ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: DEWANGKARA DAN KEHIDUPANNYA



            Narator’s POV


            Tahun 1316    


            “Dewangkara!”


            Dewangkara mendengar seseorang memanggil namanya. Panggilan itu terasa asing bagi Dewangkara tapi di sisi yang lain terasa familiar. Dewangkara yang berada dalam kegelapan berusaha untuk membuka kedua matanya, tapi tubuhnya yang masih merasa lelah tidak menuruti perintah dari otak Dewangkara untuk bangun.


            “Dewangkara!! Bangun, Dewangkara!!”


            Dewangkara mendengar panggilan itu dan kali ini Dewangkara berusaha dengan keras untuk bangun. Setelah berulang kali memberikan perintahnya ... otak Dewangkara yang memaksa perintahnya, akhirnya berhasil membuat saraf motorik di tubuh Dewangkara bekerja. Dewangkara akhirnya berhasil membuka kedua matanya dan menemukan seorang pria duduk di samping tempat tidurnya dan mengguncang tubuh Dewangkara beberapa kali.


            “Huft.” Pria di samping Dewangkara menghela nafasnya panjang ketika melihat Dewangkara akhirnya membuka matanya setelah beberapa kali berusaha untuk membangunkannya dari tidur dan mimpi buruknya.


            “Rama(1)?? Kenapa dengan wajah Rama??” Dewangkara mengenali sosok yang duduk memandangnya  dengan tatapan gelisah dan khawatir.


(1)Rama dalam bahasa Sanskerta berarti Ayah.


            “Kau tidak kunjung bangun dan Ramamu ini merasa khawatir denganmu, Dewangkara. Rama sempat khawatir dan gelisah ketika kau tidak bangun-bangun dari tidurmu. Apa kau bermimpi buruk lagi??”


            Dewangkara mencoba bangun dari posisi tidurnya dan berusaha duduk di tempat tidurnya.  Dewangkara menggenggam tangan Ayahnya dan kemudian menepuknya beberapa kali dengan tujuan berusaha menenangkan Ayahnya. “Itu hanya mimpi buruk yang berulang, Rama. Aku baik-baik saja. Rama tidak perlu khawatir.”


            “Maafkan Ramamu ini yang tidak bisa melindungimu. Jika enam belas tahun yang lalu Rama tidak mengizinkan abdi(2) untuk membawamu ke Antapura saat kejadian mungkin kamu tidak akan mengalami kejadian nahas itu, kehilangan beberapa ingatanmu dan mengalami mimpi buruk berkepanjangan seperti ini.” Ayah dari Dewangkara melepaskan genggaman tangan Dewangkara dan menepuk bahu Dewangkara beberapa kali sebagai gantinya.


(2)Abdi berarti pelayan.


            “Itu bukan salah, Rama. Jika saat itu aku tidak melarikan diri dari pengawasan pelayan dan tidak menuruti rasa penasaranku, aku mungkin akan baik-baik saja, Rama. Kejadian nahas itu juga adalah kesalahanku. Jadi Rama tidak perlu khawatir.”


            Ayah Dewangkara kemudian memandang serius ke arah Dewangkara. “Apa kau sudah mengingat kejadian itu sepenuhnya, Dewangkara??”


            Dewangkara menggelengkan kepalanya. “Belum,  Rama.”


            Ayah Dewangkara memegang erat bahu Dewangkara dan membuat Dewangkara dapat merasakan rasa sakit di bahunya karena kekuatan dari tangan Ayah asuhnya itu. “Akan lebih baik jika kamu tidak mengingatnya, Dewangkara. Akan tetapi jika akhirnya kamu mengingat semua kenangan yang kamu lihat hari itu, akan lebih baik jika kau bungkam dan bersikap tidak tahu apapun seperti saat ini.”


            “Kenapa Rama selalu mengatakan kalimat itu ketika aku mengalami mimpi buruk? Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?” Selama enam belas tahun lamanya, Ayah Dewangkara selalu mengatakan kalimat yang sama kepada Dewangkara mengenai ingatannya yang hilang dan apa yang harus dilakukannya ketika ingatan itu nantinya kembali. Dan hal itu membuat Dewangkara penasaran. 


            Selama enam belas tahun ini Dewangkara selalu mencoba bertanya alasannya, tapi Ayah asuhnya selalu menolak memberikan jawaban.


            “Rama hanya berharap kamu tidak pernah mengingatnya, Dewangkara. Mengingat bagaimana sifat ingin tahumu yang cukup besar dan sikapmu yang tidak bisa diam ketika ketidakadilan terjadi, Rama hanya takut kamu akan mendapatkan masalah karena sikap dan sifatmu itu.”


            “Rakryan Mahapatih(3).” Seorang abdi pelayan datang mengetuk kamar tidur Dewangkara dan memanggil Ayah asuh Dewangkara.


(3)Rakryan Mahapatih dalam sejarah Majapahit adalah sebutan untuk perdana menteri.


            “Ada apa?”


            “Ini sudah jam untuk berangkat ke Antapura(4), Rakryan Mahapatih. Jika ditunda lebih lama lagi, Rakryan Mahapatih akan terlambat dalam rapat pagi dengan Maharaja.” Abdi pelayan itu berusaha untuk memberi tahu Ayah Dewangkara dan Dewangkara.


(4)Antapura dalam bahasa Sanskerta berarti istana.


            “Aku mengerti.” Ayah asuh Dewangkara kemudian menghela nafasnya panjang di depan Dewangkara. “Rama harus segera pergi ke Antapura. Setelah ini bersihkan dirimu dan makan. Hari ini kau tahu apa yang harus kamu lakukan, Dewangkara?”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya, Rama. Aku tahu.”


            Dewangkara adalah anak asuh dari Rakryan Mahapatih Kerajaan Majapahit yang biasa dikenal dengan nama  Rakryan Mahapatih Nambi. Dewangkara adalah anak dari saudara Nambi yang meninggal dalam perang belasan tahun yang lalu. Di usia mudanya sudah menjadi anak yatim, Dewangkara kemudian dibawa Nambi untuk tinggal di kediamannya. Awalnya Dewangkara tinggal di kota Tarik pada zaman kepemimpinan Maharaja Raden Wijaya. Akan tetapi ketika Maharaja Jayanagara naik taktha, ibu kota kemudian dipindahkan ke kota yang sekarang ditinggali oleh Dewangkara dan Ayahnya yakni Trowulan.


            Enam  belas tahun yang lalu, sesuatu terjadi pada Dewangkara ketika datang ke antapura. Hari itu ... Dewangkara yang masih kecil ikut dengan abdi dari Rakryan Mahapatih Nambi untuk mengantar makan siang. Karena tidak sabar menunggu, Dewangkara membawa bekal makan siang itu dan menyelinap pergi dari pengawasan abdi yang pergi bersamanya. Setelah itu ... Dewangkara tidak ingat apa yang terjadi dan ketika sadar, Dewangkara sudah di kediaman Rakryan Mahapatih Nambi dengan luka di kepala belakangnya.


            Ketika Rakryan Mahapatih Nambi bertanya padanya, Dewangkara tidak bisa mengingat kejadian itu hingga saat ini, setelah enam belas tahun berlalu. Dewangkara tidak bisa mengingat siapa yang menyerangnya, siapa yang memukulnya dan kenapa dia diserang. Dewangkara tidak bisa mengingatnya dan sejak saat itu, Dewangkara memiliki masalah dalam tidurnya: mimpi buruk.


            Hampir setiap malam, Dewangkara akan mengalami mimpi buruk. Mimpi itu sangat-sangat buruk hingga Dewangkara akan berteriak-berteriak dalam tidurnya. Akan tetapi sekali lagi, sesuatu yang aneh terjadi pada ingatannya. Ketika terbangun ingatan tentang mimpi itu akan menghilang dan Dewangkara sama sekali tidak bisa menjelaskan kenapa mimpi buruknya selalu membuatnya berteriak meminta tolong dalam tidurnya.


            Dan ketika Dewangkara berusaha untuk menemukan alasan di balik mimpi buruk dan ingatannya yang hilangnya, Ayah asuhnya yang tidak lain adalah Rakryan Mahapatih Nambi selalu memberikan jawaban yang sama.


            “Akan lebih jika kamu tidak mengingatnya, Dewangkara.”


            Lalu sejak kejadian itu ... Rakryan Mahapatih Nambi selalu melarang Dewangkara untuk masuk ke antapura apapun yang terjadi. Dewangkara sebagai anak asuh yang sudah sangat berhutang budi pada Rakryan Mahapatih Nambi, hanya bisa menerima keadaannya karena tidak ingin membuat Rakryan Mahapatih Nambi yang sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya, harus repot dengan masalah dirinya. Dewangkara memilih untuk mengubur masalah itu dan menerima mimpi buruk yang terus muncul dalam tidurnya.