ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: DEWANGKARA DAN KEMAMPUANNYA PART 3



            Tentu saja Lingga menyetujui tawaran yang diberikan oleh Hattali. Siapa yang akan menolak ajaran langsung dari mantan peringat satu ujian bayangkara?? Hanya orang bodoh yang melakukannya karena siapapun tahu ujian untuk menjadi anggota bayangkara bukan hal yang mudah. Bahkan Biantara yang biasanya tidak mudah tertarik akan sesuatu, kini ikut berlatih dengan Lingga. Alhasil Dewangkara memiliki dua murid selama beberapa hari kemudian.  


            Karena waktu yang singkat, Dewangkara tidak memberikan bahan ujian teori kepada Lingga dan Biantara.


            “Ujian teori bisa kau pelajari asal kau menggunakan otakmu dan juga membaca buku. Cara memahami apa yang ada di dalam buku juga bukan hal yang sulit. Kalau kau bosan membaca, kau bisa menulis. Kalau kau bosan menulis dan membaca, kau bisa meminta seseorang untuk membacakannya untukmu. Lebih dari itu, kau harus memahami apa yang kau baca. Apa yang kau baca adalah tulisan seseorang berdasarkan pengalaman mereka. Jika kau tidak mudah mengingat apa yang kau baca, kau cukup membandingkan apa yang tertulis dengan kejadian sehari-hari. Dengan begitu selain membaca, kau akan memahaminya secara tidak sengaja.”


            Dewangkara mengatakan hal itu pada Lingga dan Biantara sebagai saran untuk membaca yang merupakan hal yang terkadang bisa sangat membosankan.


            Setelah itu selama dua hari, Dewangkara mengajari berbagai teknik dari berkuda, menggunakan pedang dengan baik, menggunakan tombak dengan baik dan memanah. Dalam menggunakan pedang dan berkuda, Biantara sudah cukup ahli. Itulah yang Dewangkara perhatikan selama dua hari mengajar. Sementara Lingga ... meski fisiknya terlihat bagus dan memiliki ketahanan yang bagus,  kemampuannya memanah, menggunakan tombak dan pedang benar-benar buruk. Hanya kemampuan berkuda saja yang baik, itulah yang Dewangkara perhatikan.


            Tidak heran Rama memintaku untuk mengajarinya, pikir Dewangkara.


            Di sisi lain, Gayatri yang ikut menonton latihan duduk di pinggir lapangan di mana bangunan terbuka ada di sana sebagai tempat istirahat dan menonton. Gayatri bertugas untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk Dewangkara, Lingga dan Biantara selama latihan.


            “Bagaimana menurutmu, Biantara?” Di hari ketiga Hattali yang memiliki waktu luang sengaja berkunjung ke lapangan belakang untuk melihat latihan Lingga. Kebetulan Biantara sedang beristirahat dan membiarkan Lingga yang benar-benar buruk kemampuannya, berlatih lebih banyak dengan Dewangkara.


            “Dewangkara adalah guru yang baik.” Biantara memberikan jawaban berdasarkan cara mengajar yang diterimanya selama dua hari ini.


            “Benarkah?” Hattali mencoba memastikan.


            “Ya, Rama. Seperti ucapan Lingga sebelumnya, jika Dewangkara menerima posisi bayangkara, tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi anggota pasukan elite dan duduk di posisi Rakryan Tumenggung. Saya benar-benar terkejut melihat kemampuannya yang benar-benar hebat, Rama. Dewangkara mampu melepas lima anak panah sekaligus dan menembak sasarannya dengan tepat bahkan ketika berkuda. Caranya menggunakan senjata pun tidak terbatas hanya dengan satu tangan. Dia bisa dengan leluasa menggunakan kedua tangannya untuk memegang pedang atau tombak untuk menyerang. Lalu untuk penglihatannya dan pendengarannya ... itu benar-benar luar biasa, Rama.”


            “Apa maksudnya??” Hattali bertanya dengan penasaran.


            “Kemarin Lingga nyaris saja mencelakai Biantara, Rama.” Gayatri yang datang membawa makanan dan minuman, langsung menjawab pertanyaan Hattali menggantikan Biantara. Gayatri memberikan minuman untuk Hattali dan Biantara sebelum duduk di samping Hattali.


            “Apa yang terjadi kemarin??” Hattali bertanya lagi, menuntut penjelasan mengenai kejadian kemarin.


            “Lingga mencoba memanah dengan berkuda, Rama. Dia mungkin ingin mencoba apa yang dilakukan oleh Dewangkara karena penasaran. Jadi dia mencoba melepas lima anak panah sekaligus seperti yang dilakukan Dewangkara. Tapi karena kemampuan memanah Lingga benar-benar buruk, lima anak panah itu tidak bergerak ke arah sasaran. Tiga dari anak panah itu justru dilepas ke arah Biantara yang berlatih di dekatnya.”


            “Lalu??” Hattali menyela ucapan Gayatri karena tidak sabar dengan kelanjutan ceritanya.


            “Dewangkara yang kebetulan sedang duduk beristirahat langsung berlari ke arah Biantara. Dua pedang yang kebetulan berada di dekatnya langsung dibawanya dan dilemparkannya ke arah dua panah yang bergerak ke arah Biantara. Lalu masih ada satu panah lagi yang tersisa, Dewangkara menarik tombak yang dibawa oleh Biantara dan menggunakannya untuk menghentikan anak panah terakhir. Dan anak panah itu tepat mengenai gagang tombak.”


            “Tapi apa, Rama?” tanya Gayatri bingung.


            “Tapi kenapa Lingga sama sekali tidak mengalami kemajuan. Kemampuannya masih buruk seperti sebelumnya.”


            “Itulah yang jadi masalahnya, Rama.” Kali ini giliran Biantara yang menjawab. “Aku dan Dewangkara juga sama herannya. Penjelasan Dewangkara benar-benar mudah dimengerti dan berkat penjelasan itu, kemampuan berpedangku meningkat, Rama. Tapi untuk Lingga, Dewangkara masih bingung dan berusaha untuk menemukan cara yang tepat untuk membantu Lingga.”


            Hattali memandang ke arah Dewangkara yang menyudahi latihannya dengan Lingga dan hendak beristirahat. Dewangkara berjalan ke arah Hattali sementara Lingga yang masih di atas kuda berusaha untuk memanah sambil berkuda. Tapi sekali lagi ... Lingga membuat kesalahan dan panah itu justru dilepaskannya ke arah Dewangkara yang sedang membelakanginya.


            “Dewangkara!!! Bahaya!!!” Gayatri dan Biantara yang melihat kejadian yang sama langsung berteriak ke arah Dewangkara dan berusaha untuk memperingatinya. Sementara Hattali yang lebih dulu menyadari, bergerak untuk menyelamatkan karena di tangan Dewangkara kali ini hanya ada panah dan busur panah.


            Sial! Tidak akan sempat!! Tiga anak panah itu akan mengenainya ...  Hattari mengumpat di dalam benaknya karena tubuh tuanya yang tidak lagi bergerak cepat sewaktu masih muda. Dengan pedang milik Biantara yang tadi berada di sampingnya,  Hattali bermaksud untuk menghalau anak panah itu dengan pedang dan melindungi Dewangkara. Tapi sepertinya cara itu tidak akan sempat karena jarak Hattali dan Dewangkara yang masih cukup jauh.


            Wushh ... syut ... syut ... syut.


            Tanpa diduga, Dewangkara melakukan hal yang benar-benar tidak terpikirkan oleh semua orang. Hattali yang tadi berlari ke arah Dewangkara langsung menghentikan kakinya karena terkejut dan takjub di saat yang bersamaan.


            “Itu ... “ gumam Hattali terkejut.


            Tanpa diduganya, Dewangkara yang berada dalam jalur panah yang dilepas Lingga menghentikan tiga anak panah Lingga dengan melepas tiga anak panah yang dibawanya dengan busurnya. Tiga anak panah milik Dewangkara mengenai tepat anak panah Lingga dan membuatnya jatuh.


            “Lingga!!! Apa kau gila???” Gayatri yang sadar dari rasa terkejutnya langsung berlari ke arah Dewangkara  melewati Hattali yang masih terdiam karena takjub dan terkejut. Gayatri langsung memarahi Lingga dnegan keras. “Apa kau ingin membunuh gurumu, hah??”


            “Maafkan aku, Kangjeng. Aku benar-benar tidak sengaja.” Lingga langsung turun dari kudanya dan menghampiri Dewangkara.


            Di sisi lain, Biantara menghampiri Hattali karena melihatnya diam membeku. “Rama baik-baik saja??”


            Hattali tersentak mendengar suara Biantara dan langsung memberikan jawaban agar tidak membuat Biantara khawatir. “Aku baik-baik saja, Biantara. Aku hanya terkejut saja.”


            Biantara menganggukkan kepalanya setuju. “Harus saya akui, Rama. Bakat Dewangkara benar-benar luar biasa. Jika saat itu dia menjadi bayangkara, maka saat ini dia harusnya sudah menjadi Rakryan Tumenggung yang dipuja-puja oleh semua orang.”           


            Hattali menatap ke arah Dewangkara dengan wajah takjub. Itu benar. Jika saat itu dia diterima menjadi bayangkara, maka saat ini Dewangkara sudah pasti akan duduk di posisi Rakryan Tumenggung. Kemampuannya itu ... benar-benar mirip dengan kemampuan milik Rakryan Tumenggung Sena. Bakat itu kini terbuang sia-sia begitu saja, tapi itulah yang terbaik.