ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Sarapan Bersama



Chike sedang asik membuat sarapan di dapur. Setelah beristirahat dengan nyaman semalam, membuat tubuhnya kembali segar dan bugar pagi ini.


Zaky membuka pintu dapur dan terhenti ketika melihat Chike yang asik memasak dan tidak menyadari dirinya yang membuka pintu. Tak ingin menggangu, Zaky pun menutup pintu itu dengan pelan dan berjalan perlahan mendekati Chike.


“Hoamm... apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Zaky berpura-pura menguap, seolah-olah baru bangun tidur.


Padahal Zaky sudah bangun daritadi dan melihat Chike yang sudah tidak ada di tempat tidur. Ia segera ke kamar mandi untuk membasuh muka dan pergi mencari Chike. Ketika sampai di dapur, ia melihat Chike yang asik membuat sarapan, padahal tangannya masih terluka.


“Oh, Kak Zaky sudah bangun? Aku sedang membuat sarapan untuk Kakak. Apalagi Kakak belum makan apapun sejak kemarin karena sibuk mengurusku,” sahut Chike tersenyum sumringah.


Zaky mengintip sarapan apa yang sedang di buat Chike. Ternyata ia membuat nasi goreng dan telur omelet.


“Apa itu semua untukku?”


“Ya, tentu saja,” sahut Chike masih asik melanjutkan kegiatan memasaknya.


“Tapi itu terlalu banyak. Lagi pula kamu tidak perlu melakukannya. Kamu baru saja keluar dari rumah sakit dan tanganmu terluka. Kamu lebih baik istirahat saja, biar aku yang melanjutkan,” ucap Zaky khawatir.


Chike tersenyum sebagai jawaban. “Sudahlah, Kakak tenang saja. Aku hanya memasak sarapan sederhana. Itu tidak akan melukaiku, aku baik-baik saja,” sahut Chike menenangkan.


“Tapi, kamu memerlukan istirahat yang banyak agar cepat sembuh.”


“Apakah Kakak tidak menyukainya?” tanya Chike sedih.


“Tidak! Bukan seperti itu! Aku hanya merasa khawatir kamu akan kembali kesakitan,” sahut Zaky cepat.


“Benarkah? Syukurlah, aku lega mendengarnya. Tapi ini hanyalah imbalan kecil yang bisa aku berikan untukmu, Kak. Selama di rumah sakit, aku sudah membuatmu sangat kerepotan.”


“Ah, itu bukan masalah besar. Aku melakukannya karena ingin.” Zaky tersenyum malu ketika melihat Chike yang tersenyum lebar. Lesung pipi Chike terlihat begitu manis.


“Selesai! Baiklah, ayo duduk. Aku akan menyiapkan sarapan,” ajak Chike yang sudah mematikan kompor.


“Baiklah.” Zaky dengan menurut duduk di meja dengan baik dan tenang. Senyuman tipis terus terlukis di bibirnya. Ia terus memperhatikan setiap gerak-gerik Chike yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.


“Apa kamu tidur dengan nyenyak tadi malam?” tanya Zaky kepada Chike yang baru meletakkan sepiring nasi goreng di hadapannya.


“Apa? Ah, semalam? Ya, aku tidur sangat nyenyak. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku tidur senyenyak itu. Aku merasa ada seseorang yang terus saja mengawasiku sepanjang malam hingga membuatku merasa aman.”


“Huk..huk, huk.” Zaky terbatuk, tersedak minumannya ketika mendengar ucapan Chike barusan. Mukanya memerah, menahan sakit dan malu.


“Apa Kakak baik-baik saja?” tanya Chike khawatir. Ia mengelus pelan punggung Zaky untuk meredakan batuknya.


“Ya, huk. Aku baik-baik saja, huk-huk,” sahut Zaky yang sedikit kesusahan karena masih batuk. Ia berdeham pelan untuk melegakan tenggorokannya yang terasa sedikit perih.


“Wah, aku tidak menyangka ternyata kamu bisa memasak!” seru Zaky cepat, mencoba mengalihkan topik. Ia langsung memakan sesendok nasi goreng yang dibuat Chike.


“Apa wajahku terlihat begitu tidak meyakinkan jika aku bisa memasak?” tanya Chike yang sudah kembali berdiri tegap. Ia berjalan pelan dan duduk di kursi yang ada di hadapan Zaky.


“Hahaha, aku hanya bercanda, Kak. Kamu tidak perlu sepanik itu.” Chike tersenyum geli melihat ekspresi panik Zaky. Kini wajah Zaky kembali bersemu merah, merasa malu.


Chike menghela napasnya pelan. “Kakak mungkin tidak percaya. Tapi aku sudah hidup sendiri selama 5 tahun lamanya. Jadi aku sudah terbiasa untuk mengurus diriku sendiri, seperti memasak salah satunya.”


“5 tahun?!” seru Zaky tak percaya. Jika begitu, berarti ia sudah hidup mandiri setelah tamat SMP atau sekitar awal masuk SMA.


“Ah, sudahlah. Kalau dipikir-pikir, aku tidak tau banyak hal tentangmu. Semalam kamu mengatakan jika kamu kembali ke masa lalu, di mana usiamu masih 10 tahun bukan?”


Zaky kembali mengingat percakapan antara dirinya dengan Chike saat sebelum pulang dari rumah sakit. Zaky menanyakan perihal kebenaran yang terjadi dan Chike menjawabnya dengan jujur.


“Sebenarnya sudah 5 tahun aku pergi ke kampung ibuku untuk melanjutkan pendidikan SMA dan kuliah ku. Di sana ada rumah ibuku yang kosong karena kami memilih pindah dan tinggal di sini, jadi aku tinggal di rumah itu selama berada di sana. Aku kembali ke sini karena sedang cuti semester dan ibuku memintaku untuk kembali. Sebenarnya aku berniat tinggal beberapa hari saja dan akan segera kembali ke sana karena kota ini memiliki begitu banyak kenangan yang mengerikan. Di tahun pertama mencoba hidup mandiri memang terasa sulit, tapi akhirnya aku berhasil beradaptasi. Aku sudah menyelesaikan kuliahku sampai tahun kedua dan sekarang sedang libur semester untuk menunggu tahun ketigaku.”


Chike menjelaskan panjang lebar mengenai dirinya yang tidak Zaky ketahui. Senyuman sedih terpancar dari raut wajahnya ketika bercerita. Ia kemudian menyeruput pelan teh hangat yang dibuatnya tadi.


“Itu pasti sangat sulit untukmu,” ucap Zaky pelan setelah terdiam beberapa saat. Ia mencoba memaksakan senyumannya dan melihat Chike.


Chike menarik napasnya dan kemudian menghembuskannya pelan. Ia kembali melanjutkan ceritanya. “Kami pindah ke sini saat aku berumur 7 tahun karena pekerjaan orang tua ku. Sejak umurku 10 tahun hingga SMP, kurasa aku hanya terjebak di dalam kamarku selama 5 tahun. Tapi sudah tidak apa sekarang...” Chike memberikan senyuman yang terlihat menyayat di mata Zaky. Ia hanya bisa terdiam.


Chike menatap Zaky. “Aku baik-baik saja sekarang karena akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan orang yang sangat aku rindukan. Ah, makanlah! Jika dibiarkan nanti mereka akan dingin.” Chike dengan segera mengubah topik untuk memecah suasana yang semakin suram.


“Oke,” sahut Zaky pelan. Ia kembali menyendok nasi goreng itu dan memasukkan ke dalam mulutnya.


“Jangan katakan jika rasanya tidak enak,” ucap Chike yang tertawa pelan karena melihat Zaky yang hanya makan dengan diam, tak memberikan komentar. Zaky melamun, larut dalam pikirannya mengenai ucapan Chike.


“Ah? Tunggu sebentar! Wah, ini enak kok! Aku rasa kamu bisa menjualnya,” sahut Zaky cepat dan langsung berpura-pura mencicipi dan menjadi seorang komentator.


“Apakah itu benar-benar enak?” tanya Chike tak yakin.


“Yah, tidak begitu enak. Ah, tidak! Ini cukup enak untuk membuat pemilik warung makan mempekerjakan mu sebagai juru masak.” Zaky tersenyum canggung. Ia merasa telah salah bicara dan takut membuat Chike tersinggung.


“Ah, tunggu! Sebelum kamu kembali, bisakah kamu mengajari Dava cara memasak? Aku selalu merasa takut setiap kali Dia bilang akan memasak.” Zaky berusaha mengubah topik. Chike tertawa melihat Zaky yang salah tingkah.


Setelah itu, Zaky kembali larut dalam pikirannya. Bukannya melanjutkan makan, Zaky hanya terus mengaduk-aduk nasi goreng itu. Chike juga hanya diam sambil terus memperhatikan Zaky.


“Apa ada masalah? Apa ada sesuatu yang mau Kakak katakan padaku?” tanya Chike ketika melihat Zaky yang berniat untuk mengatakan sesuatu padanya, namun kembali diurungkan.


“Hanya saja.... ah, sudahlah. Mari kita lanjutkan sarapan kita. Kamu juga makanlah, ini masih tersisa sangat banyak, aku tak sanggup menghabiskan semua ini sendirian,” elak Zaky.


Zaky mendorong piring miliknya yang masih penuh karena baru dimakan beberapa suapan saja ke hadapan Chike. Dengan menurut, Chike memakan nasi goreng buatannya itu.


“Hei, Chike!” panggil Zaky yang tak tahan untuk tidak mengatakan hal yang ingin ia tanyakan pada Chike.


“Ada apa, Kak?” sahut Chike yang sedang mengunyah.


“Tentang apa yang kamu katakan terakhir kali, apa itu masih berlaku?” tanya Zaky ragu.