ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
PERCAYAKAH KAU PADA DEWA? PART 2



            Pemutaran ulang itu terhenti di mana mobil yang membawaku kehilangan keseimbangan karena bannya yang terkena tembakan dan akhirnya menabrak pembatas dinding. Waktu dan gerakan seluruh benda di bumi kemudian terhenti lagi pada titik ini, sama seperti saat aku terluka ketika menolong Nona Cintya.


            Bagaimana mereka bisa melakukan hal yang mustahil ini? Apa mereka benar-benar dewa seperti yang mereka katakan? Aku menatap semua kendaraan yang tadi hancur dan kini sudah kembali ke keadaan di mana mobil yang membawaku menabrak dinding. Pemandangan ini sama persis seperti yang terjadi padaku tadi. Aku tidak tahu jika dewa mampu melakukan hal-hal yang mustahil seperti ini.


            “Sekarang ... percayakah kau jika kami berdua adalah dewa??” Sosok yang menyebut dirinya sebagai dewa perang yang agung dari Amaraloka, kini bertanya padaku.


            Aku menatap semua kejadian cepat yang bergerak mundur hingga pada waktu mobil yang membawaku menabrak dinding, aku menatap kejadian itu dalam benakku, mengulangnya beberapa kali sebelum akhirnya merasa kebingungan karena masih mencoba untuk memproses apa yang baru saja terjadi di depan mataku.


            “Daya terima manusia modern benar-benar buruk.” Sosok Hyang Yuda mengomentariku yang masih dalam keadaan bingung dan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. “Semakin lama usia Janaloka, semakin banyak manusia yang lahir ke Janaloka, makin sedikit dari manusia yang memiliki kepercayaan untuk hal-hal seperti ini.”


            “Janaloka??” ucapku bingung.


            “Ah bumi maksudku.” Hyang Yuda meralat ucapannya agar bisa sedikit aku mengerti.


            “Lalu Amaraloka itu??” tanyaku lagi masih berusaha memproses semua yang terjadi.


            “Mungkin akan lebih mudah jika menyebutnya surga.” Kali ini Hyang Tarangga membuka mulutnya dan memberikan jawaban untuk pertanyaanku.


            Huft. Aku mengembuskan nafasku berusaha untuk menerima keadaan tidak normal yang sedang aku hadapi saat ini. Aku mengatur benakku dan membuatnya untuk berpikir secara terbuka dan berusaha menerima apa yang aku lihat saat ini, meski awalnya aku tidak bisa mempercayainya. Sekarang ... di depanku muncul dua sosok yang mengaku sebagai dewa. Kalau begitu ... anggap saja Dewa itu ada. Pertanyaannya sekarang,  kenapa dua dewa ini datang dan muncul di hadapanku?


            “Aku akan menjawab pertanyaanmu sebentar lagi, Raditya.” Hyang Tarangga berbicara padaku seolah mendengar apa yang aku tanyakan di dalam benakku.


Tiba-tiba sensasi dingin dan menakutkan kurasakan. Angin kencang dan dingin hingga menusuk ke tulang belulangku, kurasakan berembus. Langit berubah jadi gelap bersamaan dengan suara teriakan yang memanggil nama Hyang Tarangga.


“Hyang Tarangga!!!”


Dari langit sosok hitam muncul dengan sabit hitam yang besar di tangannya. Aku mengenali sosok itu. Sosok itu adalah sosok yang tadi datang bersama dengan Hyang Yuda dan Hyang Tarangga yang tadi membawa jiwa-jiwa manusia yang telah kehilangan nyawanya. Sosok itu adalah ...


“Salam, Hyang Marana.” Hyang Tarangga membalas panggilan Hyang Marana padanya dengan wajah datarnya.


“Kita bertemu lagi, Hyang Marana.” Tidak seperti Hyang Tarangga yang berwajah datar dan kurang menampilkan ekspresinya, Hyang Yuda lebih banyak  memperlihatkan emosinya. Hyang Yuda bahkan tersenyum senang ketika melihat Hyang Marana yang kembali dengan wajah penuh amarah saat ini.


“Kau mengulang waktu lagi, Hyang Tarangga??” Hyang Marana bertanya dengan wajah penuh amarah dan aura di sekitarnya semakin terlihat mengerikan dibandingkan sebelumnya. Aku bisa merasakan hal itu.


“Ya.”


“Kenapa tidak bilang sejak tadi??? Jika tahu begitu ... aku tidak akan membawa atma-atma itu, Hyang Tarangga.”


“Lalu kapan kau akan memutar waktu dan melepas atma-atma yang sudah waktunya untuk mati itu??”


            Hyang Tarangga melihat ke arahku sebelum menjawab pertanyaan dari Hyang Marana. “Setelah aku menyelesaikan urusanku dengan manusia ini. Kali ini ... pada putaran ini, aku harus ikut campur dalam kehidupan manusia ini. Jika tidak wanita itu akan mengulangi tragedi yang sama lagi bahkan setelah tujuh kehidupan yang telah mereka lewati.”


            Hyang Marana memandang sengit padaku. Jelas sekali Hyang Marana melihatku dengan tatapan tidak suka. Tapi ... entah mungkin karena jabatan atau mungkin alasan lain yang aku tidak tahu, akhirnya Hyang Marana mengubah tatapannya ketika melihat Hyang Tarangga dan berkata pada Hyang Tarangga. “Kalau begitu aku akan menunggu, Hyang Tarangga. Aku sedikit penasaran dengan manusia yang membuatmu akhirnya ikut campur dalam takdir kehidupan mereka.”


            “Terima kasih untuk pengertiannya, Hyang Marana.” Hyang Tarangga berkata dengan wajah datarnya sekali lagi. Setelah menerima kesediaan dari Hyang Marana untuk menunggu, Hyang Tarangga kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku dan berkata, “Harusnya jika kau diam pada titik ini dan mengikuti rencana dari wanita bernama Cintya, kau tidak akan mengalami kematian.”


            Sebagai manusia yang punya pemikiran di dalam benaknya dan naluri untuk melindungi orang yang berharga baginya, mendengar ucapan Hyang Tarangga itu,  pasti akan mengatakan apa yang akan aku katakan. “Jika aku tidak menolongnya, siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi? Siapa yang akan memastikan jika Nona Cintya akan selamat jika aku tidak berusaha untuk menolongnya?”


            “Apa ucapanku tidak cukup untuk menjamin hal itu, Raditya?” Hyang Tarangga berbalik mengajukan pertanyaan padaku dan pertanyaan itu membuatku sedikit gelagapan untuk pertama kalinya dalam hidupku.


            Aku percaya ada beberapa manusia yang memiliki keistimewaan untuk bisa mengintip masa depan. Tapi jika dewa yang mengatur takdir mengatakan hal itu sendiri padaku, kesannya ... sungguh tidak bisa aku gambarkan.


            “Jika kau diam di sini ... yang mati nantinya hanyalah mereka dari mobil-mobil yang menyerangmu karena menabrak truk itu. Sama sepertimu, sopir yang membawa Cintya akan memikirkan rencana yang sama denganmu, Raditya. Dia akan menginjak rem dengan tiba-tiba setelah mengecoh mobil yang mengejar mereka dan membuat musuh yang mengejar mereka menabrak truk besar itu.” Hyang Tarangga menjelaskan lagi padaku dan kali ini lebih detail dari sebelumnya. 


            Aku menatap bingung ke arah Hyang Tarangga, Hyang Yuda dan Hyang Marana yang menatapku. “Apa itu artinya aku tidak boleh mati sekarang?”


            “Ya.”


            “Kenapa?” tanyaku lagi.


            “Demi wanita yang kau cintai.”


            “Apa yang terjadi padanya jika aku mati?” tanyaku lagi.


            “Dia akan ikut denganmu ke alam baka. Dia akan membunuh dirinya lagi untuk kesekian kalinya hanya untuk bersamamu dan hal itu tidak akan pernah berakhir jika kau terus menerus mati di hadapannya.”


            Mendengar ucapan Hyang Tarangga, aku mengingat ucapan yang pernah dikatakan Nona Cintya padaku. “Jangan pernah mati di hadapanku lagi! Jika kau melakukannya, aku akan menyusulmu bahkan hingga ke alam baka sekalipun!”