ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: DEWANGKARA DAN PERTEMUANNYA DENGAN GAYATRI PART 3



Dewangkara mendapati dirinya berada di gerombolan orang-orang yang sedang bersorak-sorak meneriakkan nama yang sama berulang-ulang. Dewangkara terkejut. Dirinya tidak percaya menyadari dirinya berada di tengah-tengah gerombolan orang-orang tanpa merasakan gejala penyakit anehnya yang selama ini selalu menyulitkannya.


“Kenapa aku baik-baik saja?”


Dewangkara melihat kedua tangannya dan merasakan deru nafasnya yang masih normal. Tapi di saat yang sama ketika melihat dan memeriksa tubuhnya, Dewangkara mendapati sesuatu yang aneh dengan tubuh dan lingkungan di sekitarnya.


“Kenapa tanganku lebih kecil dari sebelumnya???” Dewangkara melihat ke gerombolan orang-orang yang tidak berhenti bersorak-sorak memanggil nama yang sama berulang kali. “Kenapa mereka sangat tinggi??”


Menyadari ada yang janggal, Dewangkara mencoba mencari jawaban untuk keanehan itu  dan tiba-tiba seorang pria muncul di belakang Dewangkara.


“Mau melihat iring-iringan, adik kecil??” Pria itu bertanya pada Dewangkara dengan senyum kecil di bibirnya.


Adik?? Dewangkara bingung dengan panggilan itu, tapi sebelum Dewangkara memproses otaknya mencari jawaban, tubuh Dewangkara sudah diangkat oleh pria itu dan kemudian didudukkan di bahu pria itu. Dan begitu melihat pemandangan di hadapannya saat ini, Dewangkara tahu kenapa tubuhnya mengecil dan semua orang membesar. 


“Nah dengan begini kau juga bisa melihat iring-iringan Rakryan Tumenggung Sena, adik kecil.” Pria itu berkata pada Dewangkara, tapi saat ini ... sesuatu sedang menarik perhatian Dewangkara hingga kedua matanya dan pikirannya tertarik ke arah lain seperti magnet yang selalu tertarik ke arah kutub.


Pria yang sedang membawa Dewangkara duduk di bahunya sepertinya menyadari Dewangkara yang sedang tertarik dan tidak bisa melepaskan pandangannya dari apa yang sedang berjalan dan menjadi pusat perhatian semua orang.


“Pria itu adalah Rakryan Tumenggung Sena, murid dari Patih Ken Sora. Dia adalah panglima kerajaan termuda yang pernah ada di kerajaan ini. Selain masih muda dan hebat dalam berperang, Rakryan Tumenggung Sena juga dikenal dengan parasnya yang tampan. Dia dikagumi oleh banyak wanita dari berbagai kalangan. Para wanita tua berebut mengenalkan putri dan cucunya kepada Rakryan Tumenggung Sena. Para wanita muda berebut untuk mengenalkan diri mereka  dan berusaha untuk menarik perhatian dari Rakryan Tumenggung Sena dengan harapan bisa menjadi istrinya. Lalu para pria tua berharap anak dan cucu mereka bisa sehebat Rakryan Tumenggung Sena dan para pemuda berharap dia bisa mengikuti jejak dari Rakryan Tumenggung Sena.”


Dewangkara melihat iring-iringan Rakryan Tumenggung Sena yang sedang berjalan memasuki ibu kota setelah pulang dari perang. Dan dalam sekejap merasakan perasaan kagum pada Rakryan Tumenggung Sena yang duduk di atas kudanya dengan sangat gagah.


“Bagaimana menurutmu, adik kecil?” Pria yang sedang membantu Dewangkara kemudian bertanya kepada Dewangkara tentang pendapatnya sekarang. “Apa kau juga tidak merasa kagum dengan Rakryan Tumenggung Sena?”


“Aku ingin seperti Rakryan Tumenggung Sena.” Dewangkara bicara dengan penuh semangat sembari kedua matanya yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Rakryan Tumenggung Sena yang baru saja melewatinya.


“Kamu ingin jadi seperti Rakryan Tumenggung Sena??”


Dewangkara menganggukkan kepalanya dengan semangat sembari mengulangi jawabannya lagi. “Ketika dewasa, aku ingin seperti Rakryan Tumenggung Sena.”


*


“Dewangkara!!! Dewangkara bangun!!!”


Dewangkara mendengar namanya dipanggil beberapa kali.  Dewangkara tahu tentang situasi ini. Dalam enam belas tahun terakhir hidupnya, Dewangkara berulang kali mengalami situsi ini. Dan sama seperti saat mengalami situasi yang sama berulang kali, Dewangkara berusaha untuk membuka kedua matanya dan memberi respon untuk seseorang yang sedang memanggil namanya berulang kali.


“Dewangkara!! Dewangkara bangun!!”


 Panggilan yang entah sudah keskian kalinya ini, akhirnya berhasil membangunkan Dewangkara dan membuat kedua matanya terbuka.


“Rama??” Dewangkara berusaha memanggil seseorang yang memanggil dan berusaha untuk membangunkannya.


            Sayangnya ... Dewangkara salah mengenali pemilik suara itu karena sebelumnya selalu Ayah asuhnya yang berusaha untuk membangunkannya dari mimpi buruk yang selalu datang dalam tidur Dewangkara.


            Dewangkara mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat seseorang yang berada di sampingnya dan sejak tadi berusaha memanggil namanya. Pandangan buram Dewangkara perlahan menjadi jelas dan Dewangkara bisa dengan jelas melihat sosok yang berteriak memanggil namanya.


            “Gayatri?” Dewangkara yang terkejut menyadari siapa yang muncul di dalam penglihatannya langsung bangkit dari tidur dan membuat kepalanya merasa pusing karena gerakan tiba-tiba yang dibuatnya. Ahhh, kepalaku.


            “Apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba bangkit begitu, Dewangkara??”


            Dewangkara memegang kepalanya yang masih merasa pusing dan di saat yang sama Gayatri juga menyentuh kepala Dewangkara, berusaha untuk membuat Dewangkara berhenti bergerak.


            “A-aku ada di mana?” Dewangkara yang masih merasa pusing, berusaha untuk menanyakan lokasi di mana dirinya berada.


            “Ini kediaman milik Rakryan Mahapatih Nambi, Kangjeng Dewangkara.”


            Dewangkara mendengar suara lain menjawab pertanyaannya. Tanpa banyak bicara, Dewangkara melihat ke arah pemilik suara itu dan mengenalinya, Suara itu milik Hattali Yasodana-Ayah dari Gayatri.


            “I-itu. Saya mohon maaf telah merepotkan Kangjeng Hattali dan rombongan Kangjeng.” Rasa pusing di kepala Dewangkara mulai bisa diatasinya dan Dewangkara langsung bangkit dari tempat tidurnya untuk mengucapkan terima kasihnya kepada Hattali Yasodana beserta rombongannya.


            “Apa ini bukan pertama kalinya, Kangjeng Dewangkara?” Hattali mendekat ke arah Dewangkara dan kemudian memeriksa kening Dewangkara sembari mengajukan pertanyaan kepada Dewangkara.


            “Ini adalah  penyakit lama saya, Kangjeng. Sejak kehilangan beberapa ingatan masa lalu, saya tidak bisa melihat iring-iringan seperti tadi dan selalu mengalami mimpi buruk dalam tidur.” Dewangkara tadinya tidak ingin menjelaskan kondisinya karena tidak ingin menyusahkan orang lain. Akan tetapi Hattali dan rombongannya sudah mengetahui penyakitnya dan tidak sopan bagi Dewangkara jika dia tidak memberikan penjelasan meski itu hanya penjelasan singkat.


            “Apa Rakryan Mahapatih tahu tentang keadaan Kangjeng?”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya, Rama tahu, Kangjeng. Tapi akan lebih baik jika Kangjeng tidak mengatakan apapun pada Rama ketika bertemu dengan Rama. Penyakit saya ini adalah penyakit lama.  Saya tidak ingin membuat Rama khawatir padahal masalah Rama di antapura sudah terlalu banyak.”


            “Aku mengerti. Aku dan rombonganku akan merahasiakan hal ini dari Rakryan Mahapatih.” Hattali Yasodana menyanggupi permintaan dari Dewangkara tanpa berpikir dua kali sebelum  memberikan jawaban.


            “Terima kasih untuk pengertian Kangjeng.” Dewangkara menundukkan kepalanya ke arah Hattali Yasodana dan kemudian melihat ke arah Gayatri dan menemukan gadis itu diam saja dengan saputangan basah di tangannya. Dewangkara menangkap arti dari saputangan itu. “Dan juga untuk Kangjeng Gayatri, saya juga berterima kasih banyak.”


            “Itu ... aku yang bersalah padamu, Dewangkara. Jika aku tidak mengajakmu melihat iring-iringan mungkin penyakitmu tidak akan kumat.  Dan juga pria menyebalkan itu  ... bagaimana bisa dia mengejek orang yang sedang sakit??” 


            Dewangkara kemudian mengingat ingatan terakhirnya sebelum kehilangan kesadarannya.  Danapati sialan itu!! Dia sama sekali tidak berubah!!


            “Ah ... Danapati. Tidak usah hiraukan pria itu. Hanya karena dia memiliki hubungan dengan Dyah Halayuda, dia sedikit besar kepala dan sombong.” Dewangkara berusaha memberikan penjelasan. Dewangkara kemudian menanyakan hal yang penting kepada Gayatri yang seharusnya ditanyakan olehnya sesaat setelah sadar. “Bagaimana aku bisa kemari?? Siapa yang membawaku kemari??”


            “Ah itu ... Biantara yang menggendongmu kemari, Dewangkara.”