
Rakryan Mahapatih Nambi segera pulang ke kediamannya setelah menyelesaikan semua tugasnya di antapura. Rakryan Mahapatih Nambi juga meminta kusir yang membawa kereta kudanya untuk berjalan lebih cepat dari pada biasanya. Dan begitu tiba di kediamannya, Rakryan Mahapatih Nambi yang tidak sabar akhirnya melompat turun dan berlari ke dalam kediamannya. Tujuan Rakryan Mahapatih Nambi saat ini hanya satu: menemui putra asuhnya dan memastikan cerita bayangkara yang didengarnya tadi.
“Rama sudah pulang?” Dewangkara yang baru saja membersihkan dirinya dan keluar dari kamarnya, langsung menyapa Rakryan Mahapatih Nambi yang berlari ke arahnya.
“Kamu!!” Rakryan Mahapatih Nambi menarik pakaian Dewangkara dan membawanya masuk ke dalam kamar Dewangkara. Rakryan Mahapatih Nambi kemudian menutup pintu kamar Dewangkara agar tidak ada satupun yang bisa mendengar percakapannya dengan Dewangkara setelah ini.
“Rama?? Kenapa Rama menarikku begitu? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi??” Dewangkara bertanya dengan wajah heran dan bingung.
“Kamu!” Rakryan Mahapatih Nambi mengacungkan tangannya ke arah Dewangkara sebagai tanda menuntut jawaban. “Apa kejadian tadi siang itu benar-benar terjadi? Kamu menghentikan sudagar yang mengejar Danapati seorang diri??”
Dewangkara menundukkan kepalanya. “Apa itu membuat Rama dalam masalah? Kalau perbuatan itu salah, aku mengaku salah pada Rama. Aku terpaksa melakukan hal itu karena banyak orang di pasar tadi terluka dan menderita kerugian dalam bentrokan itu. Bahkan pasukan bayangkara yang datang pun tidak sanggup menghadapi sudagar asing itu, jadi aku terpaksa melakukannya, Rama. Maafkan aku, Rama.”
Mendengar jawaban Dewangkara yang langsung mengakui kesalahannya bahkan sebelum tahu di mana letak kesalahannya, Rakryan Mahapatih Nambi merasa tidak tega menyalahkan putra asuhnya yang baik hati itu.
Rakryan Mahapatih Nambi mengangkat tangannya yang menunjuk ke arah Dewangkara dan mendaratkan tangan itu di bahu Dewangkara sebagai bentuk perasaannya saat ini. “Rama tidak mengatakan jika perbuatanmu salah, Dewangkara. Apa yang kamu lakukan itu benar, hanya saja ...”
Rakryan Mahapatih Nambi menghentikan ucapannya dan membuat Dewangkara tidak mengerti.
“Hanya saja apa, Rama??”
Rakryan Mahapatih Nambi kini menatap tajam ke arah Dewangkara menuntut jawaban jujur dari Dewangkara. Sejak mendengar cerita bayangkara yang melapor di antapura, Rakryan Mahapatih Nambi sudah menduga akan sesuatu pada Dewangkara dan sekarang adalah saat yang tepat untuk memastikan dugaan di dalam benak Rakryan Mahapath Nambi. “Katakan pada Rama, katakan dengan sejujurnya, Dewangkara! Ingatanmu itu, mungkinkah sudah kembali??”
Kedua mata Dewangkara membesar ketika mendengar pertanyaan itu. Dewangkara sama sekali tidak menyangka Rakryan Mahapatih Nambi-ayahnya akan mengetahui hal itu secepat itu bahkan sebelum dirinya bicara. Di sisi lain, Rakryan Mahapatih Nambi yang melihat ekspresi Dewangkara dapat dengan jelas melihat jawaban untuk pertanyaan yang diajukannya.
“Sudah kuduga ... ingatanmu itu sudah kembali sekarang.” Rakryan Mahapatih Nambi mencengkeram bahu Dewangkara lebih keras dari sebelumnya sebagai pertanda kekhawatirannya.
“Apa itu sesuatu yang buruk, Rama??”
Rakryan Mahapatih Nambi melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Dewangkara dan masih menatap tajam ke arah Dewangkara. “Itu sesuatu yang buruk atau tidak, tergantung dengan tindakanmu, Dewangkara. Sekarang aku tanya padamu, setelah ingatanmu itu kembali apa yang akan kamu lakukan??”
Tanpa berpikir panjang, Dewangkara langsung menjawab pertanyaan dari Rakryan Mahapatih Nambi. “Tentu saja meminta keadilan untuk kematian Rakryan Tumenggung Se-“
Dewangkara menganggukkan kepalanya mengerti dan tidak lama kemudian Rakryan Mahapath Nambi melepaskan tangannya yang menutup mulut Dewangkara.
“Kenapa begitu Rama??” Begitu mulutnya terbuka, Dewangkara langsung menuntut penjelasan dari Rakryan Mahapatih Nambi. “Kenapa begitu?? Hari itu ... aku tidak sengaja mendengar percakapan Rakryan Tumenggung dengan Rakryan Rangga(1) yang mengikutinya dan dari percakapan mereka, aku tahu bahwa Rakryan Tumenggung berusaha menyelamatkan gurunya yang masuk ke dalam jebakan, Rama!!”
Rakryan Mahapatih Nambi melangkah mundur untuk menemukan kursi di mana dirinya bisa duduk untuk menenangkan pikirannya. Huft ... huft. Setelah menenangkan pikirannya dengan mengembuskan nafasnya beberapa kali, Rakryan Mahapatih Nambi kembali menatap tajam ke arah Dewangkara. “Apa kau tidak tahu saat itu Pawestri Mahohara mengorbankan nyawanya dan nyawa anak dalam kandungannya untuk menutupi kejadian saat itu? Jika kejadian itu diungkap lagi, maka pengorbanan Pawestri Manohara akan jadi sia-sia. Siapapun di kerajaan ini, tidak akan menyukai kejadian itu diungkit lagi, Dewangkara.”
“Lalu bagaimana dengan orang yang menjebak guru Rakryan Tumenggung dan membuat Rakryan Tumenggung kehilangan nyawanya, Rama? Apa Rama akan membiarkannya begitu saja?”
“Apa kau tahu siapa pelakunya, Dewangkara??” Rakryan Mahapatih Nambi merasa ragu dengan ucapan Dewangkara. Akan tetapi melihat Dewangkara yang bersikeras, Rakryan Mahapatih Nambi mencoba untuk bertanya.
“Aku tidak sepenuhnya yakin, Rama. Hanya saat itu ... saat semua orang menatap sedih ke arah kematian Rakryan Tumenggung dan istrinya, ada satu orang yang tersenyum melihat kematian itu, Rama. Dia adalah-“
“Berhenti!! Jangan katakan siapa orang itu!!” Rakryan Mahapatih Nambi dengan cepat menyela ucapan Dewangkara yang belum selesai itu.
“Kenapa, Rama?? Bukankah akan lebih baik jika Rama mengetahuinya? Dengan begitu Rama bisa bersikap waspada.”
Rakryan Mahapatih Nambi mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk berhenti bagi Dewangkara. “Jangan katakan nama orang itu jika kau tidak punya bukti, Dewangkara!! Semua yang kau katakan hanya berdasarkan ingatanmu saja dan hal itu tidak cukup menjadi bukti apapun untuk kejadian nahas yang menimpa Rakryan Tumenggung.”
“Tapi Rama ... jika Rama membiarkan hal itu terus didiamkan, kita tidak akan bisa menjadi pelakunya tidak akan melakukan hal yang sama kepada Rama. Bagaimana jika tujuan sebenarnya dari kejadian nahas yang menimpa Rakryan Tumenggung dan gurunya adalah untuk mendapatkan perhatian Maharaja dan mendapatkan posisi milik Rama??” Dewangkara mengatakan hal itu bukan tanpa sebab. Sebelum ingatannya kembali, Dewangkara sudah memiliki firasat buruk untuk Dyah Halayuda yang selalu menyulitkan Rakryan Mahapatih Nambi-ayahnya ketika di antapura. Dyah Halayuda terus menerus menjilat Maharaja dan membuat Maharaja tidak menyukai ayahnya. Dan firasat buruk itu semakin jelas terlihat semenjak ingatan lama milik Dewangkara kembali. Dewangkara yakin Dyah Halayuda punya tujuan dalam perbuatannya waktu itu. Hanya saja ... Dewangkara tidak bisa menebak apa tujuan di balik perbuatan itu.
“Berhenti, Dewangkara!!! Jangan bahas itu lagi!! Mulai sekarang, apapun yang terjadi, aku harap kau tidak menggunakan teknikmu melompat dengan tombak itu lagi terutama ketika kamu berada di ibu kota! Aku juga tidak ingin mendengar kau menuntut keadilan untuk kematian Rakryan Tumenggung. Itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan karena permintaanmu itu tidak memiliki bukti yang jelas!! Dan satu lagi, jika kau masih menganggapku sebagai Ramamu, aku harap kamu mengubur ingatan lamamu dan jangan pernah menceritakan hal itu kepada siapapun.”
Setelah mengatakan hal itu, Rakryan Mahapatih Nambi bangkit dari duduknya dan hendak berjalan keluar dari kamar Dewangkara. Tapi sebelum membuka pintu kamar Dewangkara untuk keluar, Dewangkara bertanya kepada Rakryan Mahapatih Nambi dan membuat niatnya tertunda.
“Kenapa begitu, Rama? Kenapa aku harus mengubur ingatan itu, Rama? Dan kenapa aku tidak boleh menggunakan teknik itu lagi?”
Tanpa menoleh ke belakang, Rakryan Mahapatih Nambi menjawab pertanyaan dari Dewangkara. “Kau mungkin tidak tahu, tapi teknik itu adalah teknik yang hanya digunakan oleh satu orang di kerajaan ini. Ini itu adalah teknik milik Rakryan Tumenggung Sena dan hingga kini tidak ada satu pun orang di kerajaan ini yang bisa menggunakan teknik itu. Lalu alasan aku memintamu mengubur ingatanmu itu dalam-dalam adalah karena ingatanmu itu adalah bagian dari kisah yang tidak boleh diungkapkan, Dewangkara. Bahkan jika apa yang kau katakan itu benar adanya, kita sekarang tidak punya bukti yang kuat. Itu artinya ... saat ini bukan saat yang tepat untuk mengungkap kejadian itu dan menyinggung banyak orang yang justru akan membahayakan dirimu sendiri, Dewangkara. Aku tidak ingin itu terjadi padamu, Dewangkara.”