
“Tugasku hanya bisa sebatas ini saja, Raditya.” Hyang Tarangga mengambil langkah mundur dari hadapanku diikuti dengan dua sosok lainnya: Hyang Yuda dan Hyang Marana yang mengikutinya seolah mereka berdua bisa membaca pikiran masing-masing. “Aku sudah memberikan semua yang kau perlukan untuk bertahan hidup dan sisanya semua bergantung padamu, Raditya. Tragedi Gayatri dan reinkarnasinya-Cintya akan berhenti di sini atau tidak, semua bergantung pada usahamu setelah ini, Raditya.”
Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh rasa terima kasih. Aku ingin membalas kebaikan tiga dewa di hadapanku ini, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain berterima kasih pada mereka. “A-aku mengerti. Terima kasih, Hyang Tarangga, Hyang Yuda dan Hyang Marana. Terima kasih kepada kalian yang mau menolong manusia kecil sepertiku ini.”
Hyang Yuda menggelengkan kepalanya mendengar ucapanku. “Kita bertemu lagi nanti, Raditya.”
“Ya, Hyang Yuda.”
Hyang Tarangga mengangkat tangannya dan hendak menjentikkan jarinya sebelum menghilang dari hadapanku. Tangannya yang terangkat ke atas dan terhenti untuk sejenak. Hyang Tarangga tersenyum ke arahku. “Kuharap ... kita tidak akan segera bertemu lagi, Raditya dan kuharap ... kau akan berhasil, Raditya.”
Aku menganggukkan kepalaku kepada Hyang Tarangga dan menatapnya dengan penuh rasa terima kasih. “Ya, Hyang Tarangga.”
Klik. Hyang Tarangga menjentikkan jarinya dan kejadian di mana aku yang tadinya tewas dalam serangan itu terulang kembali ke titik di mana rencana Nona Cintya belum hancur karena usahaku untuk menyelamatkan dirinya.
Vrooom ... vroommm ....
Dar ... dar ... dar ...
Booom ....
Dalam waktu singkat kecelakaan nahas itu terulang lagi. Semua orang yang mati dalam kejadian sebelumnya kembali mati dengan cara yang sama. Sekilas ... aku melihat bayangan Hyang Marana yang membawa jiwa-jiwa orang mati yang tadi sempat ditundanya. Yang berbeda ... kali ini hanyalah aku. Ya ... aku tetap hidup dan tidak mati seperti sebelumnya.
“Raditya!!!”
Ketika mataku masih tertuju pada kecelakaan yang harusnya tadi merenggut nyawaku dan membuatku mati dengan cara yang mengenaskan di depan Nona Cintya, aku mendengar teriakan Nona Cintya. Aku menolehkan kepalaku melihat ke arah Nona Cintya yang berlari menghampiriku. Tes ... tes ... tes .... Sekali lagi ... air mataku terjatuh ketika melihat wajah Nona Cintya yang mengingatkanku pada Gayatri dan semua putaran kehidupan yang dilaluinya hanya untuk tetap bersama Dewangkara dan reinkarnasi dari Dewangkara.
Hup. Nona Cintya langsung meraih pinggangku dan memeluk tubuhku dengan erat dan bertanya padaku. “Syukurlah kau baik-baik saja, Raditya.”
“Ya, Nona. Saya baik-baik saja.”
Berada di dalam pelukan Nona Cintya, aku menatap ke arah Bara yang tadi mengikuti Nona Cintya dan melindunginya dalam serangan itu. Aku menatap ke arah Bara dan mendapati wajah Bara mengingatkanku akan seseorang dalam kehidupan Gayatri dan Dewangkara. Bara adalah reinkarnasi dari Biantara. Kami bertiga ... berkumpul lagi dalam kehidupan ini dan hidup bersama selama beberapa waktu tanpa menyadari bahwa di masa lalu, kami pernah menjadi keluarga kecil.
Bara membalas senyumanku dan membuat gerakan kecil dengan bibirnya sebagai tanda sedang bicara denganku. “Syukurlah kau baik-baik saja, Raditya.”
Aku menganggukkan kepalaku pada Bara sembari membalas gerakan bibir Bara padaku. “Ya, berkatmu aku bisa selamat, Bara. Terima kasih.”
“Jangan katakan sesuatu yang melo seperti itu, Raditya! Bukankah kita adalah teman??” Bara membalas dengan senyuman kecil dan raut wajah lega.
Aku menggelengkan kepalaku membalas ucapan Bara. “Tidak! Kita bukan teman!! Kita adalah saudara.”
Bara yang sempat terkejut dengan gelengan kepalaku, langsung memasang senyuman kecil di wajahnya. “Kau benar, Raditya!”
*
Narator’s POV
“Maafkan kami, Tuan. Tapi Raditya selamat dari serangan itu dan pernikahan mereka akan tetap dilaksanakan seperti jadwal sebelumnya.”
Salah satu bawahan dari Ratan-pengawal Bagaspati memberikan laporannya kepada Bagaspati dan membuat kepala Bagaspati serasa mendidih dan ingin meledak ketika mendengarnya.
“Keluar!!!” Bagaspati berteriak kepada bawahannya dengan kesal. Ratan bersama dengan bawahannya itu keluar dari ruang kerja Bagaspati dan membuat Bagaspati duduk seorang diri di ruangannya dengan rasa kesal yang terus menyerang dirinya. Sial!! Berapa banyak nyawa dari Raditya-si pengawal itu??? Kenapa sulit sekali melenyapkan satu manusia saja??? Kenapa sulit sekali membuat dia menghilang dari sisi Cintya???
Tuk ... tuk ... tuk ...
Amarah Bagaspati mulai menghilang dengan bersamaan pikirannya yang mulai jernih sembari memikirkan langkah-langkah berikutnya yang harus diambil oleh Bagaspati. Harus bagaimana caranya membuat pria tangguh itu mati?? Berulang kali rencana aku susun, dia selalu saja lolos!! Rasanya ... Tuhan selalu berada di pihaknya dengan selalu melindunginya???
Bruak ....
Bagaspati yang sedang fokus dengan pikirannya kemudian sadar dari lamunannya ketika mendengar pintu ruang kerjanya didobrak oleh seseorang. Bagaspati hendak membuka mulutnya untuk kemarahannya yang terpancing lagi. Tapi ... seseorang muncul dan membuat Bagaspati merasa semakin kesal saja.
“Kakak!!!”
Bagaspati melirik ke arah Agni dengan tatapan malas. “Ada apa lagi kau kemari, Agni?? Aku sedang sibuk!”
Bruk ... Agni menggebrak meja kerja Bagaspati dengan kedua tangannya. “Kakak!! Kau benar-benar berniat membunuh Raditya??? Ini bukan rencana yang kita sepakati, Kak!!! Beraninya ... Kakak berniat membunuh orang yang aku inginkan??”
Bagaspati yang sedang malas menanggapi Agni karena rasa kesalnya gagal membuat Raditya celaka, akhirnya tidak punya pilihan selain menanggapi Agni meski dengan sangat malas. “Kau bahkan tidak berkontribusi apapun dalam rencana ini, Agni!!! Kau hanya punya mata-mata tidak berguna yang memberi informasi tidak lengkap!!! Harusnya ... hari ini setidaknya aku bisa membuat Raditya celaka untuk membuat pernikahannya dengan Cintya batal, tapi ... Raditya selamat tanpa luka sedikitpun karena mata-matamu yang tidak kompeten itu!!!”
“Tapi ini bukan yang Kakak janjikan padaku??? Aku memberikan informasi itu pada Kakak agar Kakak bisa mendapatkan Cintya dan aku bisa mendapatkan Raditya!!!” Agni membalas dengan wajah geramnya karena Raditya yang begitu diinginkannya nyaris saja kehilangan nyawanya karena Bagaspati-kakaknya.
Bagaspati bangkit dari duduknya, mendekat ke arah Agni dan mencengkeram kerah baju Agni. Saat ini ... Bagaspati benar-benar merasa kesal dan kedatangan Agni benar-benar membuat rasa kesalnya bertambah berkali-kali lipat. Bagaspati benar-benar menyesal membiarkan adik satu-satunya itu selalu menghalangi jalannya untuk bersama dengan Cintya. Kau!! Karena kau juga!!! Ini semua karena kau juga!!! Bagaspati memandang Agni dengan tatapan penuh amarah sembari benaknya menyalahkan Agni.
“Kalau kau masih ingin memiliki Raditya, kau harus tetap diam, Agni!!! Selama Raditya masih baik-baik saja dan berguna bagi Cintya, dia tidak akan datang padamu dan Cintya tidak akan melepaskan Raditya. Jadi ... jika kau masih ingin memiliki Raditya, membuatnya terluka sedikit justru akan membuat peluangmu semakin besar, Agni!!!” Bagaspati bicara seolah Cintya akan dengan mudahnya melepas Raditya jika pria itu terluka atau mungkin tidak lagi berguna bagi Cintya. Tapi ... apa yang Bagaspati ucapkan itu hanyalah bualan semata dengan tujuan untuk menipu Agni. Bagaspati tahu dengan baik bagaimana Cintya tidak akan membuang Raditya begitu saja mengingat Cintya dengan sukarela selalu melindungi Raditya seperti kejadian hari ini.
“Benar begitu, Kak??” Agni bertanya kepada Bagaspati dan pertanda bahwa umpan Bagaspati telah ditelan oleh Agni dengan baik.
“Ya.” Bagaspati melepaskan cengkeramannya di kerah baju Agni. Jika kau sangat ingin bersama dengan pria itu, Agni, aku akan mengabulkan permintaan itu. Aku akan mengabulkannya dan membuatmu bersamanya di kematian!!
Bagaspati yang telah kehilangan akal sehatnya karena Cintya kini tidak lagi melihat Agni sebagai adiknya melainkan sebagai penghalang untuk bersama dengan Cintya.