ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: RENCANA PERNIKAHAN PART 1



            Selama dua hari lamanya Rakryan Mahapatih Nambi berusaha untuk menghindar dari Dewangkara. Selama dua hari itu pula Rakryan Mahapatih dengan sengaja berangkat ke antapura lebih pagi dari biasanya dan pulang lebih malam dari biasanya. Hal itu dilakukan Rakryan Mahapatih Nambi sebagai bentuk rasa kesalnya pada Dewangkara dan peringatan untuk Dewangkara bahwa ucapan yang diucapkannya pada Dewangkara adalah peringatan yang harus dilakukan dan tidak bisa ditawar lagi.


            Bagi Dewangkara sendiri ... sikap Rakryan Mahapatih Nambi itu adalah sikap yang baru pertama kali dirasakannya dan dihadapinya. Ini adalah pertama kali Rakryan Mahapatih Nambi sengaja menghindari Dewangkara dan menghadapi keadaan ini, Dewangkara tidak bisa tidak menuruti keinginan ayah asuhnya itu. Meski merasa berhutang budi dengan Rakryan Tumenggung Sena yang pernah menyelamatkan dirinya, Dewangkara juga berhutang banyak hal pada Rakryan Mahapatih Nambi. Jadi ketika harus memilih, tentu Dewangkara akan memilih ayah asuhnya-Rakryan Mahapatih Nambi.


            Dan pilihannya itu membuatnya teringat dengan saat ingatannya yang kembali di mana Dewangkara mendengar pikiran Rakryan Tumenggung Sena.


“Jika kelak kamu menghadapi situasi yang sama dengan situasi yang dihadapi gurumu saat ini, apa yang akan kamu lakukan, Sena? Maksudku kamu harus memilih antara kesetiaan dan orang yang kamu sayangi. Jika itu terjadi, mana yang akan kamu pilih, Sena?”  


“Aku tidak akan memilih di antara keduanya.”


 “Lalu apa yang akan lakukan? Kamu tidak akan bisa selamanya berdiri di antara keduanya. Suatu saat keduanya akan memaksamu untuk memilih.”


“Aku memang tidak memilih keduanya, tapi aku akan membuat pilihanku sendiri tidak berdasarkan kesetiaan dan hubungan kasih sayang yang kumiliki. Aku hanya akan memihak pada kebenaran. Aku akan melindungi pihak yang benar meski itu artinya aku melanggar sumpah kesetiaanku, meski itu artinya aku harus melepaskan hubunganku itu.”


            Dewangkara menggelengkan kepalanya memikirkan hal itu. Sayangnya ... aku tidak sekuat Rakryan Tumenggung Sena. Aku juga tidak sehebat Rakryan Tumenggung Sena.  Aku tidak sekuat dirinya yang mampu membuang sumpah setianya, aku tidak sekuat dirinya yang mampu membuang ikatan dan hubungannya dengan seseorang, demi kebenaran yang dia percayai. Aku tidak mampu membuang hubungan dan ikatanku itu, Rakryan Tumenggung Sena. Aku tidak mampu melakukannya.


            Sembari merasa dirinya begitu lemah, Dewangkara memukul dadanya sendiri menyadari kebodohannya dan juga kelemahannya sendiri.


            Di sisi lain, di antapura.


            Rakryan Mahapatih Nambi yang sedang berdiskusi dengan Maharaja kedatangan tamu yang tidak lain adalah Dyah Halayuda. Begitu mendengar kabar kedatangan Dyah Halayuda, raut wajah bosan Maharaja seketika berubah bahagia dan hal itu membuat Rakryan Mahapatih Nambi merasa sedikit kesal.


            “Salam, Maharaja. Salam Rakryan Mahapatih.” Begitu masuk ke dalam ruangan di mana Maharaja dan Rakryan Mahapatih Nambi berada, Dyah Halayuda langsung bersujud menundukkan kepalanya dan memberikan salamnya.


            “Salam, Dyah Halayuda.” Rakryan Mahapatih Nambi membalas salam dari Dyah Halayuda lebih dulu.


            “Apa yang membuatmu datang kemari, Dyah Halayuda?”


            Dyah Halayuda mengangkat kepalanya dan mengubah posisi bersujudnya menjadi posisi duduk. Dengan wajah bahagia, Dyah Halayuda kemudian membuka mulutnya dan mengatakan tujuan kunjungannya hari ini. “Saya kemari ingin mengatakan jika dalam dua hari lagi akan diadakan pertunjukan di ibu kota. Dan salah satu pertunjukannya adalah pertandingan antara para pria kuat di ibu kota. Apakah Maharaja tidak ingin melihat pertandingan itu?”


            “Ah benarkah??” Maharaja memberikan respon berupa perhatian kepada ucapan Dyah Halayuda sementara Rakryan Mahapatih Nambi justru merasakan firasat buruk untuk niat Dyah Halayuda itu.


            “Ya, Maharaja. Semua pria dari kalangan petani, sudagar dan kalangan lainnya kecuali para bayangkara akan ikut dalam ajang itu. Jika Maharaja tidak keberatan, mungkin Maharaja bisa ikut melihatnya. Bagaimana, Maharaja?”


            Semakin mendengar ucapan Dyah Halayuda, semakin buruk firasat dari Rakryan Mahapatih Nambi.


            Dyah Halayuda tersenyum karena berhasil menarik perhatian Maharaja. “Itu ide yang bagus, Maharaja.”


            Maharaja yang merasa senang kemudian melihat ke arah Rakryan Mahapatih Nambi dan bertanya pada Rakryan Mahapatih Nambi. “Apakah putra asuhmu itu ikut dalam ajang itu, Rakryan Mahapatih?”


            Ini yang diincar oleh Dyah Halayuda. Rakryan Mahapatih Nambi menundukkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan dari Maharaja. “Saya tidak tahu, Maharaja. Setahu saya, putra saya itu tidak terlalu suka mengikuti ajang seperti itu, Maharaja. Keramaian seperti itu terkadang membuat penyakit putra saya kambuh.”


            “Ah benarkah??” Maharaja mengernyitkan alisnya pertanda rasa kecewanya. “Padahal aku sudah sangat menantikan pertandingan itu untuk melihat kehebatan dari putramu itu, Rakryan Mahapatih. Untuk kali ini saja ... biarkan putramu ikut dalam ajang itu, Rakryan Mahapatih.  Jika dia menang, aku akan memberinya hadiah dan jika kalah, aku tidak akan menghukumnya. Bagaimana?”


            “Saya akan meminta Dewangkara untuk mengikutinya nanti, Maharaja.”


            Mendengar jawaban yang diberikan oleh Rakryan Mahapatih Nambi, sontak wajah kecewa dari Maharaja langsung berubah menjadi wajah senang. Sejak mendengar kehebatan dari Dewangkara, Maharaja merasa cukup penasaran untuk melihat langsung kehebatan dari Dewangkara itu dengan kedua matanya sendiri. Dan Dyah Halayuda tahu itu. Dyah Halayuda memanfaatkan rasa penasaran Maharaja itu membuat Dewangkara muncul di depan umum. Dyah Halayuda ingin memastikan sendiri kemampuan dari Dewangkara yang sekilas mirip dengan Rakryan Tumenggung Sena.


            “Aku sudah tidak sabar menantikan ajang itu, Rakryan Mahapatih, Dyah Halayuda.”


            Mendengar ucapan Maharaja yang sudah tidak sabar untuk melihat ajang itu, Rakryan Mahapatih tahu bahwa dirinya sudah masuk ke dalam jebakan dari Dyah Halayuda. Sial kau, Dyah Halayuda!! Kali ini apa yang kau incar dari putra asuhku???” Rakryan Mahapatih Nambi melirik tajam ke arah Dyah Halayuda.


            Sore harinya.


            Tidak seperti dua hari sebelumnya yang selalu pulang terlambat, hari ini Rakryan Mahapatih Nambi pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah menyelesaikan semua laporannya dengan sangat cepat, Rakryan Mahapatih Nambi langsung pulang dengan cepat ke kediamannya.


            “Salam, Rama. Hari ini Rama pulang lebih cepat dari sebelumnya.”


            Begitu tiba di kediamannya, Rakryan Mahapatih Nambi langsung disambut oleh Dewangkara-putra asuhnya. Rakryan Mahapatih Nambi kemudian berjalan dengan cepat ke arah Dewangkara dan langsung memegang kedua bahu Dewangkara dengan erat.


            “Apa kau tidak punya gadis idaman yang ingin kau nikahi, Dewangkara??? Akan lebih baik jika gadis itu tinggal di luar kota dan bukan di ibu kota??”


            Dewangkara yang merasa terkejut dengan pertanyaan itu langsung berbalik bertanya kepada Rakryan Mahapatih Nambi. “Bagaimana Rama tahu jika ada seorang gadis yang ingin aku lamar, Rama?”


            “Benarkah ada??”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya dengan polosnya, masih tidak mengerti bagaimana Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya mengetahui masalah Gayatri dan keluarganya yang meminta pernikahan pada Dewangkara.