
Keesokan paginya
Zaky duduk di ruang makan sendirian. Ia sedang memakan sarapannya sambil membaca buku.
Chike membuka pintu ruang makan yang ketutup, namun begitu ia melihat Zaky yang sedang duduk membaca buku, dengan perlahan ia menutup pintu dan berjalan pelan ke dapur untuk mengambil minuman.
Chike terus memperhatikan Zaky di setiap langkahnya tanpa terkecuali. Bahkan, saat ia mengambil minuman pun ia masih menatap lekat Zaky.
Leher Zaky terlalu kaku akibat terlalu fokus membaca. Ia merenggangkan otot-ototnya yang pegal dan kaku. Namun, kegiatannya itu terhenti ketika ia melihat Chike yang sedang menatap dirinya. Ia baru sadar ternyata ada orang selain dirinya di dalam ruang makan.
Zaky merasa salah tingkah ketika melihat Chike yang tersenyum manis sambil terus menatapnya. Zaky dengan segera berpura-pura melanjutkan bacaannya, tapi pada akhirnya ia hanya membolak-balikkan setiap halaman.
Zaky mencoba mengintip Chike perlahan. Namun, ia kembali salah tingkah ketika melihat Chike yang masih terus menatapnya. Zaky merasa pipinya memanas. Ia menutup wajahnya dengan buku yang dibacanya.
Zaky kembali mencoba mengintip, namun dengan segera ia menutup kembali wajahnya dengan buku. Ternyata Chike masih saja menatapnya.
“Astaga! Ada apa dengannya? Mengapa ia terus menatapku?!” tanya Zaky pelan pada dirinya sendiri. Ia masih mencoba mengintip, namun akhirnya kembali menutup wajahnya.
Zaky yang sudah merasa sangat salah tingkah karena terus ditatap dengan intens seperti itu pun akhirnya memilih untuk keluar dari ruang makan. Dengan segera ia membereskan sisa sarapannya dan pergi dari ruangan itu.
Chike tak berbicara satu patah kata pun dari tadi. Ia terus menatap setiap tingkah laku Zaky. Chike tertawa pelan di dalam hati ketika melihat Zaky yang seperti salah tingkah, lucu.
“Hahaha, Paman begitu lucu,” kekeh Chike pelan ketika Zaky sudah keluar dari ruangan. Ia memegang pipinya yang juga ikut memanas seperti Zaky.
“Sudah, Chike! Ayo kita sarapan saja!” serunya pada diri sendiri. Chike pun akhirnya mengambil sarapannya dan segelas teh. Ia memakan sarapannya sendirian dengan khidmat.
*****
Siang hari
Zaky sedang belajar di dalam kamarnya. Saat asik menulis, isi pensil mekanik miliknya patah. Ia mencoba menekan-nekan agar isinya keluar, namun itu sudah habis.
Zaky mengambil kotak pensil untuk mencari isi pensil cadangan, namun ternya itu juga habis. Zaky menghela napasnya pelan. Ia pun segera bangkit lalu memakai jaket dan keluar dari dalam kamar.
Saat baru keluar dari kamarnya, dari arah yang berseberangan Chike sedang lewat hingga membuat mereka berpas-pasan. Wajah mereka kita begitu dekat, hanya tersisa sekitar 10 cm.
Mereka berdua terdiam sesaat. Zaky yang pertama kali sadar langsung mundur dengan reflek hingga membuat jarak yang cukup di antara mereka.
“Kamu mau pergi ke luar, Paman?” tanya Chike tersenyum ketika melihat Zaky yang rapi memakai jaketnya.
“Ya, aku ingin pergi ke toko alat tulis untuk membeli beberapa barang,” sahut Zaky sedikit gugup.
“Hei! Kamu mau ke mana?” tanya Dava yang baru keluar dari dalam kamarnya. Ia dengan santai mengunyah permen karet yang baru dibelinya tadi pagi.
“Oh, Halo! Kamu penghuni baru di kamar 308 kan?” tanya Dava membungkuk sopan ketika sadar ada Chike di situ. Zaky tertawa pelan melihat Dava yang bersikap seperti itu.
“Ah, iya, aku penghuni baru di kamar 308. Senang bertemu denganmu,” sahut Chike ramah dan ikut membungkukkan badannya sebagai tanpa sopan santun.
“Ya, selamat datang di Asrama Laila! Semoga kamu betah selama tinggal di sini,” lanjut Dava. Chike hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Wah, bagaimana kamu bisa mengetahui caranya menyapa penghuni baru?” tanya Zaky tersenyum kecil. Ia menatap Dava dengan heran dan sedikit kagum, tak menyangka.
“Tentu saja aku tau!” seru Dava.
“Apa kamu tidak tau bagaimana posisiku yang sebenarnya di asrama ini? Bu Laila yang merupakan pemilik asrama ini dan aku sangat dekat. Jadi, kamu harus berhati-hati padaku mulai sekarang jika kamu tidak ingin ditangani oleh Bu Laila. Kamu harus sering-sering mengalah padaku,” bangga Dava.
“Aku berharap bisa melakukannya dan menunggu Bu Laila yang bertindak. Aku sudah muak dengan orang yang suka sekali mengunyah permen karet sepertimu. Jika aku berhasil menyingkirkanmu itu akan sangat bagus, namun aku memiliki hati yang begitu baik sehingga tidak sanggup menyakiti seseorang sepertimu,” sahut Zaky menggoda Dava. Chike yang melihat interaksi 2 sahabat itu hanya tersenyum.
“Astaga! Kamu tega menyebut sahabatmu sendiri dengan nama pengunyah permen karet? Dasar sialan!” seru Dava tak terima. Zaky dan Chike tertawa melihat Dava yang sebal.
“Oh, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu mau pergi ke mana?” tanya Dava.
“Aku akan pergi ke toko alat tulis. Isi pensil mekanikku sudah habis,” sahut Zaky menjelaskan.
“Bagus sekali! Aku juga sedang ingin keluar, jadi mari kita pergi bersama,” seru Dava.
“Itu tidak mungkin! Baiklah, aku akan pergi sekarang. Sampai bertemu nanti,” pamit Zaky pada Chike kemudian pergi meninggalkan Dava yang berseru kesal.
“Ah, baiklah. Kalau begitu aku juga akan pergi untuk menyusulnya. Semoga harimu menyenangkan.” Dava ikut berpamitan dan segera menyusul Zaky yang sudah berjalan duluan. Chike hanya bisa menatap kepergian mereka berdua.
*****
“Zaky!” seru Dava memanggil. Ia berlari kecil untuk menyusul langkah Zaky yang sangat cepat, bahkan mereka sudah berada hampir setengah perjalanan.
“Apa kamu kenal dengan penghuni dari kamar 308?” tanyanya ketika sudah berhasil mensejajarkan langkah mereka.
“Tidak. Aku tidak mengenalnya,” sahut Zaky.
“Tidak mengenalnya? Apakah kamu yakin?” tanya Dava heran.
“Apa maksudmu?” Zaky bertanya dengan bingung.
Dava berpikir. “Tidak. Hanya saja aku merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi. Aku bisa merasakannya, suasana di antara kalian berdua agak berbeda. Ada sesuatu yang tidak normal yang sedang terjadi,” ucap Dava tersenyum mencurigakan.
“Apa maksudmu ada yang berbeda?” Zaky akhirnya pun menatap Dava untuk meminta jawaban.
“Yang aku maksud dengan sesuatu yang berbeda itu adalah tatapannya. Aku bisa melihat cara dia memandangku itu sangat spesial,” jawab Dava menggoda.
“Apanya yang spesial? Kamu pasti salah lihat!” seru Zaky sedikit salah tingkah.
“Benarkah seperti itu? Tapi sepertinya tidak...” Dava menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Zaky yang terlihat malu.
“A-apa yang kamu katakan! Di-dia melihatku seperti biasa saja kok. Ya, benar! Biasa saja, tidak ada yang spesial!” sahut Zaky yang sedikit tergagap karena gugup. Sedangkan Dava sudah tertawa kencang melihat ekspresi Zaky.
“Astaga! Apa kamu merasa malu???” Dava kembali menggoda Zaky yang pipinya sudah memerah.
“Me-mengapa aku harus malu?! A-aku tidak melakukan apa pun!” seru Zaky yang semakin gugup karena terus-menerus digoda oleh Dava.
“Benarkah??? Tapi, pipimu sudah sangat merah sekarang, seperti kepiting rebus.”
“Itu tidak benar! Ini hanya karena cuacanya dingin. Ya! Itu benar! Ini karena cuaca dingin,” elak Zaky yang memegangi pipinya yang terasa memanas.
“Ya ampun! Baru kali ini aku melihatmu malu seperti ini dan itu sangat lucu!” Dava tertawa melihat Zaky yang semakin gugup karena dipojokkan olehnya.
“Ter-terserah kamu saja! Aku akan pergi sendiri ke toko! Kamu tidak usah mengikutiku!” seru Zaky setelah itu ia langsung berjalan cepat meninggalkan Dava yang kini sudah tertawa puas karena berhasil menggoda dirinya habis-habisan.