ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Pergi Ke Masa Lalu



Preview bab sebelumnya


Chike kembali memperhatikan isi kamar itu. Namun, pandangannya terpaku ketika melihat kalender yang ada di atas meja belajar. Dengan cepat ia mengambil kalender itu ketika menyadari sesuatu yang mengganjal.


“Apa?! Tahun 2012??!!” serunya ketika melihat tahun kalender itu.


*****


Chike tak percaya dengan yang ia lihat sekarang. Apa maksudnya tahun 2012? Bukankah ia hanya sedang bermimpi sekarang? Dengan cepat ia mengambil handphone di saku jaketnya dan berusaha untuk menelepon seseorang.


“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...” Chike melihat layar handphonenya yang tertera nomor sang ibu.


“Mengapa nomor Ibu tidak dapat dihubungi?” tanya Chike sedikit panik. Ia kembali berusaha menelepon sang Ibu, namun tetap mendapatkan jawaban yang sama.


“Apa ini? Apa aku benar-benar pergi ke masa lalu?” tanya Chike pada dirinya sendiri. Ia kembali berusaha menelepon ibunya untuk memastikan.


“Apa yang sedang kamu lalukan di dalam kamarku?!” seru seseorang dan membuat Chike kaget.


Chike berbalik dengan cepat untuk melihat orang yang berseru padanya barusan. Orang itu adalah Zaky. Kini ia berdiri dengan wajah marah.


“Paman...” panggil Chike pelan, namun langsung dipotong oleh Zaky.


“Apa yang kamu lalukan di dalam kamar orang lain?!” Zaky kembali bertanya dengan marah.


“Apa kamu memang orang yang seperti ini? Apa kamu seorang pencuri?!” tuduh Zaky dengan marah. Sedangkan Chike kini sudah berkaca-kaca melihat Zaky yang berdiri di depannya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?!” seru Zaky berusaha melepas Chike yang tiba-tiba langsung memeluknya tanpa izin.


“Aku sangat merindukanmu, Paman!” Chike kini sudah menangis dalam pelukannya.


“Bagaimana bisa ada seseorang yang begitu tidak sopan?!” Zaky berhasil mendorong Chike menjauh dan melepaskan pelukannya.


“Bagaimana bisa seorang gadis sepertimu memeluk orang yang baru kamu temui, bahkan hingga berulang kali?!” Zaky berucap dengan marah.


“Kamu bahkan berani masuk ke dalam kamarku tanpa izin,” lanjutnya.


“Kamu itu sebenarnya siapa? Mengapa kamu melakukan semua ini?!” Chike hanya diam menunduk, tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Zaky. Ia menghapus air matanya yang mengalir.


“Tunggu...apa kamu mengenalku?” tanya Zaky ragu. Ia sudah menurunkan nada suaranya.


“Apa kita pernah saling mengenal? Apa aku yang tidak ingat bahwa kita saling mengingat? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Chike menganggukkan kepala sebagai jawaban.


“Benarkah? Kita pernah bertemu? Kamu dan aku?” tanya Zaky tak yakin karena dalam ingatannya ia merasa tidak pernah bertemu dengan gadis yang ada di depannya itu.


“Kalau begitu aku minta maaf, sepertinya aku melupakannya. Tapi, seharusnya aku tidak memiliki riwayat ingatan yang buruk. Ah, sudahlah! Kalau begitu siapa namamu? Beritahu aku siapa namamu,” ucap Zaky yang tak ingin ambil pusing untuk memikirkan hal itu lebih lanjut.


“Chike Zizaya, Paman. Chike Zizaya,” sahut Chike mengulang menyebutkan namanya.


“Chike Zizaya?” Zaky berpikir keras untuk mengingat kapan ia pernah mendengarnya. Nama itu sepertinya tidak asing.


“Omong-omong, mengapa kamu terus saja memanggilku Paman?” tanya Zaky heran karena sejak tadi gadis di depannya itu terus saja memanggil dirinya dengan sebutan Paman.


“Tunggu...apa kamu orang yang meneleponku?” seru Zaky ketika baru menyadari bahwa suara itu adalah suara yang sama dengan orang yang meneleponnya bahkan hingga menangis. Ia begitu bodoh hingga tidak menyadari hal itu daritadi.


“Oh, baiklah,” sahut Zaky ketika melihat Chike mengangguk.


“Kalau begitu sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar tidak mengingatmu sama sekali. aku bahkan tidak ingat kita pernah bertemu.”


“Tidak masalah, Paman. Selama kamu baik-baik saja itu sudah cukup untukku,” sahut Chike yang kembali berkaca-kaca.


“Baiklah, kamu bisa keluar sekarang karena aku ingin beristirahat,” usir Zaky sopan.


Jujur, sebenarnya ia masih waspada dengan gadis di depannya itu. Ia masih belum yakin apa yang dikatakan gadis itu memang sebuah kebenaran atau ada hal lain.


“Baik, Paman. Selamat beristirahat.” Chike pamit dan keluar dari kamar. Sedangkan Zaky hanya bisa kembali menghela napasnya dengan kasar.


*****


Chike pergi ke suatu tempat setelah keluar dari kamar Zaky. Ia ingin memastikan sesuatu.


Chike berjalan santai menyusuri gang kecil hingga ia berhenti di belokan. Ia bersembunyi dan mengintip seseorang yang baru saja lewat.


“Wah, Ibu masih terlihat sangat muda. Sepertinya aku memang pergi ke masa lalu,” ucap Chike ketika melihat sosok wanita paruh baya yang merupakan ibunya. Sepertinya sang ibu baru kembali dari supermarket untuk berbelanja.


“Ibu, akhirnya aku berhasil untuk bertemu kembali dengan, Paman.” Chike bercerita pelan yang tidak didengar oleh siapa pun sambil terus menatap setiap langkah ibunya.


“Apa Ibu ingat? Kita berdua sama-sama merasa sangat bersalah pada Paman atas kejadian itu,” lanjutnya dengan sendu.


“Akhirnya aku berhasil bertemu lagi dengan seseorang yang paling aku rindukan setelah sekian lama.” Chike menarik napasnya pelan kemudian dihembuskan.


“Apa Ibu tau? Saat aku bertemu dengan Paman, aku merasa senang. Tapi, entah mengapa aku juga merasa sedikit aneh. Orang yang dulu aku lihat dan aku anggap sebagai pahlawan super yang keren, kini dia tampak seperti seorang pria yang tampan dan juga lembut. Bahkan kamu sekarang hampir seumuran. Aku merasa sangat senang, Bu.” Chike terus saja bercerita walau pun sang ibu kini sudah tidak terlihat karena sudah masuk ke dalam rumah.


“Ibu... aku sebenarnya ingin kembali dengan segera ke masa kini. Namun, aku akan meminta maaf, Bu. Aku memang ingin kembali, namun aku jauh lebih menginginkan untuk tinggal bersama, Paman.” Chike menarik napasnya dalam karena merasakan air matanya akan jatuh.


“Aku tidak tau kapan kesempatan seperti ini akan datang lagi. Aku ingin memanfaatkan kesempatan yang datang ini dengan sebaik mungkin. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan, Paman.” Chike menghapus air matanya yang berhasil jatuh ke pipinya.


“Aku benar-benar minta maaf, Bu. Aku tau mungkin sekarang kamu akan merasa sangat khawatir, namun aku tidak ingin melepaskan kesempatan ini begitu saja. Aku akan tinggal bersamanya sebentar lagi dan kemudian aku akan segera pulang.” Chike kembali menghapus air matanya.


“Aku akan tinggal di sini sampai waktunya aku memang harus kembali. Jadi, selama itu tolong jaga dirimu baik-baik, Bu. Kamu tidak perlu merasa khawatir karena aku pasti akan baik-baik saja.” Chike menarik napasnya dalam kemudian menghembuskan secara kasar. Ia berusaha tersenyum lebar, menatap gerbang yang tertutup rapat.


“Baiklah, kalau begitu aku akan pamit sekarang, Bu. Malam semakin larut dan cuaca pun semakin dingin. Kumohon padamu untuk menjadi kesehatan selama aku tidak ada. Aku akan kembali jika sudah tiba saatnya. Selamat tinggal, Bu,” pamit Chike. Setelah itu dia pergi dari gang itu untuk kembali ke asrama.


Perasaan Chike kini terasa campur aduk antara senang dan sedih. Di satu sisi ia senang karena akhirnya bisa bertemu dan menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan orang yang paling ia rindukan selama 10 tahun terakhir.


Namun, di sisi lain ia merasa sedih karena harus meninggalkan ibunya demi bisa tinggal di sini sedikit lebih lama. Ia yakin jika ibunya pasti akan merasa sangat khawatir karena dirinya tidak kembali ke rumah. Tapi, biarkan dirinya egois untuk kali ini saja. Biarkan ia menjalani akibat dari seluruh keputusannya.