
Santica merasa degup jantungnya berdetak begitu kencang, setelah melihat hasil USG dari dokter yang beberapa menit lalu memeriksanya. Tangannya sedikit gemetar memegang kertas itu, matanya pun sudah berair dan memerah. Dia memejamkan matanya secara kasar, mengingat hubungannya dengan sang suami yang tidak baik kepadanya. Lantas dia sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada sang suami.
Dan pertanyaannya, apakah sang suami akan menerima anak ini jika ia mengatakannya?
Apa suaminya akan berubah ketika dia mengandung darah dagingnya?
Entahlah, cara apalagi yang harus Santica lakukan untuk membuat suaminya menerima dia yang serba kekurangan ini. Saat mereka menikah pun, secara terang-terangan sang suami mengatakan kalau pernikahan ini hanyalah pernikahan palsu yang berkedok dia sangat mencintai Santica. Yang pastinya demi menuruti ucapan sang papa dan ingin mendapatkan beberapa anak cabang perusahaan papanya itu.
“Apa dia akan mempercayainya, kalau aku mengandung anaknya?” pikiran Santica melayang beberapa bulan yang lalu, saat sang suami yang dengan teganya memperkosaanya dengan brutal dan kasar. Setelah itu suaminya menjadi uring-uringan sendiri karena termakan kata katanya sendiri yang mengucapkan tidak Sudi untuk menyentuh tubuh Santica walau itu hanya helaian rambutnya. Tapi pada saat itu suaminya melakukan itu dalam keadaan yang terpengaruh minuman alkohol, membuat Santica mau tak mau harus melayani sang suami.
- - -
Santica berjalan linglung masuk kedalam mobil yang sudah siap mengantarnya kemanapun wanita ini pergi. Dalam perjalanan pulang, Santica hanya memikirkan bagaimana cara membicarakan perihal ini kepada sang suami. Jika suaminya menerima ini semua, maka Santica akan bersyukur dan mengucapkan terima kasih. Tapi jika suaminya itu tidak menerimanya, akan seperti apa ekspresi yang ditampilkan dari wajah pria berumur 35 tahun itu.
“Nyonya kelihatannya, dirumah sangat ramai. Apa Tuan Muda mengadakan pesta besar?” sopir pribadinya itu terlihat mengamati tamu-tamu yang masuk dan keluar. Bahkan dari banyaknya tamu itu, sopir ini bisa mengenali wajah mereka. Wajar saja, kalau sang sopir mengenalinya. Karena dia selalu setia mengantar Tuan Mudanya kemanapun pergi.
“Aku tidak tahu, sebelumnya Mas Al tidak pernah bilang. Lebih baik kita cek kedalam!” Santica bergegas keluar, dengan tangan yang masih memegang hasil USG tadi. Matanya terlihat berpencar mencari sosok sang suami yang sepertinya dikerubungi oleh pihak wartawan serta beberapa koleganya.
“Permisi.”
Deg.
Apa ini, kenapa suaminya memakai setelan jas putih yang sangat menawan. Dan yang lebih buruknya lagi, terlihat seorang wanita yang sangat anggun dan cantik memakai gaun pengantin yang menjuntai kelantai. Senyuman dari bibir mereka terus terpancar hingga beberapa wartawan pun mendekati mereka dan memfoto pasangan itu.
Santica mulai mendekatinya.
“Mas, apa-apaan ini. Kenapa kau menikah lagi. Apa kau tidak cukup membuatku untuk terluka lagi, ha. Apa kau tidak punya perasaan bersalah kepadaku?!”
Tuturan kata dari mulut Santica membuat semua para tamu undangan menyoroti wanita itu. Bahkan para wartawan pun berbisik-bisik yang membuat telinga Santica panas.
“Sayang, tetaplah disini. Aku akan mengurusnya dulu!”
“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apakah aku pernah menganggapmu sebagai istriku ha. Ingat Santica, aku menikahimu itu karena paksaan papaku.”
“Kau kejam mas, hiks ... kau sangat keterlaluan. Demi wanita murahan itu, kau lebih memilih menamparku dan mempermalukan aku didepan publik. Aku sudah sangat lelah dengan semua ini, aku sudah bosan bersandiwara denganmu mas.”
Santica menjeda kalimatnya, lalu menajamkan penglihatannya kepada istri kedua suaminya dan berkata.
“Jadi lebih baik, hubungan kita harus berakhir sampai disini!”
Tidak ada komentar dari bibir pria itu, bahkan tanpa dia sadari Santica sudah masuk kedalam kamarnya dan keluar membawa koper yang berukuran besar.
“Ini hadiah untuk pernikahan mu Mas. Aku harap kau tidak mencariku lagi. Semoga kalian berbahagia.”
Air mata Santica tidak bisa ia tahan lagi, dengan penuh ketegaran dia berjalan dengan anggun melewati beberapa wawancara yang berlarian kearahnya. Sesekali mereka menghadang jalan keluarnya Santica, dan ada juga dari mereka yang ingin mengorek informasi dari wanita itu.
“Mbak, mbak. Apakah mbak istri pertamanya Tuan Al?”
“Apakah pernikahan kalian, hanya pernikahan bisnis?”
“Mbak, apa mbak sudah mengandung anak dari Tuan Al?”
Deg.
Seketika langkah kaki Santica berhenti, lalu berbalik dan tersenyum getir kepada sang suami yang masih terpana melihat istri pertamanya memilih pergi dari sisinya.
“Tanyakan kepada yang bersangkutan, aku tidak punya banyak waktu. Pesawatku akan lepas landas.”
Tbc.