
Dalam perjalanan menuju ke bandara, Santica tak henti-hentinya menangis. Dia juga beberapakali mengutuk nama suaminya dan perempuan yang bersanding dengan manusia kejam yang bernama Albano Barbara. Sesekali wanita blasteran itu mengusap perutnya yang sudah kelihatan membuncit dengan gerakan penuh kasih sayang.
“Maafkan mama sayang, mama harus berpisah sementara dulu. Setelah kalian lahir, mama berjanji akan membalaskan dendam mama kepada manusia itu.”
Untuk sejenak, Santica mulai berpikir. Dia mau membalaskan dendamnya, tapi dengan cara apa. Dia saja tak punya apa-apa.
“Sepertinya aku harus meminta bantuan Roy agar semua dendamku terbalaskan!”
Roy Hodgson, adalah sahabat Santica yang memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat. Roy sudah pernah mengungkapkan isi hatinya kepada Santica, tapi wanita itu selalu saja mengganggap pernyataan itu sebagai omong kosong belaka. Roy mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang tekstil dan stasiun televisi swasta. Dia adalah CEO nya, Roy sangat jenius dan pintar. Tapi dia tidak pernah sombong sekalipun, Roy sangatlah ramah dan dermawan. Suka berbagi dan tidak kasar kepada wanita, sungguh idaman para kaum hawa.
“Ide bagus, aku akan kerumah Roy dulu. Pak kita putar arah ya! ”
“Kemana Nona?”
“Perusahaan Hodgson Group!”
Dengan cepat taksi tersebut melaju ketempat yang dikatakan Santica. Bapak taksi itu sesekali melirik wajah Santica yang terlihat sembab, dan membuat wanita itu menjadi sedikit risih.
“Ada apa pak, apa ada yang salah?”
“Tidak Nona, emm. Nona jangan bersedih lagi, tidak ada gunanya untuk menangisi seseorang yang sudah mencampakkan kita Nona. Percaya atau tidak, dia pasti akan menyesal telah membuang seorang wanita yang baik dan cantik seperti Nona!”
Bapak ini sangat memahami ekspresi wajahku, sepertinya dia orang yang baik. Tapi kenapa suaranya sangat tidak asing sekali ya.
“Kita sampai Nona.”
“Ah, iya pak. Ini uangnya kembaliannya ambil saja untuk bapak ya.”
“Terimakasih Nona, semoga Nona selalu dilindungi oleh orang-orang yang baik.”
Santica tersenyum masam, lalu keluar dari dalam taksi dan masuk kedalam gedung perusahaan Roy. Setelah dirasa sudah menjauh, bapak taksi tersebut menelfon seseorang lalu dengan diam-diam dia memotret Santica yang melangkah masuk kedalam perusahaan itu.
- - -
Saat ini Santica sedang duduk di sofa didalam ruangan Roy. Sekretaris Roy mengatakan kalau bos besarnya sedang ada meeting sebentar dan menyuruh Santica untuk menunggu Roy.
Tidak lama kemudian, seseorang melangkah masuk dan membuka pintu ruangan itu.
Ceklek...
Wajah pertama yang dilihat oleh Santica adalah asisten pribadinya Roy, lalu setelah itu seorang pria tampan dengan senyuman yang sangat menawan menatap wajah Santica.
“Hai Tika, apa kabarmu?”
Santica berdiri dan langsung memeluk tubuh tegap itu, sampai-sampai membuat Roy hampir jatuh karena terkejut sahabatnya ini memeluknya dengan erat. Roy mengangkat tangannya mengkode asisten pribadinya itu untuk keluar, pria ini ingin berbicara empat mata dengan Santica.
“Hiks ... Roy, dia dia.”
“Lebih baik kita duduk dulu oke!”
Santica menggangguk, lalu melepaskan pelukannya. Wanita itu duduk disamping Roy dengan wajah yang sudah berlinang air mata.
“Kenapa?”
“Dia menikah lagi, bahkan selama ini dia berselingkuh dengan asistennya sendiri!”
Kepalan tangan Roy seketika mengeras, mendengar wanita cantiknya ini terluka kembali oleh pria kejam itu. Bukan sekali ini Santica mengadu kepada Roy, dari awal pernikahannya saja Santica sudah menceritakan semua sifat kejam suaminya. Mulai dari membawa beberapa wanita cantik kedalam rumahnya, sampai perlakuan kasar Al diceritakan oleh Santica. Sungguh Roy tidak sanggup melihat wanita yang dia cintainya ini terluka bathin maupun fisik. Roy pernah berkata kalau ia ingin menghajar dan memberi pelajaran kepada Al, namun setiap kali Roy tersulut emosi. Dengan cepat Santica menenangkannya.
“Lalu apa rencana mu sekarang, apakah kau hanya diam lagi melihat pria kejam itu memperlakukanmu seperti ini?”
“Hmhm, Roy. Aku butuh bantuanmu, aku ingin kau mengajariku tentang bisnis. Dan aku ingin meminjam uangmu untuk kuliah di Jerman.”
Santica memang wanita yang cerdas, tapi dia tidak pernah belajar tentang bisnis. Dia bukan terlahir dari keluarga yang kaya raya, wanita itu adalah wanita yang sangat malang. Di umur tujuh tahun dia dicampakkan oleh kedua orang tuanya ditaman bermain yang ada di Eropa. Pada saat itu ada sepasang suami istri yang melihat Santica kecil menangis, lalu mereka membawa Santica kecil ke Indonesia dan mengangkat Santika menjadi anaknya. Dan sekarang kedua orang tua angkatnya sudah meninggal akibat kecelakaan beruntun yang terjadi pada saat Santica berumur 19 tahun.
“Apa kau serius cantik, kau pasti akan menetap di sana bukan.”
“Iya, aku ingin menyusun rencana yang sangat matang untuk membalaskan dendamku kepada laki-laki itu. Apa kau mau Roy?”
Santica menatap wajah Roy yang sedikit berbeda, terlihat pria itu kurang setuju dengan keputusan Santica yang kuliah di Jerman. Ada rasa yang berbeda ketika mendengar Santica akan pergi jauh darinya.
“Kenapa kuliahnya tidak disini, aku sangat takut sekali denganmu cantik. Kalau kau kenapa-kenapa bagaimana, atau aku akan ikut pindah denganmu saja. Bagaimana, kita akan membangun perusahaan yang besar bersama-sama. Kau setuju bukan.”
Santica terlihat memikirkan ucapan Roy, dan seketika Santica pun mengangguk kecil tanda ia memperbolehkan kalau Roy boleh ikut.
“Baiklah, kita akan berangkat lusa nanti. Sekarang kau tinggal di apartemen ku saja oke.”
“Tidak usah Roy, aku sudah membooking hotel!”
“Dan aku tidak terima penolakan cantik!”
Roy tersenyum manis membuat Santica merenggut sebal, dia sangat tahu sikap yang sangat melekat ditubuh sahabatnya ini. Pria itu sangat pemaksa.
“Terserah kau saja.”
Tbc.