
Malam hari, tanggal 29 Juni 2012
“Kita masih mempunyai waktu 5 jam sebelum berangkat. Mari kita pergi berkemas dan bertemu sejam lagi.” Chike melihat jam di hp nya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Mereka berdua baru saja pulang dari berkeliling di pasar malam yang berada tak jauh dari asrama. Kini mereka sedang berdiri di depan pintu kamar Chike.
“Baiklah,” sahut Zaky pelan.
“Chike, tunggu!” Zaky mencegah Chike yang ingin menutup pintu kamarnya.
“Ada apa?”
“Kak, kamu kenapa?” tanya Chike bingung ketika Zaky langsung memeluknya erat dalam diam.
“Hei, ada apa?” tanya Chike membalas pelukan Zaky.
Zaky menarik napasnya dalam-dalam. “Dari sekarang, aku ingin kamu merasa nyaman. Aku tidak ingin kamu menyesali apa pun di masa depan,” ujar Zaky dengan nada sendu. Namun Chike tidak menyadari itu.
“Baiklah, sampai jumpa nanti.” Zaky melepaskan pelukannya dan menatap Chike dengan senyuman terbaiknya.
“Iya, sampai jumpa lagi,” sahut Chike ikut tersenyum.
Raut wajah Zaky langsung berubah ketika Chike sudah masuk ke dalam kamar. Ia pun memilih untuk kembali ke kamarnya.
*****
Chike memasukkan semua barang-barang nya ke dalam ransel miliknya. Ketika sudah selesai, ia bangkit dan berjalan menuju meja belajar.
“Ini semua sudah tidak diperlukan lagi. Paman Zaky tidak akan ada di sini pada tanggal 30. Ia tidak akan mati karena menyelamatkan aku yang berumur 10 tahu .” Chike mencabut catatan-catatan kecil yang ia tempel di dinding ke dalam tong sampah yang ada di sudut kamar.
“Sudah satu jam lebih telah berlalu, mengapa Paman belum datang juga?” Chike melihat jam di hpnya yang sudah menunjukkan pukul 23.52, hampir tengah malam.
“Hah, apa yang harus aku lakukan sekarang?” Chike bingung ingin melakukan apa, karena ia sudah selesai mengemasi semua barangnya.
“Sudah 10 tahun berlalu...Aku harap kali ini semuanya akan baik-baik,” desah Chike.
“Tapi mengapa Paman begitu lama?” Chike pun mengambil inisiatif untuk pergi ke kamar Zaky.
Tok! Tok! Tok!
“Kak... Apa kamu ada di dalam?” panggil Chike.
Tok! Tok!
“Kak! Aku sudah selesai berkemas. Apa kamu mendengarkan aku?”
Tok! Tok!
Tak ada respon sama sekali. Chike mencoba membuka pintu dan ternyata berhasil! Zaky sepertinya lupa lagi untuk mengunci pintu kamarnya.
“Kak?” panggil Chike mengintip ke dalam kamar yang gelap.
“Ke mana Dia pergi?” tanya Chike bingung karena tidak menemukan sosok Zaky ketika ia masuk dan menghidupkan lampu.
“Kak?” Chike mencoba melihat kamar mandi, namun kosong.
“Astaga! Dia ke mana?” Chike menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ya sudahlah, lebih baik aku kembali.”
“Tunggu...”
Chike yang ingin pergi menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah kertas kuning yang dilipat terletak di atas meja. Ia mendekat dan mengambil kertas itu. Ia mencoba menelepon Zaky, tapi tidak terhubung.
“Apa ini?” Chike membuka lipatan kertas itu dengan ragu. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.
Chike mencoba membaca tulisan yang ada di kertas itu. Namun, ia langsung terduduk lemas ketika selesai membacanya. Setelah sadar dari syok, Chike langsung bangkit dan berlari keluar dari kamar.
*****
Setelah mengantar Chike sampai ke depan kamarnya tadi, Zaky memutuskan masuk ke dalam kamarnya dengan langkah yang gontai. Ia langsung duduk merosot ketika sudah menutup pintu kamarnya.
“Hiks!” Zaky langsung menangis. Ia menutup mata, berusaha menghentikan air matanya yang mengalir. Namun, itu sia-sia. Air matanya semakin luruh dan isakan semakin banyak yang lolos dari bibirnya.
*****
Zaky duduk di kursinya dengan tatapan kosong. Ia hanya menatap kertas kosong yang ada di depannya. Perasaannya sudah sedikit lega setelah menangis tadi.
Ia akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah catatan di kertas itu. Ia menghapus air matanya yang kembali mengalir tanpa suara ketika sedang menulis.
Zaky melipat kertas itu menjadi beberapa lipatan dan meletakkannya di atas meja, agar mudah terlihat. Setelah itu, ia segera mengambil jaket miliknya dan lari keluar dari kamar.
Di sisi lain.
Chike kecil sedang berjalan sendirian. Ia baru saja akan pulang ke rumah setelah les. Sebenarnya ia sudah pulang sejak tadi, namun ia malas untuk segera pulang.
Sedangkan Zaky pergi menyusuri setiap gang yang ada, berusaha mencari Chike kecil. Napas Zaky sudah mulai putus-putus, kelelahan. Namun, ia tidak menyerah. Ia kembali berlari untuk mencari Chike.
*****
Chike dengan ragu membuka kertas kuning yang terlipat itu. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Ia mencoba membaca catatan yang tertulis.
*Untuk Chike tersayang:
Aku tau kamu sudah berusaha sebaik mungkin, bahkan rela untuk kembali ke 10 tahun silam. Kamu datang ke sini untuk menebus rasa bersalah dan mencoba untuk menyelamatkanku. Aku sangat menghargai semua itu. Tapi mesti begitu, aku akan tetap menyelamatkanmu sekali lagi*.”
Chike langsung terduduk lemas ketika selesai membaca tulisan itu. Ia syok, tidak menyangka Zaky akan memiliki keputusan ini. Chike segera bangkit ketika syok nya sudah mereda. Ia segera berlari untuk mencari Zaky yang pasti sedang berusaha menyelamatkan dirinya.
Ia lari menuruni tangga dengan cepat. Di lantai dua, jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.59 malam.
23.59.56
23.59.57
23.59.58
23.59.59
00.00
Jam sudah menunjukkan tepat tengah malam, bertepatan dengan Chike yang membuka pintu asrama. Namun, ia langsung bingung ketika melihat langit yang sudah cerah.
*****
Chike kecil berjalan mundur sambil melihat pria yang ada di depannya yang tersenyum smirk. Pria itu semakin jalan mendekat, membuat Chike semakin berjalan mundur dengan takut. Ia berhenti ketika menemukan jalan buntu.
Chike sudah sangat takut. Namun, senyuman langsung terbit ketika seorang pria berdiri di depannya, menghalau sosok pria menyeramkan itu.
“Arghh!” Zaky berusaha menahan teriakannya ketika pria asing itu menusukkan pisau ke perutnya. Kini raut wajah Chike sudah berubah menjadi pucat pasi, syok.
“Dasar keparat! Kamu seharusnya tidak ikut campur,” Pria itu tertawa kesal. Sedangkan Zaky berusaha menahan pisau agar tidak semakin menusuknya dalam.
“Kamu bisa bergabung dengannya ke neraka nanti,” ujar pria itu yang menarik pisaunya dan menatap Chike yang sudah terduduk di jalanan.
Zaky duduk bersimpuh, dengan tangan yang berusaha menahan darah yang mengalir dari perutnya. Raut wajah Chike semakin pucat pasi ketika melihat kejadian itu.
“Lepaskan keparat! Aku bilang lepaskan!” seru pria itu, berusaha melepaskan pegangan tangan Zaky yang menahan kakinya ketika ia mencoba mendekati Chike. Sedangkan Zaky semakin memperkuat pegangannya dengan raut wajah yang menahan sakit.
“Sialan!” umpatnya kesal ketika mendengar suara sirine mobil polisi yang berpatroli. Ia segera lari, meninggalkan Zaky dan Chike.
“Paman! Paman!” seru Chike yang segera menghampiri Zaky yang sudah meringkuk kesakitan. Air matanya sudah mengalir ketika melihat darah yang keluar begitu banyak.
“Paman! Kumohon buka mataku! Hiks!” Chike berusaha membuat Zaky yang mulai hilang kesadaran agar tetap terjaga.
“Chi-ke,” panggil Zaky dengan susah payah.
“Paman! Paman!”
*****
“Mari kita beralih ke berita selanjutnya...”
“Polisi berhasil menangkap pria yang menjadi tersangka penikaman seorang mahasiswa hingga tewas saat berusaha menghentikan aksi penculikan. Polisi menangkap Tuan A (38) pada pukul 13.55 tanggal 31 di rumahnya karena menjadi tersangka penculikan dan pembunuhan. Tersangka diamankan dan dibawa ke kantor polisi.”