ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: PILIHAN DAN KONSEKUENSI PART 5



            Betapa terkejutnya Dewangkara ketika tiba di  benteng Gending dan mendapati benteng itu sudah penuh dengan darah berceceran di segala penjuru benteng dan semua pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi telah gugur dan bergelimpangan di mana pun layaknya sampah. Bagian benteng hancur dan terbakar oleh obor-obor yang dibawa ketika perang terjadi di malam hari. Terlebih lagi malam ini adalah malam tanpa bulan di mana malam terlihat lebih gelap dari malam-malam sebelumnya.


Pemandangan itu tidak lebih mengejutkan. Karena yang lebih mengejutkan bagi Dewangkara adalah ketika dirinya melihat sekumpulan Rakryan Tumenggung yang berkumpul di satu titik dan mengeroyok seseorang tepat di tengah-tengahnya.


            Dewangkara yang menyadari sosok yang saat ini sedang menjadi bulan-bulanan dari semua Rakryan Tumenggung yang dipimpin oleh Maharaja segera melompat dari kudanya untuk menyelamatkan nyawa sosok itu. “Tidak, Rama!!!!”


            Sembari melompat turun, Dewangkara mengayunkan tombak miliknya dan membuat semua Rakryan Tumenggung yang tadi mengeroyok ayahnya-Rakryan Mahapatih Nambi, langsung menghindar dan mengambil posisi waspada. Dua di antara Rakryan Tumenggung yang berjumlah dua puluh orang itu, terkena ayunan tombak dari Dewangkara dan jatuh tersungkur setelah terlempar belasan kaki jauhnya.


            “Diakah orangnya, Maharaja??” Salah satu Rakryan Tumenggung yang berhasil menghindari ayunan tombak Dewangkara, mengajukan pertanyaan kepada Maharaja.


            “Itu benar. Dia adalah putra asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi. Namanya Dewangkara.” Maharaja menjawab sembari duduk di atas kereta perangnya dan tersenyum melihat ke arah Dewangkara.


            “Teknik menggunakan tombak itu memang luar biasa, Maharaja. Ayunannya penuh dengan tenaga yang luar biasa, Maharaja. Seperti ucapan Maharaja, sayang sekali pria berbakat seperti ini hanya menjadi orang biasa dan bukan seseorang yang mampu menduduki posisi Rakryan Tumenggung.”


            “Itulah yang aku pikirkan. Maka dari itu, aku semakin kesal ketika menyadari Rakryan Mahapatih Nambi dengan sengaja menyembunyikan anaknya yang berbakat ini dan membuatnya mundur dari bayangkara bahkan setelah dia lulus ujian bayangkara di posisi pertama.”


            “Oh ho, posisi pertama. Tidak heran dia memiliki kemampuan yang sangat menarik, Maharaja. Saya akan sangat senang sekali memiliki bawahan seperti dirinya, Maharaja.”


            “Saya juga.”


            “Saya juga.”


            Seolah tidak merasa bersalah atas perbuatannya mengeroyok Rakryan Mahapatih Nambi secara bersamaan, Dewangkara menatap tajam ke arah Maharaja beserta semua Rakryan Tumenggungg yang berada di dekatnya yang masih bercanda memuji dirinya atau mungkin sedang mencela dirinya.


            “Rama???” Dewangkara yang tadi langsung mendekat ke arah Rakryan Mahapatih Nambi, berusaha untuk memastikan ayahnya masih hidup dengan memanggilnya. “Rama??”


            “Uhuk ... uhuk ....” Darah segar mengalir dari mulut Rakryan Mahapatih Nambi ketika berusaha untuk membuka mulutnya menjawab pertanyaan dari Dewangkara.


            “Tidak perlu bicara, Rama! Asal Rama masih bernafas, aku akan berusaha untuk membawa Rama dan menyelamatkan Rama dari sini!!”


            “Siapa yang bilang kau boleh membawanya, Dewangkara?? Maharaja yang mendengar ucapan dari Dewangkara, langsung membuka mulutnya dan mengganti nada suaranya.  Maharaja yang sudah mendapatkan kemenangannya, kini memandang tajam ke arah Dewangkara seolah mengatakan bahwa tidak akan ada yang selamat setelah berusaha membangkang dan mengkhianati Maharaja.


            “Bukankah Maharaja sudah menang? Dua benteng yang melindungi Lamajang sudah jatuh. Sekarang pasukan yang dibawa oleh Kangjeng Dyah Halayuda  dan pasukan milik Maharaja sudah memporak-porandakan Lamajang. Bukankah itu sudah cukup, Maharaja?”


            Maharaja memiringkan kepalanya sedikit sembari mengetukkan jarinya ke kursi singgasana miliknya. “Itu memang benar. Di malam yang gelap gulita ini, aku memang sudah menang. Majapahit mendapatkan kemenangannya melawan pemberontak yang ingin menjatuhkanku. Tapi ... aku tidak bisa membiarkan Rakryan Mahapatih Nambi hidup setelah semua ini. Tidak ada yang bisa menjamin di masa depan Rakryan Mahapatihku itu tidak akan membalaskan dendamnya kepadaku dan anak cucuku kelak. Jadi demi kelangsungan kerajaan ini, aku harus membuatnya mati. Tapi ....”


            Maharaja tiba-tiba menghentikan ucapannya dan memikirkan sesuatu yang menarik di dalam benaknya ketika melihat Dewangkara.


            “Dari yang aku dengar, kau harusnya sudah kembali ke Tarik dan harusnya besok kau akan melangsungkan pernikahanmu dengan Gayatri-putri Hattali. Mengingat kau harusnya menikah dengan putri Hattali dan tidak berada di sini, aku akan memberimu sebuah kesempatan, Dewangkara.”


            “Kesempatan??” Dewangkara memandang Maharaja dengan keningnya yang berkerut. “Kesempatan apa, Maharaja?”


            “Jika kau bisa mengalahkan semua pasukanku sebelum pagi datang, aku akan membiarkanmu membawa Rakryan Mahapatih pergi. Akan tetapi jika kau gagal, konsekuensinya adalah Rakryan Tumenggungku akan menghabisi Rakryan Mahapatih. Kau bisa menolak pilihan ini dan pergi sekarang juga melupakan semua hal yang kau lihat hari ini seumur hidupmu dan hidup bahagia dengan Gayatri dan Hattali. Bagaimana? Apa kau akan mengambil pilihan ini atau menolak pilihan ini,  Dewangkara?”


            Dewangkara melihat ke arah Maharaja dan bergantian melihat wajah Rakryan Mahapatih Nambi yang berada di pangkuannya saat ini. Pilihan ini ... pilihan yang sama dengan pilihan yang pernah dihadapi oleh  Rakryan Tumenggung Sena. Haruskah aku menyelamatkan diriku sendiri dan hidup bahagia dengan Gayatri di Tarik dan melupakan segala yang terjadi di sini selamanya?? Haruskah aku mengambil jalan yang mudah dengan mengorbankan nyawa Rama?


            Dewangkara memandang wajah Rakryan Mahapatih Nambi yang kini sedang sekarat karena luka-lukanya. Haruskah aku bertahan di sini dengan kemungkinan kecil dan melepaskan kehidupan bahagia yang menantiku?


            Di saat Dewangkara merasa ragu, sekali lagi benak Dewangkara membuatnya teringat dengan pikiran Rakryan Tumenggung Sena yang didengarnya entah bagaimana.


Lima tahun yang lalu, aku tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah dalam kasus guruku.


 Pikiranku membawaku pada sebuah pengandaian. Aku berpikir seandainya saja Mahisa Anabrang memiliki sedikit welas di hatinya, mungkin nasib tragis guruku akan memiliki akhir yang berbeda. Tapi ...  jauh dalam pikiranku, aku selalu menyalahkan diriku sendiri karena saat itu, aku sendiri punya kesempatan untuk menyelamatkan guruku.


Lima tahun yang lalu ...  harusnya aku melakukan hal ini. Melihat getaran di tangan guruku saat itu, harusnya aku berlari mendekatinya dan menghentikannya.


Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah Guruku menghentikan niatnya untuk membunuh Mahisa Anabrang? Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah kisah tragis dari guruku memiliki akhir yang berbeda? Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah situasi buruk ini menjauh dari hidup Guruku?


Butuh lima tahun lamanya bagiku untuk menemukan jawaban yang tepat ini. Sekarang ...  aku sudah berdiri di sisi yang benar, Rangga. Kali ini ... aku tidak akan gagal lagi, aku tidak akan menyesal lagi. Semua perasaan bersalah yang selama ini kurasakan akhirnya akan pergi.


            “Ja-ngan pi-kir-kan Ra-ma! per-gi-lah da-ri si-ni pu-tra-ku.”


            Mendengar ucapan Rakryan Mahapatih Nambi yang sedang sekarat, Dewangkara meletakkan tubuh Rakryan Mahapatih Nambi yang sekarat di atas tanah dan mengambil tombak miliknya lagi. Dewangkara memegang erat tombak itu dan berkata, “Maaf, Rama! Aku tidak ingin hidup dengan penyesalan seperti Rakryan Tumenggung Sena. Selama lima tahun hidupnya dia mendapatkan kebahagiaan. Akan tetapi lima tahun itu hidupnya terasa seperti penuh dengan kepalsuan. Hal yang sama terjadi padaku, Rama. Aku  ... harusnya bisa menghentikan kejadian ini jauh sebelum hal ini terjadi. Tapi aku mengikuti ucapan Rama dan memilih untuk hidup bahagia. Tapi apa yang aku dapat?? Akhirnya aku mengalami hal yang sama dengan Rakryan Tumenggung Sena. Pilihan yang dihadapinya kini datang padaku menuntut jawaban dariku. Dan maaf, Rama. Tapi, jawabanku sama dengan jawaban Rakryan Tumenggung Sena.”


            “Rakryan Tumenggung Sena??” Maharaja yang mendengar ucapan dari Dewangkara, terkejut mendengar nama itu keluar dari mulut Dewangkara. Maharaja ingat dengan baik bahwa Maharaja sebelumnya melarang semua orang di antapura untuk menyebut nama itu lagi meski dulunya Rakryan Tumenggung Sena adalah Rakryan Tumenggung terbaik yang pernah ada di Majapahit kala itu. “Apa kau mengenalnya?”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya, Maharaja. Saya mengenalnya. Saya bahkan tahu dengan baik bagaimana kematian menyakitkan datang pada Rakryan Tumenggung Sena yang setia pada kerajaan ini. Maaf, Maharaja. Saya akan memilih untuk mencoba mengambil kesempatan kecil ini untuk menyelamatkan Rama saya.”


            Dewangkara mengeratkan genggamannya pada tombaknya. Ini adalah pilihanku dan konsekuensi dari pilihan ini, aku harus sanggup menanggungnya.