ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Salah Tingkah



Pagi hari


Zaky tersentak bangun dari tidurnya. Semalam ia tidur di kursi setelah memberi Chike obat. Zaky mencoba merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat posisi tidur yang tak nyaman.


Zaky bangkit dari kursi dan pergi menuju tempat tidur. Ia merapikan rambut Chike yang sedikit berantakan dan meletakkan tangannya di atas dahi Chike untuk mengecek suhu tubuhnya.


“Syukurlah demamnya sudah turun,” desah Zaky lega. Ia tersenyum melihat wajah damai Chike yang tertidur. Karena Chike masih tertidur, akhirnya Zaky memutuskan untuk pergi sarapan duluan keruang makan. Ia menutup pintu kamar dengan perlahan ketika keluar.


“Hei Zaky!” sapa Dava yang membuat Zaky tersentak kaget.


“Mengapa kamu keluar dari dalam kamar ini?” tanya Dava menyelidik ketika Zaky berbalik badan.


“Aku? Apa yang salah dengan hal itu? Ini kamarku,” sahut Dava bingung.


“Maksudku, semalam kamu mengatakan akan membiarkan penghuni kamar 308 untuk tidur di dalam kamarmu dan kamu akan tidur di kamarnya. Bukankah semalam kamu mengatakan akan tidur di kamar 308?” Dava semakin memandang Zaky dengan curiga.


“Apa yang sedang kamu bicarakan?” Zaky kembali bertanya dengan bingung.


“Kamu mengatakan akan tidur di kamar 308 dan membuatnya Dia tidur di kamarmu. Lalu mengapa keluar dari kamar ini?” Dava semakin menyipitkan matanya.


“O-Oh... itu.” Zaky menjawab dengan gugup ketika mengingat perkataannya semalam. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, berusaha mencari alasan yang tepat.


“I-ini, a-ku memiliki barang yang ingin diambil. Ya...benar, a-ada barang yang harus aku ambil. Ja-jadi aku masuk ke sini untuk mengambilnya,” sahut Zaky yang terbata-bata. Ia melihat ke sembarang tempat, tak berani menatap mata Dava.


Sedangkan Dava yang merasa tak percaya dengan ucapan Zaky semakin memicingkan mata curiga. Hal itu membuat Zaky semakin gugup.


“Benarkah? Lalu mengapa telingamu memerah, Zaky?” tanya Dava tepat sasaran.


“Ng-nggak! i-ini karena cuacanya panas, ya benar! Cuacanya sangat panas.”


“Wah...kamu adalah pembohong yang sangat buruk. Telingamu akan selalu memerah ketika kamu merasa malu dan sedang berbohong.” Lagi-lagi ucapan Dava tepat sasaran dan membuat Zaky semakin salah tingkah.


“Astaga! Aku tak percaya dengan yang terjadi. Di kamar yang kecil ini? Kamu dan penghuni kamar 308??” Dava menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa takjub.


“Sudah aku katakan bukan seperti itu!!” seru Zaky cepat. Telinganya semakin memerah.


“Baiklah! Baiklah! Hentikan itu!” seru Dava memundurkan langkahnya ketika melihat Zaky yang sudah bersiap untuk memukulnya karena terlalu malu.


“Kenapa kamu malah berteriak padaku? Aku hanya bertanya apa yang sedang kamu lakukan, tak perlu hingga marah seperti itu. Bahkan kamu berniat memukulku? Sungguh kejam!” ucap Dava menyebalkan.


“Apa kamu marah?” tanya Dava pada Zaky yang hanya diam menatapnya.


Zaky menghela napasnya panjang. “Sudahlah! Mari kita lupakan saja. Aku mau pergi makan saja,” ucap Zaky mengalah.


“Tunggu... apa yang kamu beli?” tanya Zaky ketika menyadari kresek yang dibawa Dava. Ia berniat untuk mengambilnya, namun dengan cepat Dava langsung menghindar.


“Ini es krim,” sahut Dava cepat. Ia mengangkat kreseknya untuk memamerkan pada Zaky.


“Kenapa kamu selalu saja makan es krim di cuaca yang sangat dingin?” tanya Zaky yang menatapnya dengan malas.


“Kamu itu memang tidak mengetahui apa pun ya? Kita itu harus melawan dingin dengan dingin juga,” jawab Dava sok bijak.


“Konsep dari mana yang kamu ambil?” tanya Zaky mencemooh.


“Tentu saja dari diriku sendiri! Apa kamu tidak mendengarkannya barusan?” Dava berucap dengan bangga. Zaky semakin menatapnya dengan malas.


“Oh, benar! Aku baru saja mengingat hal yang sangat penting!” seru Dava tiba-tiba.


“Terakhir kali kamu memberikan es krim milikku kepada seorang anak kecil hingga membuatku tidak bisa memakannya. Kamu benar-benar sangat tega padaku!” sebal Dava.


“Apa kamu menyimpan dendam padaku hanya karena hal sepele itu? Astaga! Kamu benar-benar tidak bisa dipercaya, Dav!” seru Zaky tak habis pikir.


“Cih! Jika orang lain yang mengatakannya mungkin aku akan bersimpati. Namun, perkataan itu berasal dari orang yang sudah memberikan es krim kesukaanku pada seorang anak hingga membuatnya terdengar sangat menyebalkan.”


Dava menggerutu ketika mengingat kejadian itu. Padahal ia sangat ingin memakan es krim, namun saat memintanya pada Zaky dengan mudahnya ia mengatakan sudah memberikan pada seorang anak kecil. Dava benar-benar sangat kesal karena keinginannya untuk memakan es krim harus tertunda.


“Sudahlah...mengapa kamu begitu kekanak-kanakan? Aku memberikan es krim milikmu kepada seorang anak kecil. Lalu mengapa kamu menyimpan dendam seolah-olah aku yang memakan semua es krim untuk diriku sendiri?”


“Ya, ya, ya... terserah kamu saja!” jawab Dava acuh.


“Yasudah, jika begitu berikan es krim milikku!” Zaky menengadahkan tangan untuk meminta es krim miliknya.


“Es krim apa yang kamu bicarakan?” tanya Dava cuek.


“Ayolah... aku tau kamu selalu membelinya untukku juga. Kamu selalu melakukan itu setiap membeli es krim.” Zaky kembali meminta es krim miliknya.


“Memang benar aku ada membelikan satu untukmu...” Zaky tersenyum sumringah mendengar itu, namun ekspresinya langsung berubah ketika Dava melanjutkan ucapannya.


“Namun, karena aku masih kesal padamu jadi aku tidak akan memberikannya untukmu.” Ucapan itu sukses membuat Dava mendapatkan pukulan sayang dari Zaky.


“Akh! Itu sakit, Zaky! Mengapa kamu suka sekali melakukan kekerasan kepadaku?!” sungut Dava yang mengelus-elus kepalanya yang terkena pukulan Zaky.


“Apa kamu mau lagi? Astaga! Kamu benar-benar sangat menyebalkan. Terserah kamu saja!” ucap Zaky kesal.


“Oh, aku hampir lupa. Keponakanmu ada di depan asrama. Sepertinya Dia datang untuk menemuimu.” Ucapan Dava sukses membuat langkah Zaky yang ingin pergi terhenti.


“Keponakan?” tanya Zaky bingung. Sejak kapan ia memiliki keponakan?


“Iya, keponakanmu yang berusia 10 tahun itu, yang pernah kamu bawa ke sini,” jelas Dava.


“Ohh...benar, keponakanku.” Zaky mengangguk paham ketika sudah mengingat hal tersebut.


“Benarkah Dia datang? Tapi mengapa?” tanya Zaky heran. Dava hanya mengendikkan bahu, tidak tau.


“Bagaimana aku bisa tau... Dia hanya berdiri diam di depan asrama seperti orang-orangan sawah...”


“Akh!!! Mengapa kamu memukulku lagi?!” seru Dava tak terima atas perlakuan Zaky terhadap dirinya. Ia kembali mengelus-elus kepalanya yang terasa berdenyut.


“Mengapa kamu tidak menyuruhnya masuk?! Kamu tau jika di luar terasa sangat dingin,” hardik Zaky.


“Ya...Dia terlihat sangat diam tadi. Aku tidak berani untuk mengganggunya,” sahut Dava.


“Astaga, Dava...” Zaky tak habis pikir dengan jalan pikiran Dava. Ia memukul pelan bahu Dava untuk meluapkan rasa kesalnya dan langsung pergi ke luar untuk menemui 'keponakannya' itu.


Dava hanya memandang kepergian Zaky yang tanpa berpamitan itu dengan datar. Apa salahnya? Mengapa Zaky begitu kejam?


“Ck! Dasar! Ada apa dengannya? Mengapa Dia sangat sensitif belakang ini?!” gerutu Zaky sebal.


“Apa kamu pikir aku berani untuk mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya denganku? Aku bukan orang yang suka mencampuri urusan orang yang tidak akrab denganku.” Dava terus saja menggerutu dengan sebal.


Dava menghela napasnya kasar. Ia berniat untuk pergi ke kamarnya. Tapi, langkahnya terhenti ketika melihat Chike yang baru keluar dari dalam kamar Dava dan menutup pintu dengan pelan.