
Sekembalinya dari kejadian tragis, semua rencana yang tadinya direncanakan oleh Nona Cintya: mencoba pakaian pernikahan, dibatalkan dan semua itu akan dilakukan di kediaman Yasodana. Serangan yang tadinya hanya sebuah dugaan dari Nona Cintya, menjadi kenyataan dan membuat Nona Cintya menjadi lebih waspada terhadap keselamatanku. Nona Cintya bahkan tidak mengizinkanku untuk keluar dari kediaman Yasodana dengan alasan keselamatan.
“Hingga hari pernikahan, maaf jika kau tidak bisa keluar dari kediaman in, Raditya!”
Jika aku belum melihat garis kehidupan Gayatri dan putaran kehidupannya yang selalu berakhir tragis, aku pasti akan sedikit membantah perintah itu mengingat harusnya akulah orang yang melindungi Nona Cintya dan bukan orang yang harusnya dia lindungi. Tapi ... setelah penglihatan yang aku lihat tentang kehidupan masa lalu kami, aku tidak bisa tidak mematuhi perintah itu. Nyawaku, keselamatanku dan hidupku lebih berharga dibanding apapun di mata Nona Cintya.
Akhirnya ... ketika semua orang sibuk dengan persiapan pernikahan antara dirinya dengan Nona Cintya, hanya aku yang duduk diam tanpa melakukan apapun. Dan selama dua hari ini kulewati tanpa melakukan apapun selain duduk di taman di dekat asrama pengawal sembari mengatur strategi dan rencana untuk menyelamatkan diriku. Aku yakin siapapun yang membuat serangan hari itu, tidak akan berhenti di titik itu saja mengingat aku masih selamat dari serangan itu.
“Kau benar-benar seperti cinderella versi pria.”
Aku terkejut mendapati suara Bara yang menyapaku. Aku menolehkan kepalaku dan mendapati Bara berjalan menghampiriku.
“Kau benar. Aku seperti cinderella versi pria yang keluar dari dalam dongeng ke dunia nyata. Kenapa? Kau ingin menjadi cinderella sepertiku??” Aku membalas dengan senyuman kecut.
Bara menggelengkan kepalanya dan duduk di sampingku. “Aku rasa aku tidak cocok. Melihatmu diam di sini selama dua hari ini, aku rasa aku tidak akan sanggup. Bersantai ... tidak cocok dengan karakterku. Membayangkannya saja ... membuat seluruh tubuhku ngilu.”
Aku terkekeh sembari mengingat bagaimana Bara dulunya hidup sebagai Biantara-pengawal dari Gayatri yang selalu setia kepada Gayatri dan dianggap sebagai saudara sebagai Gayatri. Aku juga ingat bagaimana Dewangkara dan Biantara dulunya memiliki hubungan baik layaknya teman dan saudara seperti hubunganku sekarang dengan Bara. Terkadang ... cerita kehidupan terulang lagi. Apakah ini karma? Atau ada alasan lain kenapa cerita yang sama terulang lagi?
Ingatanku membawaku juga pada sosok Danapati di masa lalu yang kini sepertinya bereinkarnasi menjadi Bagaspati karena wajah mereka yang terlihat sama persis. Bahkan musuhku kali ini pun sama. Apa aku juga masih harus menghadapi reinkarnasi dari Mahapati??
“Apa yang membuatmu melamun, Raditya??”
Ucapan Bara membuatku sadar dari lamunanku. “A-apa aku terlihat sedang melamun?”
Bara menganggukkan kepalanya. “Dua hari ini ... kau duduk dengan tenang di sini dan sibuk dengan pikiranmu. Kau yang dulu pasti akan langsung melawan perintah Nona Cintya yang memintamu untuk diam di dalam kediaman ini. Tapi ... setelah serangan itu, kau jadi lebih penurut kepada Nona Cintya. Dan lagi ... kau duduk diam di sini sepertinya sedang sibuk memikirkan sesuatu. Apa yang sedang mengganggumu, Raditya?”
“Serangan itu. Menurutmu siapa yang ingin aku mati? Tuan muda Bagaspati?” Aku mencoba bertanya untuk memastikan.
“Dari penyelidikan mengenai beberapa penyerang yang tewas, mereka memang berasal dari kediaman Wardana. Aku tidak akan terkejut jika itu adalah ulah Nona Agni, tapi kali ini ... Tuan Muda Bagaspati benar-benar menunjukkan watak aslinya yang kejam di balik sikap baiknya selama ini. Tidak heran aku tidak menyukainya sejak pertama kali melihatnya.”
Aku terkejut mendengar Bara mengeluarkan pendapatnya mengenai Bagaspati Wardana. Selama ini meski suka atau tidak suka terhadap seseorang, Bara akan selalu bersikap sopan dan sama sekali tidak pernah mengeluarkan pendapatnya kecuali diminta. Tapi sekarang ... sepertinya benar-benar tidak suka dengan Tuan Muda Bagaspati hingga menunjukkannya di depanku.
“Apa itu yang sedang kau pikirkan?” Bara bertanya lagi padaku.
“Ya, itu juga bagian dari yang aku pikirkan. Jika serangan itu memang benar adalah ulah dari Tuan muda Bagaspati, maka aku yakin Tuan muda Bagaspati tidak akan diam melihatku kembali dengan selamat. Dia pasti akan berusaha untuk membuat Nona Cintya menikah denganku apapun caranya.”
Bara menganggukkan kepalanya setuju. “Itu benar. Maka dari itu perintah kau untuk tetap di kediaman ini dikeluarkan oleh Nona Cintya.”
“Bagaimana menurutmu, Bara?” Aku ingat selama ini ... aku belum pernah menanyakan hal ini kepada Bara secara pribadi. Aku ingat belum pernah bertanya pada Bara mengenai pernikahan antara aku dan Nona Cintya. “Apa aku pantas menikah dengan Nona Cintya?”
Buk. Bara memukul bahuku dengan cukup keras hingga pukulannya meninggalkan rasa panas di bahuku. “Apa itu yang mengganggumu selama duduk di sini dua hari ini??”
“Itu termasuk.”
“Kau memikirkan banyak hal selama duduk di sini dua hari ini, Raditya. Jika bisa ... dari pada melihatmu duduk di sini dengan pikiran seperti itu, aku ingin membawamu untuk membantuku mengejakan tugasku yang sangat banyak. Tapi sayangnya ... aku tidak bisa melakukan itu karena nyawamu dalam bahaya.”
Aku tersenyum kecut lagi. “Kau benar, Bara.”
“Benarkah?”
Bara menganggukkan kepalanya. “Itu benar. Kau adalah orang yang setia, kau juga orang yang rela mati demi melindungi Nona Cintya, kau juga bukan orang mata duitan yang gila status dan kedudukan. Membuatmu berada di sisi Nona Cintya sebagai suami adalah pilihan tepat yang diambil oleh Nona Cintya terlepas dari niat lain yang dimiliki oleh Nona Cintya. Apa itu cukup menjawab keraguanmu, Raditya?”
Aku menganggukkan kepalaku sembari menghela nafas panjang. “Sedikit.”
“Banyak sekali yang mengganggumu, Raditya??” Bara menyandarkan tubuhnya dan melihat ke arah langit malam yang sejak tadi aku lihat.
“Kau percaya ada kehidupan lain sebelum kau lahir sekarang?” Aku mencoba bertanya kepada Bara.
“Antara percaya dan tidak. Kenapa memangnya??” Bara menatapku heran.
“Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu dan kuharap setelah kau mendengar cerita ini, kau harus membantuku untuk melawan Tuan Bagaspati apapun yang terjadi.”
Bara menganggukkan kepalanya masih dengan wajah bingung.
*
“Apa yang kalian bicarakan?” Cintya bertanya kepada Bara ketika melihat Raditya telah masuk ke kamarnya dan mematikan lampu tidurnya dan Bara datang menghadapnya. “Apa Raditya takut dengan serangan yang kini tertuju padanya?”
“Tidak, Nona. Raditya sama sekali tidak takut dengan serangan yang tertuju padanya. Saya bisa menjamin Raditya sendiri berusaha untuk mencari cara yang tepat untuk melindungi dirinya sendiri dan melindungi Nona.”
“Lalu?” Cintya mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Kenapa selama dua hari ini wajahnya terlihat seperti itu? Penuh tekanan dan kelihatan gelisah ketika duduk di taman? Apa Raditya ingin keluar dari kediaman? Atau perintah yang aku berikan padanya membuatnya tertekan?”
“Bukan itu juga, Nona.”
Cintya tadinya mengira Raditya selalu duduk termenung di kursi taman di dekat asrama pengawal karena tertekan dengan serangan kini yang tertuju padanya karena alasan pernikahan. Jika bukan karena alasan itu, alasan lain yang Cintya pikirkan adalah Raditya tertekan karena perintah darinya yang melarang Raditya untuk keluar dari kediaman dengan alasan keselamatan. Karena itu, Cintya mengirim Bara untuk mencari tahu. Tapi ... ketika mendengar jawaban dari Bara, Cintya semakin bingung, tidak mengerti.
“Jika bukan karena dua hal itu, lalu apa alasan Raditya duduk termenung dengan wajah yang terkadang sedih, terkadang tertekan dan terkadang ingin menangis?” Cintya bertanya lagi kepada Bara.
Sreg. Bara menggaruk kepalanya untuk pertama kalinya di hadapan Cintya dan membuat Cintya mengerutkan keningnya karena ini adalah pemandangan pertama yang dilihatnya dari Bara.
“Reaksi apa ini, Bara? Kau menggaruk kepalamu?? Di depanku? Ini sungguh tidak biasa!!”
“Maafkan saya, Nona. Tapi saya benar-benar bingung bagaimana harus menjelaskan apa yang Raditya katakan pada saya.”
“Katakan saja, aku akan mencoba memahaminya.”
Bara yang tadinya merasa bingung bagaimana harus menjelaskan, kini membuka mulutnya dengan enggan dan menceritakan apa yang didengarnya dari Raditya kepada Cintya di hadapannya.
“Bukankah itu aneh, Nona?” Setelah bercerita panjang, Bara bertanya kepada Cintya dengan wajah bingung. “Tidak mungkin ada manusia yang masih mengingat kejadian di kehidupan sebelumnya di kehidupan berikutnya??”
“ ... “ Cintya terdiam membeku mendengar cerita panjang Bara. Cintya benar-benar tidak menyangka jika pria yang dicintainya selama beberapa putaran kehidupannya di masa lalu hingga masa sekarang, kini mengingat kehidupan lain mereka sama seperti dirinya.