
Preview bab sebelumnya.
“Ck! Mengapa kamu begitu kasar padaku? Tak bisakah kamu bersikap lebih lembut?” tanya Dava bersikap berpura-pura imut yang mendapatkan tatapan jijik dari Zaky.
“Kamu tidak seru diajak bercanda,” sungut Dava. Zaky hanya bisa melihat malas sikap Dava yang sudah mulai memainkan dramanya.
*****
“Daripada kamu terus bercanda, lebih baik kamu memikirkan nasib skripsimu besok,” ejek Zaky dan membuat raut wajah Dava berubah masam.
“Kamu jangan meremehkan aku. Besok aku pasti akan merayakan keberhasilan skripsi milikku!” semangat Dava. Zaky tersenyum melihat itu.
“Hahaha. Baiklah, baiklah. Tidak perlu kamu bicarakan, cukup dibuktikan saja besok,” ejek Zaky.
“Kamu tau? Biasanya orang yang mendoakan keburukan untuk orang lain, doanya akan berbalik untuk dirinya sendiri,” ucap Dava sok bijak.
Zaky hanya bisa melihat Dava dengan pandangan tak percaya. “Terserah kamu saja. Yang penting aku sudah mengingatkanmu.” Zaky kembali memakan cemilannya dan menatap lurus ke jalanan.
“Tapi, aku yakin kamu kali ini akan berhasil menyelesaikan semuanya dan segera mempersiapkan sidang skripsimu.” Dava menepuk pelan bahu Zaky.
“Apa yang kamu katakan? Hentikan itu! Kita pasti akan lulus bersama,” ucap Zaky tak suka dengan perkataan Dava, seolah-olah hanya dirinya yang akan lulus.
“Aku mengatakan kebenaran. Lihat saja dirimu? Kamu begitu rajin mengerjakan skripsimu. Sedangkan aku? Entahlah,” sahut Dava.
“Cukup! Hentikan itu sekarang!” Zaky benar-benar tak suka jika pembicaraan tentang permasalahan ini diungkit. Zaky ingin mereka berdua lulus bersamaan.
“Baiklah, baiklah. Aku akan diam sekarang. Kamu tidak perlu sampai emosi seperti itu,” ucap Dava mengalah.
“Bersulang?” tanya Dava sambil mengangkat kaleng birnya yang sudah hampir habis isinya.
Cling!
Suara dua kaleng bir yang beradu terdengar nyaring. Mereka berdua menegak semua bir yang tersisa tanpa terkecuali. Mereka menghela napas panjang secara bersamaan, entah apa yang sedang dipikirkan.
“Dav, mengapa aku merasa jika hidupku mulai membosankan?” tanya Zaky yang membuat Dava tertawa, tak percaya dengan yang didengarnya barusan.
“Ada apa? Mengapa tiba-tiba kamu menanyakan hal yang seperti itu?” Dava masih tertawa pelan.
“Entahlah. Hanya tiba-tiba terlintas dipikiran,” jawab Zaky acuh.
“Inilah kehidupan seorang mahasiswa yang sebenarnya. Kita sibuk melakukan praktek ini itu dan mempersiapkan skripsi yang rasanya seperti tidak ada akhirnya,” desah Dava karena terkadang dirinya juga merasakan hal yang sama seperti yang Zaky alami saat ini.
“Lalu, bagaimana dengan pergi berkencan?” usul Dava mendadak.
“Apa kamu serius?” Zaky bertanya dengan heran.
“Aku rasa ide itu hanya mimpi untuk saat ini. Bagaimana aku bisa berkencan di saat dalam kondisi seperti ini? Yang ada semuanya semakin berantakan,” ucap Zaky menolak ide tersebut.
“Pacaran juga menjadi salah satu mata pelajaran yang harus kamu pelajari dan pahami, sobat! Kamu harus memilikinya satu.”
Dava kembali berucap sok bijak. Sedangkan Zaky kini sudah melayangkan pandangan menghina, tapi Dava memilih untuk berpura-pura tidak melihat itu.
“Hah.....” Zaky kembali menghela napasnya panjang.
“Tapi, jika dipikir-pikir, wanita mana yang ingin memiliki pria sepertiku?” tanya Zaky sedikit pesimis.
“Mengapa seperti itu?” tanya Dava heran.
“Jika aku memikirkannya kembali, sudah lama sejak terakhir kali seseorang menyatakan perasaannya padaku. Aku bahkan sudah tidak ingat kapan hal itu terjadi.”
“Astaga, Zaky! Apa kamu benar-benar ingin aku memukul kepalamu?” tanya Dava gemas.
“Memangnya apa salahku hingga kamu ingin memukulku?” tanya Zaky tak terima.
“Aku tidak tau untuk mendeskripsikanmu sebagai pria yang polos atau bodoh!” hina Dava.
“Memangnya apa hubungannya semua itu dengan perkataanku?” tanya Zaky yang tak paham maksud pembicaraan. Sedangkan Dava kini hanya bisa gemas hingga rasanya ingin mencubit ginjalnya Zaky.
“Bagaimana ya cara menjelaskannya? Coba kamu lihat saja dirimu sendiri!”
“Apa yang harus kulihat dari diriku?” tanya bingung sambil mencoba melihat sesuatu yang mungkin ada pada dirinya.
“Tidak bisakah kamu mengatakan saja inti dari pembicaraanmu? Tidak perlu berbicara sampai berputar-putar entah ke mana. Aku sama sekali tidak mengerti,” sungut Zaky.
Dava menghela napasnya kasar. Ya ampun! bagaimana cara untuk menjelaskan hal yang begitu sederhana ini pada orang seperti Zaky? Dava harus memutar otaknya untuk mencari kata yang tepat dalam menjelaskan.
“Kamu tau? Aku sebagai seorang pria sebenarnya tidak pernah ingin mengatakan ini. Tapi, dilihat darimana pun kamu itu pria yang sangat tampan!” Akhirnya, kata yang paling dihindari oleh Dava keluar juga dari mulutnya. Ia kini bergidik geli mendengar ucapannya sendiri.
“Apakah benar seperti itu?” tanya Zaky tak yakin.
“Ck! Apa kamu meragukan perkataanku? Setelah aku membuang harga diriku untuk mengatakan hal yang paling memalukan itu?!” seru Dava tak percaya. Apa Zaky masih menganggapnya bercanda? Padahal dia telah membuang harga dirinya untuk mengatakan kalimat tabu itu.
“Bukan seperti itu,” jawab Zaky ragu.
“Lalu apa maksudmu?” ketus Dava.
“Hah... Aku hanya tidak percaya diri dengan hal itu. Aku tidak memiliki apa pun yang bisa aku banggakan,” ucap Zaky yang kembali memancing kesal Dava.
“Apa kamu serius?! Apa aku harus menjabarkan satu persatu hal yang bisa kamu banggakan dari dirimu?!” seru Dava.
“Pertama, kamu itu pria yang tampan. Kedua, kamu memiliki otak yang cerdas. Ketiga, kamu begitu ramah dan sopan. Keempat, kamu termasuk orang yang humble. And then, kamu itu kaya!” jabar Dava satu persatu kelebihan yang dimiliki Zaky dengan menggebu.
“Apakah benar begitu?” tanya Zaky yang merasa sedikit salah tingkah.
“Tentu saja!”
“Tapi aku hanya pria biasa. Masih banyak pria diluar sana yang lebih baik dariku,” ucap Zaky merendah dan mendapat tatapan malas dari Dava.
“Ya, ya, ya. Terserah kamu saja!”
“Aku mengatakan yang sebenarnya. Jika aku memang memiliki kelebihan yang seperti kamu katakan, pasti saat ini aku sudah mendapatkan teman kencan saat ini,” ucap Zaky terkekeh pelan.
“Itu semua karena dirimu sendiri!”
“Karena diriku sendiri? Tapi, mengapa?” tanya Zaky bingung.
“Kamu memang humble terhadap orang yang dekat denganmu. Namun, kamu begitu tertutup untuk orang yang baru kamu kenal. Kamu bahkan menolak setiap wanita yang mengutarakan perasaannya dengan begitu dingin,” papar Dava.
“Apakah aku seperti itu? Tapi, aku merasa tidak pernah melakukannya,” jawab Zaky canggung.
“Ya, kamu memang seperti itu! Setiap mereka ingin mengutarakan perasaannya, kamu akan langsung menolaknya tanpa berpikir panjang. Kamu bahkan mengabaikan mereka tanpa berniat untuk sekedar mendengarkan apa yang ingin disampaikan,” gerutu Dava.
“Aku tidak pernah mengabaikan mereka,” bela Zaky.
“Apakah aku harus mengingatkan semua kejadian itu? Baiklah, aku akan mengingatkannya untukmu,” sahut Dava lelah.
“Kamu pernah langsung pergi ketika ada seorang gadis ingin mengutarakan perasaannya padamu. Kamu juga sering menekankan bahwa kamu tidak akan menjalin suatu hubungan seperti itu karena ingin berfokus pada pendidikanmu. Kamu juga sering mematahkan niat mereka untuk mengaku dengan cara berpura-pura tak mengerti dan tertarik dengan perhatian yang mereka berikan. Kamu juga bahkan pernah menolak seorang gadis secara blak-blakan di depan umur,” jelas Dava panjang lebar.
Zaky mengusap tengkuknya canggung. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah yang dikatakan Dava barusan memang benar adanya? Karena seingatnya, ia tak pernah bersikap seperti itu.
“Sudahlah! Tidak usah membahas permasalahan ini lagi. Aku sudah tidak memiliki minat untuk membahasnya lebih lanjut,” putus Dava sambil menghela napas berat.
“Baiklah! Mari kita lupakan,” setuju Zaky.
“Hah... lebih baik aku masuk ke dalam sekarang karena suhu di luar semakin dingin,” ucap Dava bangun dari duduknya.
“Kamu tidak ingin masuk, Zak?”
“Kamu duluan saja. Aku masih ingin menghirup udara malam yang segar,” tolak Zaky.
“Terserah kamu saja. Jangan terlalu lama berada di luar atau kamu nanti akan sakit. Sebentar lagi masuklah dan segera beristirahat!” nasihat Dava bak seorang ayah pada anaknya.
“Ya, aku hanya akan menghabiskan cemilan ini. Jika sudah selesai aku akan masuk.”
“Aku masuk duluan. Selamat malam dan sampai jumpa besok pagi.”
Dava masuk ke dalam asrama untuk beristirahat dan meninggalkan Zaky sendirian. Zaky merebahkan dirinya di atas kursi itu, menatap bintang yang bertaburan di langit.
“Ah... sungguh indah bintang-bintang itu,” desah Zaky. Ia terus menatap bintang-bintang sambil memakan cemilannya yang masih tersisa.