
Malam hari
Zaky berjalan sendirian di gang sepi yang hanya diterangi oleh lampu jalanan yang temaram. Ia baru pulang dari minimarket untuk membeli cemilan dan minuman kaleng.
Sedangkan di gang lain, gadis kecil yang pernah jumpa dengan Zaky sedang berjalan sendirian, baru pulang dari les. Terdengar suara sirine dari mobil polisi yang sedang berpatroli di jalan utama.
Gadis itu berjalan dengan pelan. Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya di belakang. Ia berhenti, dengan ragu ia membalikkan badan untuk memeriksa dugaannya itu.
Di depannya terlihat seorang pria yang tak dikenalnya sedang mengikutinya. Pria itu memakai jaket dan topi berwarna gelap. Ia takut ketika melihat pria itu tersenyum padanya. Ia langsung lari dengan cepat, namun pria itu mengejarnya.
“Aakkkhhhh!!” Zaky mendengar seseorang berteriak dari kejauhan. Dengan cepat ia mencampakkan plastik hitam yang dipegangnya dan lari sekuat tenaga untuk mencari sumber suara. Sedangkan gadis kecil itu terus berlari dari pria yang sedang mengejarnya.
“Akkhhh!!” Gadis kecil itu kembali berteriak ketika ia berhasil ditangkap oleh pria tak dikenal itu.
“Tolong! Tolong bantu aku!” teriaknya berusaha meminta tolong. Pria itu langsung membekap mulutnya dan mencekik lehernya agar tidak berteriak. Gadis itu terus berusaha untuk melepas cekikan di lehernya, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan.
Buakhh!!
Zaky yang berhasil menemukan sumber suara langsung menonjok wajah pria tak dikenal itu ketika melihat ia sedang mencekik seorang anak kecil. Pertarungan saling adu tonjok itu terjadi dengan sengit. Baik Zaky maupun pria itu sama-sama terjatuh ketika menerima pukulan.
Pria tak dikenal itu ingin kembali memukul Zaky yang sudah terjatuh di jalan, namun tindakannya terhenti ketika ia mendengar suara sirine polisi. Dengan cepat ia langsung kabur dari tempat itu. Zaky bangkit dan berusaha mengejar, namun pria itu sudah lari dengan cepat.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zaky cemas kepada gadis kecil yang masih terduduk di jalan itu. Ia terbatuk-batuk kecil karena cekikan tadi.
“Kamu anak itu!!” seru Zaky ketika mengenali siapa gadis kecil itu. Ternyata dia adalah gadis kecil yang pernah duduk di sampingnya kemarin pagi.
“Apa kamu terluka?” Zaky membangunkan gadis itu dan memeriksa sekujur tubuhnya, takut ada yang terluka.
“Tidak ada, Paman,” sahutnya yang sedikit gemetar akibat kejadian yang baru menimpanya.
“Ah, syukurlah. Itu sangat melegakan,” desah Zaky lega dan berlutut untuk menyamakan tinggi mereka.
“Baiklah, kalau begitu mari kita pergi. Aku akan mengantarmu pulang,” ajak Zaky sambil memberikan uluran tangan.
“Baiklah,” jawabnya yang menerima uluran tangan Zaky untuk berpegangan. Mereka berdua berjalan menyusuri gang kecil itu dengan tangan yang bergandengan.
“Di mana kamu tinggal?” tanya Zaky karena tidak mengetahui rumah gadis kecil itu. Kini mereka sedang berdiri di depan persimpangan gang.
“Aku tidak ingin pulang,” ucapnya pelan dan menundukkan kepalanya.
“Mengapa kamu tidak ingin pulang? Apa tidak ada orang di rumahmu?” tebak Zaky. Gadis kecil itu mengangguk, mengiyakan.
“Orang tuamu pergi ke mana?”
“Ayahku sedang bekerja di luar kota. Sedangkan Ibu, dia ada pekerjaan mendesak yang harus diurusnya. Katanya ia akan kembali besok pagi,” jelasnya.
“Ah, ternyata begitu,” ucap Zaky pengertian.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Zaky menatap Gadis kecil itu yang terlihat murung.
“Bagaimana jika malam ini kamu tidur di asramaku?” tawar Zaky. Entah mengapa hanya ide itu yang terlintas di pikirannya.
“Apakah boleh, Paman?”
“Tentu saja! Tidak ada alasan untuk kamu tidak bisa tidur di asramaku,” sahut Zaky.
“Baiklah, kalau begitu mari kita pergi sekarang,” ajak Zaky kembali mengulurkan tangannya. Gadis itu kembali menerima uluran itu dan mereka pun melanjutkan perjalanan dengan tangan yang kembali bergandengan.
“Omong-omong, aku belum tau siapa nama kamu. Kemarin aku lupa untuk menanyakannya. Jadi, siapa namamu gadis kecil?”
“Siapa?” tanya Zaky karena tidak mendengar suara yang kecil itu.
“Chike, Paman. Chike Zizaya,” ulangnya.
“Wah, nama yang bagus. Namaku adalah Zaky Farraz, kamu bisa memanggilku Paman Zaky saja,” sahut Zaky sambil tersenyum hangat. Mereka pun melanjutkan perjalanan itu dengan obrolan ringan.
*****
Di asrama
Chike sudah tidur di kasur Zaky. Tadi, di luar Ibu pemilik asrama sedang tidak ada di meja resepsionis. Akhirnya Zaky pun memilih untuk langsung membawa Chike ke kamarnya. Urusan izin itu urusan belakangan, lagian masih ada hari esok.
Zaky membenarkan letak selimut yang dipakai Chike. Ia tersenyum hangat melihat wajah polos yang sedang tertidur itu. Zaky hendak bangun dari kasur, namun tangannya tiba-tiba ditahan oleh Chike yang terbangun.
“Apa kamu tidak bisa tidur?” tanya Zaky lembut. Ia kembali duduk di atas kasur dan sedikit mengelus rambut Chike, berusaha menenangkan.
“Paman...,” panggilnya serak.
“Iya?”
“Terima kasih banyak,” ucapnya yang membuat Zaky tersenyum.
“Sama-sama. Sudah, lebih baik kamu kembali tidur. Paman ada di sini untuk menemanimu, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun,” ucap Zaky berusaha menenangkan Chike.
Zaky sadar bahwa kejadian tadi bisa saja masih membekas di ingatan Chike dan membuatnya sedikit syok. Ia menepuk-nepuk pelan Kapala Chike, menyuruhnya untuk kembali tidur.
Chike yang merasa nyaman, akhirnya kembali terbuai dalam alam mimpinya. Zaky yang melihat Chike sudah tertidur memilih untuk bangkit dan mengambil bedcover miliknya untuk dibentangkan di atas lantai sebagai kasur untuknya tidur. Tak lama kemudian Zaky menyusul Chike yang sudah terbuai dalam alam mimpi.
*****
Keesokan paginya
“Paman,” panggil Chike yang baru bangun dari tidurnya. Ia melihat Zaky yang baru selesai melipat dan menyusun bedcover lalu diletakkan di samping meja belajar.
“Kamu sudah bangun?” tanya Zaky.
Chike duduk di atas kasur dan mengucek matanya karena berusaha menerangkan penglihatannya yang kabur akibat baru bangun tidur.
“Apa semalam kamu tidur dengan nyenyak?” Zaky kembali bertanya.
“Iya. Ini berkatmu, Paman,” sahutnya.
“Syukurlah kalau begitu. Baiklah, biarkan Paman mandi terlebih dahulu, baru nanti Paman akan mengantarmu. Kamu bisa melanjutkan tidurmu jika ingin, nanti Paman akan bangunkan ketika sudah selesai,” ucap Zaky.
“Baiklah, Paman. Aku akan menunggumu saja di sini.”
“Terserah kamu saja ingin bagaimana. Kalau begitu Paman pergi mandi dulu ya?” pamit Zaky yang diangguki oleh Chike. Zaky pun keluar dari kamar dan pergi menuju kamar mandi asrama.
Chike melihat-lihat isi kamar ketika Zaky sudah keluar. Semalam ia tidak sempat untuk melihat bagaimana isinya. Ia melihat tidak ada yang istimewa di dalam kamar Zaky.
Tak berbeda dengan kamar asrama lainnya, kamar Zaky hanya ada sebuah kasur, meja belajar, dan kursi. Kamarnya berwana krem, dan gordennya berwarna coklat muda.
Chike bangkit dari kasur. Ia berjalan pelan menuju meja belajar dan masih memperhatikan setiap sudut dinding kamar itu. Bisa dibilang jika kamar itu minimalis karena semuanya tertata dengan rapi.
Chike melihat benda-benda yang ada di atas meja. Ada beberapa buku tulis dan buku bacaan. Ada juga buku tentang teori dan prinsip hukum pidana dan beberapa alat tulis yang tergeletak di atasnya.
Chike melihat spidol warna yang tergeletak di atas meja. Ia pun mengambil spidol warna itu dan menggeser letak kursi milik Zaky. Ia menunduk dan masuk ke dalam kolong meja. Ia menuliskan sesuatu di sana.