ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KEMBALINYA INGATAN DEWANGKARA PART 4



 


Pemandangan itu terus bergerak. Dewangkara melihat dirinya enam belas tahun masih bersembunyi di balik tembok sembari melihat Rakryan Tumenggung Sena berjuang meski tahu kemungkinan untuk selamat sangatlah kecil. 


Tidak! Dewangkara ingin berteriak tapi suaranya tidak keluar ketika melihat satu pedang mulai melukai tubuh Rakryan Tumenggung Sena. Tidak lama kemudian pedang-pedang lain mulai menghujani tubuh Rakryan Tumenggung Sena, melukai tubuhnya dan membuat darah mengalir dari titik itu. Pasukan yang terus menerus bertambah, membuat Rakryan Tumenggung Sena mulai kewalahan. Ken Sora dan dua orang yang bersamanya ambruk karena kelelahan dan luka yang dialaminya dan membuat perhatian Rakryan Tumenggung Sena sempat teralihkan. Dan ...


            Jleb.


            Dalam waktu yang singkat itu, beberapa pedang bayangkara mulai menghujani tubuh Rakryan Tumenggung Sena dan menancap di tubuhnya. Akan tetapi Rakryan Tumenggung Sena yang sudah terlihat mengerikan karena darahnya yang terus mengalir tidak berhenti berjuang hingga titik di mana dia benar-benar tidak lagi bisa melawan.


            “Tidakk!!!”


            Dewangkara mengenali adegan dan kejadian yang akan terjadi setelah ini. Adegan ini adalah adegan yang sering muncul dalam mimpi buruknya selama ini dan selalu membuatnya ketakutan ketika terbangun dari tidurnya. Adegan di mana Istri dari Rakryan Tumenggung Sena datang dan berusaha untuk menyelamatkan nyawa Rakryan Tumenggung Sena.


Adegan itu memutar dengan cepat apa yang terjadi di masa lalu hingga akhirnya Pawestri Manohara memilih untuk mati demi melindungi martabat Rakryan Tumenggung Sena dan martabat keluarganya. Tidak lama setelah Pawestri Manohara mengembuskan nafas terakhirnya, Rakryan Tumenggung Sena pun mengembuskan nafas terakhirnya.


Setelah kematian Rakryan Tumenggung Sena dan Pawestri Manohara, hujan turun membuat semua darah di tanah mulai dihapuskan oleh air hujan. Dewangkara yang masih menangis melihat kematian itu, melihat dirinya enam belas tahun yang lalu keluar dari persembunyiannya dan melihat ke arah semua orang yang melihat pembantaian dari Rakryan Tumenggung Sena. Dewangkara melihat ke arah yang sama dan matanya yang basah oleh air mata berhenti pada seseorang. Dia adalah satu-satunya orang yang tersenyum di antara semua orang yang bersedih untuk kematian yang mengenaskan dari Rakryan Tumenggung Sena dan Pawestri Manohara. Orang itu adalah Dyah Halayuda.


Buk.


Dewangkara melihat dirinya enam belas tahun yang lalu, tiba-tiba jatuh dan ambruk sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya. Dewangkara melihat seorang bayangkara memukul bagian belakang kepalanya karena dirinya enam belas tahun yang lalu menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak disaksikan dan menjadi rahasia bagi antapura dan orang-orang di dalamnya.


Bersamaan dengan hilangnya kesadaran dari Dewangkara enam belas tahun, pemandangan yang dilihat oleh Dewangkara kembali seperti semula. Tanah berdarah itu menghilang dan menjadi tanah kering yang dipenuhi rerumputan dan bunga-bunga yang bermekaran. Bangunan antapura yang tadinya megah kini kembali ke penampilan semulanya yang gelap dan tidak terawat. Semua orang yang tadi berdiri menyaksikan kematian Rakryan Tumenggung Sena dan Pawestri Manohara kini menghilang karena sejak awal hanya ada Dewangkara seorang diri di antapura yang terlantar ini.


            Masih dalam posisi berlutut sembari mengingat semua kenangan yang dilupakannya, Dewangkara menangis tanpa henti. Dewangkara menyalahkan dirinya karena melupakan ingatan saat itu. Bagaimana bisa aku melupakan ingatan itu?? Bagaimana bisa aku membiarkan kematian orang yang aku kagumi menjadi kematian yang tidak pernah diketahui oleh orang-orang di kerajaan ini? Bagaimana bisa?? Semua orang di kerajaan ini mengingat hari itu sebagai pemberontakan Ken Sora kepada Maharaja tanpa tahu bahwa Rakryan Tumenggung Sena dan Pawestri Manohara juga mati dalam kejadian itu dengan cara yang tragis.


            Di saat yang sama ... Dewangkara merasa bersalah kepada Rakryan Tumenggung Sena dan Pawestri Manohara. Karena  di saat mereka meregang nyawanya, ayah asuh Dewangkara-Rakryan Mahapatih Nambi hanya melihat dari atas dan bahkan justru menambah pasukan yang membuat Rakryan Tumenggung Sena akhirnya kelelahan dan kehilangan nyawanya karena kalah jumlah melawan pasukan bayangkara.


            Aku bersalah pada kalian. Aku bersalah karena telah melupakan kematian kalian tragis! Aku bersalah!! Maafkan aku! Maafkan aku, Rakryan Tumenggung Sena!!


            Ketika semua ingatan yang menyakitkan itu kembali, ingatan lama milik Dewangkara yang berkaitan dengan Rakryan Tumenggung Sena muncul di dalam benak Dewangkara. Ingatan bagaimana Dewangkara mengagumi Rakryan Tumenggung Sena ketika melihatnya di iring-iringan kota, ingatan ketika Dewangkara menyelinap di antapura hanya untuk melihat Rakryan Tumenggung Sena melatih pasukannya dan satu ingatan penting tentang Rakryan Tumenggung Sena yang harusnya tidak pernah dilupakan oleh Dewangkara.


            Bagaimana bisa aku melupakan tentang dirimu, Rakryan Tumenggung Sena?? Jahat sekali aku ini! Bisa-bisanya aku melupakan seseorang yang telah memberikan nyawanya untuk melindungiku.


            Setelah mengingat semua  ingatannya yang hilang, dada Dewangkara kembali terasa sesak. Hosh ... hosh ... Dewangkara mulai kesulitan bernafas dan rasanya seperti kematian tengah siap datang untuk menjemput Dewangkara saat ini juga.


            Buk. Dewangkara jatuh sembari memegang dadanya yang sesak.


            Masih dengan rasa sesak yang menyerangnya, Dewangkara melihat Gayatri dan Biantara yang berlari ke arahnya dengan wajah ketakutan. Jika ini saatnya aku mati, aku akan menerimnya sekarang juga. Dengan begitu ... aku bisa bertemu dengan Raktryan Tumenggung Sena di alam baka dan meminta maaf padanya.


            “Dewangkara!! Apa yang terjadi padamu??? Kenapa kamu tiba-tiba-”


            Dewangkara tidak sanggup menjawab pertanyaan dari Gayatri karena nafasnya yang terputus-putus. Pandangan Dewangkara mulai buram dan kini Dewangkara hanya bisa pasrah pada takdir jika hari ini juga adalah waktu kematian baginya.


*


            “Tutup matamu, Rayi(1)!”


            (1)Rayi dalam bahasa Sanskerta berarti adik laki-laki.


            Dewangkara melihat sebuah tangan yang lebar menutup matanya dan perlahan mengangkat tubuhnya ke dalam pelukan seorang pria. Pelukan itu terasa hangat dan terasa nyaman. Pria itu membawa Dewangkara pergi menjauh dari tempat di mana dirinya melihat kedua orang tuanya mati dengan bersimbah darah. Pria  itu terus membawa Dewangkara berlari melalui semak-semak dan menyembunyikan Dewangkara dari peperangan yang sedang terjadi.


            “Apapun yang terjadi, jangan bergerak dari sini, Rayi! Aku akan membantu bayangkara yang lain. Baru setelah aman, aku akan kembali dan mengantarmu ke tempat yang aman, Rayi!”


            Dewangkara menarik tangan pria itu karena rasa takutnya melihat banyak orang yang membawa pedang dan membunuh semua orang di hadapan mereka termasuk kedua orang tuanya.


            “Tidak perlu takut, Rayi! Aku janji padamu, aku akan kembali padamu, Rayi!!” Setelah mengatakan hal itu, pria itu pergi meninggalkan Dewangkara yang masih ketakutan.


            Dari balik semak-semak di mana dirinya berada, Dewangkara melihat pria yang menyelamatkan berlari ke arah medan perang dengan pedang di tangannya.


            Cling. Pedang pria itu bertemu dengan pedang musuh. Swing. Pedang milik pria itu bergerak menebas udara sebelum akhirnya ... Jleb. Menusuk musuh di depannya. Satu musuh jatuh. Pria itu terus melakukan gerakan itu terus menerus dan membuat musuh-musuh yang berdatangan di hadapannya jatuh satu persatu.


            Cling. Pedang yang dibawa pria itu dijatuhkan oleh musuh. Dewangkara takut pria itu mungkin akan kehilangan nyawanya seperti kedua orang tuanya. Tapi dugaan Dewangkara salah. Pria itu dengan cepat mengambil tombak milik bayangkara lain yang telah tewas dan menggunakannya sebagai alat pertahanan diri. Wush. Tombak itu bergerak membelah udara dan membuat angin kecil sebelum akhirnya menjatuhkan beberapa musuh dalam satu kali ayunan.


            “Wuahhh.” Dewangkara yang tadi merasa ketakutan kini merasa kagum dengan apa yang dilihatnya saat ini. “Paman itu benar-benar hebat sekali.”


            Tombak di tangan pria itu terus menerus menjatuhkan musuh-musuh di hadapannya hingga akhirnya kemenangan berhasil didapatkan oleh pria itu. Setelah merasa aman, pria itu kembali ke tempat di mana Dewangkara bersembunyi dan tersenyum ke arah Dewangkara.


            “Lihat, aku kembali bukan??”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya. Kini rasa takut sudah hilang dari Dewangkara sejak melihat kehebatan dari pria yang baru saja menolongnya. Dewangkara yang merasa kagum dengan sosok penolongnya kemudian mengajukan pertanyaan kepada pria di hadapannya. “Siapa nama Paman?”


            “Sena. Namaku Sena.”