
Penyangga di tangan kananku akhirnya telah dibuka. Dokter yang didatangkan khusus ke kediaman Yasodana akhirnya menyatakan jika tangan kananku sudah tidak perlu disangga lagi dan sudah membaik.
“Tangan ini sudah tidak butuh penyangga. Akan tetapi jangan gunakan untuk mengangkat barang berat lebih dulu. Bisa Tuan melakukannya?”
Aku menganggukkan kepalaku menyetujui saran Dokter dengan senyum kecil karena merasa senang tanganku akhirnya membaik. “Bisa, Dok. Terima kasih banyak.”
“Tunggu, Dok!!” Nona Cintya menyela Dokter yang sedang membereskan barang-barang miliknya dan hendak kembali ke rumah sakit di mana dia bekerja.
“Ya, Nona Cintya. Apa ada yang bisa saya bantu?”
“Apa aku termasuk barang berat??” Nona Cintya mengajukan pertanyaan itu pada Dokter dan membuatku bersama dengan Dokter dan Alby yang mendengarnya tersentak karena terkejut. Hanya Malik saja yang diam tidak memberi respon untuk pertanyaan dari Nona Cintya.
“Kenapa Nona Cintya bertanya begitu?” Dokter berbalik bertanya kepada Nona Cintya sebelum memberikan jawabannya.
“Tadi Dokter bilang tangan kanan tunanganku itu tidak boleh digunakan untuk membawa sesuatu yang berat. Jadi aku bertanya ... apakah aku juga termasuk barang yang berat itu?” Nona Cintya bertanya dengan nada santainya padahal aku dan dokter yang mendengar pertanyaan itu merasa pertanyaan itu sedikit frontal dan blak-blakan.
Aku berbisik kepada Alby saat Dokter masih menimbang-nimbang memberikan jawaban yang tepat untuk Nona Cintya. “Alby, aku heran pada Malik.”
“Ya, Tuan.”
“Dia bisa begitu tenang ketika Cintya mengajukan pertanyaan frontal seperti itu.”
“Malik itu seperti Tuan Raka, Tuan. Sikap diamnya dan dinginnya sama persis dengan Tuan Raka.”
“Ahhhh begitu rupanya ...” Aku menganggukkan kepalaku melirik Malik yang tetap bersikap datar bahkan setelah mendengar Nona Cintya bicara begitu frontal.
Kali ini ... Nona Cintya mungkin sedikit berubah. Itulah yang aku rasakan. Sejak aku bukan lagi pengawalnya dan berubah status menjadi tunangannya, Nona Cintya bicara lebih terbuka padaku dan pada beberapa orang yang melayaninya. Dia terang-terangan memintaku untuk menciumnya di depan banyak orang atau sebaliknya. Nona Cintya lebih banyak bicara dan tersenyum kepada pengawal dan pelayan d kediaman ini. Itulah yang aku rasakan dan juga banyak orang rasakan di kediaman ini.
“Berapa berat badan, Nona?” Dokter menanyakan pertanyaan itu kepada Nona Cintya untuk menjawab pertanyaan Nona Cintya.
“48 kg. Apakah itu berat, Dok?”
Dokter melihat ke arahku dengan senyuman kecilnya dan membuatku merasa senyuman adalah senyuman yang biasa diberikan Bara padaku ketika sedang menggodaku.
“Itu tidak berat, Nona. Tuan Raditya bisa membawa Nona asalkan tidak dalam waktu yang lama.”
“Bagus kalau begitu.” Nona Cintya tersenyum mengatakan hal itu sementara aku hanya bisa menutup wajahku dengan tanganku karena merasa malu dengan situasi saat ini.
Wanita ini benar-benar ...
Setelah dokter pergi, beberapa mobil bersiap di depan kediaman Yasodana. Hari ini adalah jadwal pengepasan pakaian pernikahan. Nona Cintya sengaja membawaku keluar dari kediaman karena aku yang merasa bosan terus berada di kediaman Yasodana.
“Kenapa begitu??” Aku memprotes ucapan Nona Cintya karena merasa rencana itu mungkin justru membahayakannya. “Jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan bisa langsung melindungimu.”
“Itulah yang aku inginkan, Raditya. Aku bisa menanggung apapun di dunia ini kecuali satu hal.” Nona Cintya mengatakan itu sembari memeluk tubuhku dengan erat di depan semua pengawal yang sedang menunggu kami masuk ke dalam mobil.
Aku membeku menerima pelukan itu. Meski beberapa kali aku telah menerima pelukan dan ciuman dari Nona Cintya, tetap saja ... aku tidak terbiasa. Rasanya ... sebulan bukanlah waktu yang cukup bagiku untuk membalas cinta Nona Cintya untukku. Terlebih lagi ... Nona Cintya sangat suka menyentuhku, memelukku dan menciumku. Ini lebih membuatku tidak terbiasa lagi karena sebelumnya, aku bekerja sebagai pengawalnya yang menganggap Nona Cintya adalah seseorang yang harus dilindungi tapi tidak bisa untuk disentuh.
“Aku tidak bisa kehilanganmu, Raditya. Tidak untuk kesekian kalinya.”
Lagi. Nona Cintya mengatakan kalimat aneh itu lagi. Aku pernah mendengar ucapan aneh dari Nona Cintya, tapi waktu itu aku mengabaikannya karena mungkin aku yang salah dengar atau Nona Cintya yang salah berkata. Tapi kali ini ... aku mendengarnya dengan jelas dan aku tidak salah dengar.
“Apa maksudnya dengan kesekian kalinya? Apa mungkin kita pernah bertemu sebelum aku bekerja sebagai pengawalmu?” Aku mengajukan pertanyaan itu dan memikirkan jika memang sebelumnya Nona Cintya dan aku pernah bertemu, mungkin perasaan Nona Cintya padaku akan bisa dijelaskan.
Tapi ...
“Ayo masuk mobilmu, kita akan terlambat jika tidak segera pergi.”
Nona Cintya mengabaikan pertanyaanku itu, melepaskan pelukannya dan mendorongku masuk ke mobil yang berada di bagian belakang. Setelah memastikan aku berada di mobil paling belakang, Nona Cintya masuk ke mobilnya yang berada di tengah dengan Alby yang duduk di samping sopir.
Jelas sekali terlihat bahwa ini adalah tindakan pengecohan musuh.
Lima mobil hitam dengan kaca anti peluru keluar dari kediaman Yasodana. Mobil yang ditumpangi Nona Cintya adalah mobil ketiga. Sementara mobil yang aku tumpangi adalah mobil kelima. Aturan dari kediaman Yasodana adalah membawa tamu penting di mobil tengah. Hal itu bertujuan untuk melindungi tamu jika ada serangan terjadi secara tiba-tiba baik itu dari depan atau dari belakang. Jika mobil pengiring ada empat seperti keadaan saat ini, maka mobil pengawal yang ada di posisi genap nantinya akan pindah posisi ke kanan dan kiri dari mobil ketiga. Dengan begitu mobil ketiga akan berada dalam posisi yang paling aman jika serangan terjadi.
Karena serangan beberapa kali terjadi ... aku merasa harusnya aku selalu berada di samping Nona Cintya untuk melindunginya. Tapi kali ini Nona Cintya justru mengirimku ke mobil paling belakang dan membuatku khawatir padanya selama perjalanan. Dan benar saja ... setelah lima belas menit berjalan keluar dari kediaman Yasodana, sebuah tembakan terdengar dan mendarat di ban mobil pertama.
Ckit ....
Mobil pertama yang memimpin perlindungan untuk Nona Cintya memutar setirnya karena bannya yang terkena tembakan sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan dan berhenti. Brakk .... Aku mendengar suara kencang tabrakan itu. Mobil pertama berhenti dan empat mobil Yasodana yang lain tetap berjalan dan melewatinya begitu saja. Aku melihat ke arah belakang untuk memastikan keadaan mobil pertama tapi begitu melihat ke belakang, aku melihat beberapa mobil hitam muncul dengan senapan yang mengarah pada mobil-mobil kediaman Yasodana.
“Serangan!! Bersiap untuk serangan berikutnya!!!”
Aku mendengar suara teriakan dari alat komunikasi para pengawal yang menghubungkan mereka semua. Di saat yang sama kecepatan empat mobil Yasodana naik dan berusaha untuk melepaskan diri dari kejaran musuh. Mobil kedua kini memimpin untuk melindungi mobil Nona Cintya. Lalu mobil keempat bergerak ke samping mobil Nona Cintya untuk melindungi sisi samping mobil yang membawa Nona Cintya.
“Minta kirim bala bantuan dari pihak Kota dan hubungi kediaman Yasodana dan Vamana untuk meminta bantuan!!!”
Kali ini aku mendengar suara Alby yang berada di dalam mobil yang sama dengan Nona Cintya.
“Satu lagi ... jangan biarkan musuh tahu di mana Tuan Raditya berada!!!”
Aku mendengar suara Alby lagi dan kali ini ... aku paham semua alasan Nona Cintya selama beberapa waktu ini selalu melarangku keluar dari kediaman Yasodana dan bahkan membuatku duduk di mobil paling belakang. Serangan ini ... ditujukan padaku dan bukan untuk Nona Cintya.