunjung ke sini?” tanya Dava tak percaya.


“Tentu saja! Memangnya kenapa? Mereka tidak boleh datang berkunjung?”


“Astaga! Bukan begitu... kamu itu terlalu sensitif belakang ini. Maksudku mengapa mereka datang berkunjung di larut malam? Bukankah dengan begitu waktu kunjungan menjadi lebih sedikit?” jelas Dava.


“Entahlah. Mungkin mereka baru bebas dari pekerjaannya sehingga baru bisa berkunjung sekarang,” sahut Zaky acuh.


“Begitu ya... baiklah, lalu apa yang kamu tunggu? Apakah kamu tega membiarkan orang tuamu berdiri di luar dengan cuaca yang dingin?” tanya Dava yang membuatnya mendapatkan tatapan kesal dari Zaky.


“Kamu yang menahanku hingga tidak bisa menemui mereka. Tapi sekarang kamu malah menyalahkanku?” seru Zaky tak terima disalahkan.


“Ah, benarkah seperti itu? Baiklah, kalau begitu mari lanjutkan perjalananmu,” ucap Dava tertawa pelan.


“Dasar!” gerutu Zaky.


“Ya, ya, terserah. Mari kita jalan,” ajak Dava yang sudah berjalan duluan.


“Kamu mau ke mana?”


“Tentu saja aku ikut denganmu! Masa orang tuamu sudah jauh-jauh datang ke sini namun aku malah tidak menemui mereka,” sungut Dava. Kini giliran Zaky yang tertawa kecil.


“Ya, baiklah.” Mereka pun berjalan beriringan.


“Kamu harus berbicara baik dan sopan pada mereka. Mereka sudah jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menemuimu,” ucap Dava memberikan wejangan pada Zaky seolah-olah mereka adalah orang tuanya dan Zaky adalah temannya yang harus bersikap sopan dan ramah.


“Tentu saja! Mereka itu adalah orang tuaku. Tidak mungkin aku bersikap kurang ajar pada mereka,” sahut Zaky.


“Oh, kalian sudah ada di sini?!” seru sang ibu ketika melihat Zaky dan Dava yang baru keluar dari asrama.


“Halo Om, Tante,” sapa Dava membungkuk sopan kepada orang tua Zaky.


“Halo, Dava. Sudah lama sekali sejak kita bertemu, sekitar...” ucap ibu Zaky mencoba mengingat.


“Empat tahun, Tante, saat upacara kelulusan,” sahut Dava.


“Ah, benar! Empat tahun lalu. Ternyata sudah sangat lama... lalu bagaimana kabarmu sekarang?” tanya ibu Zaky yang memberikan bingkisan yang dibawanya.


“Apa kamu sudah selesai berbicara? Sebenarnya mereka itu orang tuaku atau orang tuamu?” tanya Zaky yang merasa kesal karena diabaikan.


“Astaga! Apa kamu cemburu?” tanya Dava berpura-pura polos.


“Dasar!” Rasanya Zaky ingin mengumpat namun harus ditahan karena orang tuanya. Sedangkan Dava tersenyum penuh kemenangan.


“Hahaha, sudahlah. Mari kita masuk, di sini cuacanya semakin dingin,” ajak ayah Zaky yang berusaha menengahi.


“Ah, Om benar. Mari kita masuk!” ajak Dava.


“Iya, ayo.” mereka berempat pun masuk ke dalam asrama dan memilih untuk duduk di ruang makan.


Ibu Zaky menyusun semua makanan yang dibawanya di dalam kulkas. Sedangkan Zaky, Ayahnya, dan Dava memperhatikan setiap gerakan wanita paruh baya itu dari tempat duduk mereka masing-masing.


“Mengapa Ibu membawa begitu banyak makanan?” tanya Zaky kepada ibunya yang baru saja duduk.


“Itu sama sekali tidak banyak,” sahut ibunya.


“Ibu bilang tidak banyak?” tanya Zaky tak percaya. Padahal kulkas yang sebelumnya kosong kini sudah penuh dengan makanan yang baru saja dibawa ibunya.


“Jika sebanyak itu, bagaimana cara aku bisa menghabiskan semuanya sendirian?”


“Apa yang kamu katakan! Ada aku di sini yang bersedia membantumu menghabiskan semua itu.Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu,” sahut Dava antusias.


“Hahaha, itu benar. Ada Dava di sini yang bersedia membantumu,” sahut sang ayah tertawa.


“Ya, kamu benar, Mas. Dengan adanya Dava di sini, aku bisa merasa lebih nyaman dan tenang. Setidaknya ada seseorang yang bisa menjaga Zaky kita,” ucap sang ibu. Dava memegang dadanya yang merasa tersentuh dengan ucapan ibu Zaky.


“Astaga! Lama-lama kamu lebih seperti anak kandung mereka daripada aku,” sungut Zaky.


“Jika begitu aku adalah Kakakmu karena aku jauh lebih tua darimu,” sahut Dava bangga.


“Kamu tidak usah mengaku-ngaku sebagai Kakakku hanya karena usiamu 2 bulan lebih tua dariku,” dengus Zaky.


“Sudahlah, tak perlu bertengkar. Kamu bisa membagi semua makanan itu dengan Dava dan teman-temanmu. Apa kamu memiliki teman baru selama berada di sini?” ucap sang ibu menengahi.


“Memangnya aku anak TK hingga kamu bertanya padaku seperti itu, Bu?” sahut Zaky yang tak suka karena selalu ditanya hal yang sama.


“Ada baiknya kamu berteman dengan penghuni kamar yang lain,” saran sang ibu.


“Ibumu benar, Zaky. Sampai kapan kamu terlalu menutup diri untuk orang baru? Apa kamu hanya akan berteman dengan Dava saja? Tidak bukan?” sahut ayahnya.


“Tante dan Om tenang saja. Ada seseorang yang baru saja menyewa kamar yang dekat dengan Zaky,” ucap Dava merangkul pundak Zaky yang duduk di sebelahnya.


“Benarkah? Dia laki-laki atau perempuan? Dia orang yang bagaimana? Apakah dia baik?” tanya ayahnya penasaran.


“Aku tidak begitu yakin dia orang yang seperti apa. Tapi, dia hampir seumuran dengan kami dan seorang perempuan,” jawab Dava dengan nada sedikit menggoda Zaky.


“Benarkah? Apa dia cantik?” Ayah Zaky ikut-ikutan menggoda anak semata wayangnya itu.


“Dia sangat cantik, Om...” sahut Dava semakin menjadi-jadi.


“Ck! Berhentilah berkata omong kosong,” decak Zaky.


“Apa kamu berusaha menyangkal kenyataan bahwa dia sangat cantik?” tanya Ayahnya dengan nada menggoda.


“Dan apakah Om dan Tante tau? Dia bahkan mengatakan bahwa mereka sudah saling kenal selama 10 tahun,” lanjut Dava.


“Benarkah? Apakah dia teman SMP-mu?” tanya sang ibu yang daritadi hanya diam memperhatikan pembicaraan mereka.


“10 tahun?” tanya Zaky pelan, mencoba berpikir.


“Apa kamu tidak mengingatnya?!” seru sang ayah tak percaya.


“Astaga... aku tau jika kamu itu anakku. Namun, bukankah kamu terlalu kejam kerena melupakannya?” tudung ayahnya yang tak habis pikir.


Zaky hanya diam, tak menjawab. Ia masih berpikir tentang ucapan Dava barusan. 10 tahun? Apakah benar? Namun, mengapa ia tidak mengingatnya sama sekali?