ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Confense



Malam hari


Chike dan Zaky senang menghangatkan diri menggunakan api unggun yang dibuat di dalam tong kosong yang ada di atas balkon. Mereka juga membakar ubi di atasnya.


“Apa kamu benar-benar ingin memasak ubi dengan cara ini? Apa itu akan matang?” tanya Zaky yang merasa ragu dengan ide Chike.


“Entahlah, aku juga tidak tau. Ini pertama kalinya aku mencoba hal ini. Tapi, seharusnya itu akan berhasil,” sahut Chike tersenyum renyah.


Zaky hanya tersenyum kecut. “Ya, lakukan apa pun yang kamu inginkan.”


“Tak perlu bereaksi seperti itu, Kak. Anggap saja ini hanya latihan untuk perjalanan kita nanti. Saat kita berkemah nanti, kita akan memasak menggunakan api unggun yang sebenarnya,” ujar Chike. Ya, mereka sudah sepakat untuk pergi berkemah.


“Baiklah kalau begitu. Aku rasa ini akan terasa lezat,” sahut Zaky mendadak sendu namun dengan segera ia mengubah kembali ekspresi nya menjadi riang. Chike tidak menyadari perubahan itu.


“Kamu tunggu dan lihat saja, Paman. Apa kamu tidak tau? Aku sangat ahli dalam memasak,” sombong Chike yang mendapatkan tawa mengejek dari Zaky.


“Hmm, baiklah aku tau itu,” sahut Zaky menganggukkan kepala.


“Astaga! Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku akan makan duluan kalau begitu.” Chike langsung mengambil ubi bakar miliknya.


“Apa? Kamu benar-benar akan memakannya sekarang? Tapi kita belum lama memasaknya. Apa itu matang?” tanya Zaky ketika melihat Chike yang sudah membelah ubi itu menjadi dua bagian.


“Ya, tentu saja. Oh, ini terlihat enak!” seru Chike. Ia langsung menggigit ubi yang masih panas itu. Namun, baru satu gigitan ia terdiam. Ia melihat Zaky yang memandangnya, menunggu reaksi.


“Ah... Wow! Ini benar-benar sangat enak! Rasa yang sangat langka!” seru Chike memaksa senyuman. Ia berusaha mengunyah ubi yang sudah digigit.


“Wah... ubi bakar memang enak dimakan saat setengah matang. Bagaimana cara mendeskripsikannya? Ini terasa lembut di luar namun keras di dalam.” Chike tertawa kecut. Ia bersusah payah untuk menelan ubi itu.


“Ini benar-benar sangat menakjubkan. Kamu harus mencobanya,” ucap Chike yang menyodorkan ubi itu di hadapan Zaky, namun langsung di tepis.


“Mengapa kamu melakukan itu?” tanya Chike memaksakan senyumannya dan itu membuat wajahnya terlihat konyol.


“Apa kamu bercanda?” tanya Zaky ketika melihat Chike yang kembali menyodorkan ubi itu padanya.


“Aku tidak bercanda. Ini sangat enak!” Chike berusaha meyakinkan Zaky.


“Pembohong!” seru Zaky yang menatap Chike dengan Datar.


“Kamu bisa mengetahuinya ya?” Chike menarik tangannya dari hadapan Zaky. Ia tersenyum kecut. Sedangkan Zaky hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Padahal aku sudah berakting sebaik mungkin agar tidak ketahuan. Tapi sepertinya itu terlihat sangat buruk,” murung Chike.


Ide jahil tiba-tiba muncul di kepala Chike. Ia langsung menatap Zaky dengan senyuman yang mencurigakan.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Zaky waspada.


Chike tersenyum manis. “Aku rasa aku harus menyuapimu dengan paksa.


“Tidak! Jangan coba-coba!” seru Zaky yang langsung bangun ketika Chike bersiap untuk menyuapinya.


“Oh, ayolah... ini enak kok,” ucap Chike menyengir.


“Dasar pembohong! Jangan mendekat!” seru Zaky yang membuat jarak di antara mereka.


“Satu suapan saja...” bujuk Chike yang mendekat.


“Tidak akan pernah!” sahut Zaky yang melangkah menjauh. Kini mereka berada di ujung kursi yang berseberangan.


“Kumohon, sekali saja ya...” Chike masih berusaha membujuk.


“Tidak!” seru Zaky. Akhirnya aksi kejar-kejaran tidak terhindar di antara mereka.


“Ayolah, Kak...”


“Tidak! Jangan memaksaku!”


“Ini enak kok!”


“Tidak akan pernah!”


“Kemarilah...”


“Tidak! Aku tidak mau memakannya!”


“Satu gigitan saja. Aaa....”


“Tidak mau!”


Bruk!!!


“Aku tak tau bagaimana harus mengatakan ini... Ini pertama kalinya aku merasa seperti sekarang. Jadi aku tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakannya sebelumnya.” Zaky berucap dengan serius.


“Apa maksudmu, Kak?” tanya Chike tak mengerti.


“Aku menyukaimu.... sangat.”


Cup!


Chike membeku ketika bibir Zaky menyentuh keningnya. Jantung Chike seketika langsung berdebar kencang. Ia menutup mata dan sedikit meremas lengan Zaky, menikmati ciuman di kening itu.


*****


Keesokan harinya


Zaky tersenyum melihat Chike yang masih tertidur di dalam kamarnya. Semalam mereka bercerita hingga larut malam dan Chike malah ketiduran. Zaky tak tega untuk untuk membangunkan dan akhirnya membiarkan Chike tidur di kasurnya, sedangkan ia kembali tidur di kursi.


Zaky ikut rebahan di samping Chike. Ia mengelus pelan wajah Chike yang terlihat damai. Ia menggeliat, merasa terganggu.


“Apa aku membangunkan mu?” tanya Zaky tersenyum hangat.


“Tidak, aku memang harus bangun,” sahut Chike serak, khas bangun tidur.


“Terima kasih,” ucap Chike memeluk Zaky yang ada di sampingnya.


Zaky membelai surai Chike lembut. “Terima kasih untuk apa?”


“Semuanya.” Chike menatap Zaky dengan senyuman terbaiknya.


“Ya ampun, kamu begitu manis. Kalau begitu mari sini kita berpelukan,” ucap Zaky yang membalas pelukan Chike dengan erat.


“Ingin berjalan santai?” tanya Zaky.


“Sekarang? Baiklah, aku akan bersiap-siap.” Chike langsung bangkit dan pergi ke kamarnya untuk berkemas, begitu pula Zaky.


*****


Chike dan Zaky berjalan santai menyusuri jalanan yang terlihat kosong. Chike ingin mengenggam tangan Zaky, tapi ia ragu.


Zaky tersenyum ketika merasakan tangannya digenggam. Ia melihat wajah Chike yang memerah malu.


Chike mencoba mengintip ekspresi Zaky, namun ia langsung membuang muka ketika melihat senyuman Zaky. Sedangkan Zaky terkekeh pelan.


“Apa kamu merasa malu?”


“Sedikit,” sahut Chike yang masih tak berani menatap Zaky.


“Baiklah, kalau begitu berhenti sebentar.” Zaky melepaskan genggaman di antara mereka. Chike melihat dengan bingung.


“Aku memiliki sesuatu untuk diberikan padamu.” Zaky mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku jaketnya.


“Sesuatu? Apa itu?” tanya Chike penasaran.


“Sebuah hadiah?” Chike kembali bertanya ketika melihat kotak kecil yang ada di tangan Zaky.


“Aku ingin kamu memilikinya,” ucap Zaky yang membuka kotak itu yang ternyata berisi sebuah kalung.


“Wah, itu sangat indah... Tapi, aku tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan padamu.”


“Itu tidak perlu. Aku hanya ingin memberikan kalung ini untukmu. Anggap saja ini sebagai hadiah terima kasih. Aku juga sudah mendapatkan kalung sebagai hadiah beberapa hari yang lalu. Dan aku merasa sangat senang menerimanya.”


Chike menatap Zaky dengan senyuman lebar. “Itu tidak masalah. Maksudku, itu hanyalah sebuah kalung yang dibuat oleh anak kecil. Jadi kamu tau sendiri hasilnya,” ucap Chike terkekeh pelan. Chike tak menyadari Zaky yang menatapnya dengan sendu.


“Tidak! Itu sangat berarti bagiku. Oleh karena itu, aku ingin kamu memiliki kalung ini.” Zaky dengan cepat merubah raut wajahnya ketika Chike menatapnya.


“Apa kamu menyukainya?” tanya Zaky ketika Chike menerima kotak itu.


“Ya, aku sangat menyukainya. Ini sangat bagus,” sahut Chike riang.


“Apa kamu ingin memakainya? Mari aku bantu,” tawar Zaky.


“Ini benar-benar sangat cantik,” ucap Chike ketika kalung itu sudah berhasil dipasang di lehernya.


Zaky tersenyum. “Ini untuk membalas mu selama 10 tahun terakhir,” batin Zaky.


“Ayo kita lanjutkan perjalanannya!” ajak Chike. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.