ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: JANJI YANG TIDAK BISA DITEPATI PART 3



            Gayatri melanggar kesepakatannya dengan Biantara dan kemudian masuk ke dalam Lamajang seorang diri. Dan betapa terkejutnya Gayatri ketika melihat keadaan Lamajang yang berubah menjadi daratan berdarah yang dipenuhi dengan banyak tubuh manusia yang tergeletak sepanjang mata memandang.


            Dewangkara.  Melihat pemandangan mengerikan di Lamajang, hanya satu hal yang terbersit di dalam benak Gayatri: Dewangkara. Gayatri masuk ke dalam Lamajang sembari terus memeriksa setiap tubuh yang dilewatinya dan berharap bahwa tubuh-tubuh manusia yang tergeletak tanpa nyawa itu bukanlah Dewangkara.


            Kau harus hidup, Dewnagkara! Apapun yang terjadi, kamu harus hidup, Dewangkara!! Dengan terus membisikkan kalimat itu di dalam benaknya, Gayatri terus berjalan menelusuri Lamajang. Bau anyir darah yang masih belum kering sepenuhnya, ditambah dengan bau hangus beberapa bangunan yang terbakar dan daging dari banyak tubuh  yang terbakar, membuat Gayatri merasa mual dan ingin muntah. Tubuhnya mulai gemetar ketakutan membayangkan Dewangkara mengalami hal yang sama. Keringat dinginnya mulai mengucur di keningnya, ketika Gayatri membayangkan skenario terburuk yang akan dihadapinya: Dewangkara telah tewas dan Gayatri tidak bisa menemukan jasadnya.


            Setelah sekian lama berjalan dan menelusuri, langkah kaki Gayatri terhenti pada satu-satunya sosok yang jatuh berlutut dengan tangan yang masih menggenggam tombak untuk menahan agar tubuhnya tidak terjatuh ke tanah.


            “Dewangkara  ... “ Gayatri meneteskan air matanya sembari menutup mulutnya ketika melihat Dewangkara-kekasihnya dalam kondisi yang mengenaskan dengan tubuh yang tertancap oleh banyak anak panah.


            Senyuman muncul di bibir Dewangkara tatkala mengenali sosok yang saat ini muncul di hadapannya dan melihatnya dengan wajah terkejut bercampur dengan rasa takut. “Sepertinya aku masih memiliki stok keberuntungan. Di detik-detik kematianku, aku masih bisa melihat wajahmu untuk terakhir kalinya, Gayatri.”


            Memastikan bahwa sosok yang penuh dengan luka mengerikan itu adalah Dewangkara, Gayatri langsung menghampirinya dan berlutut di depannya.  Gayatri memperhatikan Dewangkara dengan saksama dengan tangannya yang bergetar hebat dan air mata yang mengalir tanpa henti.


            “Dewangkara ...” Air mata Gayatri mengalir semakin deras ketika menyadari bahwa dirinya tidak bisa memeluk tubuh Dewangkara yang penuh dengan anak panah dan darah yang mengalir.


            “Maafkan aku, Gayatri.”


            Menyadari ucapan Dewangkara sebagai ucapan perpisahan sebelum kematian menjemput, Gayatri menggelengkan kepalanya berusaha untuk menyangkal perasaan dan kenyataan buruk yang sedang menantinya dalam hitungan menit atau hitungan detik ke depan. “Tidak, Dewangkara!! Tidak, jangan katakan hal itu!! Kau akan selamat!! Aku akan segera membawamu pergi dari sini!!”


            Dengan darah yang terus mengalir dari mulutnya, Dewangkara berusaha untuk tersenyum di depan Gayatri dan bicara seolah rasa sakit yang saat ini menyerangnya tidak pernah ada. “Maafkan aku,  Gayatri. Aku minta maaf tidak bisa menepati janjiku padamu untuk menikahimu. Aku minta maaf ... huek!!”


            Gayatri menggelengkan kepalanya dengan tangan yang ingin memeluk tubuh Dewangkara. “ Tidak, Dewangkara!! Jangan katakan itu!! Kita akan tetap bersama sampai kapanpun! Kita akan tetap menjadi suami istri, Dewangkara!! Aku milikmu dan kau milikku, selamanya akan tetap begitu.”


            Dewangkara merasa bahagia mendengar ucapan Gayatri itu. Dewangkara merasa begitu bahagia dicintai oleh wanita yang sangat-sangat mencintai dirinya. Akan tetapi cinta yang begitu dalam itu hanya bisa dibalas oleh Dewangkara dengan kata maaf. “Maafkan aku, Gayatri. Sekali lagi aku ... “


            Dewangkara tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika mulutnya terasa kaku, tubuhnya mulai mati rasa dan suaranya tidak lagi bisa keluar dari. Hal yang saat ini dirasakan oleh Dewangkara adalah dirinya ingin sekali menutup matanya dan tertidur.


            “Dewangkara!!! Kau harus tetap bangun!! Jangan pergi meninggalkanku seperti ini!! Tidak, Dewangkara!! Jangan pergi seperti ini!!! “


            Kalimat itulah yang didengar oleh Dewangkara sebelum matanya benar-benar tertutup dan dirinya tidak lagi bisa melihat wajah Gayatri. Sebelum  kesadaran Dewangkara benar-benar ditelan oleh kegelapan, Dewangkara membuat harapan kecilnya. Aku harap kamu akan memaafkanku, Gayatri. Maaf karena aku datang dalam hidupmu dan membuat jatuh hati. Maaf karena aku masuk dalam hidupmu dan memberikanmu kenangan yang menyakitkan. Maaf karena aku tidak bisa menepati janji yang aku buat untukmu. Aku harap kamu mau memaafkanku yang hanya sekedar singgah dalam hidupmu ini, Gayatri.


*


            Klik.


            Suara petikan jari itu membuatku membuka kedua mataku. Dan begitu aku membuka kedua mataku, aku melihat Gayatri yang menangisi kepergian Dewangkara.


            Tes ... tes ..


            Aku menangkap sesuatu yang mengalir dari kedua mataku bersamaan dengan ingatan milik Dewangkara yang kini menyatu dalam benakku seolah ingatan itu adalah bagian dari ingatanku sendiri.


            “Apa kau sudah melihatnya, Raditya?”


            Suara itu ... Aku langsung menolehkan kepalaku ketika suara yang memanggil namaku itu terdengar tidak asing. Dan begitu aku menolehkan kepalaku, aku melihat tiga sosok di dekatku yang berdiri melihatku dengan tatapan sedih. Ingatan kemudian memutar dengan cepat mengenai tiga sosok di hadapanku saat ini. Mereka adalah Hyang Tarangga, Hyang Yuda yang dulunya adalah Rakryan Tumenggung Sena dan satu sosok lagi, Hyang Marana. Di antara ketiga sosok itu, aku melihat air mata jatuh membasahi wajah Hyang Yuda.


            “Apa air mata itu untukku?” Aku bertanya dengan sedikit ragu.


            Sosok yang bernama Hyang Marana langsung menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah Hyang Yuda dan Hyang Tarangga secara bergantian. Hyang Marana kemudian menghentikan tatapannya tepat di wajah Hyang Yuda. “Aku tidak menyangka jika Dewa Perang yang Agung dari Amaraloka akan menangis lagi?”


            “Tentu saja aku menangis. Meski sebagai Dewa Perang yang Agung dari Amaraloka, aku masih punya hati. Siapa yang akan menyangka anak kecil yang tidak sengaja aku selamatkan itu, diam-diam mengagumiku dan merasa bersalah untuk kematianku.” Hyang Yuda membalas ucapan Hyang Marana sebelum bicara padaku. “Harusnya kau lupakan saja tentangku, tentang Rakryan Tumenggung Sena!! Kenapa kau mengingatnya dan justru membawamu pada kematian yang mengerikan ini, Raditya? Dewangkara?? Nama mana yang harus aku panggil padamu sekarang?  aku bingung.”


            Aku tersenyum melihat bagaimana Dewa Perang yang selama ini di bayanganku terlihat kejam dan bengis kini meneteskan air matanya untukku. “Namaku Raditya untuk kehidupan ini, Hyang Yuda.”


            Sosok bernama Hyang Yuda menghapus air matanya yang membasahi wajahnya dan kemudian berjalan mendekat ke arahku. Hyang Yuda kemudian mengangkat tangannya dan mendaratkannya di atas kepalaku. “Biarkan aku bertanya, apakah akhirnya kau menyesali pilihan yang kau buat sebagai Dewangkara, Raditya?”


            Aku menatap tangan Hyang Yuda yang mendarat di atas kepalaku dan menyadari tangan itu lebih besar dari ukuran tangan umumnya. Mungkin karena Hyang Yuda adalah dewa, mungkin juga karena Hyang Yuda bukan manusia, ukuran tubuhnya lebih besar dari pada manusia jika melihatnya dari jarak yang dekat seperti saat ini.


            “Tidak. Saya tidak menyesal pilihan saat itu, Rakryan Tumenggung Sena. Yang saya sesalkan, harusnya saya bisa mengungkap kebusukan dari Dyah Halayuda. Tapi karena perintah Rama dan banyak pihak lainnya, saya mengurungkan niat itu dan membuat perang itu terjadi.”


            “Kau tidak menyalahkanku?” Hyang Yuda bertanya lagi dan aku tahu, Hyang Yuda saat ini bertanya sebagai Rakryan Tumenggung Sena bukan sebagai Dewa.


            “Tidak. Rakryan Tumenggung Sena adalah penyelamat saya dan juga orang yang saya kagumi. Sejak kecil, saya ingin menjadi seperti dirinya yang mampu melindungi di tengah peperangan. Jika Rakryan Tumenggung Sena tidak menyelamatkan saya waktu itu, mungkin saya akan mati saat masih anak-anak. Jika saya mati waktu itu, maka saya tidak akan pernah menjadi anak asuh dari Rama dan bertemu dengan Gayatri.”


            Hyang Yuda mengangkat tangannya dari atas kepalaku dengan senyuman kecil di bibirnya. “Terima kasih untuk pengabdian kecil yang kau berikan untukku. Sayangnya pengabdian itu membawamu pada kematian yang menyakitkan sama seperti kematianku, Raditya.”


            “Apa Hyang Yuda sudah selesai?” Kali ini giliran Hyang Tarangga yang membuka mulutnya dan bertanya pada Hyang Yuda.


            “Ya, Hyang Tarangga. Aku sudah selesai.” Hyang Yuda kemudian berjalan menjauh dariku dan memberikan ruang untuk Hyang Tarangga mendekat padaku.


            “Nah sekarang kita kembali pada masalah Gayatri. Setelah ini ... dalam posisi seperti ini, aku akan membuatmu melihat apa yang akan dilakukan Gayatri yang tidak bisa menerima kematian Dewangkara yang akan menjadi alasan kenapa kau dan aku bertemu saat ini. Bersiaplah, Raditya!!”


            Glup. Aku menelan ludahku  sembari bersiap melihat pilihan yang akan diambil oleh kekasihku di kehidupan masa lalunya.