ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KEMBALINYA INGATAN DEWANGKARA PART 2



            Karena Gayatri dan Biantara sudah muncul di depan Dewangkara, akhirnya Dewangkara menemui Hattali Yasodana dengan diantar oleh Gayatri dan Biantara.


            “Silakan, Rama sudah menunggumu.” Gayatri yang lebih dulu mengabari kedatangan Dewangkara, kini mempersilakan Dewangkara untuk masuk ke ruang kerja Hattali untuk menjelaskan niat kedatangannya.


            Dan begitu masuk ke dalam ruang kerja, Dewangkara disambut dengan baik oleh Hattali seperti ketika ayahnya menyambut kepulangannya di rumah. Setelah mengucap salam masing-masing, Dewangkara kemudian mengatakan niat kedatangannya kepada Hattali dan sama seperti Gayatri katakan, Hattali menyanggupi permintaan dari antapura.


            “Kami akan menyelesaikan permintaan itu, Dewangkara. Lima hari adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan permintaan itu.


            “Terima kasih, Rama.” Dewangkara tadinya ingin memanggil Kangjeng dengan mulutnya kepada Hattali, tapi Hattali tadi ssudah menegurnya karena janji yang mereka ucapkan pada pertemuan sebelumnya.


            “Karena kau sudah datang ke Tarik, apakh kau berniat untuk mengunjungi tempat di mana kamu kehilangan ingatanmu, Dewangkara?” Hattali mencoba bertanya karena rasa penasarannya.


            “Mungkin besok aku akan mencoba pergi untuk melihatnya, Rama.” Suara Dewangkara sedikit bergetar menjawab pertanyaan itu. Jujur  ... meski Dewangkara sudah membulatkan tekadnya untuk menemukan ingatannya, ketakutan di dalam dirinya masih berusaha untuk menguasainya. Dewangkara takut ingatan yang kembali itu nantinya justru akan menjadi bencana bagi banyak orang karena ucapan ayahnya selama ini yang selalu memintanya untuk tidak berusaha mengingat ingatan lamanya.


            Hattali yang mendengar getaran dari jawaban Dewangkara, menepuk pelan pundak Dewangkara untuk memberikan dorongan pada Dewangkara. “Karena kau sudah di sini, tidak ada salahnya mencoba, Dewangkara. Paling tidak kau sudah mencoba. Jika pada akhirnya ingatan itu tidak kembali, maka mungkin ingatan itu akan lebih baik tidak diingat.  Tapi jika yang terjadi sebaliknya, maka ingatan itu kelak akan membantumu. Semua yang terjadi selalu memiliki tujuan dan alasan.”


            Mendengar ucapan dari Hattali, rasa takut yang berusaha untuk menguasai Dewangkara mulai bisa dikendalikannya. Huft. Dewangkara mengembuskan nafasnya sembari melihat ke arah Hattali. “Terima kasih, Rama.”


            “Nah karena kau baru datang setelah perjalanan lama, akan lebih baik jika hari ini kau beristirahat saja. Kau boleh tinggal di kediaman ini selama yang kau mau. Nanti biar Biantara yang akan mengantarmu ke kamar kosong di kediaman ini dan ... akan lebih baik jika besok kau pergi, kau ditemani oleh Biantara.”


            Dewangkara merasa sedikit sungkan menerima banyak kebaikan dari Hattali. “Saya bisa pergi sendiri, Rama. Tidak perlu merepotkan Biantara.”


            “Ikuti ucapan Rama, Dewangkara. Mengingat bagaimana penyakitmu kumat hanya dengan melihat iring-iringan, Rama hanya khawatir jika ingatanmu kembali, kau juga akan kehilangan kesadaran seperti saat itu. Kau di sini membawa tugas dari antapura, sudah seharusnya kau menjadi tanggung jawabku. Jadi bisakah kau memahaminya, Dewangkara?”


            Dewangkara merasa malu mengingat bagaimana penyakitnya kumat hanya dengan melihat iring-iringan dan membuat Hattali bersama dengan rombongannya merasa  khawatir dengan keadaannya. Mengingat kejadian saat itu dan merasakan bagaimana khawatirnya Hattali, Dewangkara tidak punya pilihan lain selain menerima permintaan itu.


            “Saya mengerti, Rama. Besok saya akan pergi dengan Biantara.”


            “Karena aku sudah membantumu, bisakah Rama meminta bantuan kecil darimu, Dewangkara? Mumpung kau ada di sini dan tinggal selama beberapa hari di kota ini?”


            Dewangkara yang sudah merepotkan Hattali, merasa jika menolak permintaan lain mungkin akan menyinggung Hattali. “Selama saya bisa melakukannya, saya akan melakukannya, Rama. Toh saya di sini selama beberapa hari tidak punya pekerjaan selain menunggu kain yang dipesan antapura.”


            “Kalau begitu ...” Hattali memberi isyarat pada Dewangkara untuk mendekat dan tidak lama kemudian berbisik kepada Dewangkara.


            “Itu ... “ Dewangkara terkejut mendengar permintaan Hattali.


            “Itu mudah bukan?” tanya Hattali dengan wajah tersenyum.


            “ ... “ Dewangkara membeku karena masih tidak percaya dengan permintaan Hattali padanya.


            Keesokan harinya ...


            “Kenapa kau di sini?” Dewangkara yang sudah mengganti pakaiannya dan sudah makan pagi, keluar dari kamar tidurnya dan mendapati Gayatri bersama dengan Biantara di depan kamarnya.


            Dewangkara mengerutkan keningnya karena tidak percaya Gayatri akan ikut bersamanya untuk menemukan ingatannya yang hilang. “Kau yakin ingin ikut? Mungkin ini adalah perjalanan yang membosankan untukmu, Gayatri?”


            Gayatri berjinjit sembari mengangkat kedua tangannya. Kedua tangan itu kemudian mendarat di kening Dewangkara dan berusaha untuk menyingkirkan kerutan di kening Dewangkara. Gerakan tiba-tiba itu membuat Dewangkara sedikit terkejut. Tapi karena tidak ingin membuat Gayatri terjatuh karena keterkejutannya, Dewangkara berusaha untuk menahan dirinya.


            Setelah memastikan kerutan di kening Dewangkara menghilang, Gayatri kembali ke posisinya dan menjawab pertanyaan Dewangkara. “Kau membawa Raksaka milikku. Tentu saja aku harus ikut.”


            “Tapi ... bukan aku yang meminta untuk membawa Biantara. Rama yang menyuruhku untuk membawanya karena khawatir jika penyakitku kumat.”


            “Aku ikut juga karena mengkhawatirkanmu jika penyakitmu nanti kumat.” Gayatri tidak mau kalah dari Dewangkara dan Dewangkara menyadari hal itu dari jawaban Gayatri.


            Huft. Dewangkara mengembuskan nafasnya. Berdebat dengan wanita bukanlah keahliannya. Merayu wanita pun juga bukan keahliannya.  Dua keahlian itu adalah dua keahlian yang dikuasai oleh Danapati dan bukan Dewangkara. Untuk sejenak, Dewangkara berharap bisa mempelajari dua keahlian itu dari Danapati jika situasi yang sama terulang lagi padanya di kemudian hari.


Dewangkara yang tidak bisa berbuat apapun selain pasrah, menatap ke arah Biantara dengan tatapan sengit. “Pekerjaanmu pasti sangat berat, Biantara.”


            Seolah mengerti maksud dari ucapan Dewangkara, Bantara tersenyum kecil membalas tatapan Dewangkara. “Ya seperti yang kau lihat, Dewangkara. Pekerjaanku memang berat terutama soal Kangjeng Gayatri.”    


            “Apa yang sedang kalian bicarakan??” Gayatri yang tidak menyadari ucapan Dewangkara dan Biantara sedang menyindir dirinya hanya bisa bertanya dengan wajah polos.


            “Bukan apa-apa, Gayatri. Ayo kita berangkat!” Dewangkara berusaha untuk mengalihkan perhatian Gayatri.


            Jika kemarin saat tiba di kota Tarik hari telah sore dan jalanan sedikit sepi, maka kin Dewangkara yang pergi bersama dengan Gayatri dan Biantara melihat keramaian di sepanjang perjalanan mereka. Seperti di kota-kota lainnya, pagi adalah waktu yang tepat untuk berjualan dan pasar dibuka. Lalu ... kejadian yang sama terjadi lagi pada Dewangkara ketika melewati jalanan kota Tarik yang penuh dengan orang-orang yang sibuk berjual beli.


            “Sudah kubilang untuk mengenakan penutup wajah tadi, kau tidak percaya padaku??” Gayatri yang menaiki kuda di samping Dewangkara mengomel dari balik penutup wajah miliknya.


            Ya. Sama seperti kemarin, Dewangkara dan wajahnya yang rupawan menjadi pusat perhatian bagi semua orang di Tarik.


            “Kau benar, Gayatri. Lain kali ketika aku keluar, aku mengenakan penutup wajah sama sepertimu.” Dewangkara mengakui kesalahannya karena tidak belajar dari kejadian kemarin di kediaman Yasodana dan tidak menuruti saran dari Gayatri tadi sebelum mereka berkuda menuju ke lokasi di mana bangunan antapura lama berada.


            Meski merasa sedikit risih dengan perhatian semua wanita yang mengarah padanya.  Sepanjang perjalanan menuju antapura, Dewangkara merasakan sensasi tidak asing. Ingatannya perlahan mulai memutar beberapa potong kenangan lamanya yang hilang: iring-iringan di sepanjang kota Tarik, sosok Rakryan Tumenggung Sena yang gagah dan duduk di atas kudanya, semua orang yang memanggil-manggil namanya dengan wajah bahagia dan perasaan kagum pada diri Dewangkara yang telah lama dilupakannya. Satu demi satu potongan ingatan itu mulai menyatu dan membuat dada Dewangkara mulai sesak.


            “Kau baik-baik saja, Dewangkara?” Gayatri yang sepertinya menyadari keadaan Dewangkara mencoba bertanya.


            Huft. Beberapa kali Dewangkara mengembuskan nafasnya dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Meski jelas terlihat bahwa dirinya saat ini tidak sedang baik-baik saja, Dewangkara mencoba untuk bertahan. “Aku baik-baik saja, Gayatri.”


            “Jika kau merasakan gejala pada penyakitmu, katakan saja pada kami, Dewangkara. Kami menemani untuk membantumu. Ingat itu!”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya sembari memegang dadanya yang terus terasa sesak. “Aku mengerti, Gayatri.”


            Setelah mengatakan hal itu pada Gayatri, Dewangkara berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Bertahanlah, diriku!!