ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KESEMPATAN YANG DITUNGGU-TUNGGU PART 3



Keesokan harinya.


            Di pagi buta, di saat matahari masih belum menampakkan sinarnya, di saat warna gelap langit malam mulai berubah, Dewangkara sudah menyiapkan kudanya dan Gayatri bersama dengan Hattali dan Biantara bersiap mengantar kepergian dari Dewangkara. Biantara yang tadi bangun lebih pagi dari Dewangkara sudah menyiapkan kuda milik Dewangkara. Biantara sudah memberi makan dan minum untuk kuda Dewangkara. Biantara juga sudah membersihkan kuda milik Dewangkara.


            “Ini akan jadi perjalanan yang jauh, Nak.” Hattali menepuk bahu Dewangkara.


            “Ya Rama, saya tahu. Meski tidak sering ke Lamajang, ini bukan pertama kalinya saya ke sana. Perjalanan ini mungkin akan memakan waktu satu hari dan saya akan sampai di sana ketika malam tiba jika beberapa kali saya harus berhenti untuk memberi makan dan minum kuda.”


            Hattali menganggukkan kepalanya. “Itu benar. Jadi Rama minta kamu berhati-hati. Harusnya Rama tidak mengizinkan kamu untuk pergi karena beberapa kepercayaan mengatakan bahwa merupakan hal yang tabu jika sebelum pernikahan calon pengantin bepergian jauh. Tapi ini adalah situasi yang mendesak dan Rama ini bukan orang yang percaya dengan kepercayaan seperti itu.”


            Kali ini Dewangkara yang menganggukkan kepalanya. “Terima kasih banyak, Rama. Aku benar-benar beruntung punya Rama seperti Rama.”


            “Ya.”


            Setelah Hattali giliran Gayatri yang mengucapkan salam perpisahannya kepada Dewangkara. Tidak seperti Hattali yang mengucapkan salam perpisahannya dengan memberikan beberapa saran, Gayatri terlihat begitu sedih karena tidak ingin berpisah dengan Dewangkara. Entah kenapa sejak semalam, Gayatri tidak bisa tidur dengan nyenyak. Perasaan Gayatri mengatakan jika dirinya tidak ingin berpisah dengan Dewangkara dan tidak ingin melepas Dewangkara pergi jauh darinya. Perpisahan ini bukanlah perpisahan pertama antara Gayatri dan Dewangkara, tapi perasaan Gayatri mengatakan jika perpisahan ini akan menjadi perpisahan dengan waktu yang sangat lama dan hal itu membuat Gayatri merasa takut, sedih, dan semua perasaan lain bercampur menjadi satu.


            Dewangkara mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Gayatri dan meminta pengertian dari Gayatri. “Maafkan aku, Gayatri. Tapi Mbah kakung dari ramaku sedang sakit parah. Kita mungkin akan menikah sepuluh hari lagi, tapi kali ini aku harus pergi bersama dengan ramaku untuk menjenguk mbah kakung. Kita harus berpisah untuk sementara ini, Gayatri.”


            Gayatri membalas sentuhan hangat tangan Dewangkara di wajahnya dengan menyentuh tangan Dewangkara yang berada di wajahnya. “Berjanjilah padaku, Dewangkara! Berjanjilah kau akan kembali dan menikahiku! Aku tidak ingin dan tidak akan menikah dengan orang lain selain kau, Dewangkara!”


            Dewangkara tersenyum menerima cinta yang besar dari Gayatri untuknya. Dewangkara tidak akan pernah menyangka akan bertemu dengan Gayatri yang sangat mencintainya hingga besarnya tidak dapat terukur. “Aku berjanji akan kembali dan menikah denganmu, Gayatri.”


            Setelah menerima janji dari Dewangkara, Gayatri melepaskan sentuhannya di tangan Dewangkara dan membiarkan Dewangkara untuk naik ke atas kudanya. Sebelum pergi, Gayatri yang telah menyiapkan bekal makanan dan minuman untuk Dewangkara memberikan bekal itu pada Dewangkara. “Jangan lupa untuk makan dan minum, Dewangkara.”


            “Aku akan memakannya, Gayatri. Terima kasih. Kalau begitu aku berangkat.”


            Dewangkara menendang kedua kakinya yang berada di pijakan yang terhubung dengan pelana kuda dan mulai membuat kudanya melaju dengan kencang. Dengan kudanya, Dewangkara mulai melaju pergi meninggalkan kediaman Yasodana dan keluar dari kota Tarik. Di belakang Dewangkara, Gayatri masih terus berdiri di depan gerbang kediamannya. Gayatri menatap punggung Dewangkara yang perlahan menghilang dari pandangannya dan tanpa disadari oleh Gayatri, air matanya tiba-tiba menetes tanpa sebab.


            Biantara yang menemani Gayatri kemudian bicara pada Gayatri ketika sadar air mata Gayatri telah membasahi wajahnya. “Dewangkara pasti kembali dan kalian akan menikah lalu hidup bahagia bersama.”


            Gayatri menganggukkan kepalanya sembari menghapus air mata yang membasahi wajahnya. “Ya, Dewangkara harus melakukan itu. Kami harus menikah dan akhirnya hidup bahagia bersama.”


            Di antapura.


            Dyah Halayuda yang datang berkunjung ke antapura untuk menghadap Maharaja, memandang aneh ke ruangan di mana Maharaja berada. Dyah Halayuda merasa heran karena tidak menemukan sosok Rakryan Mahapatih Nambi di ruangan itu.


            “Kau sudah datang, Dyah Halayuda.”


            “Ya, Maharaja. Saya datang untuk membawa pesanan yang Maharaja minta.” Dyah Halayuda memberikan isyarat kepada abdi di dekat pintu ruangan Maharaja untuk membawakan barang yang dibawanya.


            Abdi itu memberikan barang yang dibawa oleh Dyah Halayuda ke hadapan Maharaja dan menunjukkannya ke Maharaja. Begitu melihat barang itu, Maharaja kemudian tersenyum senang. “Kau berhasil membuatnya,  Dyah Halayuda.”


            “Ya, Maharaja.  Meski sulit saya berusaha keras untuk menemukan pembuat khusus dan membuat pesanan yang Maharaja minta.” Dyah Halayuda menjawab ucapan Maharaja dengan nada suara merendahnya.


            “Untuk usahamu ini, aku harus memberikan beberapa koin emas sebagai gantinya.” Maharaja memberikan isyarat pada abdi yang berdiri di dekatnya untuk memberikan kantong yang berisi banyak koin emas kepada Dyah Halayuda.


            “Terima kasih banyak, Maharaja.” Dyah Halayuda menerima kantong yang penuh dengan koin emas di dalamnya. “Jika boleh saya tahu untuk apa Maharaja mencari benda ini? Apa Maharaja ingin memberikannya kepada Rakryan Tumenggung yang membawa kemenangan di medan perang?”


            Maharaja menatap tombak buatan khusus yang dimintanya kepada Dyah Halayuda untuk dibuat secara khusus dari penempa besi dan pembuat senjata terbaik. Sayangnya untuk menemukan penempa besi dan pembuat senjata terbaik itu, Dyah Halayuda harus melakukan perjalanan yang memakan waktu satu hari dengan berkuda karena pembuat itu tidak tinggal di ibu kota.


            “Ini adalah hadiah pernikahan yang akan kuberikan pada Dewangkara dan Gayatri putri Paman Hattali. Hari di mana mereka pergi, aku hanya memberikan koin emas pada Dewangkara dan memberikan banyak hadiah untuk Gayatri. Jadi ... aku ingin memberikan sesuatu yang khusus kepada Dewangkara sebagai hadiah pernikahannya dariku.”


            Dyah Halayuda tersenyum getir mendengar jawaban yang diberikan oleh Maharaja. Dyah Halayuda ingat bagaimana pernikahan keponakannya-Danapati  dengan salah satu  putri Maharaja, itu hanya menerima hadiah yang biasa dari Maharaja. “Maharaja murah hati sekali. Tapi Maharaja ...”


            “Ada apa?”


            “Kenapa saya tidak melihat Rakryan Mahapatih di sini? Apa ada sesuatu yang terjadi selama saya pergi ke luar kota?” Dyah Halayuda menatap tempat duduk Rakryan Mahapatih Nambi yang kosong.


            “Ah aku lupa, kau tidak tahu, Dyah Halayuda.  Rakryan Mahapatihku itu sedang keluar ibu kota. Rakryan Mahapatih sedang mengunjungi Ramanya yang sedang sakit parah di Lamajang.”


            Dyah Halayuda membuat senyuman kecil di sudut bibirnya. Dyah Halayuda merasa para dewa saat ini sedang berpihak padanya karena memberikan peluang yang selama ini diharapkannya.  “Kapan Rakryan Mahapatih pergi, Maharaja?”


            “Sejak kemarin. Mungkin nanti, surat dari Rakryan Mahapatih akan tiba. Aku memintanya untuk mengirimiku kabar tentang keadaan Ramanya padaku.”


            “Maharaja sungguh murah hati.” Dyah Halayuda memuji Maharaja dengan mulutnya. Namun di dalam benaknya saat ini, Dyah Halayuda sedang memuji para dewa yang selalu berada di pihaknya dan selalu memberikan apa yang diinginkannya. Akhirnya setelah sekian lama, kesempatan yang aku tunggu-tunggu selama enam belas tahun ini benar-benar datang padaku. Sudah saatnya posisi Rakryan Mahapatih itu berganti pemilik.


            Dyah Halayuda menatap wajah Maharaja dengan hati gembira. Aku harap Rama dari Rakryan Mahapatih kehilangan nyawanya. Dengan begitu rencanaku akan berjalan lancar.