
Zaky berjalan di koridor kamar sambil menggigit kuku ibu jarinya pelan. Ia terus memikirkan kejadian tadi. Pipinya terasa panas ketika mengingat kejadian itu. Baru kali ini dirinya dipeluk oleh seorang gadis.
Dava baru keluar dari kamarnya. Ia menutup pintunya pelan dan melihat Zaky yang pikirannya sedang berkelana.
“Oh, apa kamu baru pulang? Apa kamu sudah mengantar keponakanmu itu dengan selamat sampai ke rumahnya?” tanya Dava ketika Zaky lewat di depannya.
Zaky berhenti, dan melihat Dava dengan sedikit bingung. “Apa? Ah, iya. Aku sudah mengantarnya sampai ke rumah,” sahut Zaky yang sudah sadar dari pikirannya.
“Apa yang terjadi padamu? Mengapa wajahmu merah sekali?” tanya Dava yang melihat wajah Zaky memerah.
“Apa? Ah, tidak. Yah, hari ini cuaca sangat panas,” sahut Zaky canggung. Ia mengusap kepala belakangnya pelan.
“Apa yang sedang kamu bicarakan? Hari ini cuaca dingin sekali. Aku bahkan akan meminta Bu Laila untuk menyalakan penghangat ruangan,” sahut Dava yang membuat Zaky salah tingkah.
“Benarkah? Ka-kalau begitu silahkan,” ucap Zaky sedikit terbata, gugup.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kamu sakit? Kamu bertindak aneh!” tanya Dava sedikit khawatir.
“Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya sedikit lelah. Aku akan beristirahat sekarang kalau begitu.” Zaky kembali berucap dengan gugup.
“Apakah kamu yakin? Jika kamu sakit jangan dibiarkan begitu saja. Kamu harus segera pergi ke rumah sakit jika merasa tidak enak badan,” nasihat Dava.
“Baiklah, aku akan melakukannya jika aku benar-benar sakit. Tapi aku hanya perlu istirahat sebentar saja.”
“Apa kamu benar-benar yakin merasa baik-baik saja? Kamu bersikap sangat aneh.” Dava berusaha untuk menyakinkan kembali.
“Tidak! Aku memang hanya butuh istirahat dan setelah itu akan baik-baik saja. Kalau begitu aku masuk ke kamarku sekarang.”
Zaky menepuk pelan pundak Dava dan langsung masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Dava yang merasa heran. Ia masuk dengan sedikit terburu-buru agar Dava tidak bertanya apapun lagi padanya dan berakhir dengan perasaan curiga.
Zaky membuka sepatunya dan menaruhnya secara asal. Ia menjatuhkan dirinya secara telentang di kasur sambil menutup wajahnya yang masih terasa panas.
*****
Chike hanya duduk dan berdiri berulang kali di ujung jalan depan asrama hingga malam menjelang. Ia melihat bangunan di depannya itu dengan tatapan yang masih tak percaya. Ia kembali teringat kejadian tadi pagi.
“Aku sangat merindukanmu, Paman.” Chike mempererat pelukannya.
“Apa yang kamu lakukan!” seru Zaky dan mendorong Chike pelan hingga pelukannya terlepas.
“Kamu pasti salah orang,” ucap Zaky gugup. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam asrama, meninggalkan Chike yang terus menatap kepergiannya.
“Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?” tanya Chike pada dirinya sendiri. Akhirnya ia pun memilih untuk masuk ke dalam asrama yang masih sangat bagus itu.
“Apa kamu sedang mencari kamar?” tanya Bu Laila yang berada tak jauh dari meja resepsionis, menghampiri Chike yang baru sampai di anak tangga terakhir lantai tiga.
“Oh, Ibu!” seru Chike kaget dan menunjuk Bu Laila.
“Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?” tanyanya sambil memegang wajahnya, memeriksa. Ia mengusap wajahnya untuk membersihkan jika ada noda atau sesuatu yang menempel.
“Bu-bukan begitu, Bu,” sahut Chike. Ia merasa bingung ketika melihat Bu Laila yang terlihat masih sangat muda. Bahkan rambutnya yang panjang sepunggung di ikat kuncir kuda.
“Dik, apa kamu mengenalku?” tanya Bu Laila ketika melihat Chike yang terus menatapnya.
“Apa?” tanya Chike bingung.
“Kamu terus saja menatapku seolah-olah mengenalku.”
“Tidak! Hanya saja saat terakhir kali kita bertemu, kamu memberiku telepon,” sahut Chike tersenyum.
“Itu dia... kenapa ya?” Chike ikut bertanya bingung. Ia masih berusaha mencerna seutuhnya keadaan yang sedang dialaminya.
“Kamu seorang mahasiswa yang sedang berkuliah bukan?” tanya Bu Laila memastikan.
“Lantai 3 seharusnya masih ada yang kosong.” Bu Laila berjalan ke arah meja dan melihat berkas mengenai penghuni kamar.
“Tunggu, apa aku salah mengingat?” tanyanya ketika tidak melihat ada kamar yang kosong. Ia kembali melihat berkas itu dengan teliti, takut ada yang terlewatkan.
“Oh, ternyata memang masih ada satu kamar kosong!” serunya.
“Apa?” Chike kembali merasa bingung.
“Apa kamu tidak sedang mencari kamar?” tanya Bu Laila heran.
“Apakah kamu menyewakannya?” tanya Chike yang tak yakin dengan pendengarannya barusan. Bukankah semalam beliau mengatakan tidak menyewakannya lagi? Lalu apa yang sedang terjadi sekarang? Chike terus bertanya dengan bingung dalam pikirannya.
“Tentu saja aku menyewakannya! Ini adalah asrama, jika tidak disewakan lalu untuk apa?”
“Bukankah asrama ini mau dibongkar?” tanya Chike bingung.
“Dibongkar?! Apa yang sedang kamu katakan? Mengapa kamu terus saja mengatakan hal-hal yang aneh sejak kamu tiba? Itu sangat lucu, kamu tau? Sejak kapan asrama ini akan dibongkar?” Bu Laila ikut bingung, tak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Chike.
“Ah, mungkin aku yang salah paham...” sahut Chike ragu.
“Yasudah. Jadi, apa kamu akan menyewa kamar?” tanya Bu Laila antusias. Chike tak mendengarkan dengan baik, ia sedang memperhatikan sekeliling dan koridor asrama.
“Dik?” Bu Laila melambaikan tangannya di depan wajah Chike.
“Oh, iya aku akan menyewanya,” jawab Chike. Kini senyum sumringah sedikit terukir di bibir mungilnya. Sepertinya ia sudah mulai memahami apa yang sedang dialaminya.
“Bagus! Kalau begitu ini kunci kamarmu, kamar 308. Kamu hanya perlu berjalan melewati koridor ini hingga menemukan nomor kamarmu.” Bu Laila menyerahkan kunci kamar milik Chike.
Chike menerima kunci itu dengan senang hati. Ia berjalan pelan melewati koridor kamar. Ia melihat asrama yang terasa ramai. Para penghuni asrama berlalu-lalang di sepanjang koridor yang ia lewati.
Chike sampai di depan kamarnya. Ia membuka kunci lalu masuk ke dalam dengan perlahan. Ia menghidupkan lampu dan terlihatlah kamar yang masih kosong. Hanya ada kasur, meja belajar, dan kursi.
Chike menutup pintu dan membuka sepatunya. Ia kemudian duduk di atas kasur barunya.
“Bagaimana mungkin ini terjadi?” tanya Chike masih tak percaya.
“Apa aku sedang bermimpi?” Chike memperhatikan setiap sudut kamarnya.
“Tapi ini tidak mungkin mimpi. Itu terasa sangat nyata,” ucapnya ketika mengingat kejadian saat ia memeluk Zaky.
“Ah, benar! Paman!” serunya bangkit dari duduk. Segera ia memakai sepatunya kembali dan keluar dari kamar. Tak lupa ia menutup pintunya kembali.
Kini Chike sedang berdiri di depan pintu kamar yang bertuliskan nomor 303. Dengan ragu Chike mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Sepertinya Zaky lupa untuk melakukan itu.
Chike masuk ke dalam kamar Zaky secara perlahan. Ia menghidupkan lampu kamar yang mati dan menutup pintunya. Chike berjalan perlahan menuju ke arah kasur Zaky sambil memperhatikan isi ruangan.
Sprei berwarna abu-abu dan dinding kamar yang berwarna krem. Semuanya masih sama seperti yang ia lihat terakhir kali sejak 10 tahun yang lalu.
Chike kembali memperhatikan isi kamar itu. Namun, pandangannya terpaku ketika melihat kalender yang ada di atas meja belajar. Dengan cepat ia mengambil kalender itu ketika menyadari sesuatu yang mengganjal.
“Apa?! Tahun 2012??!!” serunya ketika melihat tahun kalender itu.