
“Berikan pria itu padaku!!” Satu dari kumpulan orang-orang yang mengejar Danapati itu kemudian maju, membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari Bayangkara yang bertanya padanya.
“Ada apa dengan pria itu?” Bayangkara itu melihat ke arah Danapati yang bersembunyi di belakang pasukannya. “Kenapa kalian mengejarnya dan membuat keributan di ibu kota?”
“Dia menggoda istriku! Aku mengejarnya untuk memberikan pelajaran baginya bahwa ada wanita yang tidak bisa digoda!!! Terlebih lagi wanita yang sudah menikah!”
Mendengar ucapan pria itu, Dewangkara hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari bicara di dalam benaknya, Kali ini sepertinya Danapati akan mendapatkan batunya. Ini adalah buah dari ulahnya selama ini yang hobi mempermainkan wanita di ibu kota.
“Jika kalian ingin membuat perhitungan dengan pria itu, kami akan membawanya ke pengadilan di antapura. Jangan membuat keributan dengan menghancurkan dagangan dari sudagar lain di ibu kota!!”
Pria dari orang-orang yang mengejar Danapati menandang bayangkara yang bicara padanya dengan senyuman menakutkan. Matanya menatap tajam dan ingin mengatakan bahwa dia tidak memiliki ketakutan sama sekali bahkan ketika berdiri di depan pasukan bayangkara milik antapura. “Tidak!! Aku tidak ingin membawanya ke pengadilan dan membiarkannya mendapatkan hukuman yang ringan hanya dengan beberapa pukulan saja. Aku ingin memukulnya sendiri dengan kedua tanganku ini!”
Pria itu memberikan isyarat dengan memukulkan dua tangannya yang mengepal. Pria itu melakukan hal itu karena ingin mengatakan pada semua orang yang melihat bahwa pukulannya akan sangat menyakitkan. Tapi bayangkara yang berhadapan langsung dengannya sama sekali tidak terlihat gentar dengan ancaman itu.
“Kerajaan ini punya hukum dan hukum itu ada untuk dipatuhi!” Bayangkara itu berusaha keras untuk menghentikan pertempuran kecil di ibu kota.
“Jika Kerajaan ini punya hukum dan hukum itu ada untuk dipatuhi, bagaimana pria di belakang kalian itu yang tidak mematuhi hukum?? Bukankah dari pada berusaha untuk membujukku, lebih baik segera menghukum pria itu di sini sekarang??”
Pria itu menatap tajam ke arah Danapati dan membuat Danapati gemetar ketakutan. “Akan lebih baik jika kalian membawaku ke pengadilan!!”
Baru saja Danapati mengatakan hal itu, Danapati merebut tombak dari salah satu bayangkara yang berada di dekatnya dan melemparkannya ke arah pria menakutkan yang meminta keadilan untuk istrinya yang digoda oleh Danapati.
Syut. Tombak itu melayang melewati pasukan bayangkara dan mendarat di dekat pria itu. Danapati gagal melukai pria itu dan justru membuat usaha bayangkara untuk membujuk pria itu, gagal.
“Kau!!!! Benar-benar pria kurang ajar!!!!” Pria itu menatap tajam ke arah Danapati dan kemudian kehilangan kesabarannya. Buk. Pria itu memukul wajah bayangkara yang berusaha untuk menghentikannya. Dan hanya butuh satu pukulan saja, pria itu langsung menjatuhkan bayangkara itu ke tanah. “Kau harus mati di tanganku, Danapati!!!!”
Bentrokan antara pria yang mengejar Danapati dengan pasukan bayangkara antapura terjadi. Dan bentrokan itu berhasil membuat semua orang berlari berhamburan untuk menyelamatkan diri mereka.
Buk ... buk ... buk. Para pria dari sekumpulan orang-orang yang mengejar Danapati itu memang kalah jumlah dengan pasukan bayangkara yang datang. Tapi jumlahnya yang tidak banyak itu mampu menjatuhkan setengah dari pasukan bayangkara yang berusaha menghadang dalam waktu singkat.
“Kyaaaaaa!”
“Kyaaaaaa!!!!”
Teriakan semua orang terdengar di telinga Dewangkara. Anak-anak, para wanita, para pria tua yang sedang berjualan terdengar di telinga Dewangkara. Dan hal itu membuat Dewangkara yang tadi hanya diam melihat, tidak bisa tidak melakukan apapun untuk orang-orang yang terluka dalam bentrokan ini.
Dewangkara melihat ke sekelilingnya dan berusaha untuk menemukan apapun untuk menghentikan bentrokan ini. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Dewangkara melihat kios yang menjual tali. Dewangkara mengambil tali itu dan meninggalkan uang koin di sana sebagai tanda telah membeli tali itu. Dengan tali itu, Dewangkara menangkap Danapati yang telah menyebabkan masalah itu dan membuat niatnya untuk melarikan diri dalam kekacauan itu gagal. Dewangkara kemudian membuat tali yang mengikat tubuh Danapati terikat ke salah satu tiang penginapan untuk mengamankan Danapati.
“Maaf Danapati. Membiarkan kau lari hanya akan membuat kekacauan ini tidak akan berakhir. Aku tidak bisa melepaskanmu ... tapi aku janji satu hal padamu, aku tidak akan menyerahkanmu pada pria-pria itu!!”
“Dewangkara!! Lepaskan aku!!!”
Dewangkara mengabaikan Danapati. Akar masalah berhasil diamankan, sekarang ... Dewangkara melihat ke arah bentrokan yang masih terjadi antara bayangkara dan sekumpulan pria yang mengejar Danapati untuk meminta keadilan. Aku harus menghentikan bentrokan ini.
Dewangkara mengambil dua tombak yang dari bayangkara yang sudah tumbang. Dewangkara berlari dan kemudian melakukan hal yang sama yang dilakukannya ketika bertarung melawan Biantara. Dewangkara menggunakan tombak di tangan kanannya untuk melompat jauh untuk masuk ke dalam bentrokan yang sedang terjadi. Sebelum mendarat tepat di tengah-tengah bentrokan, Dewangkara mengayunkan tombak di tangan kirinya untuk menghentikan bentrokan yang sedang terjadi. Benar saja ... tepat sebelum mendarat, pasukan bayangkara yang bentrok dengan para pria yang mengejar Danapati menyadari bayangan yang muncul di atas kepala mereka dan langsung bergerak menjauh karena insting mereka yang mengatakan ada bahaya.
“Berhenti!!!” Dewangkara yang berdiri tepat di tengah-tengah pasukan bayangkara dan pria-pria yang mengejar Danapati berteriak sembari mengacungkan tombak di tangan kanan dan kirinya ke arah pasukan bayangkara dan pria-pria yang mengejar Danapati.
“Siapa kau?? Kenapa kau ikut campur dengan urusan kami?” Pria yang tadi menuntut keadilan untuk istrinya yang digoda oleh Danapati berteriak ke arah Dewangkara dengan mata tajam.
“Minggir Kangjeng!! Ini berbahaya!!” Dewangkara melihat ke arah bayangkara yang berteriak padanya dan mengenali wajah bayangkara itu. Bayangkara itu adalah bayangkara di pos penjaga yang menerima kain darinya tadi.
“Maaf, tapi aku tidak akan minggir sebelum kalian berhenti!! Tindakan ini membuat banyak orang merugi dan orang-orang di sekitar sini menjadi korbannya.”
“Siapa kau?? Kenapa kau ikut campur??” Pria yang menuntut keadilan menanyakan kalimat itu kepada Dewangkara lagi seolah tidak peduli dengan tujuan Dewangkara menghentikan bentrokan itu.
“Saya Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih Nambi. Kangjeng lihat di sana!!” Dewangkara menunjuk ke arah Danapati yang berhasil diamankannya. “Saya telah berhasil menangkap Danapati untuk Kangjeng. Tapi karena Kangjeng telah membuat keributan di sini dan membuat banyak orang merugi, saya tidak akan menyerahkan Danapati pada Kangjeng.”
“Dewangkara, apa kau gila??? Kau ingin membunuhku??” teriak Danapati ketakutan.
“Kangjeng Dewangkara tidak akan menyerahkan pria itu padaku??” Pria yang menuntut keadilan itu bertanya pada Dewangkara.
“Tidak. Aku akan membawanya ke pengadilan karena Kangjeng juga harus membayar kerugian dari orang-orang di sini.”
“Bagaimana jika aku tidak mau??”
“Saya akan membuat Kangjeng pergi ke pengadilan dengan paksa bersama dengan Danapati.”
Dewangkara merasakan aura membunuh yang ditujukan pria di depannya ke arahnya. Tombak di tangan kanannya yang tadi berusaha untuk menghalangi pasukan bayangkara kini diarahkannya ke arah pria-pria sudagar asing yang menuntut keadilan pada Danapati. Dewangkara bersiap untuk menghadapi serangan yang kini tertuju hanya pada dirinya.
Rakran Tumenggung Sena. Dewangkara memanggil nama itu di dalam benaknya sembari mengingat bagaimana Rakryan Tumenggung Sena menghadapi pasukan bayangkara yang banyak jumlahnya seorang diri. Aku harap kau mendoakanku untuk selamat kali ini karena aku masih harus bertanya pada Rama soal kematianmu dan memperingatkan Rama soal musuh yang membuatmu mati terbunuh, Rakryan Tumenggung Sena.