
“Menurutmu bagaimana, Bara?” Cintya bertanya kepada Bara dengan wajah sedikit ragu. “Apakah aku akan bisa melindungi Raditya dan menikah dengannya seperti yang aku harapkan dan aku rencanakan??”
Bara terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Cintya. Untuk pertama kalinya selama menjadi pengawal dan pelayan di kediaman Yasodana, Bara melihat sekali lagi perubahan pada Cintya. Bara selalu yakin Nona mudanya itu adalah wanita yang kuat dan tegar. Setiap langkah yang diambil oleh Nona Mudanya adalah langkah yang penuh dengan perhitungan bahkan senyuman yang dikeluarkannya pun juga selalu diperhitungkan. Tapi semenjak kedatangan Raditya, semua penilaian Bara terhadap Cintya mulai berubah. Wanita muda dari Keluarga Yasodana itu rupanya juga manusia yang punya perasaan. Semenjak kedatangan Raditya, Cintya Yasodana terlihat lebih manusiawi dengan senyuman tulus yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Dan Bara meyakini itu adalah hal yang baik bagi Nona Mudanya.
“Saya berusaha untuk membuat rencana terbaik, Nona. Raditya pun juga akan melakukan usaha terbaiknya untuk melindungi dirinya karena saya sudah menekankan padanya bahwa keselamatannya juga sama pentingnya dengan keselamatan Nona.”
“Lalu apa rencana terbaik yang akan kau lakukan untuk melindungi Raditya dan membuat keinginanku terwujud, Bara?? Bagaimana pun ... aku ingin menghancurkan sistem yang membuat tiga keluarga ini istimewa dan seolah tak bisa disentuh oleh hukum!!! Dengan begitu ... aku bisa meminta keadilan untuk kematian Kakakku-Rama dan hidup bebas tanpa ada tekanan dari pihak mana pun.”
Bara mendekat ke arah Cintya dan mulai berbisik. Bara berbisik dengan cukup lama di telinga Cintya dan memberi penjelasan dengan cukup detail.
“Apa kau yakin??” Cintya bertanya kepada Bara ketika Bara menyudahi bisikan di telinganya. “Apa dia mau melakukannya dengan sukarela?”
Bara menganggukkan kepalanya. “Saya tidak akan membuat rencana itu jika orang yang terkait tidak sukarela mengajukan dirinya kepada saya. Bagaimana pun rencana ini adalah nyawa taruhannya, Nona. Saya tidak akan sembarangan mengenai hal itu, Nona.”
“Apa tidak ada cara lain??” Cintya bertanya lagi. “Sebisa mungkin aku ingin menghindari jatuhnya nyawa.”
Bara menggelengkan kepalanya. “Bukankah Nona membuat rencana ini dan memberikan tugas ini kepada saya karena tahu bahwa kelak jalan ini akan membutuhkan pengorbanan yang cukup besar?? Biarkan saya yang menanggung pengorbanan itu kelak, Nona. Jalan di depan sana nanti yang kita tuju adalah jalan di mana semua kehidupan setara dan merupakan impian semua orang. Saya dan seluruh pengawal di keluarga Yasodana tidak keberatan bahkan jika harus mengorbankan nyawa kami, Nona.”
Cintya menundukkan kepalanya sembari mengepalkan tangannya. Aku tahu ini akan terjadi cepat atau lambat! Cintya berusaha untuk menguatkan mentalnya sendiri karena tahu beberapa hal buruk mungkin harus dihadapinya dalam beberapa hari ke depan demi impiannya dan impian semua orang.
“Terima kasih, Bara. Aku bersyukur kamu datang ke kediaman ini. Aku bersyukur kaulah orang yang aku percaya.”
“Kebanggaan bagi saya bisa menjadi orang yang Nona percaya.” Bara menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda terima kasih atas kehormatan yang diterimanya dari Cintya.
“Bagaimana dengan pergerakan keluarga Wardana dan Vamana mengenai harga-harga bahan yang naik?? Lalu bagaimana dengan respon rakyat di kota ini??”
“Seperti perhitungan Nona, semenjak pengumuman harga bahan-bahan yang mulai naik, keluarga Vamana dan keluarga Wardana mulai menimbun stok gudang. Vamana menimbun tidak terlalu banyak. Sementara Wardana menimbun dengan sangat banyak. Karena Bagaspti Wardana sedang sibuk dengan rencana untuk membuat pernikahan Nona batal, sepertinya dia masuk ke jebakan lain yang Nona buat.”
Tik ... tik ...
Cintya menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. “Besok keluarkan semua stok gudang yang kita timbun dan jual dengan harga murah di kalangan rakyat. Dengan begitu kita bisa mendapatkan dukungan lebih banyak dari rakyat kota ini yang selama ini selalu memusuhi tiga keluarga bangsawan. Lalu berikan pengumuman mengenai mereka yang bisa datang ke pernikahanku dengan Raditya, mereka akan jadi saksi pernikahan pertama bangsawan dengan kalangan biasa. Dengan melakukan itu ... kita bisa mendapatkan dukungan lebih banyak lagi.”
“Sebelum kau pergi, aku ingin bertanya lagi, Bara.”
“Silakan, Nona.” Bara menghentikan niatnya dan duduk lagi.
“Bagaimana pendapatmu mengenai Gulzar Vamana?”
*
Setelah sarapan pagi, Nona Cintya yang selalu sibuk dengan urusan pernikahan yang semakin dekat kini melaungkan waktunya untukku. Dia sengaja duduk di kursi taman di sampingku dan berjemur sedikit menikmati sinar matahari pagi.
“Aku penasaran kenapa kau sangat suka duduk di sini memandang langit, Raditya? Apa yang sebenarnya kau pikirkan dengan duduk di sini selama dua hari ini? Merenung??” Nona Cintya bertanya padaku memulai percakapan denganku.
Aku menganggukkan kepalaku. “Ya, aku merenung di sini.”
“Apa yang kau renungkan??” Nona Cintya bertanya dengan cepat seolah tahu apa yang aku katakan sebagai jawaban dari pertanyaannya. “Serangan itu? Atau hal lain seperti alasanmu berada di sini? Atau mungkin rencana lain? Atau mungkin juga kehidupan lalu yang pernah kamu jalani??”
“I-itu ... “ Aku langsung menolehkan kepalaku mendengar ucapan Nona Cintya yang tidak terduga itu. “Ba-bagaimana Nona-“
“Bagaimana aku bisa menebaknya??” Sekali lagi ... Nona Cintya dengan cepat membalas ucapanku seolah dia tahu apa dan bagaimana reaksiku ketika mendengar pertanyaan darinya. “Haruskah aku mengatakan ini adalah keberuntungan atau sebaliknya? Haruskah aku merasa senang atau sebaliknya?? Aku tidak tahu tapi ... jujur aku merasa senang kau mengingat kehidupan lamamu tentang aku, Raditya.”
Nona Cintya melihat ke arahku dan tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya. Dia memelukku dengan erat seolah mengatakan tidak ingin aku pergi meninggalkannya. Dalam pelukannya yang erat itu, aku merasakan aliran kerinduan yang tak terhitung jumlahnya yang terus menerus menumpuk untuk waktu yang lama dan kini mengalir dengan cepat ke arahku. Tidak lama kemudian sesuatu yang hangat membasahi pakaian yang aku rasa itu adalah air mata milik Nona Cintya. “Raditya ... Dewangkara, dan semua putaran kehidupanmu, selama ini kalian tidak pernah mengingatku atau kenangan tentang kebersamaan kita yang pernah kita jalani dan kita lewati bersama. Harusnya ... kau bilang padaku jika kau mengingat semua kenangan itu, Raditya. Tak tahukah kau ... betapa beratnya bagiku mengingat semua kenangan kita seorang diri??”
“Maaf. Tapi ... aku masih merasa kenangan yang kembali itu seperti mimpi bagiku. Aku merasa lebih baik untuk tidak mengatakan apapun padamu karena kehidupan ini cukup berat untuk kau jalani. Dalam kehidupan kali ini, kau sudah kehilangan banyak hal dan menanggung banyak beban berat. Aku tidak ingin menambah beban itu dengan mengatakan jika aku mengingat semua putaran kehidupan lamaku bersamamu.” Aku mencoba melepaskan pelukan Nona Cintya di tubuhku dan menatap kedua matanya.
“Kali ini ... karena kau mengingat segalanya, segala kehidupan kita di masa lalu, jangan mati lebih dulu dariku! Jangan lakukan itu lagi!!” Nona Cintya mengatakan hal itu padaku sembari menatapku dengan tatapan tajam tanpa perasaan ragu sedikit pun. “Di kehidupan ini ... awalnya berniat menyerah bertemu denganmu karena aku tidak kunjung menemukanmu. Aku bahkan merasa sangat-sangat lelah dengan kehidupan ini hingga berpikir untuk mati. Dan di saat itu aku bertemu denganmu, Raditya. Kali ini ... jangan mati lagi di hadapanku!! Jangan tinggalkan aku seperti sebelum-sebelumnya dengan mati mengenaskan di depan mataku!!!”
Perasaan buruk menyerangku ketika aku mendengar ucapan Nona Cintya padaku. Ucapan itu adalah pertanda bagiku bahwa kejadian tragis di masa lalu akan terulang lagi jika kali ini-di kehidupan ini aku mati dengan mengenaskan di depan Nona Cintya.