
“Terima kasih.” Saidah menerima saputangan itu untuk menghapus air mata di wajahnya.
Reinkarnasi Dewangkara kemudian duduk di samping Saidah sembari melihat ke arah langit. “Apa yang membuat Nona menangis? Sayang sekali ... langit yang indah ini jadi saksi kesedihan Nona dan bukan kebahagiaan Nona.”
“Pernikahan. Ayah memintaku untuk menikahi seseorang yang tidak aku cintai.”
“Ehm. Itu perkara yang sulit yah ... “ Reinkarnasi Dewangkara menganggukkan kepalanya beberapa kali mendengar jawaban dari Saidah. “Bisa aku berikan saran untuk Nona.”
Saidah menganggukkan kepalanya dengan senyuman kecil di bibirnya. “Apapun itu ... akan coba aku dengarkan.”
“Orang tua memang adalah dua orang yang membawa kita datang ke dunia. Mereka membesarkan anaknya dengan segala usaha mereka. Tapi bukan berarti ... mereka bisa memutuskan segalanya untuk anaknya. Ingat satu hal ini ... bukan keinginan kita untuk lahir di dunia ini. Dan terkadang ... anak dan orang tua bisa berbeda pendapat.”
Saidah tersenyum mendengar ucapan reinkarnasi Dewangkara itu. “Terima kasih banyak untuk sarannya dan juga saputangan ini. Nanti setelah aku cuci ... saya akan mengembalikannya kepada Tuan. Jika boleh tahu ... siapa nama Tuan??”
Reinkarnasi Dewangkara bangkit dari duduknya dan kemudian bersiap untuk berjalan pergi melanjutkan perjalanannya. “Nona tidak perlu mengembalikan saputangan itu. Nona bisa memilikinya. Saputangan itu lebih berguna di tangan Nona dibandingkan di tanganku.”
Tanpa mengatakan namanya, reinkarnasi Dewangkara itu kemudian berjalan meninggalkan Saidah seorang diri. Aku menatap Saidah yang duduk di dekatku dan matanya yang tidak bisa melepaskan pandangan dari reinkarnasi Dewangkara.
“Akhirnya kamu datang juga, Dewangkara.”
Mendengar ucapan Saidah itu, aku tahu bahwa alasannya menolak untuk menikah dengan pilihan ayahnya adalah penantiannya terhadap kekasihnya di setiap putaran kehidupan yang dilaluinya-Dewangkara dan reinkarnasi dari Dewangkara. Dan seperti yang aku tahu ... kisah ini pun akhirnya akan berakhir tragis seperti kisah-kisah sebelumnya.
“Atthar.”
Tidak butuh waktu yang lama bagi Saidah untuk menemukan nama dari reinkarnasi Dewangkara dalam putaran kehidupan ini. Atthar adalah pemuda yang santun dari kam padri yang kini sedang bersitegang dengan kaum adat di mana Saidah berasal. Dan berkat persitegangan itu, Saidah yang sempat mengajukan permintaan pernikahan kepada ayahnya kepada Atthar mendapatkan penolakan yang keras.
“Kau benar-benar anak yang menyusahkan Saidah!!!” Ayah Saidah mengamuk mendengar permintaan Saidah yang hanya akan menikah dengan Atthar seorang. “Kaum kita sekarang sedang bersitegang dengan kaum padri dan kau malah meminta ayahmu ini berhubungan dengan kaum padri dan menjalin pernikahan?? Apa kau sudah gila, Saidah?? Apa kau ingin dibuang dari kaum ini hanya demi seorang pria yang hanya kau temui beberapa kali??”
“Keputusan Saidah sudah bulat, Ayah. Saidah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali Atthar, Ayah. Pria yang selama ini selalu muncul di dalam mimpiku adalah Atthar, Ayah dan aku hanya akan menikah dengannya, Ayah!!!”
Tapi sekeras apapun Saidah mencoba, keputusan ayahnya tetap tidak berubah. Ayah Saidah bersikeras untuk menikahkan Saidah dengan anak kepala desa dan bukan Atthar. Putaran kehidupan ini membuatku teringat dengan putaran kehidupan di mana Gayatri hidup sebagai Luzia yang lahir di suku yang berbeda dengan reinkarnasi Dewangkara yang membuatnya keduanya seolah tidak mungkin bersama.
Di samping berusaha untuk meyakinkan ayahnya dan mengubah keputusan ayahnya, Saidah sering kali bermain di sungai di mana dirinya bertemu dengan Atthar. Keduanya saling bertemu di sana dan saling menghabiskan waktu bersama untuk berbincang ini dan itu. Aku yang duduk di dekat mereka rasanya menjadi orang ketiga yang mengganggu hubungan mereka meski nyatanya aku tidak terlihat oleh mereka dan semua orang yang ada di sini.
Sekali lagi ... aku mendengar pengakuan reinkarnasi Gayatri dalam putaran kehidupannya untuk reinkarnasi Dewangkara. Sayangnya ... tidak seperti sebelum-sebelumnya, reinkarnasi Dewangkara kali ini memilih diam dan hanya tersenyum mendengar pengakuan Saidah. Setelah diam cukup lama, Atthar membuka mulutnya dan mengatakan kalimat yang memukul Saidah dan aku dengan cukup keras.
“Rasa cinta itu ... serahkan saja pada Yang Maha Kuasa. Jika kita berjodoh, mau kau dan aku pergi ke manapun, sejauh apapun, kita pasti akan bertemu lagi. Jika kita tidak berjodoh, mau aku dan kau bertemu berulang kali, ratusan kali, ribuan kali, akhirnya ... kita tetap akan berpisah.”
Ucapan itu. Aku merasa terpukul mendengarnya sembari menatap Saidah yang mengingat semua ingatan hidupnya terutama yang berhubungan dengan perasaannya untuk Dewangkara dan reinkarnasinya.
“Ucapan itu ... “ Sepertinya Saidah memikirkan hal yang sama denganku. Saidah tiba-tiba terduduk lemas di tempatnya tadi berdiri sembari melihat Atthar yang berjalan pergi. Saidah menatap langit sembari bergumam kecil dengan wajah kesal. “Kenapa rasanya begitu memukul dan menyakitkan?? Kita bertemu berulang kali dalam setiap putaran hidup, apakah itu artinya kita berjodoh?? Lalu ... dalam setiap putaran kehidupan itu, setelah berulang kali bertemu dan bersama, pada akhirnya kita tetap terpisah, apakah itu artinya kau dan aku tidak berjodoh?? Mana yang benar??? Katakan padaku!”
Sama seperti Saidah ... aku juga menanyakan pertanyaan yang sama. Jika Dewangkara dan Gayatri berulang kali terpisah dan akhirnya bertemu lagi, apakah itu artinya mereka berjodoh? Jika setelah berulang kali bertemu dan bersama, dan pada akhirnya terpisah, apakah itu artinya Dewangkara dan Gayatri tidak berjodoh?? Dari dua pertanyaan itu, mana yang benar?
Setelah melihat beberapa putaran kehidupan Gayatri dan Dewangkara, aku juga merasakan hal yang sama dengan Saidah, satu-satunya orang yang mengingat semua kehidupannya.
“Tidak, Atthar!!!”
Ketika perang akhirnya pecah, Atthar adalah satu dari beberapa orang yang menjadi korban pertama dalam perang itu. Serangan dari putra kepala desa mengenai Atthar dan membuat Atthar, akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya.
Saidah yang melihat tubuh Atthar yang telah kehilangan nyawanya, hanya bisa menangis dan memeluk tubuh itu dengan rasa kehilangan yang kini tidak tertahankan rasanya. “Kenapa begini lagi?? Kenapa begini lagi?? Kenapa selalu begini?? Kenapa aku selalu kehilangan dia lebih dulu?? Kenapa hanya aku yang selalu mengingat kehilangan ini?? Kenapa?? Kenapa?? Kenapa??”
Air mataku menetes deras melihat kehilangan yang dirasakan oleh Gayatri dalam putaran kehidupannya saat ini. Ini sudah kesekian kalinya Gayatri merasakan kehilangan kekasihnya dan kali ini ... tangisan kehilangan reinkarnasi Gayatri terdengar lebih menyakitkan dan lebih menyayat hati.
“Kenapa begini?? Apa ini artinya aku dan Dewangkara tidak pernah bisa berjodoh?? Apa ini artinya aku dan Dewangkara tidak akan pernah bisa bersama?? Apa ini caranya Yang Maha Kuasa mengatakan padaku bahwa aku dan Dewangkara tidak ditakdirkan bersama??”
Dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya, Saidah melepaskan rangkulannya di tubuh Atthar dan kemudian bangkit. Dengan membawa rasa kehilangannya yang sangat menyakitkan, Saidah berjalan menuju ke rumah kepala desa dengan pistol di tangannya. Tepat di depan putra kepala desa-calon suaminya, Saidah melepaskan tembakan di kepalanya sendiri dan menghabisinya nyawanya sendiri untuk kesekian kalinya.
Kali ini ... untuk kesekian kalinya, reinkarnasi Gayatri memilih untuk mati lagi karena tidak sanggup menahan rasa kehilangannya.
Bahkan jika aku dan Dewangkara tidak berjodoh, aku akan tetap melakukan ini. Jika Dewangkara mati, aku juga akan mati. Sekali lagi ... aku akan bertemu dengan Dewangkara di putaran kehidupannya. Sekali lagi ... sekali lagi dan sekali lagi, dengan begini ... akhirnya Kau pasti akan mendengar permintaanku ini dan akhirnya membiarkanku bersama dengan Dewangkara. Aku yakin itu.
Sebelum adegan berpindah dan membawaku pada putaran kehidupan lain milik Gayatri, aku mendengar harapan Saidah sebelum nyawanya benar-benar melayang.