
Sebelumnya, di kota Tarik.
Gayatri yang sedang ditemani oleh Biantara ketika sedang bekerja, tiba-tiba menerima surat dari salah satu abdi yang bekerja di kediamannya.
“Kangjeng ... ini ada surat yang sampai untuk Kangjeng Gayatri.”
Gayatri cepat-cepat mengambi surat itu, membukanya dan langsung membacanya.
“Apa itu dari Dewangkara?” Biantara bertanya dengan wajah penasaran tanpa berani mengintip Gayatri yang sedang membaca.
Gayatri menganggukkan kepalanya dengan wajah sedih. Air matanya tiba-tiba mengalir dan membuat Biantara yang berada di sampingnya kebingungan.
“Gayatri?? Kenapa tiba-tiba menangis? Apa sesuatu terjadi pada Dewangkara??”
“Mbah kakung Dewangkara telah meninggal dunia. Dewangkara masih sibuk mengurus pemakaman dan akan kembali sesuai janjinya pada kita.” Gayatri menjawab sembari mengulurkan surat yang diterimanya dari Dewangkara kepada Biantara. “Tolong antarkan surat ini pada Rama, Biantara.”
Biantara langsung mengambil surat itu dan segera berjalan cepat menuju ke ruang kerja di mana Hattali berada. Tadinya ... Gayatri berharap dengan membaca surat itu Hattali akan langsung menyiapkan kudanya dan bergegas menuju ke Lamajang di mana Dewangkara sekarang berada untuk mengungkapkan duka citanya kepada keluarga Rakryan Mahapatih Nambi. Tapi nyatanya ... harapan Gayatri salah besar.
Hattali tidak mengizinkan Gayatri pergi bahkan setelah Gayatri meminta untuk pergi.
“Tidak!! Sekali Rama bilang tidak adalah tidak!! Ramamu ini mungkin tidak percaya dengan adat leluhur, tapi membiarkan kau juga pergi ke tempat pemakaman adalah sesuatu yang buruk bagi calon pengantin. Rama tidak akan mengeluh karena yang meninggal adalah keluarga Dewangkara, tapi ... Rama tidak akan mengizinkan kamu pergi sebelum kamu menikah dengan Dewangkara.” Hattali menjelaskan keberatannya kepada Gayatri. “Tenang saja ... Rama sudah mengirim surat balasan untuk keberatan itu dan meminta Dewangkara beserta keluarga Rakryan Mahapatih Nambi untuk memakluminya, Gayatri.”
“Tapi Rama ... “
“Kau bisa berkunjung untuk menunjukkan duka citamu itu setelah menikah dengan Dewangkara, Gayatri!”
Gayatri berusaha untuk mengubah pikiran Hattali. Akan tetapi, pikiran Hattali tidak mudah diubah apalagi jika hal itu menyangkut Gayatri dan keamanannya. Gayatri tidak menyadari keputusan yang diambil oleh Hattali adalah demi keselamatan Gayatri sendiri yang akan menikah dalam hitungan hari dan mengunjungi rumah yang berduka adalah sesuatu yang dilarang untuk calon pengantin. Itu adalah kepercayaan yang ada turun temurun di keluarga Hattali Yasodana.
Pada akhirnya ... Gayatri hanya bisa menunggu kepulangan Dewangkara di kediamannya saja dengan pasrah.
Sementara itu hari berikutnya, di Lamajang.
Dewangkara yang sedang memikirkan ucapan dari Dyah Halayuda kemudian dikejutkan dengan salah satu abdi di kediaman itu yang mengantarkan surat untuk Dewangkara. Melihat nama pengirimnya, Dewangkara langsung membuka surat itu dan segera membacanya.
“Dari siapa itu, Dewangkara??” Rakryan Mahapatih Nambi yang melihat Dewangkara sedang membaca suratnya, menghampiri Dewangkara dan bertanya padanya.
“Dari Rama Hattali, Rama.”
“Apa yang dikatakan dalam suratnya, Dewangkara?” Rakryan Mahapatih Nambi duduk di samping Dewangkara yang duduk di depan kediaman milik ayah dari Rakryan Mahapatih Nambi. Berkat kepergian Dyah Halayuda, pelayat yang tadi banyak berdatangan kini pergi bersamaan dengan kepergian Dyah Halayuda dan kini meski untuk sejenak, Rakryan Mahapatih Nambi punya waktu istirahat sebelum harus menyapa pelayat yang berdatangan.
“Rama Hattali dan Gayatri tidak akan datang kemari sebelum pernikahan, Rama. Mereka akan melayat setelah pernikahan karena menurut Rama Hattali, calon pengantin yang datang ke rumah duka akan membawa hal yang buruk pada calon pengantin.”
Rakryan Mahapatih Nambi menganggukkan kepalanya mengerti dan memahami perasaan dari Hattali Yasodana. “Rama mengerti. Beberapa keluarga memang punya kepercayaan seperti itu, Dewangkara. Rama tidak keberatan dengan itu.”
“Baiklah kalau begitu ... nanti aku akan memberikan balasan untuk surat ini, Rama.”
“Tidak apa-apa, Rama.” Dewangkara menolak permintaan dari Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya. “Dalam surat yang dikirim Rama Hattali padaku, Rama Hattali hanya memintaku kembali sesuai dengan waktu yang aku minta darinya. Jadi aku masih punya waktu beberapa hari di sini untuk menemani Rama dan membantu Rama mengurus pelayat yang terus berdatangan.”
“Kau yakin, Dewangkara??”
Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya, Rama. Aku baik-baik saja, aku akan kembali ke Tarik jika semua anak Rama yang lain sampai di sini dan bisa menggantikanku untuk membantu Rama.”
“Kalau begitu Rama harus berterima kasih pada Kangjeng Hattali dan kamu, Dewangkara.” Mata Rakryan Mahapatih Nambi yang tadi tidak memperhatikan, kemudian tertuju pada tombak buatan khusus yang berada di sisi lain Dewangkara. “Tombak itu, apakah tombak itu milikmu, Dewangkara?”
“Ah ini ... “ Dewangkara meletakkan surat dari Hattali dan mengambil tombak yang diberikan oleh Dyah Halayuda sebagai hadiah pernikahan dari Maharaja. “Kangjeng Dyah Halayuda tadi memberikannya padaku sebelum pergi. Ini adalah hadiah dari Maharaja untukku sebagai hadiah pernikahanku dengan Gayatri, Rama.”
Rakryan Mahapatih Nambi menatap tombak itu dengan saksama. “Yah setidaknya Maharaja masih cukup perhatian tentang pernikahanmu dengan Gayatri.”
“Rama ... “
“Ya?”
Tadinya ... Dewangkara ingin bertanya mengenai maksud dari ucapan Dyah Halayuda padanya sebelum kembali ke ibu kota. Tapi Dewangkara yang melihat bulatan hitam di bawah mata Rakryan Mahapatih Nambi, kemudian mengurungkan niatnya itu. “Tidak jadi, Rama.”
“Bukankah kau memanggil Rama karena ingin mengatakan sesuatu, Dewangkara??”
Dewangkara menggelengkan kepalanya sembari meletakkan tombak yang digenggamnya. “Aku hanya ingin mengatakan pada Rama, untuk beristirahat.”
Berkat bantuan dari Dewangkara yang mengurus banyak hal lainnya, Rakryan Mahapatih Nambi punya banyak waktu untuk istirahat setelah menyapa pelayat yang berdatangan dari penjuru arah. Berkat bantuan dari Dewangkara, hari-hari yang berat bagi Rakryan Mahapatih Nambi berhasil dilaluinya. Dan kini setelah beberapa hari berlalu, sudah waktunya bagi Dewangkara untuk kembali ke Tarik dan menepati janjinya pada Hattali dan Gayatri.
“Rama, sudah waktunya aku untuk kembali ke Tarik.” Sebelum pergi, Dewangkara mengucapkan kalimat perpisahan kepada Rakryan Mahapatih Nambi.
“Ya, putraku. Kembalilah ke Tarik dan dalam beberapa hari, Rama akan menyusul ke sana untuk menghadiri pernikahanmu, putraku.”
Rakryan Mahapatih Nambi menggenggam kedua bahu Dewangkara dengan erat dan hal itu membuat Dewangkara merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Apa ini? Perasaan apa ini?
“Jangan lupakan salamkan salam Rama untuk Kangjeng Hattali dan Gayatri,” tambah Rakryna Mahapatih Nambi yang kemudian melepaskan genggamannya di kedua bahu Dewangkara.
“Ya, Rama. Aku akan menyampaikan salam Rama.” Dengan tombak pemberian Maharaja yang tergantung di bahunya dan bekal makan siang yang diberikan oleh Rakryan Mahapatih Nambi, Dewangkara naik ke atas kudanya.
“Aku pergi dulu, Rama. Ingat Rama, jaga kesehatan dan jangan lupa makan tepat waktu.!” Dewangkara memberikan peringatan terakhirnya kepada Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya. Karena selama beberapa hari ini, selalu Dewangkara yang menyiapkan makan dan memaksa Rakryan Mahapatih Nambi untuk makan tepat waktu.
“Rama mengerti. Rama akan mengingatnya, Dewangkara. Sudah cepat pergi, putraku!!”
Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Kita bertemu lagi beberapa hari ke depan, Rama.”
“Ya, putraku.”
Setelah mengatakan hal itu, Dewangkara segera menendang kudanya dan membuat kudanya dengan kencang ke arah kota Tarik. Meski merasakan sesuatu yang buruk dalam hatinya, Dewangkara mengabaikan hal itu karena janjinya kepada Hattali dan Gayatri. Terlebih lagi ... Lamajang adalah kota di mana kekuasaan Rakryan Mahapatih Nambi berada. Di kota Lamajang, ayahnya akan baik-baik saja-itulah yang Dewangkara pikirkan.