
preview bab sebelumnya
Zaky terus memakan es krimnya. Tak lama kemudian, datang seorang gadis kecil dan langsung duduk di samping Zaky serta menyisakan jarak hanya beberapa jengkal saja dari Zaky. Gadis kecil itu hanya terduduk diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Zaky melihat gadis kecil itu perlahan. Ternyata gadis itu melakukan hal yang sama dan membuat Zaky langsung memalingkan wajahnya ketika mata mereka beradu. Entah mengapa Zaky tiba-tiba merasa sedikit canggung.
*****
Suasana di antara keduanya begitu canggung. Mereka saling melirik, tapi langsung membuang muka ketika iris mata mereka bertabrakan.
“Kamu mau?” tanya Zaky canggung sambil menyodorkan es krim yang di makannya. Gadis itu menatap Zaky, tapi kemudian menggelengkan kepalanya, menolak.
“Apa kamu keberatan karena aku sudah memakannya?” Zaky masih menyodorkan es krim itu.
“Ya,” jawabnya singkat yang membuat Zaky sedikit salah tingkah. Ia pun dengan canggung memakan kembali es krimnya itu.
“Apakah rasanya baik?” tanya gadis kecil itu tiba-tiba. Zaky menatap gadis itu, kemudian mengangguk.
“Apakah kamu tidak merasa kedinginan, Paman?” tanyanya lagi.
“Dingin...,” jawab Zaky.
Ia benar-benar merasa sangat canggung saat ini. Untuk menutupi kecanggungannya, ia pun kembali memakan es krimnya itu menghadap ke arah jalanan, tak berani melihat mata gadis kecil itu yang terlihat polos.
“Bukankah kamu seharusnya pergi ke sekolah?” tanya Zaky.
“Ini masih bulan Juni, Paman,” jawabnya.
“Lalu apa hubungannya dengan sekolah?”
“Ini masih dalam masa liburan semester, Paman,” sahutnya menjelaskan.
“Ah... liburan semester, ya? Kamu benar, aku hampir saja melupakannya,” jawab Zaky setelah memahami maksudnya.
Sepertinya menjadi seorang mahasiswa membuat dirinya melupakan hal itu. Jadwal seorang mahasiswa itu berbeda dengan siswa. Mengapa ia bisa melupakan hal sederhana itu?
“Lalu sekarang kamu mau ke mana? Apa kamu mau pergi ke tempat les?” Zaky kembali bertanya untuk memecahkan suasana hening di antara mereka.
“Ya,” jawabnya singkat.
“Jika kamu ingin pergi ke tempat les, mengapa kamu berada di sini?”
Gadis kecil itu tidak menjawab. Ia terlihat seperti berpikir keras untuk memberikan alasan yang cukup bagus. Zaky yang melihat itu kembali merasa canggung, ia kembali memakan es krimnya.
Zaky melihat plastik hitam yang dipegangnya di tangan kiri. Gadis itu melakukan hal yang sama. Zaky menatap mata polos gadis itu dan melihat plastik yang dipegangnya. Hal itu dilakukan hingga beberapa kali.
“Sebenarnya pemilik es krim ini adalah orang yang sangat pemarah. Namun, aku rasa kamu bisa memilikinya.” Zaky mengambil es krim coklat milik Dava dan memberikannya kepada gadis kecil itu.
“Terima kasih,” ucapnya mengambil es krim itu. Ia kemudian sedikit membungkukkan badannya sopan, sebagai rasa terima kasih yang tulus.
“Ya, dengan senang hati,” jawab Zaky tersenyum. Gadis itu terdiam, kemudian memilih untuk membuka bungkus es krim dan memakannya.
“Berapa usiamu sekarang?” tanya Zaky yang menatap jalanan yang kosong, begitu pula gadis itu juga melakukan hal yang sama.
“Usiaku 10 tahun, Paman,” sahutnya dengan mulut yang penuh es krim.
“Benarkah?” tanya Zaky tak percaya. Gadis itu mengangguk mengiyakan.
“Wah, aku tidak menyangka. Aku pikir kamu lebih muda dari itu. Ternyata kamu memiliki baby face,” kagum Zaky. Sedangkan gadis kecil itu menatap Zaky bingung, tak mengerti.
“Apa maksudmu, Paman?”
“Ah, maksudku kamu tidak terlihat seperti anak yang berumur 10 tahun. Aku pikir usiamu jauh lebih muda dari itu,” jelas Zaky.
“Itu adalah pujian! Jadi kamu jangan salah paham,” sambung Zaky cepat, takut gadis kecil itu salah paham atas maksud perkataannya.
“Oh, ternyata begitu,” ucapnya mengangguk paham.
“Terima kasih untuk pujiannya, Paman.” Gadis itu memberikan senyuman lebarnya yang membuat Zaky tertegun sesaat.
“Apa kamu ingin pergi sekarang?” tanya Zaky ketika melihat gadis itu mengecek jam tangannya.
“Ya, ini sudah pukul setengah sepuluh. Aku hanya memiliki sisa waktu 30 menit sebelum kelas dimulai,” jawabnya.
“Baiklah, kamu harus bergegas pergi sekarang. Jika kamu tidak melakukannya, mungkin kamu akan terlambat,” ucap Zaky.
“Kalau begitu aku pergi sekarang, Paman,” pamitnya berdiri. Zaky melakukan hal yang sama.
“Ya, pergilah. Kamu harus belajar yang rajin agar menjadi orang yang sukses di masa depan,” nasihat Zaky sambil mengelus pelan rambut gadis kecil itu.
“Baiklah. Aku pamit, Paman,” ucapnya membungkukkan badan sopan. Setelah itu ia berlari pelan.
“Jangan berlari! Kamu akan terjatuh nanti!” teriak Zaky kepada gadis kecil yang sudah jauh itu. Zaky tersenyum tipis ketika anak itu mengacungkan jempolnya sebagai jawaban mengerti.
“Mengapa Dava belum kembali juga? Sudah hampir 30 menit berlalu sejak ia pergi. Di mana ia sekarang?” tanya Zaky pada dirinya sendiri.
“Astaga! Mengapa ia begitu lambat? Sepuluh menit lagi bus akan datang,” keluh Zaky karena belum melihat batang hidung Dava sedikit pun.
“Yo, Zaky!” seru Dava dari kejauhan tak lama kemudian. Zaky menatap Dava yang menyengir tanpa dosa dengan kesal.
“Mengapa kamu begitu lama?” tanya Zaky ketika Dava sudah berdiri di hadapannya.
“Maaf, aku harus ke kamar kecil tadi,” jawab Dava memberikan alasan.
“Terserahlah! Mari kita pergi sekarang atau kita akan ketinggalan bus!” ajak Zaky yang langsung berjalan dan diikuti oleh Dava yang hanya menurut dalam diam. Ia tau bahwa dirinya yang salah kali ini. Jadi, ia tak ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuat Zaky emosi dan berakhir dengan pertengkaran.
*****
Hari sudah berganti malam. Zaky dan Dava berjalan pelan di koridor kamar sembari bercanda ria.
“Aku masih tidak habis pikir denganmu. Bagaimana kamu bisa meninggalkan skripsimu pada hari kamu harus menyerahkannya untuk diperiksa?”
Zaky kembali tertawa ketika mengingat kejadian tadi pagi. Walau sempat kesal karena mereka hampir ketinggalan bus karena hal itu, namun tetap saja lucu jika diingat kembali.
“Tidak bisakah kamu berhenti? Apa kamu tidak lelah sudah mengejekku seharian ini?” sungut Dava kesal. Sejak mereka selesai menemui dosen pembimbing, Zaky terus saja mengejeknya mengenai hal itu.
“Tidak bisa! Kapan lagi aku bisa mengejekmu jika tidak seperti sekarang,” ucap Zaky menabrak bahu Dava pelan, menggoda.
“Kamu memang suka sekali melihatku menderita.”
“Hahaha, maafkan aku. Aku tidak bisa berhenti mengejekmu karena itu sangat lucu. Walau aku sedikit kesal karena kita hampir ketinggalan bus,” ucap Zaky.
“Tapi aku sangat respect denganmu, Zaky. Padahal kamu bisa saja meninggalkanku dan memilih pergi duluan. Tapi, kamu begitu baik untuk memilih menunggu,” ucap Dava dramatis.
“Sebenarnya aku memang berpikir untuk meninggalkanmu. Tapi, karena aku teman yang baik dan sabar jadi aku memilih untuk menunggumu. Kamu harus berterima kasih padamu,” bangga Zaky.
“Wah, sabar ya... sungguh hampir membuatku menangis,” sungut Dava.
“Sepertinya ada seseorang yang meneleponmu,” ucap Dava ketika sampai di depan pintu kamarnya yang berada di sebelah kamar Zaky.
“Meneleponku?” tanya Zaky.
“Ya, aku mendengar teleponmu berdering. Apa kamu tidak mendengarnya?” ucap Dava yang mendengar dering telepon dari dalam kamar Zaky.
“Tidak. Aku tidak mendengarnya,” sahut Zaky berusaha menajamkan pendengarannya.
“Yasudah, kalau begitu kamu masuklah ke dalam dan beristirahat. Aku juga akan masuk ke kamarku untuk beristirahat,” ucap Dava.
“Baiklah. Selamat istirahat,” sahut Zaky. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.
Kringgg!!!!
Dering telepon terdengar begitu nyaring ketika Zaky baru masuk ke dalam kamarnya. Ia meletakkan tas punggungnya ke samping meja belajarnya kemudian membuka jaket dan meletakkannya di sandaran kursi.
“Halo?” ucap Zaky ketika sudah mengangkat telepon. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban apa pun dari seberang.