
Mendengar suara Alby yang berusaha memberitahu semua pengawal untuk melindungiku, aku menarik kerah pengawal yang duduk di sampingku dan mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Sekarang katakan padaku, kenapa malah melindungiku dan bukan Nona Cintya??? Aku butuh penjelasan saat ini juga!!!”
Pengawal di sampingku berusaha untuk menutup mulutnya dengan rapat mengenai masalah pengawalan yang lebih mementingkan nyawaku dibandingkan dengan nyawa Nona Cintya. Pengawal itu justru sibuk berusaha untuk menenangkanku, alih-alih memberi tahu jawaban yang aku inginkan.
“Mohon Tuan Raditya tenang ... saya tidak bisa mengatakan apapun pada Tuan karena larangan dari Nona Cintya.”
“Ya, Tuan.” Pengawal yang duduk di samping sopir pun memberikan jawaban yang sama padaku untuk membela rekannya.
“Sial!!!” Aku melepaskan kerah baju dari pengawal di sampingku dan mengumpat kesal karena aku tahu bagaimana pun aku mencoba, pengawal-pengawal ini akan menutup mulut mereka karena kode etik mereka sebagai pengawal Yasodana. Dan lagi ... aku sadar saat ini posisiku masih tunangan Nona Cintya dan belum menjadi bagian dari Yasodana seutuhnya.
Apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini?? Aku melihat ke arah jendela belakang di mana mobil yang mengejar pengawalan ini terus menerus melepaskan tembakan.
“Berikan pistol kalian padaku!!!” teriakku pada pengawal di sampingku.
“Apapun yang Tuan ingin lakukan, kami dilarang menurutinya, Tuan.” Pengawal di sampingku menolak permintaanku lagi untuk kedua kalinya. Tadinya aku ingin menggunakan pistol milik pengawal di sampingku untuk menembak ban mobil yang mengejarku. Tapi ... Nona Cintya menebak lebih dulu apa yang akan aku lakukan untuk melindunginya dan membuat pengawal-pengawal ini tidak menuruti perintahku.
“Musuh tidak tahu jika Tuan berada di dalam mobil ini dan sebentar lagi mobil ini akan dijatuhkan seperti mobil pengawal pertama. Dan itu adalah satu-satunya cara untuk membuat Tuan selamat dari situasi ini. Apapun yang terjadi, Tuan tidak boleh mengekspos posisi Tuan pada musuh.”
Mataku membelalak mendengar penjelasan pengawal di sampingku. Sial ... mereka ingin membuatku selamat dan membuat Nona Cintya dalam bahaya!!!
Aku berniat merebut pistol pengawal itu dengan paksa. Namun sebelum aku berhasil melakukannya, terdengar suara ledakan ban dan dalam hitungan detik mobil yang membawaku oleng dan berjalan keluar jalur sebelum membentur pembatas jalan.
Bruakkkk ....
Mobil yang membawaku terhenti di pinggir jalan setelah benturan terjadi. Aku melihat ke arah dua pengawal yang duduk di sampingku dan duduk di samping sopir. Syukurlah mereka berdua baik-baik saja.
Setelah memastikan dua pengawal itu baik-baik saja, aku memeriksa keadaan sopir. Si sopir dalam keadaan tidak sadarkan diri karena benturan yang dialaminya, tapi tidak lama kemudian si sopir merespon panggilanku dan aku merasa jika lukanya mungkin tidaklah parah seperti yang aku takutkan.
Huft. Aku mengembuskan nafasku dan melihat mobil-mobil hitam yang tadi menyerang kami, melewati mobil yang membawaku begitu saja. Dan situasi ini membuatku tahu jika ... penyerang kami tahu strategi pengamanan Yasodana ketika membawa orang penting. Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan kepada Bara tentang situasi berbahaya ini dan juga memintanya mengirim bala bantuan untuk pengawal Yasodana yang terluka.
Cklek.
Setelah mengirim pesan pada Bara, aku membuka pintu mobil untuk keluar dan mengejar mobil yang membawa Nona Cintya. Tapi sekali lagi pengawal di sampingku berusaha untuk menghentikan apa yang akan aku lakukan.
“Tuan jangan pergi!!!”
“Tidak!! Aku tidak bisa melakukannya! Sebelum menjadi tunangan Nona Cintya, aku adalah pengawalnya. Sudah jadi tugasku untuk melindunginya dan bukan sebaliknya!”
Mungkin karena masih pusing karena benturan, mungkin juga karena tubuh mereka masih terkejut dengan apa yang terjadi, atau mungkin juga pukulanku terlalu menyakitkan di wajah mereka, pengawal yang duduk di sampingku dan berusaha menghentikanku itu langsung ambruk hanya dengan menerima satu pukulan dariku saja.
“Maaf. Tapi kau sudah bekerja cukup baik, teman.”
Melihat rekannya gagal menghentikanku, pengawal yang duduk di samping sopir berusaha untuk melepaskan sabuk pengamannya untuk menghentikan aku. Tapi sabuk pengaman itu macet dan tidak bisa dilepaskan. Melihat hal itu ... aku hanya tersenyum padanya dan mengucapkan kata maaf untuk kedua kalinya.
“Maaf, teman. Aku janjikan satu hal pada kalian berdua. Aku akan memastikan jika kalian tidak akan dipecat karena tidak bisa menahanku.” Aku memukul wajah pengawal di samping sopir dan kemudian membuatnya pingsan hanya dengan satu pukulan.
“Auuwww.” Setelah memukul dua wajah pengawal yang mengawalku, tangan kananku memberikan kejutan listrik pada otakku sebagai pertanda bahwa fungsi tangan kananku masih belum sempurna.
Setelah mendapatkan semua senjata, sekarang ... aku hanya butuh satu kendaraan. Dengan mengenakan helm hitam, aku berusaha menghentikan motor yang lewat. Dengan mengacungkan senapan ke arah motor yang lewat.
Benar saja ... pemilik motor itu langsung menghentikan motornya ketika melihat senapan laras panjang yang mengarah padanya.
“Ampuni saya, Tuan!!” teriaknya padaku sembari memberikan kunci motornya padaku.
“Maaf teman. Ini situasi darurat.” Aku memberikan kartu namaku sebagai pengawal padanya dan kemudian meminta untuk datang ke kediaman Yasodana untuk menuntut ganti rugi. “Pergilah ke alamat ini dan berikan kartu ini pada penjaga. Nanti kau akan mendapatkan ganti rugi untuk motor yang aku gunakan.”
Vrooom ... vrooom ....
Aku menarik gas di setir kanan dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi yang dimiliki oleh motor itu. Aku cukup beruntung, motor yang aku hentikan adalah motor besar yang memiliki kecepatan lari hampir 200 km/jam. Dan dalam hitungan menit, aku berhasil menyusul mobil-mobil hitam yang berusaha untuk menyerang mobil Nona Cintya.
Bruakkk ....
Begitu aku menyusul, mobil keempat dari pengawalan Yasodana menabrak pembatas dinding setelah ban mobil mereka terkena tembakan musuh.
Tiga mobil. Aku menghitung mobil musuh yang terus mengejar dan berusaha untuk menyerang mobil yang ditumpangi oleh Nona Cintya. Aku hanya perlu membuat tiga mobil itu berhenti bergerak mengejar mobil Nona Cintya.
Jadi sembari menjaga tangan kananku menarik pedal gas motor, tangan kiriku mengambil pistol yang aku bawa dan mulai menembaki ban mobil dari arah belakang.
Wush ... dor ...
Ban mobil salah satu penyerang berhasil kukenai dan membuatnya keluar jalur sebelum akhirnya bruak .... menabrak pembatas dinding.
Satu mobil dan sisa dua lagi.
Menyadari salah satu mobil rekannya terkena serangan, salah satu mobil yang menyerang mobil Nona Cintya kini berbalik menyerangku. Mereka mulai melepaskan tembakan padaku. Kali ini untuk menembak arah belakang, mereka perlu mengeluarkan sebagian tubuh mereka untuk membidikku dan itu justru memudahkanku untuk menyerang mereka.
Wush ....
Musuh melepaskan tembakan ke arahku dan aku hanya perlu membalas tembakan satu peluru lebih banyak dari mereka untuk membuat musuh jatuh. Musuh menembak satu peluru maka aku perlu menembakkan dua peluru. Jika musuh menembakkan dua peluru, maka aku hanya perlu menembakkan tiga peluru.
Dor ... wushh ... dor.
Penembak pertama langsung jatuh dari mobil mereka ketika tembakan darinya berhasil aku hentikan dan aku membalas dengan cepat tembakan darinya.
Penembak kedua muncul dan kali ini melakukan hal yang sama dengan penembak pertama yang menyerangku. Hanya saja ... kali ini orang ini lebih agresif karena melepas banyak tembakan padaku. Aku hanya tersenyum melihat peluru yang mengarah padaku. Telinga dan mataku ini ... tidak akan pernah salah membuat perhitungan, ucapku.
Meski lebih agresif dari penembak sebelumnya, aku punya keuntungan karena pendengaranku dan penglihatanku yang tajam. Jadi ... aku hanya perlu melepas peluru lebih banyak untuk menjatuhkannya dan ...
Dor ... dor ... dor ....
Dor ... dor ... dor ....
Pada akhirnya aku berhasil menjatuhkan penembak itu dan melepaskan dua tembakan ke dua ban belakang mobil yang ditumpanginya.
Bruakkk .... mobil kedua jatuh. Dan kini hanya tersisa satu mobil saja.