
Siang hari
Chike kecil sedang berdiri di depan asrama, menunggu Zaky keluar. Ia memegang kalung yang sudah selesai dibuatnya.
Sedangkan Dava baru pulang dari minimarket. Ia berencana masuk ke dalam asrama, tapi diurungkan ketika melihat Chike. Ia memilih untuk menghampirinya.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Dava yang membuat Chike kaget.
“Ah! Tidak ada apa-apa. A-aku baru saja pulang les dan hanya mampir ke sini sebentar,” sahut Chike cepat. Ia dengan segera menyembunyikan kalung itu dibelakang tubuh mungilnya.
“Hayo...apa itu? Apa itu? mengapa kamu menyembunyikannya?” tanya Dava menggoda karena melihat Chike yang memerah malu sambil menyembunyikan kalung miliknya.
“I-ini bukan apa-apa. Pa-paman lebih baik pergi saja,” usir Chike gugup.
Dava tertawa kecil. Niat menggodanya semakin meningkat ketika melihat reaksi Chike yang begitu menggemaskan.
“Wah...apa yang sedang kamu sembunyikan? Mengapa kamu tidak ingin mengatakannya padaku? Katakan saja,” ucap Dava kembali menggoda. Sedangkan Chike menghela napasnya panjang.
“Kurasa kamu marah. Apa kamu merasa kesal?” tanya Dava menyesal.
“Tidak! Bukan seperti itu!” sahut Chike.
“Ah, baiklah. Jika begitu katakan apa yang terjadi,” pinta Dava. Ia mensejajarkan posisinya dengan tinggi Chike.
“Kurasa kamu datang ke sini karena berniat untuk menemui Pamanmu bukan? Lalu mengapa kamu ingin pergi tanpa menemuinya?” Dava bertanya sambil tersenyum tipis.
Chike menundukkan kepalanya. “Bibi yang menakutkan itu menyuruhku untuk tidak pernah datang lagi menemui Paman,” sahutnya sedih.
“Seorang Bibi yang menakutkan? Siapa yang sedang kamu bicarakan? Tidak ada Bibi yang seperti itu di sini,” ucap Dava bingung. Ia mencoba berpikir siapa orang yang Chike maksud.
“Itu...Bibi yang selalu bersama Paman Zaky belakang ini,” adu Chike sedikit cemberut.
“Bibi yang selalu bersama Zaky? Ah... apa Bibi yang kamu maksud itu adalah wanita penghuni kamar 308?” tanya Dava ketika mengetahui siapa yang dikatakan oleh Chike.
“Apa Dia benar-benar sangat menakutkan?” lanjut Dava bertanya. Chike mengangguk lemah sebagai jawaban.
“Tapi menurutku itu tidak masuk akal. Aku tau jika Dia memang sedikit aneh, tapi tidak mungkin Dia terlihat menakutkan,” ucap Dava yang merasa heran.
“Ah, sudahlah! Lalu apa yang membawamu ke sini?” tanya Dava merubah topik.
“Ini....” Chike menunjukkan kalung buatannya kepada Dava.
“Apa itu?” Dava bertanya bingung karena tidak tau benda apa yang sedang ditunjukkan oleh Chike.
“Ini kalung. Aku membuat ini untuk Paman Zaky,” sahut Chike yang membuat Dava salah tingkah karena sempat berpikir itu adalah barang rongsokan.
“Wa-Wah...Ini sangat cantik! Ka-kamu sangat keren, Dik!” seru Dava tergagap. Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena telah berpikiran sempit.
“A-aku tidak tau harus mengatakan apa. Ini benar-benar sangat keren. Ba-bagaimana kamu bisa membuat ini dengan sangat bagus seolah-olah ini adalah sebuah maha karya seni. Wah, kamu benar-benar sangat berbakat!” lanjut Dava semakin ngawur. Ia tersenyum canggung sambil mengambil kalung itu dan berpura-pura melihatnya dengan seksama.
Dava berdeham pelan untuk mengusir rasa canggungnya. “Lalu, mau kamu apakan kalung ini?” tanya Dava serius.
“Tolong berikan ini pada Paman Zaky,” pinta Chike yang membuat Dava tersenyum menggoda.
“Lihatlah dirimu, Dik. Apakah kamu...”
“Tidak! Bukan seperti itu! Aku memberikannya pada Paman Zaky hanya sebagai rasa terima kasihku. Jadi, Paman jangan salah paham,” sahut Chike cepat karena tidak ingin Dava salah paham.
Dava hanya menganggukkan kepala, berpura-pura mengerti. Hal itu membuat Chike semakin memerah malu karena terus saja digoda olehnya.
“Wah, Zaky benar-benar beruntung karena memiliki keponakan sepertimu. Lalu, mengapa kamu tidak memberikannya sendiri pada Pamanmu? Apa kamu takut akan bertemu dengan Bibi dari kamar 308?” tanya Dava yang sudah kembali berdiri tegak.
“Ya, makanya aku meminta Paman untuk memberikannya pada Paman Zaky. Aku mohon jangan sampai Bibi itu tau jika aku memberikan ini pada Paman Zaky,” sahut Chike sedikit memohon.
“Kamu tidak perlu merasa takut karena Bibi itu tidak ada di sini sekarang. Semalam Pamanmu meneleponku dan mengatakan jika Dia sedang terluka. Mereka masih di rumah sakit sekarang dan mungkin Pamanmu akan pulang sebentar untuk mengambil beberapa berkas. Mengapa kamu tidak bertemu dengannya sebentar sebelum pulang?” Dava mencoba membujuk.
“Tidak! Tidak usah, Paman. Aku lebih baik pulang saja karena urusanku sudah selesai,” sahut Chike menolak. Dava hanya bisa menghela napasnya, mengerti.
“Baiklah jika itu yang kamu inginkan,” sahut Dava.
“Karena ini untuk Zaky, setidaknya Pamanmu itu harus memberikanmu sesuatu juga sebagai balasan. Tunggu sebentar di sini, aku akan segera kembali.”
Dava langsung masuk ke dalam asrama dan meninggalkan Chike yang ingin menolak. Karena sudah begitu, mau tak mau Chike harus menunggu Dava kembali.
“Ah, di mana itu?” tanya Dava sambil berusaha mencari sesuatu di dalam kamar Zaky yang tak terkunci.
“Ketemu!” serunya ketika membuka laci meja dan mengambil foto Zaky. Dava pun kembali ke luar asrama untuk menemui Chike yang sudah menunggunya.
“Ini untukmu!” seru Dava memberikan foto itu kepada Chike.
“Apa ini, Paman?” tanya Chike yang tak berani mengambilnya.
“Ini adalah karya debut pertamaku menggunakan kamera baruku. Ambillah! Kamu boleh memilikinya sekarang. Anggap saja ini hadiah kecil atas ketulsanmu.” Dava kembali menyodorkan foto itu ke hadapan Chike.
“Apa aku benar-benar boleh memilikinya, Paman?” tanya Chike yang masih merasa sedikit ragu.
“Tentu saja! Sekarang ambillah!” Dava memberikan foto itu ke telapak tangan Chike.
“Tapi, Paman... apakah Paman Zaky tidak akan marah karena aku mengambil foto miliknya?”
“Kamu tenang saja... Ini adalah karya milikku, jadi Dia tidak bisa marah. Jika Dia memarahimu, maka aku akan memarahinya kembali karena aku lah yang memberikan foto itu untukmu. Sekarang ambillah, tak baik menolak pemberian dari orang lain,” sahut Dava ramah.
“Jika Paman mengatakan itu, maka aku akan percaya padamu.” Chike akhirnya menerima foto itu dengan senang hati. Ia memberikan senyuman lebarnya yang membuat Dava juga ikut tersenyum.
“Karena kamu sudah menerimanya, apakah ini sudah menjadi balasan yang sebanding dengan hadiah yang kamu berikan?”
“Tentu saja, Paman! Bahkan ini melebihi hadiah yang kuberikan,” sahut Chike senang, masih dengan senyuman lebarnya.
“Syukurlah, aku lega mendengarnya. Sekarang kamu yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga foto itu. Jaga dan rawatlah dengan baik, Oke?” Dava mengelus rambut Chike dengan gemas.
“Baik, Paman. Aku akan selalu menjaga dan merawat foto ini dengan sebaik mungkin.”
“Anak pintar!” ucap Dava menghentikan elusannya.
“Baiklah, kamu bisa pulang sekarang. Aku yakin Ibumu sedang merasa sangat khawatir karena kamu belum pulang.” Dava tersenyum tipis menatap Chike yang tak bisa menutupi rasa senangnya karena mendapatkan foto Zaky.
“Baiklah, aku akan pulang sekarang, Paman. Terima kasih banyak untuk fotonya. Kalau begitu aku pergi, Paman,” pamit Chike membungkuk sopan. Setelah itu ia pergi meninggalkan Dava yang tertawa gemas atas tingkahnya.
“Sampai jumpa lagi, Paman!” seru Chike melambaikan tangannya ketika sudah berada sedikit jauh dari Dava.
“Sampai jumpa lagi! Hati-hatilah di jalan, jangan berlari!” seru Dava mengingatkan. Ia membalas lambaian tangan Chike.
“Ah, Dia sangat menggemaskan,” ucap Dava yang sudah menurunkan tangannya ketika sudah tidak melihat Chike.
“Zaky benar-benar beruntung memiliki keponakan seperti itu. Apakah aku juga harus mencari satu?” tanya Dava pada dirinya sendiri. Setelah itu ia malah tertawa geli atas ucapannya barusan.
“Sudahlah, lebih baik aku kembali ke kamar.” Dava pun segera masuk ke dalam asrama.